Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Inoculation of Merapi Indigenous Rhizobacteria as A Substitute Compost for Application in Rice Cultivation on Coastal Sandy Under Drought Stress Sarjiyah, Sarjiyah; Bustamil, Akhmad; Astuti, Agung
PLANTA TROPIKA Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Department of Agrotechnology, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.v10i2.15646

Abstract

This study aimed to determine the role of the indigenous rhizobacteria from Merapi as a substitute for compost in rice cultivation on coastal sandy land under drought stress. The study was a single-factor experiment, with types and doses of compost as treatments, arranged in a completely randomized design (CRD) consisting of seven treatments and three replications. The seven treatments tested were cow manure compost at doses of 30 and 40 tons/ha, chicken manure compost at doses of 30 and 40 tons/ha, Azolla compost at doses of 20 and 30 tons/ha, and without compost as a control treatment. Each experimental unit consisted of three plants for destructive sampling, three sample plants, and a substitute plant. The application of cow manure compost at a dose of 30 tons/ha to the rice plants inoculated with MB and MD isolates of Merapi indigenous rhizobacteria resulted in the best growth at five weeks after planting, which was not significantly different from that without compost application. This result indicated that the rice plants cv. Segreng Handayani inoculated with Merapi indigenous rhizobacteria, cultivated on coastal sandy soil under drought stress, even without the application of compost, could give the same responses as the plants treated with various types and doses of compost.
Inoculation of Merapi Indigenous Rhizobacteria as A Substitute Compost for Application in Rice Cultivation on Coastal Sandy Under Drought Stress Sarjiyah, Sarjiyah; Bustamil, Akhmad; Astuti, Agung
PLANTA TROPIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Department of Agrotechnology, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.v10i2.15646

Abstract

This study aimed to determine the role of the indigenous rhizobacteria from Merapi as a substitute for compost in rice cultivation on coastal sandy land under drought stress. The study was a single-factor experiment, with types and doses of compost as treatments, arranged in a completely randomized design (CRD) consisting of seven treatments and three replications. The seven treatments tested were cow manure compost at doses of 30 and 40 tons/ha, chicken manure compost at doses of 30 and 40 tons/ha, Azolla compost at doses of 20 and 30 tons/ha, and without compost as a control treatment. Each experimental unit consisted of three plants for destructive sampling, three sample plants, and a substitute plant. The application of cow manure compost at a dose of 30 tons/ha to the rice plants inoculated with MB and MD isolates of Merapi indigenous rhizobacteria resulted in the best growth at five weeks after planting, which was not significantly different from that without compost application. This result indicated that the rice plants cv. Segreng Handayani inoculated with Merapi indigenous rhizobacteria, cultivated on coastal sandy soil under drought stress, even without the application of compost, could give the same responses as the plants treated with various types and doses of compost.
Upaya Meningkatkan Produktifitas Lahan dengan Tumpangsari Jagung Manis dan Kacangan Sarjiyah, Sarjiyah; Setiawan, Agus Nugroho
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Sains dan Teknologi
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung manis umumnya dibudidayakan secara monokultur dengan jarak tanam yang cukup lebar. Sistem tanam monokultur mempunyai kekurangan antara lain penggunaan lahan yang kurang efektif atau produktivitas lahan rendah, mudah terserang hama dan penyakit dan resiko kegagalan panen lebih besar. Salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penerapan sistem tanam tumpangsari dengan kacangan yang dapat tumbuh pada intensitas cahaya kurang dari 100%. Informasi mengenai jenis kacang yang sesuai untuk dijadikan tanaman sela pada sistem tumpangsari dengan jagung manis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kacang yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tidak menurunkan hasil jagung manis pada tumpangsari jagung manis-kacangan. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan percobaan faktor tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah jenis kacangan yang terdiri atas 5 jenis yaitu kacang tanah, kacang kedelai, kacang merah, kacang tunggak dan kacang hijau. Selain itu juga dilakukan penanaman jagung manis dan berbagai jenis kacang secara monokultur sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari jagung manis dengan berbagai kacang dapat meningkatkan produktivitas lahan dengan nilai land equivalent ratio (LER) >1. Tumpangsari jagung manis+kacang menghasilkan jagung manis tidak beda nyata dengan monokultur.
Upaya Meningkatkan Produktifitas Lahan dengan Tumpangsari Jagung Manis dan Kacangan Sarjiyah, Sarjiyah; Setiawan, Agus Nugroho
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung manis umumnya dibudidayakan secara monokultur dengan jarak tanam yang cukup lebar. Sistem tanam monokultur mempunyai kekurangan antara lain penggunaan lahan yang kurang efektif atau produktivitas lahan rendah, mudah terserang hama dan penyakit dan resiko kegagalan panen lebih besar. Salah satu usaha untuk mengatasi masalah tersebut yaitu penerapan sistem tanam tumpangsari dengan kacangan yang dapat tumbuh pada intensitas cahaya kurang dari 100% . Informasi mengenai jenis kacang yang sesuai untuk dijadikan tanaman sela pada sistem tumpangsari dengan jagung manis masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kacang yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tidak menurunkan hasil jagung manis pada tumpangsari jagung manis-kacangan. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan percobaan faktor tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah jenis kacangan yang terdiri atas 5 jenis yaitu kacang tanah, kacang kedelai, kacang merah, kacang tunggak dan kacang hijau. Selain itu juga dilakukan penanaman jagung manis dan berbagai jenis kacang secara monokultur sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumpangsari jagung manis dengan kacang tanah, kacang kedelai, kacang tunggak dan kacang hijau dapat meningkatkan produktivitas lahan dengan nilai land equivalent ratio (LER) masing-masing 1,68; 1,13; 1,60 dan 1,52. Tumpangsari jagung manis+kacang menghasilkan jagung manis tidak beda nyata dengan monokultur.
Keanekaragaman Dan Kelimpahan Gulma Pada Tumpangsari Jagung Manis Dengan Kacangan Setiawan, Agus Nugroho; Sarjiyah, Sarjiyah
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 7, No 2: September 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v7i2.10814

Abstract

Jagung manis merupakan tanaman penting bagi Indonesia, umumnya ditanam secara monokultur dengan jarak tanam lebar yang menyebabkan banyak gulma. Pengendalian gulma kebanyakan dilakukan secara manual atau kimiawi yang efektivitas dan efisiensinya rendah. Salah satu metode yang potensial untuk mengendalikan gulma adalah tumpangsari. Tanaman yang sesuai untuk ditumpangsarikan dengan jagung manis adalah kacangan, yang mempunyai karakter berbeda dengan jagung manis. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh jenis kacangan terhadap mikroklimat, keanekaragaman dan kelimpahan gulma, serta mendapatkan jenis kacangan yang efektif untuk menekan gulma. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan percobaan faktor tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah jenis kacangan yang terdiri atas 5 jenis yaitu kacang tanah, kedelai, kacang tunggak, kacang merah dan kacang hijau, serta penanaman jagung manis monokultur sebagai pembanding. Pengamatan gulma dilakukan dengan analisis vegetasi dengan 5 petak sampel setiap petak perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gulma yang tumbuh pada tumpangsari jagung manis+kacangan sebanyak 33 jenis, didominasi oleh gulma tekian dan daun lebar, yaitu Cyperus rotundus, Cynodon dactylon, Physallis angulata dan Phyllantus niruri; semua jenis kacang pada tumpangsari mampu menekan pertumbuhan gulma, dengan kemampuan menekan gulma yang paling tinggi yaitu kacang tunggak; dan keberadaan kacangan sebagai tanaman sela di antara jagung manis pada tumpangsari tidak menurunkan hasil jagung manis.