Muhammad Syafruddin Akmal
Universitas Negeri Makassar

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PELATIHAN MENGGAMBAR ILUSTRASI PADA MEDIA KERTAS BAGI MAHASISWA DESAIN KOMUNIKASI VISUAL, FAKULTAS SENI DAN DESAIN, UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR Muhammad Syafruddin Akmal; Muhammad Suyudi; Andi Taslim Saputra; Andi Fauziyah Hijrina Fatimah; Muhammad Zia Ulhaq
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 2, No 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v2i1.46532

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dalam lingkup Fakultas Seni dan Desain, Universitas Negeri Makassar dengan judul “Pelatihan Menggambar Ilustrasi Pada Media Kertas Bagi Mahasiswa Desain Komunikasi Visual, Universitas Negeri Makassar” bertujuan untuk memberi pelatihan dasar mengenai gambar ilustrasi dan juga cara menggambar ilustrasi pada media kertas dengan menggunakan alat lukis seperti pensil warna, cat air maupun cat akrilik. Pada pelaksanaan penelitian pengabdian ini menggunakan metode; 1) Ceramah dengan memberikan materi mengenai dasar gambar ilustrasi dan cara membuatnya; 2) Eksplorasi kreativitas dan imajinasi saat memberi kesempatan pada mahasiswa untuk membuat gambar ilustrasi setelah mendapat materi dan pengajaran mengenai dasar gambar ilustrasi dan cara menggambar ilustrasi. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan dapat membuat mahasiswa desain komunikasi visual paham akan materi dasar gambar ilustrasi dan dapat membuat gambar ilustrasi pada media kertas dengan mudah.
Kelayakan Isi Buku Teks “Asyiknya Belajar Kaligrafi (Cara Praktis Belajar Kaligrafi)” Ditinjau Dari Standar Kelayakan Bahasa Sesuai Badan Standar Nasional Pendidikan Muhammad Syafruddin Akmal; Irfan Irfan
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 7, No 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v7i1.46265

Abstract

Asyiknya Belajar kaligrafi (Cara Praktis Belajar Kaligrafi) dalam buku terbitan AFKARI publishing memuat materi dan bahan ajar mengenai sejarah singkat kaligrafi, perspektif dan kaidah dalam membuat kaligrafi, biografi tokoh dalam kaligrafi, bahkan memuat evaluasi sebagai bahan ajar yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar di Sekolah. Pada kesempatan kali ini kita akan membuat penelitian kajian buku teks yang dimaksud, untuk mendeskripsikan kelayakan isi buku teks Asyiknya Belajar Kaligrafi (Cara Praktis Belajar Kaligrafi). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif dengan buku teks Asyiknya Belajar Kaligrafi (Cara Praktis Belajar Kaligrafi) sebagai objek kajian penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji muatan standar kelayakan bahasa dalam buku teks Asyiknya Belajar Kaligrafi (Cara Praktis Belajar Kaligrafi) yang sesuai dengan aspek penilaian yang ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kelayakan bahasa dalam buku teks Asyiknya Belajar Kaligrafi (Cara Praktis Belajar Kaligrafi) telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh BSNP. Dalam buku bacaan tersebut berisi materi yang lugas, komunikatif, dialogis dan interaktif, ada kesesuaian dengan pembaca (seseorang yang ingin belajar), kesesuaian dengan bahasa Indonesia, serta penggunaan istilah, simbo dan ikon pelajaran seni budaya terkhusus seni rupa. Serta buku bacaan tersebut ditulis mengikuti kaidah Bahasa Indonesia dan peristilahan yang benar dan jelas.
Kajian Jenis Tanah Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Karya Seni Patung dan Gerabah Dalam Perspektif Ilmu Tanah Muhammad Syafruddin Akmal; Krishna Aji; Hutri Handayani Isra
Nuansa Journal of Arts and Design Vol 7, No 1 (2023): Maret
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/njad.v7i1.46903

Abstract

Pada pembuatan karya seni rupa memerlukan bahan dasar yang baik dan memenuhi standar sebagai bahan yang dapat digunakan untuk membuat karya menjadi lebih tahan lama dan dapat digunakan sesuai pada fungsi nilai dan fungsi kegunaanya. Karya seni rupa secara keseluruhan wajib mengikuti dan menggunakan aturan tersebut tanpa terkecuali pada pembuatan karya seni patung dan gerabah yang pada umumnya menggunakan bahan dasar tanah. Sehingga pada penelitian kali ini akan membahas mengenai kajian jenis tanah sebagai bahan dasar pembuatan karya seni patung dan gerabah dalam perspektif ilmu tanah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif pada jenis tanah dalam perspektif ilmu tanah sebagai objek kajian peneltian. Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji jenis tanah yang baik untuk digunakan sebagai bahan dasar pembuatan karya seni patung dan gerabah yang sesuai dalam perspektif ilmu tanah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tanah yang baik untuk digunakan pada pembuatan karya seni patung dan gerabah berupa tanah berjenis alfisols yang memiliki ciri berupa warna kemerahan seperti merah bata yang dicirikan oleh tingginya kandungan besi di dalam tubuh tanah. Tanah dengan jenis alfisols memiliki komposisi yang didominasi oleh fraksi debu dan liat yang keberadaanya berada di kedalaman 40cm hingga kebawah, yang dikarenakan terjadinya proses pencucian kandungan kimia secara intensif dalam jangka waktu tertentu oleh air dari atas permukaan  yang membawa fraksi liat sehingga tertahan dan mengendap pada lapisan 40cm dibawah permukaan tanah.In the manufacture of works of art basic materials are required that are good and meet standards as materials that can be used to make works more durable and can be used according to their value function and function of use. Works of art as a whole must follow and use these rules without exception in the manufacture of sculptures and pottery which generally use earth based materials. So that this research will discuss the study of soil types as the basic material for making sculptures and pottery works from the perspective of soil science. The method used in this study is a qualitative descriptive method on soil types in the perspective of soil science as an object of research study. This study aims to examine the types of soil that are good for use as basic materials for making sculptures and pottery works that are suitable from the perspective of soil science. The results of this study indicate that a good soil for use in the manufacture of sculpture and earthenware works of art is in the form of alfisol type soil which has a reddish color like brick red which is characterized by high iron content in the soil body. Soils of the alfisols type have a composition dominated by silt and clay fractions which are located at a depth of 40cm to the bottom, which is due to an intensive process of leaching the chemical contents over a certain period of time by water from above the surface which carries the clay fraction so that it is retained and settles in layers 40cm below ground level.
PELATIHAN DESAIN KEMASAN MENGGUNAKAN APLIKASI COREL DRAW BAGI INSTRUKTUR LKPI (LEMBAGA KURSUS DAN PELATIHAN INDONESIA) Andi Fauziyah Hijrina Fatimah; Jalil Jalil; Syakhruni Syakhruni; Muhammad Zia Ulhaq; Muhammad Syafruddin Akmal
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 3, No 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v3i1.63402

Abstract

Pelatihan desain kemasan menggunakan aplikasi Corel Draw dilaksanakan guna meningkat para instruktur LKP yang ada di Indonesia. Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari dengan metode pembelajaran secara langsung atau luring. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan bahwa desain kemasan dengan menggunakan aplikasi Corel Draw dapat menunjang instrukur dalam membuat bahan pelatihan dan kursus untuk mendukung proses pengajaran peserta lembaga
ANALISIS BENTUK DAN FLEKSIBILITAS PADA OBJEK MANEKIN KAYU SEBAGAI ALAT PERAGA DALAM PEMBELAJARAN MENGGAMBAR Muhammad Syafruddin Akmal; Pangeran Paita Yunus
JURNAL IMAJINASI Vol 8, No 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/i.v8i1.61053

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk dan fleksibilitas objek manekin kayu sebagai alat bantu ajar dalam pembelajaran menggambar. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan fokus pada objek manekin kayu yang diproduksi oleh Mont Marte. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun manekin kayu Mont Marte didesain secara proporsional dengan ukuran manusia rata-rata, namun terdapat perbedaan signifikan dalam bentuk kepala, leher, badan, panggul, dan pangkal paha jika dibandingkan dengan bentuk manusia sebenarnya. Selain itu, fleksibilitas objek manekin juga tidak sepenuhnya mencerminkan gerakan manusia secara alami, terutama dalam hal gerakan tangan, badan, dan kaki. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa objek manekin kayu sebagai alat bantu ajar tidak secara sempurna merepresentasikan bentuk dan fleksibilitas manusia. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengembangkan objek manekin yang lebih akurat sebagai alat bantu ajar dalam pembelajaran seni rupa.
Comparative Analysis of the Implementation of Ethnopedagogy in Elementary Art Learning in Indonesia with Various Global Contexts Muhammad Syafruddin Akmal; Muhammad Suyudi
EDUKASI Vol 24 No 1 (2026): Article in Press
Publisher : FKIP Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/j.edu.v24i1.11879

Abstract

The study aims to comparatively analyze ethnopedagogical practices in art education across Indonesia, Europe, America, Africa, and Asia by identifying their similarities, differences, and educational characteristics. A comparative literature review was employed using academic articles, international journals, and educational reports published within the last ten years. The findings indicate that ethnopedagogical art education is implemented through diverse cultural forms adapted to local contexts. In Indonesia, learning emphasizes batik, carving, weaving, and other traditional arts; Europe utilizes art as a medium for intercultural understanding and multicultural integration; America highlights indigenous and community-based artistic traditions; Africa incorporates communal values through Ubuntu-based art practices and cultural symbols; while Asia integrates traditional arts, cultural heritage, and character education. Despite contextual differences, all regions share a common objective of using art education to strengthen cultural identity, transmit moral values, and enhance creativity. The study concludes that ethnopedagogy remains a significant framework for developing culturally responsive and sustainable art education in contemporary society.
DARI KANVAS KE SEJARAH KOTA: STRATEGI, HAMBATAN, DAN FAKTOR PENUNJANG PELUKIS DALAM PENCIPTAAN LUKISAN POTRET WALIKOTA MAKASSAR KOLEKSI MUSEUM KOTA MAKASSAR Muhammad Suyudi; Muhammad Syafruddin Akmal
EDUKASI Vol 24 No 1 (2026): Article in Press
Publisher : FKIP Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/j.edu.v24i1.12048

Abstract

This paper is an attempt to analyze portrait paintings of Makassar mayors over time, created by several Makassar artists, currently in the collection of the Makassar City Museum. The research identifies strategies employed by the painters in visualizing mayoral portraits, analyzes inhibiting factors they encountered, and examines supporting factors that can be optimally utilized in the painting process. The research methodology uses a qualitative approach through field observation, in-depth interviews, and documentation. Data collection techniques include interview guides, observation sheets, and documentation studies involving 27 realist painters in Makassar City. The results show that the main strategies of the painters include: multi-source reference studies, utilization of photo restoration technology (Remini and Topaz), and intensive collaboration with subjects’ families and evaluation teams. The most significant inhibiting factors are poor quality reference photos, minimal historical information, and limited working time. Supporting factors include the availability of data from subjects’ families, the painters’ extensive experience, and digital technology support. These findings provide a methodological contribution to the development of realistic portrait art practices based on historical documentation in Indonesia.
Evaluation of Art Integrated Physics Learning in a STEAM Approach to Improve STEM Literacy and Student Creativity Khadijah; Muhammad syafruddin Akmal; Hutri Handayani Isra
SAINTIFIK@: Jurnal Pendidikan MIPA Vol 11 No 1 (2026): SAINTIFIK@: Jurnal Pendidikan MIPA EDISI MARET 2026
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/saintifik.v11i1.11675

Abstract

The STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) approach is a development of STEM learning that integrates elements of art to strengthen students' creativity and conceptual understanding. STEAM-based physics learning is considered to be able to overcome abstract physics characteristics, but its implementation requires an appropriate and comprehensive evaluation system. This study aims to evaluate the learning of art integrated physics in the STEAM approach reviewed from STEM literacy and student creativity. The research uses a qualitative descriptive approach through literature study and analysis of art project-based physics learning practices. Data was collected from national and international journal articles, reference books, and relevant learning documents. Data analysis techniques are carried out through data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that the evaluation of STEAM-based physics learning is more effective using authentic assessments, such as performance assessments, project assessments, portfolios, and science arts products. The evaluation is able to represent the understanding of physics concepts in a contextual manner and increase STEM literacy and creativity of students. This research is expected to be a reference in the development of a STEAM-based physics learning evaluation model in high schools
Drawing Beyond Technique: Persepsi Calon Guru Pendidikan Seni Rupa Terhadap Aktivitas Menggambar Dalam Perspektif Neurosains Kognitif Muhammad Suyudi; Muhammad Syafruddin Akmal
CILPA Vol 11 No 2 (2026): July
Publisher : Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/cilpa.v11i2.22610

Abstract

Abstrak Menggambar tidak hanya merupakan keterampilan artistik, tetapi juga aktivitas kognitif kompleks yang melibatkan integrasi sistem visual, motorik, emosional, dan fungsi eksekutif otak. Namun, calon guru pendidikan seni rupa seringkali masih memandang menggambar sebagai aktivitas teknis semata, dengan pemahaman terbatas terhadap dimensi kognitif dan neurosainsnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi calon guru pendidikan seni rupa terhadap aktivitas menggambar dalam perspektif neurosains kognitif serta mengkaji implikasi pedagogisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-method dengan subjek mahasiswa program pendidikan seni rupa. Data dikumpulkan melalui angket dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif-tematik. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi data empiris persepsi dengan kerangka neurosains kognitif dalam pendidikan seni rupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80% responden memiliki persepsi positif terhadap fungsi kognitif aktivitas menggambar. Sebanyak 70% responden menilai menggambar efektif sebagai metode pembelajaran, namun hanya 50% yang menggunakannya secara rutin. Selain itu, lebih dari 85% responden mengakui fungsi menggambar dalam regulasi emosi dan sekitar 90% menyatakan bahwa aktivitas menggambar mendukung kreativitas. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persepsi positif calon guru masih lebih banyak didasarkan pada pengalaman praktis dibandingkan pemahaman konseptual mengenai neurosains kognitif. Persepsi tersebut sejalan dengan temuan penelitian neurosains yang melaporkan bahwa aktivitas menggambar melibatkan kordinasi berbagai area otak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan pemahaman calon guru terhadap dasar kognitif dan neural dari aktivitas menggambar sangat penting untuk mengoptimalkan praktik pembelajaran seni rupa. Abstract Drawing is not only an artistic skill, but also a complex cognitive activity that involves the integration of the visual, motor, emotional, and executive systems of the brain. However, aspiring art education teachers often still view drawing as a purely technical activity, with a limited understanding of its cognitive and neuroscientific dimensions. This study aims to analyze the perception of prospective fine arts education teachers towards drawing activities from the perspective of cognitive neuroscience and examine its pedagogical implications. This study uses a mixed-method approach with the subjects of students of the art education program. Data were collected through questionnaires and analyzed using descriptive-thematic analysis. The novelty of this research lies in the integration of empirical data of perception with the framework of cognitive neuroscience in fine arts education. The results showed that more than 80% of respondents had a positive perception of the cognitive function of drawing activities. As many as 70% of respondents consider drawing effective as a learning method, but only 50% use it regularly. In addition, more than 85% of respondents acknowledged the function of drawing in the regulation of emotions and about 90% stated that drawing activities support creativity. The findings show that the positive perception of prospective teachers is still based more on practical experience than on conceptual understanding of cognitive neuroscience. This perception is in line with the findings of neuroscience research that reports that drawing activities involve the coordination of different areas of the brain. This study concludes that strengthening the understanding of prospective teachers on the cognitive and neural basis of drawing activities is very important to optimize fine arts learning practices
PKM PELATIHAN DASAR PENGENALAN KECAPI BUGIS-MAKASSAR BAGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 3 PANGKEP Sri Darmawati; Faidhul Inayah; Muhammad Syafruddin Akmal; Andi Aryani; Andi Fauziyah Hijrina Fatimah
Sureq: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berbasis Seni dan Desain Vol 5, No 1 (2026): Januari-Juni
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/srq.v5i1.86091

Abstract

Penurunan ketertarikan generasi muda terhadap alat musik tradisional merupakan dampak nyata dari arus globalisasi dan modernisasi yang memicu terjadinya diskoneksi pengetahuan budaya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kognitif dan keterampilan psikomotorik dasar siswa dalam memainkan instrumen kecapi Bugis-Makassar. Mitra pengabdian adalah SMA Negeri 3 Pangkep dengan subjek sasaran sebanyak 32 siswa kelas X IPS 1. Metode pelaksanaan diterapkan melalui tiga tahapan terstruktur, yaitu tahap persiapan (observasi dan penyusunan modul), tahap pelaksanaan inti (transformasi teori organologi, teknik petikan dasar, dan pengenalan laras Salendro serta Pelog), dan tahap praktik terbimbing (ansambel lagu daerah "Indologo"). Kegiatan dilaksanakan secara intensif pada tanggal 15–17 Maret 2026. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek apresiasi dan keterampilan motorik halus siswa, di mana pada hari ketiga peserta telah mampu mengartikulasikan melodi dasar lagu "Indologo" dalam versi satu oktaf secara berkelompok. Faktor pendukung utama kegiatan ini adalah tingginya motivasi intrinsik siswa dan dukungan tata pamong sekolah, sementara hambatan logistik berupa keterbatasan durasi dan rasio instrumen diantisipasi melalui metode peer learning berbasis rotasi kelompok. Kegiatan ini berhasil mengonversi pengenalan seni tradisi menjadi model pembelajaran praktis yang efektif bagi generasi muda.