Harto Wicaksono, Harto
Jurusan Sosiologi Dan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang

Published : 39 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Tracer Study and User Satisfaction for Alumni of the Sociology and Anthropology Education Study Program of the FISIP UNNES, Indonesia Husain, Fadly; Wijaya, Atika; Wicaksono, Harto; Fatimah, Nurul; Fauzi, Malik Ridwan; Alias, Nizamuddin
Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture Vol. 16 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v16i1.2936

Abstract

Throughout its journey as an educational forum, the sociology and anthropology education deparment of Universitas Negeri Semarang has graduated 18 batches. The existence of graduates and access to a job must be known by the institution where graduates take their education because the output provided by graduates is a very important indicator of knowing the quality of education organized by the Sociology and Anthropology Education Deparment. The objectives of this study were (1) to determine the absorption of the work field of graduates of the Sociology and Anthropology Education Deparment in 2020-2022, (2) to determine the level of satisfaction of alum users with the performance of graduates of the Sociology and Anthropology Education Deparment in 2020-2022. This research was conducted using a quantitative descriptive approach and cluster sampling technique in sampling. Data was collected using a questionnaire and analyzed using descriptive statistics. The results of the tracer study provide an overview of the 168 alums. 51% of graduates work in education, while as many as 49% work in the non-educational sector, such as entrepreneurs and the government sector. Users of graduates (stakeholders) assessed alum performance with good and very good criteria, especially in the categories of ethics, main competencies, proficiency in the use of information technology, communication, teamwork, and personal development. As many as 21% of the graduates chose to continue their studies. The input submitted was obtained from the existing findings: quality in doing social research, improving foreign language skills, and increasing learning related to religion. This input is given as input for efforts to improve the quality of the next Sociology and Anthropology Education Deparment graduates.
Analisis Tekstual Bahan Ajar Pelajaran Bahasa Cerbon dalam Praktik Etnopedagogi di MAN 2 Cirebon Fathimatuzzahro; Wicaksono, Harto
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol. 13 No. 1 (2024): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia menjadi negara peringkat kedua yang memiliki jumlah bahasa terbanyak setelah Papua Nugini. Namun, saat ini jumlah bahasa daerah di Indonesia semakin menurunan dikarenakan mengalami kepunahan. Salah satu bahasa daerah yang mengalami kemunduran ialah bahasa Cerbon. Jumlah penutur bahasa Cerbon yang berusia muda saat ini sudah sangat berkurang. Sehingga, perlu adanya upaya pelestaian bahasa Cerbon. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah salah satunya melalui dunia pendidikan dengan cara bahasa Cerbon dijadikan sebagai pelajaran muatan lokal. Dalam proses pembelajaran diperlukannya buku ajar yang digunakan sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa. Maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat isi dan konten yang terdapat dalam buku siswa bahasa Cerbon di MAN 2 Cirebon.  Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan menggunakan teknik analisis tekstual dari buku siswa bahasa Cerbon di MAN 2 Cirebon Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku pelajaran bahasa Cerbon tersebut sudah sesuai dengan KI dan KD. Dalam materi pelajaran bahasa Cerbon terdapat implementasi etnopedagogi berupa pengetahuan lokal baik berupa lisan, tulisan, maupun artefak. Wujud pengimplementasian etnopedagogi dalam buku materi bahasa Cerbon dengan adanya teks informatif mengenai kebudayaan yang ada di Cirebon. Pada beberapa teks tersebut terdapat penanaman nilai-nilai yang di anut oleh masyarakat Cirebon seperti nilai religi dan kesoapanan. Dalam buku bahasa Cerbon untuk siswa terdapat tiga ranah penting kemampuan berfikir taksonomi bloom. Namun, dalam buku tersebut lebih menekankan pada ranah kognitif.
Tradisi Nyunyuk pada Masyarakat Desa Harjowinangun Kecamatan Japah Blora (Kajian Makna Simbolik dan Fungsi Sosial Budaya) Musharofah, Siti; Wicaksono, Harto
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol. 14 No. 1 (2025): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/solidarity.v14i1.35774

Abstract

Tradisi Nyunyuk merupakan salah satu bentuk ritual pertanian yang masih dilestarikan oleh masyarakat agraris di Desa Harjowinangun, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora. Tradisi ini dilaksanakan menjelang panen padi pertama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan terhadap leluhur, serta permohonan akan kelancaran dan keselamatan panen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan pelaksanaan tradisi Nyunyuk, mengungkap makna simbolik sesaji yang digunakan, serta menjelaskan fungsi sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap pelaku tradisi dan tokoh adat setempat. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 7 orang, 3 orang informan utama dan 4 orang informan pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Nyunyuk tidak hanya sarat akan makna spiritual dan simbolik, tetapi juga mengandung nilai-nilai etnobiologis yang mencerminkan pengetahuan lokal masyarakat tentang alam dan pemanfaatannya. Sesaji seperti Kembang Boreh, Cokbakal, sayur bayam, telur, dan merang memiliki simbolisasi yang mencerminkan kesucian, kesuburan, keseimbangan, dan keberkahan. Selain itu Nyunyuk juga memiliki fungsi sosial sebagai sarana mempererat hubungan antar komunitas melalui kegiatan selametan dan gotong royong. Tradisi ini menjadi representasi dari kearifan lokal yang memadukan aspek ekologis, spiritual, dan sosial dalam praktik pertanian masyarakat setempat, serta berperan penting dalam pelestarian identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Marginalisasi Perempuan Buruh Tani dalam Peralihan Tanam Komoditas dari Padi dan Palawija ke Komoditas Tebu di Desa Nglebak Kecamatan KradenanKabupaten Blora Sulasmi; Wicaksono, Harto
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol. 14 No. 1 (2025): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/solidarity.v14i1.35775

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses marginalisasi kaum perempuan yang bekerja sebagai buruh tani akibat pergeseran komoditas pertanian dari padi dan palawija ke tebu di Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan pengumpulan dokumentasi yang melibatkan 6 informan utama serta 5 informan tambahan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa modernisasi dalam pertanian dan mekanisasi dalam budidaya tebu telah mengubah struktur ketenagakerjaan, menyebabkan banyak pekerjaan tradisional yang sebelumnya diisi oleh perempuan kini digantikan oleh teknologi atau tenaga kerja laki-laki. Kaum perempuan buruh tani kehilangan mata pencaharian, berkurangnya partisipasi sosial, dan mengalami keterpurukan secara struktural yang memperkuat hubungan patriarkal. Penelitian ini menekankan pentingnya mempertimbangkan perspektif gender dalam pembuatan kebijakan pertanian agar pengembangan sektor agraria menjadi lebih adil dan inklusif.
Kajian Fenomenologi Dan Karakteristik Batik Pewarna Alam Pesisir Pada Batik Zie Kampung Malon Kota Semarang Kurniawati, Dwi Wahyuni; Imawati, Rizka Alfiana; Wicaksono, Harto
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 12 No 1 (2023): SOLIDARITY
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/solidarity.v12i1.71474

Abstract

Sebagai produk kebudayaan tradisi, sesungguhnya dalam membuat batik, pewarna yang melekat dalam estetika batik adalah pewarna alam. Hal tersebut berkaitan dengan makna filosofis pada kehadiran warna alam yang ditampilkan. Namun saat ini nampaknya paradigma masyarakat terkait dengan pewarna alam justru terbalik. Secara umum, masyarakat akan memahami bahwa teknik pewarnaan batik lazim dengan menggunakan pewarna sintetis. Perajin batik di Desa Malon, Gunungpati Kabupaten Semarang mengembalikan kembali tradisi pewarnaan batik dengan menggunakan pewarna alam. Berdasarkan pada uaraian tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Faktor apa saja yang berpengaruh terhadap fenomena kehadiran batik pewarna alam pada batik Zie di Desa Malon, Kec. Gunungpati Kabupaten Semarang? (2) Bagaimana karakteristik batik pewarna alam pada batik Zie di Desa Malon, Kec. Gunungpati Kabupaten Semarang? Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian yaitu Batik Zie sebagai perajin batik pewarna alam di Desa Malom, Kec. Gunungpati, Kota Semarang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fenomena keberadaan batik Zie Semarang karena terdapat faktor pendukung yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor pembentuk internal mencakupi (1) kultur kebudayaan Jawa (Yogyakarta) yang hadir dalam kehidupan pendiri Zie Batik; (2) kondisi mental pemilik Zie batik yang terbentuk atas dasar falsafah kebudayaan Jawa seperti karakter sabar, ulet, titi dan narima; (3) minat dan motivasi pendiri Zie Batik yang tinggi terhadap dunia kesenian yang terbentuk dari kecil hingga pengalaman bergelut di dunia kerja. Adapun faktor pembentuk eksternal meliputi (1) Situasi dan kondisi arena pasar persaingan produksi batik berdasarkan hostoris pengalaman hidup pendiri Zie Batik dan dinamika perjalanan batik Semarang; (2) Misi pelestarian alam (konservasi) sebagai strategi memberikan nilai beda (branding produk) batik yang diproduksi dibandingkan dengan batik Semarang lain yang ada; (3) Kondisi geografis, lingkungan alam dan lingkungan masyarakt yang mendukung; (4) Strategi segmen pasar khusus yang menjanjikan. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan bahwa motif batik Zie batik telah mencapai nilai estetis yang baik, baik dilihat dari sisi nilai estetis internal maupun nilai estetis eksternal.
Transmission of agricultural ethnobiological knowledge to the younger generation through the Ngarot and Durugan traditions in Lelea Village Indramayu Fitriyani, Fitriyani; Wicaksono, Harto
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43164

Abstract

The regeneration of young farmers remains a critical issue for the sustainability of food security, yet mechanisms for the intergenerational transmission of agricultural knowledge within local cultural contexts have not consistently functioned. This study explores the Ngarot and Durugan traditions in Lelea Village, Indramayu Regency, as arenas for transmitting ethnobiological agricultural knowledge to younger generations. Employing a qualitative case study design with an interpretive ethnographic approach, data were collected through field observations, in-depth interviews with purposively selected traditional leaders, farmers, and young people, as well as primary and secondary documentation. Based on Cavalli-Sforza and Feldman’s theory of cultural transmission, the findings indicate that the Ngarot and Durugan traditions function as mechanisms of agricultural enculturation that are selective, symbolic, and pedagogically unstructured. The study underscores that the sustainability of agricultural knowledge is not automatically ensured through cultural rituals, but depends on the depth of practical engagement, the duration of learning processes, and the involvement of cross-generational actors. The findings suggest that participatory ethnopedagogical approaches may offer a critical framework to support the regeneration of young farmers and local food security.   Regenerasi petani muda menjadi isu krusial dalam keberlanjutan ketahanan pangan. Namun, mekanisme pewarisan pengetahuan pertanian dalam konteks budaya lokal belum selalu berjalan secara konsisten.  Penelitian ini mengkaji tradisi Ngarot dan Durugan di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, sebagai arena pewarisan pengetahuan etnobiologi pertanian kepada generasi muda. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif dan pendekatan etnografis interpretatif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam secara purposif dengan tokoh adat, petani dan generasi muda, serta dokumentasi primer dan sekunder. Berdasarkan teori transmisi budaya Cavalli-Sforza dan Feldman, temuan menunjukkan bahwa tradisi Ngarot dan Durugan berfungsi sebagai mekanisme enkulturasi pertanian yang bersifat selektif, simbolik dan tidak terstruktur secara pedagogis. Studi ini menegaskan bahwa keberlanjutan pengetahuan pertanian tidak secara otomatis dijamin melalui ritual budaya, melainkan bergantung pada kedalaman praktik, durasi pembelajaran, dan keterlibatan aktor lintas generasi. Temuan ini menyarankan bahwa pendekatan etnopedagogi partisipatif dapat menawarkan kerangka kerja kritis untuk mendukung regenerasi petani muda dan ketahanan pangan lokal.
Kesadaran dan Transformasi Model Pendidikan Pranikah Masyarakat Madura melalui Tradisi Ngabula Soleha, Mutiatus; Wicaksono, Harto
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i1.33946

Abstract

Early marriage within the Madurese community, particularly in Bendungan Hamlet, is a social practice shaped by matchmaking traditions, religious beliefs, and deeply rooted cultural norms. This practice is often carried out at a young age and may lead to psychological, social, and marital challenges when prospective spouses lack sufficient preparation. This study aims to examine premarital education awareness among the Madurese community, the implementation of premarital education through the ngabula tradition from an Islamic perspective, and the transformation of premarital education models in contemporary society. The research adopts a qualitative narrative approach, employing observation, semi-structured interviews, and documentation as data collection techniques. Ten informants were selected using a snowball sampling method, consisting of religious leaders, female ngabula participants, early-married couples, and community members. Data were analyzed through thematic analysis and interpreted using Paulo Freire’s theory of consciousness alongside Arnold van Gennep’s rites of passage framework. The findings indicate that premarital education awareness develops across three levels of consciousness: magical, naive, and critical. The ngabula tradition functions as a form of non-formal premarital education that contributes to the development of mental, social, moral, and religious readiness among prospective spouses, particularly women. Furthermore, the ngabula tradition has undergone transformations in terms of practice and meaning while continuing to preserve its religious and cultural values. These values play an important role in supporting the formation of sakinah, mawaddah, and warahmah families within the Madurese social context.  
Analysis of Social Philosophy and Nutritional Knowledge in the Practice of Moci Tradition in Tegal Community Adittya, Sefia Citra; Wicaksono, Harto
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i2.34577

Abstract

In the Tegal region of Central Java, there is a tradition of drinking “Moci” tea, which has social philosophical values embedded within it. An anthropological perspective, particularly cultural and health anthropology, is used to examine how this tea drinking tradition is interesting to study from a social perspective and in terms of the local knowledge inherent in the daily practices of the community. Therefore, this study aims to examine the social philosophical values in the Moci tradition and Tegalan’s knowledge of the nutritional benefits of teh poci for health. The concept of The Factor of Food Habits is used to frame the researcher's analysis. This study uses qualitative research methods with an ethnographic approach. This research was conducted in the Tegal region from May 2024 to April 2025. Data collection was carried out through observation, interviews, and documentation. There were ten informants involved in this study, consisting of cultural observers, local communities, and nutrition experts. Based on the results of the study, it was found that the Tegalan interprets the Moci tradition as an effective strategy in maintaining solidarity and strengthening egalitarianism in Tegalan. Based on the concept of The Factor of Food Habits, the Tegalan focus on morally dictated changes based on the selection of tea ingredients that are considered good for health, such as the type of sugar used and the influence of certain physical activities that require the consumption of this type of drink.
METROSEXUAL MASCULINITY AND POWER RELATIONS IN ROMANTIC CONTEXTS: A STUDY OF STUDENTS AT SEMARANG STATE UNIVERSITY Putri, Nadya Rahma Andjani; Wicaksono, Harto
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 14, No 3 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v14i3.105832

Abstract

This study aims to determine the views of masculinity from the perspective of metrosexual men and the reasons for choosing to be metrosexual men in the modern era. Metrosexuality is known as a new model of masculinity that describes men who have a high awareness of appearance and lifestyle that is usually closely associated with women. This study uses a qualitative method with Alfred Schutz's phenomenological approach, with data collection techniques through observation, interviews, and documentation, and supported by a literature study in the form of previous journal references relevant to the research topic. The results show that metrosexual masculinity in Semarang State University students is caused by the desire to find a partner and be appreciated by those around them. They like to use skincare and bodycare products, and regularly visit beauty clinics. However, metrosexuality is not a sexual orientation, but rather a lifestyle, behavior, and a person's preferences in terms of appearance and self-care. Changes in metrosexual men are not only limited to physical changes, but also changes in attitudes that reflect power relations. This study provides a deeper understanding of the subjective experiences and meanings that individuals give to the metrosexual phenomenon. Thus, this study can contribute to the understanding of masculinity and lifestyle in the modern era.