Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PELAJAR SEHAT ANTI MEROKOK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK Sri Indra Kurnia; Feri Irawan; Titi Nurhasanah; Linda Soebroto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 6 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i6.17592

Abstract

Abstrak: Masyarakat Indonesia memulai merokok untuk pertama kalinya yaitu pada usia 5 tahun. Kelompok usia dengan persentase tertinggi untuk memulai merokok pertama kali adalah usia 10-14 tahun yaitu sebesar 97,2% dari total penduduk Indonesia yang merokok. Dengan demikian, usia 10-14 tahun menjadi kelompok usia yang sangat rentan dan membutuhkan pendidikan kesehatan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan mengenai bahaya merokok bagi pelajar di SMP Muhammadiyah 1 Gatak. Program pengabdian ini memberikan edukasi kepada peserta didik melalui kegiatan seminar dan demonstrasi oleh dokter spesialis paru-paru dari RSUD Dr. Moewardi selaku mitra dalam pengabian ini dan dosen dari Program Studi Kesehatan Masyarakat. Hasil dari program pengabdian ini yaitu meningkatnya pengetahuan mengenai bahaya merokok di kalangan pelajar khususnya di SMP Muhammadiyah 1 Gatak. Hasil Uji Paired Sample T-test menunjukan angka yang signifikan antara nilai pre-test dengan post-test dengan nilai signifikansi (p= 0,001 < 0,05), menunjukkan efektivitas kegiatan pengabdian yang dilakukan.Abstract: Indonesians started smoking for the first time at the age of 5 years. The age group with the highest percentage of first-time smokers is 10-14 years old at 97.2% of the total Indonesian population who smoke. Thus, the age of 10-14 years is a very vulnerable age group and requires health education. The purpose of this community service is to increase knowledge about the dangers of smoking for students at SMP Muhammadiyah 1 Gatak. This community service programme provides education to students through seminars and demonstrations by a lung specialist doctor from Dr. Moewardi Hospital as a partner in this community service and lecturers from the Public Health Study Programme. The result of this service programme is increased knowledge about the dangers of smoking among students, especially at SMP Muhammadiyah 1 Gatak. The results of the Paired Sample T-test test showed a significant number between the pre-test and post-test values with a significance value (p = 0.001 <0.05), indicating the effectiveness of the service activities carried out.
Analisis Kepatuhan Tim SAR terhadap Penggunaan Alat Pelindung Diri saat Operasi Banjir melalui Pendekatan Model PRECEDE Munifatu Rodiyah; Sri Indra Kurnia
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47646

Abstract

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan komponen esensial dalam keselamatan kerja, terutama bagi Tim Search and Rescue (SAR) yang menghadapi risiko tinggi saat operasi evakuasi banjir. Namun, kepatuhan terhadap penggunaan APD masih bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepatuhan penggunaan APD serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya pada Tim SAR Kabupaten Sukoharjo dengan menggunakan pendekatan teori PRECEDE dari Lawrence Green. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Sepuluh informan dipilih secara purposive sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, dokumentasi media visual, dan telaah dokumen organisasi. Analisis dilakukan secara tematik dengan pengelompokan berdasarkan tiga kategori teori PRECEDE: predisposing, enabling, dan reinforcing factors. Validitas data dijaga melalui triangulasi cara. Hasil menunjukkan bahwa kepatuhan penggunaan APD berada pada tingkat tinggi. Faktor predisposing seperti pengetahuan teknis dan sikap positif terhadap keselamatan mendasari perilaku patuh. Faktor enabling berupa ketersediaan dan distribusi APD umumnya mencukupi meskipun belum sepenuhnya adaptif terhadap dinamika kebutuhan. Faktor reinforcing seperti pengawasan sejawat dan sanksi sosial efektif mendorong kepatuhan tanpa regulasi formal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan partisipatif dan budaya keselamatan kolektif dalam penerapan sistem K3 berbasis komunitas relawan, serta memperluas penerapan teori PRECEDE dalam konteks kerja tanggap darurat.
PEMBERIAN EDUKASI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN HIPERTENSI MENUJU LANSIA BUGAR Nanda Dwi Mahardika Nanda; Fauzia Shafa Rachmania Rachmania; Tiara Putri Navy; Risqi Amelia Ajifadillah; ‘Aliya Nisa Mubina; Vina Aliyyaa Hanan; Sri Indra Kurnia
Jurnal Berkawan: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1. No. 3, September 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/berkawan.v1i3.5993

Abstract

Jawa Tengah termasuk ke dalam provinsi dengan data hipertensi yang tinggi. Pada daerah yang dicoba diobservasi adalah Desa Jetis, Kecamatan Baki. Kabupaten Sukoharjo, setelah dilakukan pengamatan kebanyakan masyarakat memiliki perilaku hidup yang beresiko menimbulkan hipertensi. Banyak khususnya masyarakat lanjut usia di Desa Jetis yang memiliki riwayat penyakit hipertensi, sedangkan saat diwawancara mengenai gaya hidup atau gaya hidup mereka cenderung tidak dijaga dengan ketat agar tidak menimbulkan masalah yang lebih serius dari hipertensi itu sendiri. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kesehatan tentang hipertensi pada masyarakat. Pendidikan kesehatan merupakan serangkaian upaya kecil yang dapat dilakukan untuk memberikan informasi pada masyarakat. Metode pelaksanaan penyampaian edukasi yang dilakukan menggunakan media poster dengan metode ceramah atau penyuluhan. Pada pelaksanaan kegiatan peserta sebanyak 30 lansia, yang terdiri dari 28 wanita (93,3%) dan 2 pria (6,7%), dengan rentang usia 45-59 tahun sebanyak 22 (73.3%), usia 60-74 tahun sebanyak 6 (20%), dan usia 75-90 sebanyak 2 (6,7%). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa program berjalan lancar dan efektif, dengan peserta yang kooperatif dan responsif terhadap materi yang disampaikan. Untuk program di masa mendatang, disarankan agar alokasi waktu ditingkatkan, penggunaan alat bantu visual dan audio diperjelas, serta sesi tanya jawab diperpanjang untuk memastikan pemahaman yang lebih mendalam. Dengan rekomendasi ini, diharapkan program edukasi kesehatan dapat lebih efektif dan meningkatkan kualitas hidup lansia.
Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir Lina Dwi Cahyowardhani; Salsabila Purnamasari; Sri Indra Kurnia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2322

Abstract

Background: Floods frequently occur in Kadipiro Village, Banjarsari District, Surakarta City, necessitating a strong level of community preparedness supported by the effective performance of the regional disaster management agency. Public perception of the performance of the regional disaster management agency is a critical factor in determining the extent to which the community is prepared to face flood risks. Purpose: To analyze public perceptions of the performance of the regional disaster management agency in improving community preparedness for flooding. Method: This quantitative cross-sectional study was conducted. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The selected population was 536 neighborhood units affected by flooding in Kadipiro Village. The data were then calculated using the Lemeshow formula, resulting in a sample size of 110 respondents. Results: There was a positive and significant influence between the performance of the Regional Disaster Management Agency and community preparedness. The regression test yielded an F-value of 78.043 with a p-value of 0.000, indicating a statistically significant effect. The coefficient of determination (R²) value of 0.419 indicates that the performance of the regional disaster management agency explains 41.9% of the variation in community preparedness, while the remaining 58.1% is influenced by other factors. Conclusion: Public perception of the performance of the regional disaster management agency plays a crucial role in improving flood preparedness. Efforts to improve service quality, strengthen outreach activities, and expand cross-sector coordination are necessary to build a more resilient and prepared community in a sustainable manner.   Keywords: Disaster Mitigation; Flood; Preparedness; Public Perception; Regional Disaster Management Agency.   Pendahuluan: Banjir sering terjadi di Kelurahan Kadipiro, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, sehingga diperlukan tingkat kesiapsiagaan masyarakat yang kuat dan didukung oleh kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang efektif. Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD menjadi faktor penting yang menentukan sejauh mana masyarakat siap menghadapi risiko banjir. Tujuan: Untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana banjir. Metode: Penelitian kuantitatif pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Populasi yang dipilih adalah RT yang terdampak banjir di Kelurahan Kadipiro, dengan jumlah total populasi sebanyak 536 orang, selanjutnya dihitung dengan rumus Lemeshow, sehingga didapatkan jumlah sampel sebanyak 110 responden. Hasil: Terdapat pengaruh positif dan signifikan kinerja BPBD dan kesiapsiagaan masyarakat. Uji regresi menghasilkan nilai F sebesar 78.043 dengan nilai p sebesar 0.000, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan secara statistik. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0.419, menunjukkan bahwa kinerja BPBD menjelaskan 41.9% variasi kesiapsiagaan masyarakat, sedangkan 58.1% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Simpulan: Persepsi masyarakat terhadap kinerja BPBD memiliki peran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana banjir. Upaya peningkatan kualitas layanan, memperkuat kegiatan sosialisasi, dan memperluas koordinasi lintas sektor diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh dan siap secara berkelanjutan.   Kata Kunci: Banjir; Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD); Kesiapsiagaan; Mitigasi Bencana; Persepsi Masyarakat.
Hubungan persepsi masyarakat terkait ketersediaan fasilitas kesehatan dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir Agustin, Salisa Darma; Purnamasari, Salsabila; Kurnia, Sri Indra
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2490

Abstract

Background: Floods are a frequent disaster in Indonesia, particularly in Central Java Province, and impact the health and livelihoods of the community. Kedung Lumbu Village is an area with high flood vulnerability due to its geographic location and dense residential areas. Health facilities play a crucial role in maintaining public safety, while community preparedness influences community responses and actions during disasters. Purpose: To analyze the relationship between the availability of health facilities and community preparedness for flooding. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A sample of 113 residents living in flood-prone areas of Kedung Lumbu Village was selected using purposive proportional random sampling. Data were collected through a structured questionnaire that measured the availability of health facilities and community preparedness for flooding. Data analysis was performed using the Chi-Square test with a significance level of p < 0.05. Results: The majority of respondents assessed the availability of health facilities as sufficient (53.1%) and community preparedness as ready (54.9%). Bivariate test results showed no significant relationship between the availability of health facilities and community preparedness for flooding (p = 0.122). Conclusion: Community preparedness is more influenced by other factors such as disaster experience, the existence of an early warning system, residential conditions and location, resource availability, and disaster-related knowledge. Suggestion: Future research suggests that community-based education and simulations play a crucial role in shaping community preparedness behavior. Therefore, active community involvement in flood preparedness outreach and training programs needs to be continuously improved.   Keywords: Community Preparedness; Disaster Mitigation; Flood; Health Facilities.   Pendahuluan: Banjir merupakan bencana yang masih sering terjadi di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah, dan berdampak pada kesehatan serta kehidupan masyarakat. Kelurahan Kedung Lumbu, merupakan wilayah dengan kerentanan banjir yang tinggi akibat kondisi geografis dan kepadatan pemukiman. Fasilitas kesehatan berperan penting dalam menjaga keselamatan masyarakat, sementara kesiapsiagaan masyarakat berpengaruh terhadap respons dan tindakan masyarakat saat bencana terjadi. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 113 warga yang tinggal di wilayah rawan banjir di Kelurahan Kedung Lumbu, yang diambil menggunakan teknik purposive proportional random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p < 0,05. Hasil: Mayoritas responden menilai ketersediaan fasilitas kesehatan berada pada kategori cukup tersedia (53.1%) dan kesiapsiagaan masyarakat berada pada kategori siap (54.9%). Hasil uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir (p = 0.122). Simpulan: Kesiapsiagaan masyarakat lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalamaan menghadapi bencana, keberadaan sistem peringatan dini, kondisi dan lokasi tempat tinggal, ketersediaan sumber daya, serta pengetahuan terkait kebencanaan. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk memberikan edukasi berbasis komunitas dan pelaksanaan simulasi berperan penting dalam membentuk perilaku kesiapsiagaan masyarakat. Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat secara aktif dalam program sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan menghadapi banjir perlu terus ditingkatkan.   Kata Kunci: Banjir; Fasilitas Kesehatan; Kesiapsiagaan Masyarakat; Mitigasi Bencana.