Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Perkembangan Kawasan Permukiman di Sekitar Titik Transit Kabupaten Bogor Nedalia Wilza; Ernan Rustiadi; Janthy Trilusianthy Hidayat
TATALOKA Vol 24, No 4 (2022): Volume 24 No 4, November 2022
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.24.4.349-365

Abstract

Kabupaten Bogor sebagai salah satu hinterland dalam KSN Jabodetabekpunjur, telah mengalami perkembangan wilayah yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Wilayah ini memiliki jumlah komuter yang tinggi dan terhubung dengan sistem transportasi massal yang terintegrasi di wilayah Jabodetabek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pertumbuhan kawasan permukiman di kawasan transit pada kurun waktu 2000-2020 dan mengidentifikasi perkembangan ketersediaan fasilitas permukiman melalui analisis hierarki desa di kawasan transit pada tahun 2011-2019. Penelitian ini menggunakan data berupa peta landuse tahun 2000, 2010, 2015, dan 2020 serta data sekunder dari BPS berupa data Potensi Desa (Podes) tahun 2011, 2014, dan 2019. Penelitian dilakukan dengan metode tumpang susun peta dan analisis skalogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan sekitar stasiun kereta jenis commuter line memiliki laju pertumbuhan permukiman dan kepadatan permukiman yang tinggi pada kurun waktu 2000-2020. Kepadatan dan laju pertumbuhan permukiman tertinggi terjadi di kawasan sekitar Stasiun Citayam, Stasiun Cilebut, dan Stasiun Bojonggede. Sementara itu berdasarkan nilai IPD, kawasan yang memiliki fasilitas permukiman yang baik ditemui di kawasan sekitar Stasiun Cibinong, Stasiun Citayam, Stasiun Bojonggede, Stasiun Cilebut, dan Stasiun Nambo. Secara keseluruhan kawasan transit stasiun commuterline memiliki potensi berkembang menjadi pusat pertumbuhan. Oleh karena itu rencana dan strategi pembangunan daerah dapat mengarahkan kawasan transit cepat tumbuh menjadi pusat-pusat pelayanan baru.
Strategi Pengembangan Kecamatan Cibeureum Sebagai Pusat Pelayanan Kota di Kota Sukabumi. Abdurahman Ibnu Sopian; Janthy Trilusianthy Hidayat; Rudi Mahmud Zafrullah
Syntax Idea 3100-3114
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i7.4004

Abstract

Kota Sukabumi sebagai kota menengah telah mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Kecamatan Cikole sebagai pusat layanan kota mengalami masalah perkotaan yang kompleks seperti kepadatan penduduk, kemacetan, aksesibilitas dan keterbatasan ruang untuk pembangunan, sehingga diperlukan pusat layanan kota baru. Dengan adanya peraturan daerah baru tentang tata ruang, pusat layanan kota di Sukabumi akan dibagi menjadi dua bagian, yaitu pusat kota kecamatan Cikole dan pusat kota kecamatan Cibeureum. Berbagai kebijakan pengembangan baru ditujukan untuk Kecamatan Cibeureum, seperti pengembangan kawasan perkantoran, pusat perbelanjaan, pasar grosir, terminal dan fasilitas strategis lainnya. Tujuan penelitian ini adalah (1) Memprediksi kebutuhan sarana dan prasarana di Kecamatan Cibeureum untuk memenuhi kebutuhan pusat pelayanan kota (PPK) baru. (2) Mengidentifikasi berbagai rencana kegiatan pembangunan dan permasalahan tata ruang di Kecamatan Cibeureum. (3) Merumuskan strategi arah pengembangan Kecamatan Cibeureum sebagai pusat pelayanan kota (PPK) baru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan fasilitas di Kecamatan Cibeureum untuk mendukungnya sebagai pusat layanan kota baru masih minim, namun dari sisi indikasi program kebijakan, ada banyak rencana pembangunan yang akan dilakukan di Kecamatan Cibeureum, dari berbagai potensi dan kendala, strategi yang perlu dilakukan untuk pengembangan Kecamatan Cibeureum berpusat pada 5 aspek utama, Yakni aspek kebijakan, pembiayaan pembangunan, pengelolaan transportasi, permukiman, dan pembangunan berwawasan lingkungan (kebencanaan).
Arahan revitalisasi Kawasan Kota Lama Mentok Kabupaten Bangka Barat sebagai kota pusaka Yusi Febriani Yusi; Janthy Trilusianthy Hidayat; Rifdah Dhiyaul Auliyah
Jurnal Arsitektur Lansekap Vol. 11, No. 2 Oktober 2025
Publisher : Prodi Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JAL.2025.v11.i02.p06

Abstract

Revitalization Guidelines for the Old Town of Mentok, West Bangka Regency, as a Heritage City. West Bangka Regency has been designated as a heritage city due to its long history, particularly in the Old Town of Mentok. However, the area is poorly maintained and lacks clear zoning. This study aims to analyze the establishment of revitalization zones, the aspects influencing revitalization, and formulate revitalization guidelines for the area. The methods used include qualitative descriptive analysis, delineation analysis, and the Delphi method. The analysis results indicate that the Old Town of Mentok consists of three clusters: the European Cluster, the Malay Cluster, and the Chinese Cluster. The revitalization zones are divided into core zones, supporting zones, and buffer zones. Aspects influencing revitalization include physical aspects (environmental quality, heritage quality, infrastructure, facilities, and cluster circulation) as well as socio-cultural and policy aspects (community activities, public awareness and involvement in heritage preservation, cultural values, local community engagement, government roles, ownership status, and natural disasters). The revitalization guidelines based on physical aspects involve maintaining land use functions in the core zone while allowing changes in the supporting and buffer zones. Meanwhile, socio-cultural and policy-based guidelines include raising public awareness about heritage value in the supporting and buffer zones and implementing policies for the protection, development, and utilization of heritage in all zones. Keywords: Cluster, Old Town, Delphi Method, Revitalization Area, Zoning Area
Strategy For Fulfilling Public Green Open Space in South Tangerang City Muhammad Arief Rakhman; Janthy Trilusianthy Hidayat; Umar Mansyur
Journal of Social Research Vol. 4 No. 12 (2025): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v4i11.2852

Abstract

South Tangerang City, a rapidly growing buffer zone for DKI Jakarta, faces increasing demands for spaces for economy, ecology, social interaction, sports, and recreation. To address this, expanding Public Green Open Space (GOS) is crucial. GOS serves ecological, social, cultural, aesthetic, and economic functions in urban planning. This study aims to: 1) analyze the adequacy and location of existing Public GOS in relation to the Spatial Plan (RTRW); 2) assess the potential land for additional GOS; and 3) formulate a strategy to increase the GOS area to 20% of the total city area. Using remote sensing, Weighted Sum Overlay, Analysis Hierarchy Process (AHP), and SWOT analysis, the results show that the current GOS area is 14.77% below the target, lacking 2,434 hectares to meet the 3,297-hectare target. The existing GOS covers 5.23% or 866 hectares. The potential to expand the GOS by 15.40% (2,539 hectares) would bring the total to 20.64% or 3,402 hectares. A defensive strategy is recommended to reduce weaknesses and avoid threats, including revising the RTRW to allocate at least 20% for Public GOS, creating regulations for green infrastructure and buildings, and promoting green economy programs.
Pengembangan Aspek Fisik, Sosial, Ekonomi, dan Infrastruktur sebagai Arahan Pertumbuhan Kawasan Perdesaan Cijeruk Yeriko Septiawan; Janthy Trilusianthy Hidayat; M. Yogie Syahbandar
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.16

Abstract

ABSTRAK Pemanfaatan potensi daerah memerlukan perencanaan, untuk mengurangi kesenjangan antar daerah, khususnya perdesaan. Pembangunan perdesaan harus diikuti dengan berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan sebagai pusat pelayanan dan distribusi potensi. Kecamatan Cijeruk merupakan wilayah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan perdesaan dan harus mempunyai pusat pertumbuhan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Tujuan Penelitian 1) Menentukan variabel-variabel penting pendukung penelitian pusat pertumbuhan di Kawasan Perdesaan Cijeruk, 2) Menganalisis Variabel Pendukung Pusat Pertumbuhan 3) Merumuskan arah pengembangan pusat pertumbuhan di Kawasan Perdesaan Cijeruk dari aspek fisik, sosial, ekonomi dan infrastruktur. Metode penelitian untuk mengidentifikasi aspek ekonomi dilakukan melalui Focus Group Discussion, metode analisis yang digunakan untuk aspek fisik adalah analisis bahaya longsor, dan analisis aksesibilitas, untuk aspek sosial adalah analisis geometrik, dan analisis gravitasi, sedangkan untuk aspek infrastruktur yaitu analisis jangkauan fasilitas dan analisis skalogram. Hasil penilaian variabel-variabel tersebut akan dikalikan dengan bobot Analytical Hierarchy Process. Hasil penelitian ini adalah, 1). terdapat 4 (empat) variabel yang dikembangkan dari penelitian sebelumnya. Yakni interaksi penduduk dengan wilayah, cakupan pelayanan fasilitas kesehatan, potensi desa dan pemasaran komoditas unggulan. 2). Hasil analisis Desa Cijeruk mempunyai keunggulan dibandingkan desa lainnya, 3) Potensi Kawasan Perdesaan Cijeruk diarahkan sebagai industri pedesaan sebagai sektor pendukung sektor pariwisata, Hirarki 1 diarahkan sebagai pusat industri. Hierarki 2 sebagai pusat pemerintahan, Hierarki 3 sebagai daerah transit dan penyortir barang, Hierarki 4 sebagai penyedia bahan baku dan hasil pertanian. ABSTRACT Utilization of regional potential requires planning, to reduce disparities between regions, especially rural areas. The development of rural areas must be followed by the development of growth centers as service centers and potential distribution. Cijeruk District is an area that has the potential to be developed as a rural area and must have a growth center to optimize its potential. Research objectives 1) Determine important variables supporting research on growth centers in the Cijeruk Rural Area, 2) Analyze Variables Supporting Growth Centers 3) Formulate directions for the development of growth centers in the Cijeruk Rural Area from physical, social, economic and infrastructure aspects. The research method to identify the economic aspects is carried out through Focus Group Discussions, the analytical methods used for the physical aspects are landslide hazard analysis, and accessibility analysis, for the social aspects are geometric analysis, and gravity analysis, while for the infrastructure aspects are analysis of the range of facilities and scalogram analysis. The scoring results of these variables will be multiplied by the weight of the Analytical Hierarchy Process. The results of this study are, 1). there are 4 (four) variables developed from previous studies. Namely the interaction of the population with the area, service coverage of health facilities, village potential and marketing of superior commodities. 2). The results of the analysis of Cijeruk Village show that it has advantages compared to other villages, 3) The potential of the Cijeruk Rural Area is directed as a rural industry as a supporting sector for the tourism sector, Hierarchy 1 is directed as a center of growth, Hierarchy 2 is the center of government, Hierarchy 3 is a transit area and goods sorter, Hierarchy 4 as a provider of raw materials and agricultural products.
Arahan Pengembangan untuk Mengurangi Ketimpangan Wilayah antar Kabupaten/Kota di Provinsi Banten Muhamad Rizki Waluya; Janthy Trilusianthy Hidayat; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.28

Abstract

ABSTRAK Ketimpangan ekonomi antar wilayah merupakan permasalahan yang cukup serius karena dapat diartikan sebagai kemiskinan dan ketimpangan. Indikasi ketimpangan antar daerah terjadi di Provinsi Banten. Adanya indikasi ketimpangan dapat menghambat proses pembangunan secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik perekonomian, menganalisis sektor-sektor unggulan, menganalisis ketimpangan antar kabupaten/kota, dan merumuskan arah pembangunan untuk mengurangi tingkat ketimpangan di wilayah Provinsi Banten. Metode analisis yang digunakan adalah kontribusi PDRB, laju pertumbuhan PDRB, PDRB per kapita, Tipologi Klassen, Analisis Gabungan LQ dan DLQ, Indeks Williamson, dan analisis deskriptif untuk menghasilkan arah pembangunan guna mengurangi ketimpangan yang terjadi di Provinsi Banten. Hasil dari penelitian ini adalah Kabupaten Lebak merupakan daerah tertinggal dan ditetapkan sebagai lokasi prioritas pembangunan dalam penelitian ini. Arah pembangunan dibagi dalam enam kriteria: (1) Peningkatan sektor pendukung untuk meningkatkan kontribusi sektor pertanian sehingga dapat mempunyai nilai tambah. (2) Peningkatan sumber daya manusia melalui peningkatan pendidikan dan keterampilan agar sumber daya manusia di Kabupaten Lebak mampu bersaing dengan pencari kerja dari daerah lain. (3) Meningkatkan sarana dan prasarana melalui pemerataan jangkauan sarana dan prasarana pemukiman. (4) meningkatkan porsi pendapatan daerah selain pajak melalui investasi dan kerjasama dengan beberapa pihak swasta. (5) Meningkatkan aksesibilitas dengan meningkatkan kualitas, serta mempercepat realisasi Rencana Jalan Tol dan Rencana Jalur Kereta Api untuk mendukung pengembangan kawasan ekonomi dan pariwisata, guna menciptakan konsentrasi pertumbuhan ekonomi di kawasan baru. dan (6) karena wilayahnya cukup luas, maka perlu dipertimbangkan kembali usulan pemekaran wilayah karena dapat mengurangi tingkat ketimpangan wilayah karena pemerataan pembangunan dapat lebih mudah dicapai dengan wilayah pemerintahan yang lebih kecil. ABSTRACT Economic inequality between regions is a quite serious problem, because economic inequality means poverty and inequality. Indications of inter-regional inequality also occur in Banten Province. The existence of indications of inequality can hamper the development process in general. This research aims to analyze economic characteristics, analyze leading sectors, analyze inequality between districts/cities, and formulate development directions to reduce the level of inequality in the Banten Province region. The analytical methods used are PDRB contribution, PDRB growth rate, PDRB per capita, Klassen Typology, Combined LQ and DLQ Analysis, Williamson Index, and descriptive analysis to produce a development direction to reduce inequality that occurs in Banten Province. The results of this research are that Lebak Regency is a disadvantaged area and was designated as a priority location for development in this research. The development directions are divided into six criteria: (1) Increasing supporting sectors to increase the contribution of the agricultural sector so that it can have added value. (2) Increasing human resources by improving education and skills so that human resources in Lebak Regency can compete with job seekers from other areas. (3) Improving facilities and infrastructure by equalizing the reach of residential facilities and infrastructure. (4) increasing the share of regional income other than taxes through investment and collaborating with several private parties. (5) Increasing accessibility by improving quality, as well as accelerating the realization of the Toll Road Plan and Railway Route Plan to support the development of economic and tourism areas, in order to create a concentration of economic growth in new areas. and (6) because the area is quite large, it is necessary to reconsider the regional expansion proposal because it can reduce the level of regional inequality because equitable development can be more easily achieved with a smaller government area.
Analisis Potensi Pengembangan Kawasan Perumahan dan Permukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Andika Kurniawan; Janthy Trilusianthy Hidayat; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 1 (2024): February 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i1.37

Abstract

ABSTRAK Pertumbuhan penduduk di perkotaan meningkatkan kebutuhan akan lahan. Kabupaten Bogor melalui RTRW 2016-2036 mengembangkan pusat-pusat kegiatan. Kecamatan Cigudeg mempunyai potensi pengembangan perumahan sebagai Pusat Kegiatan Promosi Lokal Perkotaan (PKLp). Kecamatan Cigudeg diperuntukkan bagi kegiatan pelayanan di tingkat kabupaten dan kecamatan sekitarnya, seperti kawasan pemukiman. Berdasarkan kondisi tersebut, maka diperlukan analisis terhadap perkembangan perumahan dan kawasan permukiman guna mengetahui potensi pengembangan perumahan dan kawasan permukiman di Kecamatan Cigudeg. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengidentifikasi kondisi penggunaan lahan yang ada di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. (2) Menganalisis kondisi potensi lahan permukiman dan permukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. (3) Menganalisis potensi pengembangan lahan pada kawasan pemukiman dan pemukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. (4) Menganalisis potensi daya dukung dan daya tampung lahan pada kawasan pemukiman dan permukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. Penelitian ini menganalisis potensi pengembangan kawasan pemukiman di Cigudeg dengan mempertimbangkan daya dukung menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS) dengan software ArcGIS 10.8. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analisis deskriptif kuantitatif yang meliputi kemampuan lahan, keseimbangan penggunaan lahan, kesesuaian lahan, potensi pengembangan lahan untuk perumahan dan kawasan pemukiman, serta daya dukung dan daya tampung penduduk dan lahan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data sekunder dan data primer. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi pengembangan perumahan dan kawasan pemukiman di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor. ABSTRACT Population growth in urban areas increases demand for land. Bogor Regency, through the 2016-2036 RTRW, is developing activity centers. Cigudeg District has the potential for residential development as an Urban Local Promotion Activity Center (PKLp). Cigudeg sub-district is intended for service activities at the district level and surrounding sub-districts, such as residential areas. Based on these conditions, an analysis of the development of housing and settlement areas is needed in order to identify the potential for development of housing and settlement areas in Cigudeg District. The objectives of this research are: (1) Identifying existing land use conditions in Cigudeg District, Bogor Regency. (2) Analyze the potential land conditions of residential and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency. (3) Analyzing the potential for land development in residential and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency. (4) Analyze the potential carrying capacity and capacity of land in residential and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency. This research analyzes the potential for developing residential areas in Cigudeg by considering carrying capacity using Geographic Information Systems (GIS) with ArcGIS 10.8 software. This type of research is quantitative descriptive analysis research covering land capability, land use balance, land suitability, land development potential for housing and residential areas, and carrying capacity and capacity of population and land. The data collection method used in this research is secondary data collection and primary data. The results of this research show the potential for developing housing and residential areas in Cigudeg District, Bogor Regency.
Analisis Pusat Pelayanan Kota di Wilayah Pelayanan B (Pasima) Kota Bogor Catur Rian Nugraha; Janthy Trilusianthy Hidayat; M. Yogie Syahbandar
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i2.67

Abstract

ABSTRAK Perkembangan yang tinggi di wilayah pelayanan B (Pasima) Kota Bogor mengakibatkan kebutuhan masyarakat dalam menjangkau fasilitas pelayanan dengan mudah dan cepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan lahan dan fungsi bangunan pada tahun 2021, menganalisis penentuan pusat pelayanan, menganalisis persepsi masyarakat terhadap pusat pelayanan, dan menentukan arahan pengembangan pada pusat pelayanan. Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis spasial berdasarkan data penggunaan lahan berupa jenis bangunan umum yang dilakukan pengolahan dengan metode kernel density dalam aplikasi Arcgis, dan analisis deskriptif untuk tanggapan masyarakat terhadap fasilitas layanan pada pusat pelayanan. Hasil dari penelitian ini adalah empat pusat pelayanan dan karakteristik penggunaan lahan, tanggapan masyarakat terhadap empat pusat pelayanan, dan arahan dalam pengembangan sub pusat pelayanan dan pusat lingkungan, serta meningkatkan layanan perkotaan dan melakukan penataan dan perbaikan bangunan fasilitas layanan. Kata Kunci: Analisis Spasial, Kernel density, Pusat Pelayanan ABSTRACT The high development in service area B (Pasima) Bogor City has resulted in the public's need to reach service facilities easily and quickly. This research aims to identify land use and building functions in 2021, analyze the determination of service centers, analyze public perceptions of service centers, and determine development directions for service centers. The research methods used include spatial analysis based on land use data in the form of public building types which are processed using the kernel density method in the Arcgis application, and descriptive analysis for community responses to service facilities at service centers. The results of this research are four service centers and land use characteristics, community responses to the four service centers, and directions in developing sub-service centers and environmental centers, as well as improving urban services and structuring and repairing service facility buildings. Keywords: Spatial Analysis, Kernel density, Service Center.
Perubahan Lahan Pertanian Di Kecamatan Kotabaru Kabupaten Karawang Anisa Aulia; Mujio Mujio; Janthy Trilusianthy Hidayat
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 1 No. 2 (2024): August 2024
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v1i2.70

Abstract

Penelitian ini mengkaji alih fungsi lahan pertanian di Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, yang terkenal sebagai salah satu lumbung padi nasional. Penelitian dilakukan sejak Maret 2021. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, wawancara, dan kuesioner. Analisis data dulakukan dengan analisis deskriptif, overlay, dan analisis kuantitatif. Berdasarkan data tahun 2017 hingga 2021, luas lahan sawah berkurang dari 1.332 hektar menjadi 1.276 hektar, dengan laju alih fungsi rata-rata sebesar -4,32% per tahun. Alih fungsi lahan terbesar terjadi pada tahun 2019, dengan 16 hektar sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Penelitian ini mengidentifikasi bahwa faktor strategis, seperti pembangunan kereta cepat, kawasan industri, dan akses tol, serta meningkatnya jumlah penduduk, menjadi pendorong utama alih fungsi lahan di Kecamatan Kotabaru. Perencanaan tata ruang wilayah di Kecamatan Kotabaru sebagian besar telah sesuai dengan alokasi untuk permukiman, namun terus bertambahnya kebutuhan lahan permukiman menimbulkan konflik penggunaan lahan yang berdampak pada berkurangnya luas lahan pertanian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk perencanaan tata ruang yang lebih berkelanjutan guna melindungi lahan pertanian di wilayah tersebut. Kata Kunci: alih fungsi lahan, lahan pertanian, dan permukiman Kotabaru District, Karawang Regency, which is known as one of the national rice barns. The research was conducted since March 2021. Data were collected through observation, documentation, interviews, and questionnaires. Data analysis was conducted using descriptive analysis, overlay, and quantitative analysis. Based on data from 2017 to 2021, the area of paddy fields decreased from 1,332 hectares to 1,276 hectares, with an average conversion rate of -4.32% per year. The largest land conversion occurred in 2019, with 16 hectares of paddy fields turned into residential areas. This research identifies that strategic factors, such as the development of fast trains, industrial estates, and toll access, as well as the increasing population, are the main drivers of land conversion in Kecamatan Kotabaru. Spatial planning in Kotabaru Sub-district is largely in accordance with the allocation for settlements, but the growing need for residential land has led to land use conflicts that have resulted in a reduction in the area of agricultural land. The results of this study are expected to provide input for more sustainable spatial planning to protect agricultural land in the region. Keywords: land use change, agricultural land, and settlements
Analisis Kemampuan Lahan di Kabupaten Cianjur Alif Dhiya; Janthy Trilusianthy Hidayat; Novida Waskitaningsih
Jendela Kota: Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Wilayah dan Kota Vol. 2 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jekota.v2i2.128

Abstract

ABSTRAK Peningkatan jumlah penduduk yang berdampak pada kebutuhan pembangunan di Kabupaten Cianjur mendorong perlunya pemahaman terkait karakteristik fisik dan kapasitas alami suatu lahan sebagai dasar dalam merumuskan arah pengembangan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan lahan di Kabupaten Cianjur. Penelitian dilakukan dengan menganalisis satuan kemampuan lahan yang berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20/PRT/M/2007. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari kajian pustaka teoritis, telaah dokumen kebijakan, serta survei data instansi. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif kuantitatif dan analisis spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan lahan di Kabupaten Cianjur terdiri dari kelas kemampuan lahan B (rendah) seluas 1,405 Ha (0,0004%), kelas kemampuan lahan C (sedang) seluas 206.923,287 Ha (57,17%), kelas kemampuan lahan D (agak tinggi) seluas 152.940,164 Ha (42,26%), dan kelas kemampuan lahan E (tinggi) seluas 2.079,459 Ha (0,57%). Lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kawasan merupakan lahan yang memiliki kelas kemampuan lahan C, D, dan E. Kecamatan yang memiliki luas lahan dengan kelas E terbesar adalah Kecamatan Kadupandak dengan luas 401,437 Ha, sedangkan kecamatan yang memiliki luas lahan kelas B terbesar adalah Kecamatan Sukaluyu dengan luas 0,419 Ha.   Kata Kunci: Kemampuan, Lahan, Pengembangan   ABSTRACT The increase in population, which impacts the development needs in Cianjur Regency, necessitates an understanding of the physical characteristics and natural capacity of land as a basis for formulating development directions in the area. This study aims to assess the land capability in Cianjur Regency. The research was conducted by analyzing land capability units in accordance with the Regulation of the Minister of Public Works Number 20/PRT/M/2007. The data used in this study are secondary data obtained from theoretical literature reviews, policy document analyses, and institutional data surveys. The analytical methods employed were quantitative descriptive analysis and spatial analysis. The results indicate that the land capability in Cianjur Regency consists of class B (low) covering 1,405 ha (0.0004%), class C (moderate) covering 206.923,287 ha (57.17%), class D (moderately high) covering 152.940,164 ha (42.26%), and class E (high) covering 2.079,459 ha (0.57%). Land suitable for development includes classes C, D, and E. Among the districts, Kadupandak District has the largest area of class E area at 401,437 ha, while Sukaluyu District has the largest area of class B area at 0,419 ha. Keywords: Capability, Development, Land