Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KAJIAN PENAMBAHAN JAMUR TEMPE PADA FERMENTASI KRIM SANTAN TERHADAP KUALITAS VIRGIN COCONUT OIL (VCO) - Rina; Suko Priyono; Lucky Hartanti
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 4, No 2: Agustus 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v4i2.10833

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jumlah  jamur tempe yang tepat dalam fermentasi krim santan pada pembuatan VCO. Penelitian ini dilaksanakan di labolatorium teknologi hasil pertanian Universitas Tanjungpura. Penelitian dilakukan mulai Januari 2015 sampai dengan April 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 7 perlakuan 4 ulangan yaitu r0= 0g, r1= 1 g, r2= 3g, r3= 5g, r4=7g, r5= 9g, r6= 11g. Variabel yang diamati adalah karakter fisikokimia dan sensori, hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi minyak VCO menghasilkan Rendemen 23,35%, ALB 0,21%, pH 4,09, Bilangan Iod 10,78%, dan kadar air 0,35%. Fermentasi minyak VCO berpengaruh nyata terhadap rendemen dan asam lemak bebas, namun tidak berpengaruh nyata terhadap pH, bilangan iod dan kadar air berdasarkan uji fisikokimia dan sensori fermentasi minyak VCO 5g jamur tempe menghasilkan nilai terbaik (NP) :  3,34 Hasil analisis sensori terbaik yaitu  3,77 (suka), warna 3,70 (jernih), rasa 4,00 (khas kelapa), dan butir air 4,80 (sangat sedikit butir air).
SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TALAS KUKUS PADA PEMBUATAN KUE BINGKE Marselina Weni Sari; Tri Rahayuni; Suko Priyono
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i2.38984

Abstract

SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TALAS KUKUS PADA PEMBUATAN KUE BINGKE Marselina Weni Sari*), Tri Rahayuni 2), Suko Priyono 2)1)Program Studi S-1 Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura2)Dosen Program Studi S-1 Ilmu Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian,Universitas Tanjungpura*Email Korespondensi : marselinawenisari12@gmail.comABSTRAKKue bingke merupakan makanan tradisional khas Pontianak yang terbuat dari tepung terigu, telur, gula pasir, santan, garam dan susu kental manis yang menyerupai kue lumpur.  Kue bingke ini khas menyerupai bentuk bunga segi enam, bertekstur lembut dan rasa manis serta tanpa bahan pengawet sintesis. Talas merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat mengeluarkan getah berwarna putih seperti susu. Tanaman ini memiliki daun berbentuk perisai dan warna daun yang sangat bervariasi tergantung varietasnya. Umbi talas berpotensi sebagai sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui substitusi terbaik tepung terigu dan talas berdasarkan sifat  kimia dan sensori kue bingke. penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 faktor perlakuan terdiri dari 6 taraf, yaitu substitusi tepung terigu : talas terdiri dari 100:0 %, 90:10 %, 80:20 %, 70:30 %, 60:40 %, 50:50 %. Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 sampel kombinasi. Parameter pengamatan meliputi kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat dan sensori. Hasil Uji Indeks Efektifitas menunjukkan bahwa substitusi terbaik terdapat pada 50% tepung terigu dan 50% talas, dimana kadar air (46,72), kadar abu (1,90), kadar lemak (22,95), kadar protein (6,42) dan kadar karbohidrat (22,00). Hasil uji sensori terbaik yaitu warna 4,16 (menarik), aroma 3,96 (beraroma talas), tekstur 4,28 (sangat tidak keras) dan rasa 4,12 (manis). Kata Kunci : bingke, talas, terigu, substitusi
PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAN FREKUENSI PEREBUSAN TERHADAP FISIKOKIMIA DAN SENSORI SIRUP BUAH LAKUM (VITIS DIFFUSA) Vitanopiani Vitanopiani; Retno Budi Lestari; Suko Priyono
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 3, No 2: Agustus 2014
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v3i2.6250

Abstract

Lakum (Vitis diffusa) merupakan sejenis tumbuhan liar yang menjalar dan dijumpai pada kawasan Kalimantan dan Malaysia. Pengolahan buah lakum menjadi sirup mempunyai kendala karena rasa buahnya yang gatal jika dimakan langsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dan frekuensi perebusan pada pembuatan sirup buah lakum yang mempunyai sifat fisikokimia dan sensori yang baik. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri 2 faktor. Faktor pertama lama perendaman dalam air garam (1 jam, 2 jam dan 3 jam) dan faktor kedua frekuensi perebusan (1 kali, 2 kali dan 3 kali). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA). Dari hasil analisa jika menunjukkan beda nyata dilakukan uji lanjut dengan BNJ (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sirup buah lakum mempunyai kadar vitamin C 3,13 – 4,69mg/100g, pH 2,04 – 2,17, total asam 2,25 – 3,38%, dan kalsium oksalat 7,91 – 9,17%. Perlakuan terbaik sirup buah lakum terdapat pada perlakuan lama perendaman 1 jam dengan frekuensi perebusan 1 kali memiliki karakter fisikokimia vitamin C 5,43mg/100g, pH 2,01, total asam 1,49%, dan kalsium oksalat 9,17% sedangkan karakter sensori adalah tingkat keasaman 3,28 (agak asam), warna 2,64 (agak kemerahan), rasa 3,76 (agak manis) dan kesukaan 3,40 (agak suka).Kata kunci : fisikokimia, frekuensi perebusan, lama perendaman, sensori, sirup buah lakum
Sosialisasi Mahasiswa Universitas Tanjungpura Terhadap Isu Kratom (Mitragyna Speciosa) Global Sulvi Purwayantie; Sholahuddin; Saputri, Nur Endah; Suko Priyono
Jurnal Pengabdian Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Multidisiplin
Publisher : Kuras Institute & Scidac Plus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51214/00202404858000

Abstract

Kegiatan pengabdian pada mahasiswa Universitas Tanjungpura (UNTAN) berupa pendampingan dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan keamanan konsumsi Kratom agar memenuhi syarat kesehatan. Kemampuan pengenalan Kratom dan cara kosumsi yang aman diharapkan dapat mempercepat dan mempermudah mahasiswa dalam pencegahan penyalahgunaan Kratom yang sering dianggap mirip dengan narkoba. Khalayak sasaran dalam kegiatan PKM ini adalah mahasiswa di seluruh fakultas yang ada di UNTAN, yang berjumlah 34 orang. Pendampingan dilakukan dengan metode ceramah, demonstrasi dan latihan yang disertai tanya jawab. Metode ceramah digunakan untuk menjelaskan konsep pengantar Kratom yang aman di kehidupan sehatri-hari. Metode demonstrasi dipakai untuk menunjukkan suatu proses kerja yaitu tahap-tahap proses pengolahan Kratom yang sederhana, sedangkan metode latihan untuk mempraktikkan konsumsi Kratom yang memenuhi persyaratan kesehatan. Sementara metode tanya jawab untuk memberi kesempatan para peserta berkonsultasi dalam mengatasi kendala dalam pencegahan adiktif Kratom. Kendala yang dihadapi adalah waktu liburan mahasiswa sehingga tidak optimal dalam mengumpulkan mahasiswa dari perwakilan seluruh fakultas di UNTAN dan mahasiswa sebagian besar tidak mengerti apa itu Kratom. Kesimpulan: pengetahuan, pemahaman dan cara konsumsi Kratom yang sehat dan aman menjadi ide inspirasi mahasiswa untuk bahan penelitian Kratom dimasing-masing fakultas.
Pemanfaatan Tepung Ampas Tahu dengan Penambahan Pasta Kacang Merah dalam Formulasi Snackbar Putri Septya Ningrum Chaniago; Suko Priyono; Nur Endah Saputri
Hidroponik : Jurnal Ilmu Pertanian Dan Teknologi Dalam Ilmu Tanaman Vol. 2 No. 1 (2025): March: Hidroponik: Jurnal Ilmu Pertanian Dan Teknologi Dalam Ilmu Tanaman
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/hidroponik.v2i1.283

Abstract

Snack bar is a food product made from a combination of ingredients that are bound together by a binding agent. One type of snack bar is a protein bar. A potential primary ingredient for making high-protein snack bars is tofu dregs. "The protein content in tofu dregs is relatively high about 26.6% and has not been optimally utilized and often becomes waste and pollutes the environment. The production of snack bars can incorporate various ingredients, one of which is red beans. Red beans are a source of plant-based protein, containing about 11% protein. This research aims to develop a snack bar with the best formulation of red bean paste and tofu dregs flour in terms of sensory and chemical characteristics. The research was conducted using a Randomized Block Design with one factor, that is the formulation with five ratio comparisons of tofu dregs flour to red bean paste: r1 (90:10), r2 (80:20), r3 (70:30), r4 (60:40), and r5 (50:50), each with five repetitions. The results revealed that the snack bar with a tofu dregs flour to red bean paste ratio of 60:40 was the best treatment, with physicochemical characteristics of 19.34% moisture content, 1.98% ash content, and 6.81% protein content as well as sensory characteristics including aroma 3.8 (liked), taste 4.17 (more liked), texture 3.9 (liked), and color 3.73 (liked).
Formulasi Tepung Jagung (Zea mays L.) dengan Tepung Kacang Hijau Terhadap Karakteristik Fisikokimia dan Organoleptik Flakes Nabilatasya Maya Titonia; Suko Priyono; Lucky Hartanti
Hidroponik : Jurnal Ilmu Pertanian Dan Teknologi Dalam Ilmu Tanaman Vol. 2 No. 2 (2025): July: Hidroponik: Jurnal Ilmu Pertanian Dan Teknologi Dalam Ilmu Tanaman
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/hidroponik.v2i2.361

Abstract

One of the practical foods that can fulfill nutritional needs is flakes. Flakes that available on the market are generally made from wheat and corn. The nutritional value of corn flour-based flakes can be enhanced by combining them with other ingredients that have a relatively high protein content. One such food ingredient with a high protein content is mung beans. The development of flakes products using mung bean flour is expected to be one of the way to optimize the use of local legumes in Indonesia. The aim of this study is to obtain the best formulation of corn flour and mung bean flour in terms of the physicochemical and organoleptic characteristics of the flakes. This study uses a randomized block design with 4 treatment levels, which are the formulation ratios of corn flour to mung bean flour (60:40, 65:35, 70:30, 75:25), with each treatment repeated 6 times. The observation parameters include physicochemical characteristics such as protein, water and ash content, while sensory characteristics include aroma, taste, crispiness, color, and overall preference. The best treatment is determined by the de Garmo effectiveness index. The results of the study show that the 65% corn flour and 35% mung bean flour formulation is the best treatment based on the effectiveness index test with a score of 0.77, with physicochemical characteristics of 2.717% moisture content, 3.026% ash content, and 6.891% protein content, as well as sensory characteristics of color 4.2 (more liked), aroma 3.93 (liked), crispiness 4.26 (more liked), taste 4.23 (more liked), and overall preference 4.2 (more liked).