Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Kandungan Tempurung Kelapa Terhadap Luas Permukaan Spesifik Karbon Nanopori Ian Ramadhani; Ismudiati Puri Handayani; Memoria Rosi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Karbon nanopori terdiri dari bahan padat berisi karbon dan rongga kosong (pori) [1] yang memiliki ukuran kurang dari 100 nm [2]. Beberapa pemanfaatan karbon nanopori antara lain sebagai bahan penyerap dan penyimpanan gas seperti gas CO2 [3] dan gas hidrogen [4], desalinasi [5], elektroda penyimpan energi [6], dan dapat menyerap ion logam uranium [7]. Untuk bahan elektroda kapasitor yang terbuat dari karbon nanopori, diperlukan karbon dengan porositas tinggi [8] dan memiliki volume pori total diatas 90% [9]. Salah satu sumber karbon adalah tempurung kelapa [10]. Pada penelitian ini, dilakukan sintesis karbon nanopori berbahan dasar tempurung kelapa yang diambil dari lima tempat berbeda yaitu Pasar Suci, Pasar Gedebage, Pasar Kiaracondong, Pasar Caringin, dan Pasar Dayeuhkolot. Karakterisasi pori pada karbon nanopori dilakukan dengan metoda Nitrogen Isotherm Physisorption dan menghasilkan luas permukaan spesifik maksimum sebesar 891,212 m2/g dengan volum pori total 0,467 cc/g. Luas permukaan maksimum ini diperoleh dari tempurung kelapa Pasar Caringin dengan kandungan karbon sebesar 84,7418 %. Sedangkan karakterisasi sifat listrik dilakukan dengan Cyclic Voltammetry menggunakan elektroda yang terbuat dari campuran karbon nanopori, karbon black dan PVDF dengan perbandingan massa sebesar 8:1:1. Dari karakterisasi ini diperoleh kapasitansi maksimum sebesar 3,07 F/g dari tempurung kelapa Pasar Gedebage dengan kandungan karbon sebesar 83,1582 %. Dari kelima sampel yang diuji, tidak ada kaitan antara jumlah karbon pada permukaan karbon nanopori. Kata kunci: Karbon Nanopori, Luas Permukaan Spesifik, Kandungan Awal, Tempurung Kelapa Abstract Nanoporous carbon consists of a solid material containing carbon and an empty (pore) cavity [1] that has a size less than 100 nm [2]. Some of the utilization of nanoporous carbon is, for example, as an absorbent and storage material of gases such as CO2 [3] and hydrogen [4], desalination [5], energy storage electrodes [6], and can absorb uranium metal ions [7]. For capacitor electrode materials made of nanoporous carbon, carbon is required with high porosity [8] and has a total pore volume above 90% [9]. One of carbon source is a coconut shell [10]. In this research, nanoporous carbon synthesized from coconut shells that was taken from five different places: Pasar Suci, Pasar Gedebage, Pasar Kiaracondong, Pasar Caringin, and Pasar Dayeuhkolot. Pores characterization was done using Nitrogen Isotherm Physisorption method and yields a maximum specific surface area of 891,212 m2/g with total pore volume of 0,467 cc/g. This maximum specific surface area was obtained from coconut shells which was taken from Pasar Caringin consisting of 84,7418 % carbon. The characterization of electric property was conducted using Cyclic Voltammetry with nanoporous carbon, black karbon, and PVDF based electrode that has 8:1:1 mass ratio. From this characterization, a maximum capacitance of 3,07 F/g was obtained from Pasar Gedebage’s coconut shell that has 83,1582 % carbon. From all five samples, there was no relation between carbon percentage and nanoporous carbon’s specific surface area. Keywords: Nanoporous Carbon, Specific Surface Area, Initial Contents, Coconut Shell
Perancangan Dan Realisasi Sistem Manajemen Termal Baterai Lithium Ion Menggunakan Metode Pendinginan Semi Pasif Achmad Rifdatul Hisan; Ismudiati Puri Handayani; Reza Fauzi Iskandar
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baterai adalah salah satu media penyimpan dan penyedia energi melalui reaksi kimia yang fungsi kerja dan umurnya dipengaruhi oleh suhu. Saat suhu meningkat dapat memberikan efek yaitu overcharge, short circuit, atau  bahkan ledakan pada baterai. Pada penelitian ini dirancang sistem manajemen termal baterai untuk dapat memantau pengaruh suhu terhadap kinerja baterai, serta mengurangi efek negatif suhu pada baterai. Sistem yang dibuat berupa purwarupa dengan pemanas yang terbuat dari paraffin sebagai phase change material (PCM) dan melibatkan kipas yang membantu distribusi panas. Selanjutnya purwarupa diuji dengan menggunakan pemanas listrik dengan daya 280 watt dan diimplementasikan pada baterai pack yang terdiri atas tiga dan enam baterai. Penyebaran panas secara konveksi paksa dilakukan dengan menggunakan kipas dengan putaran 4100 RPM dan 4500 RPM. Dari pengujian purwarupa dapat diketahui bahwa paraffin mulai berubah fasa pada suhu 40    . Sedangkan pada pengujian baterai, pada proses pengisian selama 5500 detik suhu terendah diperoleh sebesar 30     ketika penggunaan kipas 4100 rpm. Proses tersebut lebih cepat jika  menggunakan  kipas  4500  rpm  yaitu  pengujian  selama  6500  rpm  disuhu  27    .  Selain  itu,  proses pengosongan baterai tidak terlalu dipengaruhi oleh suhu. Permodelan dengan menggunakan MATLAB® menunjukkan  kecenderungan  yang  sama  dengan  hasil  eksperimen  dengan  selisih  sebesar  0.5  volt. Selanjutnya proses pemodelan distribusi panas dengan COMSOL®  menunjukkan bahwa sistem pendingin mencapai suhu yang lebih cepat dibanding eksperimen. Hasil ini menunjukkan bahwa proses konduksi dan konveksi paksa masih perlu dioptimalkan. Kata kunci: sistem manajemen termal, baterai lithium ion, MATLAB®, COMSOL®
Pengaruh Pengkondisian Temperatur Pada Produksi Benih Kentang Dengan Menggunakan Sistem Aeroponik Yudika Pratamanda; Ismudiati Puri Handayani; Ahmad Qurthobi
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pertanian aeroponik merupakan sistem pertanian yang menggunakan udara sebagai media pengganti tanah sebagai tempat tumbuh akar. Pada penelitian ini, telah dibuat sebuah instrumen yang mampu mengkondisikan temperatur ruang tumbuh akar tanaman pada sistem pertanian aeroponik dengan menggunakan Arduino. Sistem dirancang agar mampu memonitor perubahan suhu dan mendistribusikan nutrisi  menggunakan pompa melalui nozzle. Selain mendistribusikan nutrisi, air dingin didistribusikan juga secara bersamaan dengan nutrisi untuk menurunkan temperatur pada ruang tumbuh akar tanaman. Tanaman kentang dipilih sebagai tanaman percontohan dengan pertimbangan kentang dapat menjadi makanan alternatif pengganti nasi yang tingkat produksinya masih rendah. Sebagai pembanding, dibuat juga sistem aeroponik tanpa menggunakan pengkondisian tempertur dengan tujuan untuk mengetahui perbandingan antara keduanya. Temperatur rata-rata pada ruang tumbuh akar dengan menggunakan pengkondisian temperatur sebesar (21,35 ± 2,63) °C, tinggi rata-rata tanaman (102,75 ± 1,57) cm, jumlah umbi yang diproduksi sebanyak 185 umbi dengan jumlah umbi rata - rata pertanaman sebesar 17 umbi per tanaman. Untuk ruang tumbuh akar tanaman tanpa menggunakan pengkondisian temperatur memiliki temperatur rata – rata (23,09 ± 3,31) °C, tinggi rata – rata tanaman (98,38 ± 1,50) cm, dan jumlah umbi yang diproduksi sebanyak 168 umbi dengan jumlah umbi rata – rata pertanaman sebesar 8 umbi pertanaman. 
Rancang Bangun Alat Uji Tarik Untuk Karakterisasi Sifat Mekanik Dan Listrik Pada Material Konduktif Fleksibel Christo Sebastian Kristena; Ismudiati Puri Handayani; Indra Chandra
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Elektronik fleksibel merupakan sebuah peranti elektronik yang memanfaatkan material konduktif atau semikonduktor yang dideposisi di atas substrat fleksibel. Karena bentuknya yang mudah diubah, elektronik fleksibel memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya, sebagai sensor elastis yang dapat diletakkan pada pakaian atau organ tubuh untuk memantau kinerja dari tubuh manusia dan perangkat yang dapat ditekuk. Sifat fleksibel ini dapat meningkatkan ketahanan dari sebuah rangkaian elektronik karena tidak mudah patah. Dalam mengaplikasikan elektronik fleksibel, perlu diperhatikan pengaruh tarikan mekanik terhadap sifat mekanik dan listrik bahan tersebut. Substrat elastis harus dipilih yang mampu mempertahankan sifat elastisitasnya. Selain itu elemen konduktif yang dideposisi di atas substrat fleksibel harus dijaga agar secara fisis tidak rusak dan masih memiliki sifat listrik yang sama meskipun sudah mengalami tarikan mekanik berkali-kali. Mempertimbangkan hal ini, telah dirancang dan dikembangkan alat uji tarikan pada material konduktif fleksibel untuk mempelajari sifat mekanik material dan hubungan antara sifat mekanik dengan sifat listrik dari material tersebut. Bagian bidang penarik pada alat uji tarikan ini dibuat dengan dimensi 15 x 8 x 3 cm sehingga dapat diintegrasikan dengan alat uji lain seperti mikroskop yang dapat digunakan untuk mengamati perubahan fisik bahan yang diuji. Hasil pengujian tanpa beban, menunjukkan bahwa alat mampu memberikan gaya maksimum sebesar 26,59 N dan bergeser secara simetris sebesar 40,00 mm pada saat gaya maksimum diterapkan. Gaya dapat divariasi dengan resolusi sebesar 0,14 N sedangkan pergeseran memiliki resolusi sebesar 0,02 mm. Pengujian alat untuk mengkarakterisasi substrat polyethylene terephthalate (PET) dengan ukuran 6,50 x 3,80 x 0,17 mm menunjukkan alat mampu memberikan gaya maksimum sebesar 2,16 N dengan variasi terkecil 0,14 N serta pergeseran maksimum sebesar 0,16 mm dan variasi pergeseran terkecil 0,01 mm. Pada saat elemen konduktif pasta perak dideposisi di atas PET dan diuji dengan alat ini, diperoleh informasi bahwa resistansi relatif stabil pada saat material ditarik dengan regangan 0,10 % dan bertambah hingga sekitar 10,00  pada saat penarikan dengan besar regangan 1,00%. Hasil karakterisasi dua elemen konduktif yang berbeda resistansi juga memperlihatkan bahwa material yang lebih konduktif cenderung lebih stabil terhadap tarikan mekanik. Kata Kunci : Alat uji tarikan, flexible electronics, material konduktif fleksibel Abstract Flexible electronics is an electrical device using flexible substrate in which a conductive or a semiconducting material is deposed on it. Due to the capability of changing its geometry, flexible electronics has many applications, such as elastic sensor or bendable devices that can be put on clothing or human’s organ to examine human body performance. To apply flexible electronics into devices, it is important to understand the effects of mechanical tensile force to the mechanical and electrical properties of the material. The material should be able to maintain its elasticity, physical properties, as well as electrical properties after experiencing mechanical tensile forces for many times. Considering to this issue, a mechanical test instrument has been designed and built to characterize the mechanical properties of flexible conductive material and to study the correlation between mechanical and electrical properties of the material. The instrument is connected to digital microscope so that any physical changes of the material including any possible damages after mechanical stretches are observed. The instrument is able to generate a maximum force of 26.59 N and a maximum displacement of 40,00 mm. The smallest variation of the mechanical force and displacement are 0.14 N and 0.02 mm, respectively. The instrument is able to generate a maximum force of 2.16 N on 6.50 x 3.80 x 0.17 mm PET. This force triggers a maximum stretch of 0.13 mm. The smallest stretch is 0.01 mm. This mechanical stretch affects the material resistance. The resistance of silver paste deposed on top of PET is observed to be relatively constant when 0,10% strain is applied. However, this resistance changes about 10,00  when 1,00% strain is applied. Less resistive material is observed to be more stable against the mechanical strain. Keywords: Conductive material, flexible electronics, PET, tensile test instrument
identifikasi Efek Keseragaman Terhadap Penyebaran Resin Pada Bahan Fiber Dengan Metoda Multilevel Threshold Nadhifa Noor Septina; Ismudiati Puri Handayani; Hertiana Bethaningtyas Dyah
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Citra bahan komposit yang dibuat dengan teknik dry lay-up, hand lay-up, dan laminasi telah dianalisis menggunakan metoda multilevel thresholding dan software Matlab R2016b. Masing-masing citra diklasifikasikan menjadi 7 segmen dan tiap-tiap segmen mewakili intensitas dan jumlah piksel yang berbeda. Segmen dengan derajat keabuan rendah dengan rentang intensitas piksel 0 - 150 mewakili daerah yang memiliki void, sedangkan segmen dengan derajat keabuan tinggi dengan rentang intensitas piksel 151 - 255 mewakili daerah yang tertutup oleh resin. Hasil analisis citra dikaitkan dengan data hasil uji mekanik yang meliputi tensile strength dan modulus Young. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh, bahan komposit dry lay up selalu konsisten memiliki tensile strength yang kuat, jika jumlah prosentase void lebih kecil. Komposit yang dibuat dengan teknik yang lainnya belum menunjukkan hasil yang konsisten. Selain itu tidak ditemukan kaitan antara modulus Young dengan jumlah void. Kata kunci: komposit, piksel, multilevel thresholding, sifat mekanik. Abstract The image of composite material from dry lay-up, hand lay-up, and lamination techniques has been analyzed using multilevel thresholding image method and processed with Matlab R2016b’s software. Each image is classified into 7 segments and each segment represents a different intensity and number of pixels. Segments with a low gray degree with a range of pixels intensity 0 - 150 are represent the regions with void, while segments with high gray degrees with a range of pixel intensities 151 - 255 are represent the regions covered with resin. The results of image analysis are associated with mechanical test results including tensile strength and Young modulus. Based on results of the analysis obtained, dry lay up composite materials have strong tensile strength consistenly, if the number of voids is smaller. Composite materials with other techniques have not shown consistent results. In addition, there was no association between Young's modulus and the number of voids. Keywords: composite, pixel, multilevel thresholding, mechanical properties..
Optimasi Parameter Spin Coating Untuk Deposisi Lapisan Tipis Molibdenum Disulfida Hastuti Delima; Ismudiati Puri Handayani; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tugas akhir ini mempelajari tentang lapisan MoS2 yang dideposisi di atas substrat PET, ITO/PETdan SiO2 dengan menggunakan dua metode yaitu drop casting dan spin coating. Untuk mendapatkanlapisan MoS2 yang tipis dan merata maka perlu dilakukan optimasi parameter spin coating yang baik. Padapenelitian ini, kecepatan putar dan lama waktu putar (pick dwell) divariasikan untuk mengoptimasi sebaranlapisan yang dapat mempengaruhi sifat optik dan listrik. Lapisan MoS2 yang dideposisi denganmenggunakan cara spin coating menghasilkan lapisan yang lebih tipis dibandingkan dengan cara dropcasting. Untuk deposisi dengan spin coating sebaran MoS2/PET terlihat lebih banyak celah dibandingkandengan sebaran lapisan MoS2/ITO/PET dan MoS2/SiO2. Lapisan MoS2/PET menghasilkan ketebalan rataratasebesar7nmsedangkanlapisanMoS2/ITO/PETmenghasilkanketebalanrata-ratasebesar5nm.Jikawaktuputarlebihsingkatmakadiperolehlapisanyangtebal.PadasaatkecepatanputarmeningkatmakalapisanMoS2yangdihasilkanlebihtipis.PengukuransifatlistrikdilakukandengancaramengamatikurvakarakteristikI-V lapisan MoS2 pada substrat. Proses deposisi tidak terlalu mempengaruhi sifat listrikdibandingkan dengan jenis substrat yang digunakan. Kata kunci : MoS2, PET, ITO/PET, SiO2, drop casting, spin coating. Kata Kunci: MoS2, PET, ITO/PET, SiO2, drop casting, spin coating This final project studies the MoS2 layer deposited on PET, ITO / PET and SiO2 substrates using twomethods, namely drop casting and spin coating. To get a thin and evenly distributed MoS2 layer, a good spincoating parameter optimization is needed. In this experiment, the rotating speed and pick dwell were varied inorder to optimize the layer distribution. Which might affect optical and electrical properties. The deposited MoS2layer using spin coating results in a thinner layer thickness than the drop casting method. The distribution ofMoS2 / PET has more gaps between two layers compared to the distribution of MoS2 / ITO / PET and MoS2 /SiO2 layers. The average thickness of the MoS2 / PET layer & MoS2/ITO layers are 7 nm and 5 nm, respectively.The shorter the pick dwell, the thicker the layer. The thickness decreases with the increasing of the spin coatingrotating speed. Electrical characteristic measurement was being done by observing I-V characteristic curve ofMoS2 layer on each substrates. Deposition methods do not influence significantly the electrical propertieswhich are more dependent on substrat types. Keywords : MoS2, PET, ITO/PET, SiO2, drop casting, spin coating.
Efek Variasi Substrat Terhadap Sifat Listrik Tungsten Disulfida Athalya Maida Utama; Ismudiati Puri Handayani; Memoria Rosi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian yang dilakukan pada tugas akhir ini adalah mengamati sebaran lapisan dan mempelajari sifat listrik dari lapisan Tungsten Disulfida (WS2) yang dideposisi di atas berbagai substrat. 1 mg/mL WS2 dimodifikasi dengan 2 mg/mL NaOH dan 10 mL NMP menggunakan metode eksfoliasi fasa cair. Warnadari larutan WS2 dengan bertambahnya waktu sonikasi. Hal ini mengindikasikan proses eksfoliasi. Daripengukuran transmisi, WS2 yang dieksfoliasi mengalami pergeseran dibandingkan dengan non eksfoliasi.WS2 yang dieksfoliasi menyerap cahaya dengan dengan puncak serapan pada panjang gelombang 528 nm,sedangkan WS2 non eksfoliasi menyerap cahaya dengan puncak serapan pada panjang gelombang 564 nm.Pergeseran panjang gelombang juga terlihat dari cahaya yang diemisikan. WS2 yang dieksfoliasimengemisikan cahaya pada panjang gelombang 741 nm, sedangkan WS2 non eksfoliasi mengemisikancahaya pada panjang gelombang 880 nm. Larutan WS2 yang telah dimodifikasi menyerap cahaya padapanjang gelombang 564 nm. Hasil sebaran lapisan WS2 di atas substrat PET lebih merata dibandingkan diatas substrat ITO/PET dan SiO2. Lapisan yang terbentuk memiliki ketebalan 12 nm di atas substrat PETdan 7 nm di atas substrat ITO/PET. Lapisan WS2 di atas substrat PET dan ITO/PET menyerap cahaya disekitar panjang gelombang 600 – 650 nm dengan puncak serapan 600 nm. Karakterisasi sifat listrikdilakukan dengan cara mengamati kurva karakteristik I-V dari lapisan WS2 di atas substrat PET dan SiO2.Nilai arus yang dihasilkan oleh lapisan WS2 di atas substrat PET berkisar antara – 0,78 nA sampai 1,06 nAsaat tegangan divariasi dari -10 V sampai 10 V dengan Vth = 4,037 V. Hasil perhitungan menunjukkanbahwa resistivitas WS2 bernilai 0,105 GΩ.μm. Nilai arus yang dihasilkan oleh lapisan WS2 di atas substratSiO2 berkisar antara – 9,105 μA sampai 3,59 μA saat tegangan divariasi dari -5 V sampai 5 V denganVth = 3,03 V. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa resistivitas WS2 bernilai 0,8 MΩ.μm. WS2 di atassubstrat ITO/PET tidak bisa dikarakterisasi sifat listriknya karena konduktivitas ITO/PET terlaludominan. Kata Kunci: WS2, SiO2, PET, ITO/PET, Eksfoliasi, Sifat ListrikAbstract The research is aimed to observe the layer distribution and to study the electrical properties of the TungstenDisulfide (WS2) deposited on various substrates. 1 mg/mL WS2 was modified with 2 mg/mL NaOH and 10 mLNMP using liquid phase exfoliation method. The WS2 liquid colour changes with the increasing time ofsonication process. It indicates the exfoliation process. From transmission measurement, it was observed thatthe exfoliated WS2 spectra experiences a blue shift compared to the non exfoliation one. Modified WS2 liquidabsorbed light at wavelength of 528 nm while the non exfoliation absorb light at wavelength of 564 nm. A clearemission centered at wavelength of 741 nm was observed for exfoliated sample, whereas it was at wavelengthof 880 nm for non exfoliated one. The WS2 layers on top of PET substrate were distributed more uniformcompared to the ones on the ITO/PET and SiO2 substrates. The formed layers on PET and ITO/PET substratehave average thickness of 12 and 7 nm, respectively. WS2 layer on PET and ITO/PET substrate absorbed lightat wavelength of 600 – 650 nm with absorption peak at wavelength of 600 nm. Characterization of electricalproperties was done by observing I-V curve. The current generated by the WS2 layer on the PET substrate was– 0,78 nA to 1,06 nA when voltage was varied from -10 V to 10 V with Vth = 4,037 V and the resistivity of 0,105GΩ.μm. The current generated by the WS2 layer on the SiO2 substrate was – 9,105 μA to 3,59 μA when voltagewas varied from -5 V to 5 V with Vth = 3,03 V and the resistivity of 0,8 MΩ.μm. The WS2 layers on top ofITO/PET substrate could not be characterized by its electrical properties because ITO/PET conductivity was dominant. Keywords: WS2, SiO2, PET, ITO/PET, Exfoliation, Electrical Properties
Efek Variasi Substrat Terhadap Sifat Listrik Boron Nitrida Asep Wildan Sugiman; Ismudiati Puri Handayani; Memoria Rosi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tugas akhir ini mempelajari sebaran lapisan BN dan sifat lstrik BN (Boron Nitrida) yang dideposisidi atas substrat Polyethylene Terephthalate (PET), Indium Tin Oxide/Polyethylene Terephthalate(ITO/PET), dan SiO2.Lapisan BN dibuat dengan cara memodifikasi 1 mg/mL BN menggunakanmetode eksfoliasi fasa cair yang ditambahkan interkalator 2 mg/mL NaOH dan diikuti dengan dropcasting di atas substrat. Sebaran lapisan BN pada PET dan ITO/PET terlihat merata, sedangkanpada SiO2 terlihat daerah tipis dan sebagian tebal. Perilaku semikonduktor terlihat pada BN/PETyang menghasilkan arus -315 nA sampai 154 nA saat tegangan divariasi dari -10 v sampai 10 vdengan Vth = 2V dan memiliki resistivitas 0,29x104 Ωcm. Perilaku yang sama ditunjukan olehBN/SiO2 yang menghasilkan arus -0,7 mA sampai 0,1 mA saat tegangan divariasi dari -10V sampai 10V dengan Vth = 4V dan mempunyai resistivitas 1,1 Ωcm. Hal ini berbeda pada BN pada ITO/PETyang menunjukkan perilaku gabungan insulator dan semikonduktor serta menghasilkan arusberkisar antara -4,3 mA sampai 3,14 mA saat tegangan divariasi dari -5V sampai 5V dan memilikiresistivitas 0,02 Ωcm. Dapat disimpulkan bahwa substrat mempengaruhi sebaran BN, ketebalanlapisan BN, dan sifat listrik BN. Namun tidak ada pengaruh substrat terhadap serapan dan emisispektrum cahaya. Kata Kunci: BN, PET, ITO, SiO2, Eksfoliasi, Sifat ListrikAbstract This final project aims to understand the distribution of Boron Nitride (BN) layer and the electricalproperties of BN deposited on Polyethylene Terephthalate (PET), Indium Tin Oxide/PolyethyleneTerephthalate (ITO/PET), and SiO2 substrate. The BN layer was created by modifying 1 mg/mL BNusing liquid phasse exfoliation method which was added by intercalator 2 mg/mL NaOH followed bydrop casting deposition on top of the substrates. BN layers were distributed more uniform on PET andless uniform on ITO/PET, while BN layers on SiO2 consisted of thick and thin layers. Electricalcharacterization was conducted by varying bias voltage and observing output current. Typicalsemiconductor characteristic I-V curve was observed on BN/PET. The current varies between -315 nAto 154 nA with bias voltage ranging from -10 v to 10 v and the Vth = 2 v. It has resistivity of 0,29x10Ωcm. The same characteristic is showed by BN/SiO2 which produces currents -0.7 mA to 0.1 mA withbias voltage ranging from -10 to 10v and the Vth = 4 v. It has resistivity of 1.1 Ωcm. This is differentwith BN deposited on ITO/PET showing both insulators and semiconductors which produces currents ranging from -4.3 mA to 3.14 mA with bias voltage ranging from -5 v to 5 v. It has resistivity of 0.02Ωcm. It can be concluded that substrates influence the BN layer distribution, BN layer thickness, andelectrical properties. However, there is no effect on optical spectrum measurement. Keywords: BN, PET, ITO, SiO2, Exfoliation, Electrical Properties, Mechanical Properties.
Karakterisasi Raman Spektroskopi Pada Heterostruktur Mos2/ws2 Fitria Dwi Puspitaningrum; Ismudiati Puri Handayani; Memoria Rosi
eProceedings of Engineering Vol 8, No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Material 2D graphena menghasilkan banyak inovasi baru dibidang material antara lain sebagai superkapasitor, lithium baterai dan penyimpanan energi pada sel surya. Namun diantara sifat-sifat baik yang dimiliki graphena, ketidak adaan celah pita energi graphene membuat celah pita energi material tersebut tidak mudah dikontrol seperti semikonduktor. Material dichalcogenida yang memiliki sifat semikonduktor diusulkan menjadi pelengkap graphene dan biasanya dikombinasikan menjadi suatu heterostruktur. Selain itu heterostruktur dichalgonide juga banyak diteliti dan menghasilkan sifat menarik seperti sebagai fotodetektor. Pada tugas akhir ini penulis mempelajari heterostruktur MoS2/WsS2 yang dibuat diatas substrat fleksibel PET dan dihasilkan dalam ruang terbuka dengan metode pengelupasan mekanik. Karakterisasi Raman spektroskopi dilakukan dengan menggunakan Xplora dan HR Horiba Raman Spektrometer, laser eksitasi berpanjang gelombang 532 nm dan range pengukuran 100-500 cm-1 . Mode-mode vibrasi MoS2 dan WS2 teramati dengan cukup jelas dan mencirikan perbedaan bahan monostruktur dan bahan heterostruktur. Pengembangan heterostruktur MoS2/WsS2 multilayer ini diharapkan dapat menyajikan informasi mengenai karakteristik pada bahan yang digunakan untuk mempermudah analisis dalam peningkatan pengembangan perangat elektronik berbasis nanodevice dimasa mendatang. Kata kunci: heterostruktur MoS2/WS2, spektroskopi Raman, eksfoliasi mekanik. Abstract Graphene 2D material produces many new innovations in the field of materials such as supercapacitors, lithium batteries and energy storage in solar cells. But among the good properties that graphene has, the ins and no gaps in graphene energy bands make the gaps in the material's energy bands not easily controlled like semiconductors. Dichalcogenide material that has semiconductor properties is proposed to be a complement to graphene and is usually combined into a heterostructure. In addition, heterostructure dichalgonide is also widely researched and produces interesting properties such as photodetektor. In this Final Project the author studied the MoS2/WsS2 heterostructure created on top of the PET flexible substrate and produced in an open space by mechanical exfoliation method. Characterization of Raman spectroscopy is done using Xplora and HR Horiba Raman Spectrometer, laser excitation with wavelength of 532 nm and measurement range of 100- 500 cm-1. MoS2 and WS2 vibration modes are observed quite clearly and characterize differences in monostructure materials and heterostructure materials. The development of the MoS2/WS2 multilayer heterostructure is expected to provide information on the characteristics for future nanodevice-based electronics. Keywords: MoS2/WS2 multilayer heterostructure, Raman spectroscopy, mechanical exfoliation method
PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT RW 6 DESA CITEUREUP MELALUI PRODUKSI MASAL, PEMASARAN, DAN PENGURUSAN IJIN EDAR PRODUK SABUN Ismudiati Puri Handayani; Memoria Rosi; Hertiana Bethaningtyas
Prosiding COSECANT : Community Service and Engagement Seminar Vol 2, No 2 (2022)
Publisher : Universitas telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.954 KB) | DOI: 10.25124/cosecant.v2i2.18634

Abstract

Pendampingan masyarakat pada proses pemulihan ekonomi pasca pandemi perlu dilakukan terus menerus hingga masyarakat dapat secara mandiri mengelola kegiatan usahanya. Dengan pendapatan rata-rata masyarakat RW 6 Desa Citeureup sekitar 1-3 juta dan pengeluaran berkisar antara 1- 5 juta, perlu diberikan alternatif kegiatan usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Pada kegiatan pengabdian masyarakat skema Community Service Engagement (CSE) tahun 2022 ini kami melanjutkan kegiatan sebelumnya dengan cara memformulasikan kembali resep sabun cuci piring yang dapat diproduksi massal dan dipasarkan oleh ibu-ibu rumah tangga kader PKK RW 6 Desa Citeureup. Hasil formulasi telah dapat diproduksi dan dipasarkan sebanyak 147 L pada bulan Oktober dan November dengan cara bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Citeureup. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah pengurusan ijin edar Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) produk sabun cuci agar dapat dipasarkan lebih luas lagi serta meningkatkan partisipasi kader PKK RW lain di Desa Citeureup dan diversifikasi produk PKRT lainnya. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini mendukung program SDGs “Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia”. Kegiatan ini juga bagian dari upaya pemberdayaan perempuan khususnya ibu rumah tangga kader PKK dan implementasi keahlian di Teknik Fisika khususnya bidang Material.Kata Kunci: Peningkatan ekonomi, pemberdayaan perempuan, sabun cuci piring, PKRT, diversivikasi produk