Unstain N. W. J. Rembet
Unknown Affiliation

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

The Distribution of Favites abdita Coral Reef (Ellis and Solander, 1786) in the Land of Coral Coast Village of Malalayang Dua, Malalayang sub-district Manado Yusuf Suleman; Laurentius T. X. Lalamentik; Unstain N. W. J. Rembet
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 1 (2017): ISSUE JANUARY - JUNE 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.1.2017.15154

Abstract

This study was conducted at Malalayang Dua waters (Sub-district Malalayang Dua, Manado City). The aim of study is: To know and to inform the coral of Favites abdita. The other aim was to describe the distribution of  Favites abdita. This research also will contribute for the management effort of coral reef in Malalayang Dua area, and also as information and literature in doing research at the same place in the future. Data collection was done by using simple random method with 1x1 meter quadrant. Every coral found was wrote at data sheet. The pictures of those coral was taken by using underwater camera. The highest percentage cover of  hard coral was found in station 3 (1.46%), while the lowest was wrote at station first (0.13%). The distributions patterns of hard coral were found in each stations are Clumped. There is no significant difference in number of colony, percentage cover and diameter for the three depths. Keyword : Distribution coral, Favites abdita Abstrak Penelitian ini dilaksanakan di pantai Kelurahan Malalayang Dua Kecamatan Malalayang Kota Manado. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menginformasikan serta bagaimana mengkaji distribusi karang batu F. abdita. Manfaat penelitian yaitu Memberikan kontribusi bagi upaya pengelolaan terumbu karang di wilayah Pantai Malalayang Dua dan Sebagai bahan informasi dan pustaka serta acuan dalam melakukan penelitian pada tempat yang sama di waktu yang akan datang. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode acak sederhana dengan mengunakan kuadran. Pada lokasi penelitian, ditentukan tiga titik pengambilan data, yaitu stasiun 1 stasiun 2 dan stasiun 3. Pada setiap stasiun diletakkan transek berukuran 10x10 meter sebanyak 30 kali ulangan mengunakan kuadran 1x1 meter dengan jarak setiap stasiun 100 meter. Setiap karang yang ditemukan dalam kuadran dicatat pada data sheet dan mengambil gambar dengan camera underwater. Persentase tutupan karang batu tertinggi diperoleh pada stasiun 3 yaitu sebesar 1,46 % dan tutupan terendah pada stasiun 1 yaitu 0,13 %. Pola distribusi karang batu pada ketiga stasiun masing (mengelompok). Pada ketiga kedalaman ini tidak terdapat perbedaan yang nyata antara jumlah koloni, persentase tutupan dan panjang diameter.
Macrozoobenthic community structure in subtidal soft-bottom area along the coast of Lembeh Island -North Sulawesi Ruddy D. Moningkey; Lawrence J. L. Lumingas; Unstain N. W. J. Rembet
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15531

Abstract

The present paper describes the soft-bottom macrozoobenthic community structure inhabiting Lembeh Island’s waters (North Sulawesi). Material for the study was collected from 5 stations in October 2013 using a La Motte grab (600 cm2) and subsequently sieved through a 1 mm square mesh sieve. A total of 1147 individuals belonging to 78 species (taxa) of macrozoobenthos  and representative of higher taxonomic groups belonging to 12 phyla were recorded and identified. Univariate analysis showed low abundance of individuals and number of species in the Pintu Kota station which has a black sludge of sediment but Shannon index values at this station is the highest. Instead Motto station relatively far from anthropogenic disturbance showed a high abundance of individuals and number of species but Shannon  index values at this station is the lowest. The station is dominated by Tanais sp at a density of 9533 individuals m-2. Shannon index is less sensitive to measure the effect of anthropogenic disturbances compared with the abundance of individuals and number of species. The multivariate analysis (Cluster Analysis and Correspondence Analysis) managed to separate the three groups (essemblage) makrozoobethos: Group A (Posokan), Group B (Motto) and Group C (Pancoran, Mawali and Pintu Kota). Abiotic factors such as granulometri, physicochemical, hydrodynamics and anthropogenic factors believed to be the factors controlling the formation of the ecological group.Keywords: macrozoobenthos, anthropogenic impact, multivariate analysis, Lembeh Island.   ABSTRAKTulisan ini menggambarkan struktur komunitas makrozoobentos substrat lunak yang menghuni perairan Pulau Lembeh (Sulawesi Utara). Materi untuk studi ini dikumpulkan dari 5 stasiun pada Oktober 2013 dengan menggunakan grab La Motte (600 cm2) dan kemudian disaring dengan saringan berukuran 1 mm persegi mata saringan. Sebanyak 1147 individu yang termasuk dalam 78 spesies (taksa) makrozoobentos dan mewakili 12 fila atau grup taksonomi telah dicatat dan diidentifikasi. Analisis univariat menunjukkan rendahnya kelimpahan individu dan jumlah spesies di stasiun Pintu Kota yang memiliki sedimen lumpur berwarna hitam tetapi nilai indeks Shannon di stasiun ini adalah yang tertinggi. Sebaliknya di stasiun Motto yang relatif jauh dari gangguan antropogenik menunjukkan tingginya kelimpahan individu dan jumlah spesies tetapi nilai indeks Shannonnya adalah yang terendah. Stasiun ini didominasi oleh Tanais sp dengan kepadatan 9533 individual m-2. Indeks Shannon kurang peka mengukur pengaruh gangguan antropogenik dibandingkan dengan nilai kelimpahan individual dan jumlah spesies. Analisis multivariat (Analysis Kluster dan Analisis Korespondensi) berhasil memisahkan 3 grup (essemblage) makrozoobetos: Grup A (Posokan), Grup B (Motto) dan Grup C (Pancoran, Mawali dan Pintu Kota). Faktor abiotik seperti granulometri, hidrodinamika dan fisika-kimia perairan serta faktor antropogenik diduga merupakan faktor-faktor pengendali pembentukan grup ekologis tersebut.Kata kunci: makrozoobentos, dampak antropogenik, analisis multivariat, Pulau Lembeh.  
Study on Ecological Economic Benefits of Mangrove in Sauk Village, Lolak Sub-district, Bolaang Mongondow District Muhammad Yusran Boynauw; Ridwan Lasabuda; Unstain N. W. J. Rembet
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 5 No. 2 (2017): ISSUE JULY - DECEMBER 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.5.2.2017.15911

Abstract

This study was carried out in Sauk village,  Lolak district, Bolaang Mongondow regency on June 10th – August 11th, 2016, around mangrove ecosystem at the geographic position of 00 50’ 10’’ N and 1230 56’ 40’’E. It was aimed to a) assess the ecological condition of the mangrove ecosystem of Sauk village based upon the community structure and (b) estimate the economic value of the mangrove ecosystem from direct and indirect benefit. Results found that the ecological value of the mangrove ecosystem was categorized as “rare” (<1000 trees/Ha), with low diversity index (< 2), and Sonneratia alba had very important role with the highest IVI. Total economic value was IDR. 1,116,830,000 per year based upon the benefit value.Keywords : economic benefit, ecology, mangrove ecosystem, Sauk village. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di Desa Sauk Kec, Lolak Kab. Bolaang Mongondow pada tanggal 10 juni–11 Agustus 2016, di sekitaran kawasan ekosistem mangrove Desa Sauk yang terletak pada posisi geografis N 00 50’ 10’’ dan E 1230 56’ 40’’. Tujuan penelitian ini adalah : (a) Menilai kondisi ekologi ekosistem mangrove di Desa Sauk berdasarkan struktur komunitas. (b) Menghitung nilai ekonomi ekosistem mangrove berdasarkan nilai guna langsung dan tidak langsung. Nilai ekologi  ekosistem mangrove di Desa Sauk dikategorikan “jarang” (<1000 pohon per Ha), dengan indeks keanekaragaman  rendah (< 2) dan jenis yang yang sangat berperan adalah Sonneratia alba yang memliki INP tertinggi. Sedangkan nilai ekonomi total berdasarkan nilai manfaat sebesar Rp.1.116.830.000 per tahun.Kata Kunci : Manfaat ekonomi, ekologi ekosistem mangrove Desa Sauk
Economic Valuation of Pasirpanjang Ecotourism in Lembeh Island Mustika Permata Sari; Unstain N. W. J. Rembet; Joudy R.R. Sangari
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20597

Abstract

Ecotourism is viewed as an economic incentive for the communities living near the protected areas, as well as a tool to enhance their participation to preserve an ecosystem. Pasirpanjang Ecotourism Area in Lembeh Island has been developed since some part of its’ waters were promoted as a Coastal and Small Island Conservation Area of Bitung City in 2014. The aims of this study are to estimate the economic value of Pasirpanjang Ecotourism Area using Zonal Travel Cost Method and resulting a policy recommendation to develop Pasirpanjang Ecotourism. This study was conducted in Pasirpanjang village, Sub-district of South Lembeh on May 2018. The result showed the total economic value of Pasirpanjang Ecotourism is Rp. 1,610,786,697 per annum. The result also indicated the importance of ecotourism concept to be considered by government in managing mangrove ecosystems. The potential value of the area of Pasirpanjang Ecotourism could be considered as a long term economic asset and for the sustainability of the conservation as well.Key Words: Economic Value, Pasirpanjang Ecotourism Area, Economic Incentive, Zonal Travel Cost MethodABSTRAKEkowisata dipandang sebagai insentif ekonomi bagi masyarakat yang berada di sekitar area perlindungan, serta menjadi alat untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam upaya pelestarian suatu ekosistem. Ekowisata Pasirpanjang di Pulau Lembeh telah dikembangkan sejak wilayah perairan di sekitarnya dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kota Bitung pada tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk menaksir nilai ekonomi dari Ekowisata Pasirpanjang menggunakan Metode Biaya Perjalanan Zonasi (Zonal Travel Cost Method) dan menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk pengembangan kawasan Ekowisata Pasirpanjang. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pasirpanjang di bagian selatan Pulau Lembeh pada bulan Mei 2018. Berdasarkan estimasi nilai ekonomi dari Ekowisata Pasirpanjang adalah sebesar Rp. 1.610.786.697 per tahun. Estimasi nilai tersebut menunjukan pentingnya konsep ekowisata sebagai pertimbangan oleh pemerintah dalam mengelola ekosistem mangrove. Potensi nilai Ekowisata tersebut juga dapat dipertimbangkan sebagai aset ekonomi jangka panjang dan keberlanjutan pelestarian. Kata kunci: Nilai ekonomi, Kawasan Ekowisata Pasirpanjang, Insentif ekonomi, Zonal Travel Cost Method