Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Gagalnya Gerakan 30 September 1965 Dan Dampak Terhadap Keberadaan Partai Komunis Di Indonesia Syaiful Anam; Alfian, Rahman Latif
JSI: Jurnal Sejarah Islam Vol. 3 No. 1 (2024): Jurnal Sejarah Islam
Publisher : Progam Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor penyebab gagalnya gerakan 30 September 1965 dan untuk mengetahui keberadaan partai komunis di Indonesia setelah gagalnya gerakan 30 September 1965. Penelitian ini merupakan jenis penelitian sejarah, yang di dalamnya mempelajari peristiwa sejarah dan pengaruhnya, penelitian sejarah ini menggunakan literatur, dimana sumber yang digunakan adalah sumber sekunder yang berasal dari Buku, Jurnal, ataupun Artikel. Hasil penelitian ini, pertama, Bahwa Gagalnya Gerakan 30 September 1965 ini terjadi karena tidak tertangkapnya salah satu Jendral dari ke tujuh Jendral yang di incar oleh PKI, beliau adalah Jendral TNI A.H. Nasution. Faktor lain yang menyebabkan gagalnya Gerakan 30 September 1965 ini karena selamatnya Soekitman dari tawanan PKI. Kemudian Soekitman membantu menemukan lokasi sumur di lubang buaya. Kedua, Dampak dari gagalnya Gerakan 30 September 1965 terhadap keberadaan partai komunis di Indonesia sangat berpengaruh, sebab setelah terjadinya aksi penculikan dan pembunuhan kepada para Jendral, Tentara Indonesia dan kelompok organisasi anti komunis langsung bergerak menumpas orang-orang pro dengan PKI. Hingga pada akhirnya tanggal 12 Maret 1966 Letjen TNI Soeharto atas nama Presiden/Panglima tertinggi ABRI/Mandataris MPRS menandatangani surat keputusan Presiden/Pangti/Mandataris MPRS/PBR No.1/3/1966, yaitu mengenai pembubaran PKI dan organisasi yang bernaung dan berlindung di bawahnya serta menyatakannya sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah kekuasaan Negara Republik Indonesia.
Sejarah Kepemimpinan Sulaiman I Pada Masa Kesultanan Turki Utsmani Di Turki (1520-1566 M) Liris Maulina; Alfian, Rahman Latif
JSI: Jurnal Sejarah Islam Vol. 2 No. 02 (2023): Jurnal Sejarah Islam
Publisher : Progam Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

penelitian ini bertujuan untuk mengetahui salah satu tokoh pemimpin yang pernah lahir dalam sejarah peradaban Islam yaitu Sulaiman I dan kepemimpinannya selama memimpin Kesultanan Turki Utsmani di Turki dan fokus penelitian ini berupa perluasan Kesultanan Turki Utsmani pada masa kepemimpinan Sulaiman I. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, yaitu dengan mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada lampau (masa kepemimpinan Sulaiman I serta kehidupan Sulaiman I dari lahir hingga wafat). Metode penelitian sejarah menurut Kuntowijoyo ada lima tahapan antara lain; pemilihan topik, pencarian sumber, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian menggunakan berbagai data seperti buku, jurnal, artikel, dan lain-lain. Hasil dari penelitian ini adalah mengenai biografi Sulaiman I dan hasil kepemimpinan Sulaiman I pada masa Kesultanan Turki Utsmani di Turki dalam perluasan wilayah kekuasaannya.  Disajikan pula berbagai peristiwa-peristiwa penaklukan wilayah di tiga benua, yakni Asia, Eropa, dan Afrika yang dilakukan Kesultanan Turki Utsmani pada masa kepemimpinan Sulaiman I.
The Digital Village Initiative and Construction of Social Identity in Rural Communities Alfian, Rahman Latif; Warto, Warto; Fauziah, Nike Mutiara; Widyaningsih, Rindha
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 27 No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v27.n1.p27-36.2025

Abstract

In the era of technological and information modernization, the need for information is one of the basic needs for human life. It makes various community groups develop ways of life to meet these needs. One of them was carried out by the people of Melung Village, who independently built an internet network in their village to obtain access to information from outside Melung Village. The difficult location and being in the mountains make this business known to many, so Melung Village is nicknamed the Internet Village or Digital Village. In its development, this embedded predicate, or nickname affects how people recognize themselves and represent their identity. This research wants to explore more deeply how the dynamics and formation of sociocultural identities for the community are located. This study uses ethnographic methods to obtain field data. Ethnography was chosen to obtain data from the perspective of cultural stakeholders, in this case, the people of Melung village. The results of this study show that the people of Melung Village do not deliberately embed the identity of the digital village but rather introduce the public to Melung Village, a remote village with good internet access. In its development, this identity is interpreted by the community not only as the identity of the village but also as the identity of the people of Melung Village.
Budaya Lokal dan Hukum Adat Dalam Menciptakan Keteraturan Sosial Studi Pada Masyarakat Adat Kalitanjug, Banyumas Vivi Ariyanti; Alfian, Rahman Latif
Jurnal Penelitian Agama Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v26i1.2025.pp137-152

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran hukum adat dalam penyelesaian tindak pidana di masyarakat adat Kalitanjung, Kecamatan Rawalo, Banyumas. Hukum adat di Kalitanjung menjadi instrumen penting dalam menjaga ketertiban sosial dan menyelesaikan konflik yang timbul, terutama dalam kasus-kasus tindak pidana yang melibatkan anggota masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menggali lebih dalam proses penyelesaian konflik berdasarkan hukum adat di Kalitanjung. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pelaku hukum adat, dan pihak-pihak yang pernah terlibat dalam proses penyelesaian masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum adat masih memiliki otoritas dalam menjaga harmoni sosial di Kalitanjung, meskipun tantangan muncul dari modernisasi dan pengaruh hukum formal. Studi ini merekomendasikan agar ada upaya pelestarian dan pengakuan formal terhadap hukum adat agar tetap relevan sebagai metode alternatif dalam penyelesaian konflik di pedesaan.
Ethnobotany of flower trading in traditional markets of Banyumas, Central Java, Indonesia Alfian, Rahman Latif; Harahap, Junardi; Supangkat Iskandar, Budiawati; Hyung-Jun, Kim
Reinwardtia Vol. 24 No. 2 (2025): Reinwardtia
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/reinwardtia.2025.626

Abstract

ALFIAN, R. L., HARAHAP, J., ISKANDAR, B. S. & HYUNG-JUN, K. 2025. Ethnobotany of flower trading in traditional markets of Banyumas, Central Java, Indonesia. Reinwardtia 24(2): 219‒236. —Flower trading has long been present in society. Particularly in Javanese society, flowers hold significant biological importance in social and cultural life. Flowers are imbued with various symbolic meanings and are used in various life events and religious rituals. This study aims to explore the existence of flower trading within the community, especially in the Banyumas region. In addition to delving into the trade itself, this research also investigates the types of flowers being traded, how they are sourced for sale, the meanings attached to these flowers, how each type of flower and plant is sold, and how the classification of flower types according to the community is divided. This study employs a qualitative ethnographic method to gather research data. The findings of this research indicate that the existence of Rampe flower traders must be distinct from the community's cultural traditions, particularly in Banyumas. Rampe flower traders typically sell several flowers used as essential components in religious and cultural ceremonies. These flowers include roses (Rosa hybrida), ylang-ylang (Cananga odorata), white magnolia (Magnolia), and several other flowers. Most Banyumas people use these flowers for the tradition of grave pilgrimage. White and yellow magnolia flowers have a higher economic value as traders sell them in seed form. Rampe flower traders classify plants into those with high economic value and those with regular value. The high economic value of a flower is usually influenced by its availability (rarity) and the specific functions of certain types of flowers. Meanwhile, plants with regular economic value are typically complementary plants (not core plants) in the community's cultural and religious traditions.