Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

The Kontribusi diferensiasi diri dan karakteristik kepribadian neurotisisme terhadap kepuasan hubungan mahasiswa perempuan di Jabodetabek Siregar, Shinta; Aditya, Yonathan
Jurnal Psikologi Ulayat Vol 11 No 2 (2024)
Publisher : Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jpu985

Abstract

Dating is a common experience among students entering young adulthood, a stage often marked by the challenge of forming intimate connections. Relationship quality plays a key role in determining dating’s impact on students. Therefore, it is essential for dating students to assess their relationship quality and understand the influencing factors. Relationship quality can be evaluated by measuring relationship satisfaction. This study investigated the contributions of differentiation of self and neuroticism toward relationship satisfaction of female students in Jabodetabek. The data was collected from 84 participants via electronic questionnaires distributed through social media and directly to universities in Jabodetabek. The findings indicated that both differentiation of self and neuroticism significantly contributed to relationship satisfaction. Differentiation of self not only enhances relationship satisfaction but can also mitigate the negative impact of neuroticism.
Kontribusi Teori Fondasi Moral terhadap Tingkat Hostile Sexism Masyarakat Beretnis Tionghoa di jakarta: The Contribution of Moral Foundations to the Level of Hostile Sexism in the Chinese Ethic Community in Jakarta Cecillia Joynathan Setiajaya; Yonathan Aditya
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 18 No. 3 (2025): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 18.3
Publisher : Faculty of Social Science and Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2025.18.3.233

Abstract

Seksisme bermusuhan (hostile sexism) sebagai bentuk prasangka masih sering dialami oleh perempuan Tionghoa, yang dapat dipengaruhi atau muncul dari hal-hal sederhana seperti pikiran yang membenarkan penilaian moral dan reaksi emosional diri sendiri. Penelitian ini bertujuan mengkaji kontribusi dari keenam dimensi teori fondasi moral (care, equality, proportionality, loyalty, authority, dan purity) pada laki-laki dan perempuan dewasa awal terhadap seksisme bermusuhan dalam konteks budaya Tionghoa di Jakarta yang masih menerapkan nilai-nilai patriarki. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan desain kuantitatif melalui analisis regresi linear berganda. Sebanyak 231 partisipan dikumpulkan melalui purposive sampling dan snowball sampling dengan instrumen Moral Foundations Questionnaire-2 (MFQ-2) dan Ambivalent Sexism Inventory (ASI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa dimensi dari teori fondasi moral berkontribusi dalam memperkuat sikap seksis bermusuhan pada perempuan dewasa awal beretnis Tionghoa. Sebanyak 42,5 persen variasi seksisme bermusuhan pada partisipan laki-laki dan 38,8 pada partisipan perempuan dapat dijelaskan oleh fondasi moral seseorang, khususnya dalam konteks budaya kolektivis yang patriarkis. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya memperluas pemahaman mengenai seksisme dalam budaya kolektivis kepada masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi stigmatisasi terhadap perempuan Tionghoa sekaligus mengkritisi norma tradisional yang membatasi ruang gerak perempuan.
"I know my knowladge is limited": Validating general intellectual humility scale using rasch analysis Al Fariz, Arif Budiman; Aditya, Yonathan
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol. 13 No. 2 (2025): August
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jipt.v13i2.40804

Abstract

Intellectual Humility is a construct that has been extensively studied over the past few decades, both conceptually froma philosophical perspective and empirically in terms of psychological measurement. This study aims to validate theGeneral Intellectual Humility (GIH) questionnaire in Indonesian sample. The GIH questionnaire consists of six itemsusing a Likert scale with 5 response options ranging from 1 (Strongly Disagree) to 5 (Strongly Agree). A total of 653undergraduate participants, aged between 17 and 24 years, from several universities in Indonesia, were included in thestudy. Participants were selected using a non-probability sampling technique. Confirmatory factor analysis (CFA) andRasch Partial Credit Model (PCM) analysis were applied in this study. The results indicate that the GIH scale data met allthe required Rasch analysis assumptions, including uni-dimensionality, local independence, item fit, and differential itemfunctioning (DIF). CFA analysis resulted that the GIH data fit to a unidimensional model, and all items were fit measuredGIH. The GIH questionnaire has good psychometric properties and can be used practically to measure intellectualhumility within a general domain.
PERAN DIFERENSIASI DIRI TERHADAP PEMAAFAN PADA EMERGING ADULT DALAM KONFLIK ORANG TUA-ANAK : The Role of Differentiation of Self on Emerging Adult Forgiveness in Parent-Child Conflict Wynne Devina Chandrakusuma; Yonathan Aditya
Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Vol. 17 No. 2 (2024): JURNAL ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN 17.2
Publisher : Faculty of Social Science and Human Ecology, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24156/jikk.2023.17.2.182

Abstract

Konflik orang tua-anak merupakan fenomena normatif dari tahapan perkembangan yang harus dilalui, tetapi di saat yang bersamaan dapat menimbulkan luka yang dalam bagi emerging adult sehingga resolusi konflik yang adaptif menjadi hal yang penting. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan peranan diferensiasi diri dalam pemaafan, hanya saja masih sangat minim di Indonesia dan lebih banyak berfokus pada hubungan romantis sehingga membuat penelitian ini bertujuan untuk melihat peran masing-masing dimensi diferensiasi diri terhadap pemaafan pada emerging adult dalam konflik orang tua-anak. Penelitian ini dilakukan terhadap emerging adult dengan menggunakan alat ukur Differentiation of Self Inventory-Short Form (DSI-SF) yang mengukur tiga dimensi, yaitu emotional distancing, relational sensitivity, dan maintaining identity, serta The Decisional Forgiveness Scale (DFS) dan The Emotional Forgiveness Scale (EFS). Analisis regresi berganda terhadap 235 partisipan (MUsia=21,13; SD=2,19) yang diperoleh melalui teknik convenience sampling menunjukkan bahwa dimensi emotional distancing memiliki peran yang signifikan terhadap pemaafan, baik bagi decisional forgiveness (R2=0,06) maupun emotional forgiveness (R2=0,15), tetapi tidak signifikan pada kedua dimensi lainnya. Selain itu, emotional distancing ditemukan memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap emotional forgiveness (β=-0,34, p<0,05) dibandingkan decisional forgiveness (β=-0,24, p<0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk menjaga kedekatan emosional dan fisik dengan orang tua sekalipun berkonflik berperan dalam pemaafan.