Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

MICRO-LEAKAGE OF PREHEATED COMPOSITE AS A CEMENTATION MATERIAL IN INDIRECT ADHESIVE RESTORATION (LITERATURE REVIEW) Mirza Aryanto
B-Dent: Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Baiturrahmah Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/jbd.v9i1.985

Abstract

Introduction: Composite resin is a material that is often used to perform dental restorations, but it can cause a deficiency called polymerization shrinkage which can be overcome by preheating the composite material. In several studies, there are differences of opinion regarding using preheating techniques at 60oC to overcome polymerization shrinkage. Review: This article intends to analyze the level of microleakage on the restoration of adhesive indirectly as cementing materials with preheated composites. A total of 49 journals from PubMed, NCBI, BMC, Research gate, Z-library, EBSCO, Google Scholar, and other international journal websites were analyzed. Conclusion: The preheating method showed samples with heating of 60oC had statistically lower microleakage at cervical margins. However, preheating resulted in an increase in the contraction voltage of undesirable polymerization.
Bond Strength Level of Preheated Composite Used as a Cement in Indirect Adhesive Restoration Mirza Aryanto; Fitria Akbar
Sriwijaya Journal of Dentistry Vol. 2 No. 2 (2021): Sriwijaya Journal of Dentistry
Publisher : Dentistry Study Program, Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.443 KB) | DOI: 10.32539/sjd.v2i2.20

Abstract

Introduction: Heating composite resins can reduce viscosity properties, increase adaptation to cavity walls, and facilitate application. There is still a lot of debate about the degree of microleakage and bond strength in preheated composites to determine how strong these composites are as cementation materials. Purpose: To analyze the strength level of preheated composite as cementation material in indirect adhesive restoration in terms of microleakage rate and bond strength. Methods: Preheating composite can reduce the viscosity of the composite to facilitate the placement of the composite and obtain better adaptation to the cavity wall. By analyzing the relevant references, the strength of the preheated composite material will be investigated by looking at the level of microleakage and the level of bonding between surfaces. Conclusion: Heating the composite to an appropriate temperature (50°C) can reduce microleakage and increase the micro-shear bond strength in the exposed dentin.
Perbandingan efektivitas jus buah pir dengan jus buah stroberi sebagai bahan pemutih gigi yang mengalami diskolorasi Aryanto, Mirza; Fathan, Muhammad Omar
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.46583

Abstract

Banyak masyarakat mengalami perubahan warna pada gigi. Perawatan yang dapat mengatasi masalah ini adalah pemutihan gigi, tetapi bahan pemutih kimia seperti hidrogen peroksida dan karbamid peroksida memiliki efek iritasi dan sensitif, sehingga membuat para peneliti mencari alternatif bahan pemutih gigi alami yang lebih aman dan mudah dicari. Buah pir hijau mengandung hidrogen peroksida dan buah stroberi mengandung asam elegat yang dapat dijadikan pemutih gigi alami. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh jus buah pir dan jus buah stroberi dalam mengubah gigi yang mengalami diskolorasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan metode pretest dan posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 gigi anterior. Sampel direndam selama 1 hari di dalam larutan teh hitam. Setelah itu sampel dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang direndam dengan jus buah pir dan jus buah stroberi dan kelompok kontrol yang direndam karbamid peroksida 10%, Masing-masing kelompok direndam selama 5 hari. Setiap setelah perlakuan dilakukan pengukuran menggunakan Vita Easyshade untuk melihat nilai lightness. Jus pir dan karbamid peroksida memiliki perbedaan signifikan dengan nilai signifikan p = 0,009 Jus stroberi dan karbamid peroksida 10% tidak memiliki perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,269. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jus buah stroberi lebih efektif dibandingkan jus buah pir dalam memutihkan gigi yang telah mengalami diskolorasi.
The Effectiveness of Propolis Antibacterial Against Staphylococcus aureus as an Alternative to Root Canal Irrigation Ihsan Firdaus; Aryanto, Mirza; Paath, Stanny Linda; Hayati, Nurani
Sriwijaya Journal of Dentistry Vol. 5 No. 1 (2024): Sriwijaya Journal of Dentistry
Publisher : Dentistry Study Program, Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Irritation by bacteria can cause infection of the dental pulp, including Staphylococcus aureus which is the most resistant facultative microorganism that can cause root canal treatment failure. Root canal treatment is necessary to eliminate infection and protect the decontaminated tooth. Eliminating microorganisms from infected root canals is a complex task that requires various instrumentation techniques such as root canal irrigation, and the selection of irrigation materials that have antibacterial criteria, one of which is propolis. The antimicrobial properties of propolis are related to the presence of flavonoids. The antimicrobial activity of propolis is very effective against gram-positive and gram-negative bacteria. Purpose: To explain the inhibition of propolis extract as an alternative to irrigation solution in habituating the growth of Staphylococcus aureus bacteria in root canal treatment. Methods: This research is true experimental research conducted using the disc method in a laboratory. The samples tested were 24 samples in the form of Staphylococcus aureus bacteria in Tryptic Soy Agar (TSA) media. Variations of treatment concentration were propolis extract 2.5%, 5.25%, NaOCl 5.25% (positive control) and sterile distilled water (negative control). Results: The average inhibition of Staphylococcus aureus bacteria in propolis Trigona sp. 5.25% was 8.6 ± 0.5 mm. In positive control NaOCl 5.25% was 9.5 ± 0.9 mm. Hypothesis testing has a value of p=0,000 (p<0,05). Conclusion: There is an inhibitory activity against Staphylococcus aureus bacteria at a concentration of 5.25% propolis extract.
DAYA HAMBAT EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Enterococcus faecalis ATCC 29212 Aryanto, Mirza; Tjiptoningsih, Umi Ghoni; Yordan, Belly; Alawiyah, Tuti; Latifa, Witriana; Khusnudhani, Annastasya
M-Dental Education and Research Journal Vol 3, No 2 (2023): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Infeksi intraradikular persisten disebabkan mikroorganisme yang sulit dibasmi dengan prosedur antimikroba intrakanal. Enterococcus faecalis merupakan bakteri yang umum pada kasus kegagalan endodontik. Perawatan saluran akar dilakukan untuk menghilangkan populasi mikroba dalam sistem saluran akar dan mencegah infeksi ulang. Larutan irigasi endodontik direkomendasikan karena memiliki aktivitas antimikroba yang luas. NaOCl adalah agen antimikroba yang sangat efektif, tetapi bersifat sitotoksik, sehingga dibutuhkan produk alternatif bahan alami yang memiliki sifat antibakteri, salah satunya adalah bawang putih. Tujuan: Mengetahui daya hambat ekstrak bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212. Bahan dan Metode: Penelitian ini adalah true experimental yang dilakukan menggunakan metode difusi cakram di laboratorium. Sampel yang diuji berjumlah 25 sampel berupa biakkan bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212 dalam media Mueller Hinton Agar (MHA). Variasi konsentrasi perlakuan adalah ekstrak bawang putih 100%, 75%, 50%, NaOCl 2,5% (kontrol positif), dan aquades (kontrol negatif). Hasil Penelitian: Hasil perhitungan secara statistik dengan besar rata-rata daya hambat ekstrak bawang putih pada konsentrasi 100%, 75%, 50% adalah 6,00 mm. Kesimpulan: Ekstrak bawang putih tidak menunjukkan daya hambat terhadap bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212 pada konsentrasi 100%, 75%, dan 50%.
DAYA HAMBAT LARUTAN IRIGASI KUNYIT PUTIH (Curcuma Zedoaria) TERHADAP BAKTERI Enterococcus faecalis Paath, Stanny Linda; Aryanto, Mirza; Pongtiku, Arya Agung Permana
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 21, No 1 (2025): MEI 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v21i1.5024

Abstract

Latar Belakang: Perawatan saluran akar bertujuan untuk menghilangkan bakteri dan mencegah terjadinya infeksi ulang. Namun, perawatan saluran akar bisa gagal karena bakteri di dalam akar, yaitu Enterococcus faecalis. Bakteri ini dapat dihilangkan dengan larutan NaOCl karena memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi, tetapi memiliki kekurangan yaitu sitotoksik dengan aroma yang menyengat. Kunyit putih merupakan rempah-rempah dan sering digunakan sebagai obat tradisional. Ekstrak kunyit putih berpotensi menjadi alternatif bahan irigasi saluran akar karena mengandung bahan aktif yang bersifat antibakteri. Bahan dan Metode Penelitian: Penelitian dilakukan di 4 tempat berbeda yaitu laboratorium BPSI untuk pembuatan esktrak sampel kunyit putih, laboratorium kimia UI dan Yarsi untuk uji fitokimia, dan laboratorium bioteknologi PUSPIPTEK untuk uji daya hambat bakteri  Jenis penelitian eksperimental laboratorium yang menggunakan metode sumur/ zone well. Sampel berjumlah 28 sampel berupa biakan bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212 dalam media Mueller Hinton Agar (MHA). Empat kelompok perlakuan adalah ekstrak kunyit putih 80%, 100%, NaOCl 2,5%  dan akuades. Hasil Penelitian: Besar rata-rata daya hambat ekstrak kunyit putih (Curcuma zedoaria) konsentrasi 80% dan 100% adalah 1,69 mm dan 0,2686 mm, sedangkan pada NaOCl 2,5% sebesar 2,13 mm. Uji ANOVA  menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan  p=0,000 (p0,05). Pembahasan: Ekstrak Curcuma zedoaria 80% memiliki daya hambat terhadap E. faecalis yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 100%. Makin tinggi konsentrasi tidak membuat daya hambatnya makin tinggi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti difusi pada media agar dan tidak stabilnya ekstrak.  Kesimpulan: Ekstrak kunyit putih memiliki daya hambat yang rendah terhadap bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212 dibandingkan NaOCl 2,5%.
Daya hambat ekstrak kulit buah manggis terhadap bakteri aggregatibacter actinomycetemcomitans secara in-vitro: studi eksperimental laboratoris Tjiptoningsih, Umi Ghoni; Syarafina, Puti Ghassani; Amelia, Herlin; Aryanto, Mirza
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.49519

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Kulit buah Manggis (Garcinia Mangostana L.) mengandung senyawa antibakteri yaitu Xanthone, Saponin, Flavonoid Dan Tanin. Aggregatibacter Actinomycetemcomitans merupakan bakteri gram negatif yang berperan penting pada penyakit Periodontitis Agresif dan telah diasumsikan sebagai agen etiologi utama. Tujuan penelitian ini untuk  mengetahui daya antibakteri dari ekstrak kulit buah manggis (Garcinia Mangostana L) berdasarkan kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal KBM) terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter Actinomycetemcomitans (Aa). Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris secara in-vitro Uji Normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk, uji Homogenitas menggunakan uji Levene dan data tidak berdistribusi normal menggunakan uji Kruskal-Willis serta untuk mengetahui perbedaan bermakna menggunakan uji lanjutan Pairwise. Daya hambat dilakukan dengan metode dilusi menggunakan ekstrak kulit manggis sebanyak 10 sampel dengan variasi konsentrasi 50, 25, 12,5, 6,25, 3,125, 1,563, 0,781, 0,390, 0,195, dan 0,0975%. Kontrol positif klorheksidin 0,2%. Pengukuran dilakukan dengan mengamati adanya kejernihan pada tabung reaksi. Hasil kadar hambat minimal (KHM) dipertegas dengan melakukan kultur bakteri Aggregatibacter Actinomycetemcomitans (Aa) ada media agar BHI (Brain Heart Infusion) serta untuk mengetahui kadar bunuh minimal (KBM) ekstrak kulit manggis  Hasil: Ekstrak kulit manggis memiliki kadar hambat minimal (KHM) 12,5%-25%, kadar bunuh minimal (KBM) 25%.  Konsentrasi 50% dan 25% tidak ditemukan pertumbuhan bakteri atau steril, sementara pada konsentrasi 12,5% masih terdapat banyak pertumbuhan bakteri. Nilai P<0,05. Simpulan: Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia Mangostana L) memiliki daya antibakteri  berdasarkan kadar hambat minimal (KHM) antara 12,5-25% dan kadar bunuh minimal KBM) 25%  terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter Actinomycetemcomitans (Aa).Kata kunci : antibakteri, aggregatibacter actinomycetemcomitans, ekstrak kulit manggis, dilusiAntibacterial inhibition of mangosteen peel extract against aggregatibacter actinomycetemcomitans in vitro: a laboratory experimental studyIntroduction: Mangosteen peel (Garcinia Mangostana L.) contains antibacterial compounds, namely Xanthones, Saponins, Flavonoids and Tannins. Aggregatibacter Actinomycetemcomitans is a gram-negative bacterium that plays an important role in aggressive periodontitis and has been assumed to be the main etiological agent. The aim of this research was to obtain an explanation of the antibacterial power of mangosteen rind extract (Garcinia Mangostana L) based on the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) on the growth of Aggregatibacter Actinomycetemcomitans (Aa) bacteria. Method: This research is an in-vitro laboratory experimental study. Normality test using the Shapiro-Wilk test, homogeneity test using the Levene test and data not normally distributed using the Kruskal-Willis test and to determine significant differences using the Pairwise follow-up test. The inhibitory power was carried out using the dilution method using 10 samples of mangosteen peel extract with varying concentrations of 50%, 25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, 1.563%, 0.781%, 0.390%, 0.195%, 0.0975 %. and positive control 0.2% chlorhexidine. Measurements are carried out by observing the clarity of the test tube. Results: of the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) were confirmed by culturing the bacteria Aggregatibacter Actinomycetemcomitans (Aa) on BHI (Brain Heart Infusion) agar media and to determine the Minimum Bactericidal Concentration (MBC)  of mangosteen peel extract. Results: Mangosteen peel extract has a minimum inhibitory level (KHM) 12.5%-25%, minimum kill rate (KBM) 25%. at concentrations of 50% and 25% there was no bacterial growth or sterility, while at a concentration of 12.5% there was still a lot of bacterial growth. P value < 0.05. Conclusion: Mangosteen rind extract (Garcinia Mangostana L) has antibacterial power based on a the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) between 12.5% - 25% and a Minimum Bactericidal Concentration (MBC)  of 25% against the growth of Aggregatibacter Actinomycetemcomitans bacteria ( A A).Keywords : antibacterial, aggregatibacter actinomycetemcomitans, mangosteen peel extract, dilution