Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

HARUSKAH KITA TAKLUK KEPADA PEMERINTAH? Paska, Paskalis Edwin Nyoman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surat Rasul Paulus kepada umat di Roma (Rm.13:1-7) mengharuskan jemaat kristiani untuk takluk kepada pemerintah, karena pemerintah itu ditetapkan oleh Allah. Sikap takluk kepada pemerintah harus mereka tunjukkan bukan saja dengan tidak melawan pemerintah, melainkan juga dengan berbuat baik dan membayar pajak. Sejauh mereka berbuat baik, mereka tidak perlu takut kepada pemerintah. Nasihat Paulus ini bukanlah sebuah dogma, suatu doktrin yang harus diikuti lurus-lurus, melainkan sebuah nasihat pastoral untuk jemaat tertentu, jemaat di Roma, yang berada dalam situasi tertentu. Dengan kata lain Rm. 13:1-7 tidak meminta kita takluk secara membabi buta kepada pemerintah dan kehilangan sikap kritis terutama terhadap pemerintah yang lalim. Jemaat kristiani perlu mendengarkan suara hatinya untuk melihat apakah pemerintah yang ada merupakan pemerintah yang pantas disebut pemerintah yang ditetapkan oleh Allah.
KEBANGKITAN YESUS MASIH DIRAGUKAN Paska, Paskalis Edwin I Nyoman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejak zaman para rasul hingga dewasa ini ada saja yang meragukan kebangkitan Yesus bahkan menentang ajaran bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit. Padahal iman akan kebangkitan merupakan dasar iman kristiani dan alasan utama mengapa Yesus diakui sebagai Tuhan. Serangan terhadap iman akan kebangkitan pun tetap gencar. Berbagai alasan diajukan untuk meruntuhkannya. Zakir naik, misalnya, mengatakan bahwa Yesus pasti tidak pernah mati. Alasannya, Yunus tetap hidup selama tiga hari di perut ikan. Yesus yang menjadi tanda seperti Yunus tentulah tidak mati selama di rahim bumi. Jika Yesus tidak pernah mati, bagaimana mungkin ia bangkit dari kematian? Sesungguhnya perumusan iman akan kebangkitan yang ada dalam Syahadat Para Rasul sudah melewati proses refleksi dan diskusi yang panjang. Pendasaran biblisnya sangat kuat. Beberapa diantaranya yang biasa dipakai sebagai bukti kebangkitan Yesus ialah wafat Yesus, kubur kosong, dan penampakan-Nya yang jelas-jelas dikisahkan dalam Kitab Suci. Namun, orang orang yang tidak mengimani kebangkitan masih saja bisa mempertanyakan dan menyangkalnya. Dibutuhkan bukti yang lebih meyakinkan, yakni perubahan hidup para saksi kebangkitan baik saksi-saksi di zaman para rasul, maupun di zaman kita sekarang ini. Kesaksian mereka diharapkan membawa orang kepada pengalaman akan Yesus yang bangkit.
REVISI PERJANJIAN LAMA TERJEMAHAN BARU Paska, Paskalis Edwin I Nyoman
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Revisi Kitab Suci Perjanjian Lama Terjemahan Baru (PLTB1) sudah hampir selesai dan sudah mulai disosialisasikan. Beragam reaksi muncul dari kalangan umat beriman kristiani. Kebanyakan menyambutnya dengan sikap positif, namun ada beberapa orang yang justru keberatan PLTB1 ini direvisi. Alasan utamanya ialah Sabda Tuhan jangan diubah-ubah. “Bukankah satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”, demikian antara lain argumen dasar mereka. Tulisan ini menunjukkan apa sebetulnya yang dilakukan dalam karya merevisi terjemahan Alkitab dan mengapa karya itu perlu dilakukan. Perkembangan bahasa Indonesia, perkembangan penelitian teks Masoretik dan Septuaginta, serta perkembangan ilmu tafsir merupakan tiga alasan pokok mengapa perlu dibuat revisi PLTB1. Bahasa itu sangat dinamis, berkembang dari tahun ke tahun, sehingga apa yang dahulu wajar kini bisa dianggap janggal. Demikian pula term-term dalam Kitab Suci. Dalam setiap revisi pasti ada perubahan, namun yang diubah bukanlah Sabda Tuhan melainkan pemahaman orang akan Sabda Tuhan. Revisi PLTB1 memuat perubahan kata-kata yang sudah tidak lazim lagi dalam bahasa Indonesia, ejaan, dan tanda baca, serta perubahan dalam penafsiran bahasa sumber aslinya (TM dan LXX). Dengan lebih mendalami bahasa sumber aslinya dan perkembangan ilmu tafsir dan bahasa Indonesia, team revisi menyajikan kembali makna atau pesan Tuhan yang tertulis dalam PLTB1 secara lebih tepat, jelas, dan wajar. Contoh-contoh revisi yang disajikan menegaskan bahwa revisi tidak mengubah Sabda Tuhan melainkan memperjelas maknanya. Oleh karena itu, revisi ini perlu disambut dengan sukacita bukan skeptis dan sinis, apalagi rasa takut.
Pastoral pada Lansia Berbasis Homecare dan Metode Active Listening: Bentuk Pelayanan Gereja di Paroki Maria Ratu Damai Purworejo Donomulyo Getrudis Seuk; Paskalis Edwin I Nyoman Paska; Laurensius Laka
Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Katolik Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Katolik Edisi Mei 2025
Publisher : Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52110/jppak.v5i2.218

Abstract

Pastoral care provided by the parish to the elderly is one form of the Church's concern for its people who have entered old age. Pastoral care is carried out with a homecare approach and active listening methods, as a means to support their physical, mental, and spiritual well-being.However, what the parish has done has not been maximized and effective because it does not yet have competent personnel in the field of homecare. The purpose of this study is toTo find out to what extent the parish implements homecare-based elderly pastoral care and active listening methods, both in terms of supporting factors and inhibiting factors as a form of Church service at the Maria Ratu Damai Parish, Donomulyo.The methodology used in this study is qualitative research with a phenomenological approach. Data collection techniques through interviews, observations and documentation. The analysis of data collection used in this study is data processing developed by Colaizzi and Carpenter with the NVIVO software application. The results of the study identified homecare-based elderly pastoral and active listening methods that help pastoral officers to perform optimally and effectively. The supporting factor is the commitment of pastoral officers and medical personnel in implementing homecare with full responsibility. In addition to the factorssupporting factors, there are also inhibiting factors such as limited resources, both manpower and funds. This study shows that the homecare-based pastoral approach and the active listening method are modelsan effective service model that pays attention to the holistic aspects of elderly welfare, involving social, emotional and spiritual aspects in church services in the Parish. Key: Homecare and Active Listening
Pembentukan Karakter Siswa Ditinjau dari Spiritualitas Perkumpulan Dharmaputri dan Dukungan Orang Tua Monica Innanda Chiaralazzo; Paskalis Edwin I Nyoman Paska; Laurensius Laka
Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Katolik Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Katolik Edisi Mei 2025
Publisher : Perkumpulan Perguruan Tinggi Agama Katolik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52110/jppak.v5i2.233

Abstract

Education within the Catholic Church has always had its distinct characteristics. The unique characteristics of Catholic schools are implemented at SMAK Santa Maria Malang. In addition to the school, parents also play a role in shaping the character of students. However, not all students at SMAK Santa Maria Malang exhibit good character, especially in terms of respect and responsibility. This study aims to determine the influence of Dharmaputri spirituality and parental support on the character formation of students at SMAK Santa Maria Malang. To achieve the research objectives, multiple linear regression analysis was used with the help of SPSS for Windows 26. The population in this study consisted of 403 students, with a sample size of 200 students. The sampling technique employed was random sampling. The findings revealed a correlation coefficient (R) of 0.905, indicating a positive correlation between the two variables with a very strong relationship. Furthermore, the Dharmaputri Spirituality variable obtained a t-value (0.000<0.05), and the Parental Support variable also obtained a t-value (0.000<0.05), meaning that both variables independently have a significant influence on character formation. Based on the SPSS output table, the significant F-value was obtained (0.000<0.05), indicating that there is an influence between Dharmaputri Spirituality and Parental Support on Character Formation simultaneously. Thus, Dharmaputri spirituality and parental support together have an impact on the character formation variable.
Konsep Dewata Ada’ Mappuhondo dan Perbandingannya Dengan Konsep Allah Tritunggal Mahakudus dalam Gereja Katolik Jhon Daeng Maeja; Paskalis Edwin Nyoman Paska
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 3 No. 5 (2023): Mei
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v3i5.1767

Abstract

Gereja sebagai bagian dari masyarakat juga tidak akan bisa dipisahkan dari budaya. Gereja senantiasa mendukung perkembangan budaya dimana Gereja hidup. Konsep Dewata Lalisam Tallu yang ada dalam ada’ mappuhondo mempunyai hubungan dengan konsep Allah Tritunggal Mahakudus. Kehadiran Gereja yang senantiasa terbuka bagi budaya sangat diperlukan. Gereja dapat melakukan dialog teologis untuk melestarikan budaya. Permasalahan yang ada ialah belum adanya tindakan nyata dari Gereja untuk melakukan dialog teologis itu. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk melihat dialog teologis seperti apa yang dapat dilakukan untuk melihat hubungan antara lalisam tallu dengan Allah Tritunggal. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa konsep lalisam tallu mempunyai persamaan dengan konsep Allah Tritunggal. Dewata lalisan tallu yaitu tometampa, pahandadiam dan tomeolaam membentuk ketritunggallan dan mempunyai fungsi yang sama dengan Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus. Dialog teologis yang dapat dilakukan oleh Gereja ialah mewartakan konsep Allah Tritunggal sama dengan konsep lalisam tallu dalam ada’ mappuhondo.
Bijak Menghadapi Zaman Edan Berdasarkan Serat Kalatidha dan Alkitab Monica Innanda Chiaralazzo; Paskalis Edwin Nyoman Paska
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 3 No. 4 (2023): April
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/intheos.v3i4.1771

Abstract

Artikel ini membahas konsep zaman edan atau zaman gila dalam budaya Jawa dan relevansinya dengan kondisi Indonesia saat ini. Serat kalatidha karya Ranggawarsita digunakan sebagai referensi utama, yang mengajarkan eling lan waspada sebagai kebijaksanaan lokal dalam menghadapi zaman edan. Penulis membandingkan nilai-nilai dalam serat kalatidha dengan ajaran Kitab Pengkotbah dan ajaran Yesus. Metode analisis teks dan telaah pustaka digunakan untuk menganalisis dan membandingkan nilai-nilai tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa eling lan waspada dalam serat kalatidha memiliki kesamaan dengan takut akan Allah dalam Kitab Pengkotbah, serta cerdik dan tulus dalam ajaran Yesus. Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, individu dapat menghadapi situasi yang gila dengan bijaksana, mempertahankan integritas, serta menemukan ketenangan hati di tengah-tengah zaman yang kacau. Artikel ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kearifan lokal budaya Jawa dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam konteks kehidupan saat ini. Melalui pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat memperoleh panduan dalam menghadapi tantangan zaman yang penuh ketidakpastian dan kesulitan.