Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

The Role of Interprofessional Communication in Enhancing the Quality of Hospital Health Services: A Scoping Review Wahyuningsih, Aries; Firmanda, Giovanni Iga
JMMR (Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit) Vol. 14 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmmr.v14i2.570

Abstract

Interprofessional communication is vital in delivering high-quality hospital healthcare services by promoting teamwork, minimizing errors, and enhancing patient outcomes. This study explores the role of interprofessional communication in improving the quality of hospital healthcare services. The research employed a scoping review design, utilizing data from Elsevier and ScienceDirect databases for articles published between 2017 and 2025. The review process adhered to PRISMA guidelines 2020, with inclusion criteria focusing on articles discussing interprofessional communication in hospital settings. A standardized data extraction form was used to record study characteristics, communication interventions, and outcomes. Thematic analysis was applied to map and synthesize key themes and subthemes. A rigorous selection process yielded 14 relevant articles, ensuring consistency and scientific credibility. The findings identified two main themes: strategies to enhance interprofessional communication—such as structured tools like SBAR and interdisciplinary meetings—and the impact of communication on healthcare quality, including improvements in patient safety, clinical outcomes, and team collaboration. Subthemes included communication barriers, leadership support, and continuous training. The study concludes that hospitals should prioritize implementing structured communication protocols and cultivating a culture of teamwork and ongoing professional development to optimize service delivery and patient safety.
INTERVENSI PELATIHAN CARING: SOLUSI PENINGKATAN KOMPETENSI PERAWAT DALAM MANAJEMEN KELUHAN PASIEN DI RUANG INTENSIF Giovanni Iga Firmanda; Aries Wahyuningsih
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 11 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v11i2.882

Abstract

Keluhan pasien di ruang intensif sering kali disebabkan oleh komunikasi yang kurang efektif dan minimnya penerapan sikap caring oleh perawat. Pelatihan caring behaviour berbasis teori Swanson menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kompetensi perawat, kualitas pelayanan, dan kepuasan pasien. Pendekatan caring mencakup enabling, doing for, maintaining belief, being with, dan knowing, yang membantu perawat memberikan layanan lebih empatik. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan sampel 42 perawat yang dipilih melalui proportionate stratified random sampling. Kelompok intervensi menerima pelatihan caring, sementara kelompok kontrol mendapat pelatihan berbasis SOP rumah sakit. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post- test menggunakan instrumen berbasis teori Swanson dengan 20 item skala likert lima tingkat. Analisis data menggunakan uji t-test menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan perawat menangani keluhan pasien (p kurang dari 0,05). Peningkatan terjadi pada aspek doing for (bantuan sesuai kebutuhan pasien) dan knowing (pemahaman terhadap kebutuhan pasien dan keluarga). Pelatihan caring terbukti lebih efektif dibandingkan pelatihan berbasis SOP rumah sakit. Oleh karena itu, pelatihan ini perlu diterapkan secara berkala dalam pengembangan profesional perawat guna meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan kepuasan pasien.
PENINGKATAN PENGETAHUAN PENATALAKSANAAN DEHIDRASI PADA IBU DENGAN BALITA RIWAYAT DIARE Margaretta, Sheylla Sheylla; Gayatri, Paramita Ratna; Isnaeni, Ely; Santosa, Winanda Rizki Bagus; Firmanda, Giovanni Iga; Aprilita, Niken Ayu
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 11 No 1 (2024)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v11i1.820

Abstract

Latar Belakang: Diare menjadi penyebab kematian balita di dunia. Komplikasi yang terjadi dari diare adalah dehidrasi. Dehidrasi akan memburuk jika kehilangan air dan elektrolit terjadi secara terus menurus dan tidak segera digantikan bisa menyebabkan syok hipovolemia yang dapat membuat gagal organ, hingga kematian. Salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan diare adalah dengan edukasi kesehatan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi penatalaksanaan dehidrasi di rumah terhadap pengetahuan ibu dengan balita riwayat diare. Metode: Metode penelitian ini adalah Quasi Experimental Design dengan bentuk desain penelitian Nonequivalent Control Group Design. Populasi adalah ibu yang mempunyai balita dengan riwayat diare. Sempel yang digunakan 68 responden kelompok eksperimen (booklet dan demonstrasi) dan 68 responden kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel secara purposive. Pengumpulan data menggunakan kuisoner pengetahuan. Analisis data menggunakan Uji Mann Whitney. Hasil: Hasil Uji Mann Whitney diperoleh nilai ρ 0,000 ( ρ < 0,05). Artinya H0 ditolak dan H1 diterima terdapat pengaruh edukasi penatalaksanaan dehidrasi di rumah terhadap pengetahuan ibu. Kesimpulan: Terdapat pengaruh edukasi penatalaksanaan dehidrasi di rumah terhadap pengetahuan ibu.
Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kepatuhan Lansia dalam Melakukan Kontrol Hipertensi di Rumah Sakit Kota Kediri Firmanda, Giovanni Iga; Sunarno, Rita Dewi; Pratiwi, Wahyu Nur
Indonesian Health Science Journal Vol. 5 No. 2 (2025): September
Publisher : Universitas Nazhatut Thullab Al- Muafa Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52298/ihsj.v5i2.152

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang banyak dialami lansia dan memerlukan pengobatan jangka panjang. Kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol rutin menjadi faktor penting untuk mencegah komplikasi dan menurunkan risiko mortalitas. Komunikasi terapeutik perawat berperan dalam membangun hubungan saling percaya, memberikan informasi yang jelas, serta memotivasi pasien agar patuh pada regimen pengobatan.  Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol hipertensi di Rumah Sakit Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah pasien lansia yang menjalani kontrol hipertensi di poliklinik penyakit dalam. Sampel diambil dengan teknik accidental sampling sesuai kriteria inklusi didapatkan sejumlah 58 orang. Instrumen penelitian berupa kuesioner komunikasi terapeutik perawat dan kepatuhan kontrol hipertensi yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan Uji korelasi Spearman Rank dengan p-value 0,000 (r = 0,849).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik, dan tingkat kepatuhan kontrol hipertensi responden juga tergolong tinggi. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol hipertensi, dengan arah hubungan positif.  Kesimpulan penelitian ini adalah semakin baik komunikasi terapeutik perawat, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan lansia dalam melakukan kontrol hipertensi. Implikasi praktis dari temuan ini adalah pentingnya pelatihan komunikasi terapeutik bagi perawat sebagai bagian dari strategi manajemen hipertensi pada lansia untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Impact Of Organizational Culture And Job Satisfaction On Nurse Performance In General Hospital : A Path Analysis Giovanni Iga Firmanda; Ahsan Ahsan; Retno Lestari
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 1: March 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.884 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8i1.1638

Abstract

The performance of health employees influences hospital quality service standards. Nurses play an essential role in developing and monitoring the quality of healthcare services through organizational culture, job satisfaction, and work motivation. This study aimed to investigate the impact of organizational culture and job satisfaction on nurse performance using work motivation as a moderating variable. This study takes a cross-sectional approach with a quantitative design. The research sample included 131 people who were chosen at random (proportionate stratified random sampling). Questionnaires were used to collect data, and its validity and reliability were tested. Data analysis is done via path analysis. The findings revealed that organizational culture impacted work motivation p=0.000 (p less than 0.05) and job satisfaction. The results showed that there was an influence of organizational culture on work motivation p=0.000 (p less than 0.05), job satisfaction on work motivation p=0.000 (p less than 0.05), organizational culture did not affect performance p=0.629 (p more than 0.05), job satisfaction on performance p= 0.000 (p less than 0.05), work motivation on performance p = 0.000 (p less than 0.05). This demonstrates that work motivation is crucial in boosting nurse performance through organizational culture and job satisfaction. A supportive organizational culture promotes nurses' performance in terms of patient safety and quality. In conclusion, a positive work environment promotes contented nurses, which affects health care quality.
Efektivitas Pelvic Floor Muscle Training dan Bladder Training dalam Mengelola Inkontinensia Urine pada Alzheimer: Literature Review Firmanda, Giovanni Iga; Wahyuningsih, Aries; Pratiwi, Wahyu Nur
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.95655

Abstract

Background: Urinary incontinence is a common problem in Alzheimer's patients that significantly affects the quality of life and well-being of the sufferers. Non-pharmacological interventions such as Pelvic Floor Muscle Training (PFMT) and Bladder Training have been considered effective methods in managing this condition, but the cognitive limitations of Alzheimer's patients pose special challenges in their implementation. Objective: This literature review aimed to analyze the effectiveness of PFMT and Bladder Training in managing urinary incontinence in Alzheimer's patients and to understand the challenges and obstacles faced in implementing these interventions. Method: The type of study was a literature search. It was carried out through the EBSCO, Proquest and Science Direct electronic databases that discussed the problem of incontinence in Alzheimer's patients published in 2017-2022. Studies that met the inclusion and exclusion criteria were selected and evaluated using the JBI critical appraisal tool. Results: From the search results, 4 studies met the inclusion criteria and were analyzed in this review. The findings indicated that PFMT and Bladder Training can reduce the frequency of urinary incontinence in elderly with Alzheimer's.Conclusion: PFMT and Bladder Training (BT) play important roles in managing urinary incontinence in Alzheimer's patients. PFMT helps improve pelvic floor muscle control, while BT helps regulate mixed frequency. The combination of these two therapies can provide significant benefits in the management of urinary incontinence in Alzheimer's patients, helping to improve the patient's quality of life and overall well-being.INTISARILatar belakang: Inkontinensia urine merupakan masalah umum pada pasien Alzheimer, yang secara signifikan memengaruhi kualitas hidup dan kesejahteraan penderitanya. Intervensi non-farmakologis seperti Pelvic Floor Muscle Training (PFMT) dan Bladder Training telah dipertimbangkan sebagai metode efektif dalam mengelola kondisi inkontinensia urine ini. Namun, keterbatasan kognitif pada pasien Alzheimer menimbulkan tantangan khusus dalam penerapannya. Tujuan: untuk mengevaluasi efektivitas PFMT dan Bladder Training dalam mengelola inkontinensia urine pada pasien Alzheimer, serta memahami tantangan dan kendala yang dihadapi dalam penerapan intervensi ini. Metode: Jenis penelitian ini adalah pengkajian literatur. Pencarian literatur dilakukan melalui database elektronik EBSCO, Proquest, dan Science Direct, yang membahas masalah inkontinensia pada pasien Alzheimer, terbitan tahun 2017-2022. Literatur yang memenuhi kriteria inklusi, diseleksi dan dievaluasi menggunakan JBI’s critical appraisal tools. Hasil: Dari hasil pencarian, sebanyak 4 literatur memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis dalam review ini. Hasil temuan menunjukkan bahwa PFMT dan Bladder Training berpengaruh terhadap pengelolaan inkontinensia urine pada pasien Alzheimer, meningkatkan kontrol otot dan frekuensi miksi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.Simpulan: Pelvic Floor Muscle Training (PFMT) dan Bladder Trainining (BT) dapat mengurangi frekuensi inkontinensia urine pada lansia dengan Alzheimer. 
The Nurses' Role in Management Complaint Wahyuningsih, Aries; Firmanda, Giovanni Iga; Pratiwi, Wahyu Nur; Margaretta, Sheylla Septina
Babali Nursing Research Vol. 5 No. 3 (2024): July
Publisher : Babali Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37363/bnr.2024.53392

Abstract

Background: As primary caregivers, nurses ensure patient safety and quality health services by effectively managing patient complaints. Proper handling of these complaints is crucial for providing effective treatment. Develop management and understanding of handling patient complaints efficiently by providing a systematic framework and identifying effective communication techniques to deal with patient complaints effectively. Methods: ProQuest, Ebsco, Science Direct, and Elsevier were the literature sources examined between 2013 and 2023. Results: Nursing managers should enhance nurses' communication skills to improve patient care and complaint management. Studies indicate that targeted training in communication significantly boosts nurses' effectiveness and patient satisfaction.Conclusion: Implementing training programs, regular assessments, and ongoing support will improve patient outcomes and more effective complaint handling.
Empowering Post-Stroke Patients to Improve Self-Care and Prevent Recurrent Stroke Using Stroke Empowerment Education Prasetyowati, Christina Dewi; Firmanda, Giovanni Iga
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 10 No. 5 (2024): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v10i5.721

Abstract

Aims: Stroke can lead to varying outcomes, ranging from recovery with disability, death, to surviving with recurrent strokes. Post-stroke patients require special attention to improve self-care behaviors. Stroke empowerment education is an educational approach given to stroke patients with an empowerment-focused approach centered on the patient. This study aimed to determine the effect of stroke empowerment education on the self-care of post-stroke patients as an effort to prevent recurrent strokes at RSUD Gambiran Kota Kediri. Methods: The research design used was a Quasi-Experiment with a pre-post test design with a control group. Sampling was done using accidental sampling technique, resulting in 98 respondents. Data collection on self-care was conducted using the modified version of The Subjective Self-Care Performance Scale questionnaire. Results: The results of the Wilcoxon Signed Ranks Test showed significant improvement (p = 0.000) in self-care among post-stroke patients after Stroke Empowerment Education. Conclusion: This study concluded that there was an effect of stroke empowerment education on improving self-care among post-stroke patients as an effort to prevent recurrent strokes at RSUD Gambiran Kota Kediri. As a recommendation, the results of this study can be continued as an intervention in hospitals to enhance services for post-stroke patients to improve self-care as an effort to prevent recurrent strokes.
AKTIVITAS FISIK PENTING DALAM MANAJEMEN KADAR GULA DARAH LANSIA DENGAN DIABETES MELLITUS Wahyu Nur Pratiwi; Giovanni Iga Firmanda; Rita Dewi Sunarno; Sujatmiko; Yuan Guruh Pratama
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol 9 No 2 (2025): JURNAL KEPERAWATAN WIDYA GANTARI INDONESIA (JKWGI)
Publisher : Nursing Department, Faculty of Health, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas fisik yang rendah pada lansia penderita diabetes melitus berkontribusi pada tingginya kadar gula darah. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih besar. Salah satu tata laksana dalam diabetes melitus adalah aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang dilakukan berkesinambungan membantu menurunkan kadar gula darah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada lansia penderita diabetes mellitus Puskesmas Silir. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode observasional dengan pendekatan cross-sectional study. Pengambilan sampel dengan Accidental Sampling dengan sampel sebanyak 96 responden dari sampel sejumlah 408, dengan instrumen GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire). Analisis data menggunakan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 60.4% partisipan memiliki aktivitas fisik kategori Inaktif, serta 53.1% kadar gula dari partisipan masuk dalam kategori Tinggi. Hasil uji Spearman menunjukkan ρ-value = 0,000 < 0,05 dengan koefisien korelasi -0,830 yang menunjukkan arah negatif dengan kekuatan hubungan sangat kuat. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik memiliki hubungan yang sangat kuat dengan kadar gula darah lansia dengan Diabetes Mellitus. Hal ini bermakna bahwa aktivitas fisik menjadi tatalaksana yang penting dalam perawatan lansia dengan Diabetes Mellitus.