Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Mamanda sebagai Wahana Pendidikan Budaya (Kajian Etnopedagogi) Haswinda Harpriyanti; Noor Indah Wulandari
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i1.3062

Abstract

Mamanda Sebagai Wahana Pendidikan Budaya (Kajian Etnopedagogi): Jika dicermati berdasarkan ciri khasnya, Mamanda memiliki kemiripan dengan Lenong terutama dari segi kedekatan interaksi yang dibangun oleh para pemain kepada penonton. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menemukan konsep fakta dalam Mamanda., (2) menemukan kebudayaan yang terdapat dalam Mamanda, dan (3) menemukan nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam Mamanda. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang digunakan hasil pengamatan secara langsung. Analisis data dilakukan dengan cara induktif yang berawal dari pemahamankhusus ke umum serta dijelaskan secara detail sesuai dengan fokus penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi, sebab penelitian akan melakukan penelitian tentang kebudayaan masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Hasil dari penelitian menunjukan konsep fakta yang dihasilkan dalam pertunjukan Mamanda yaitu, adanya kisah sejarah tentang kerajaan Negara Dipa. Unsur kebudayaan yang terdapat di dalam pertunjukan Mamanda antara lain, berupa penggunaan bahasa daerah, unsur kebudayaan terkait pengetahuan tentang pengobatan tradisonal yang sudah dipercaya sejak masa dahulu kala dan telah menjadi bagian hidup bagi masyarakat Banjar, unsur kebudayaan yang berkait tentang mata pencaharian masayarakat Banjar seperti maunjun. Selain itu adanya unsur kesenian berupa musik tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Banjar yang bermuatan nilai budaya karakatan (keakraban) yakni kesenian musik bapanting. Adapun Nilai-nilai kehidupan yang ditemukan pada pertunjukan Mamanda yakni, nilai kehidupan berupa peduli dengan konsep badingsanakan atau menganggap orang lain seperti keluarga sendiri, agar kita memiliki rasa sayang kepada siapapun. Ditemukannya nilai keimanan atau religius dalam pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang sudah dilakukan secara turun temurun.
Pengenalan Etnomatematika Dan Etnolinguistik Banjar Melalui Siaran RRI Pro 4 Banjarmasin Kalimantan Selatan Winda, Novia; Komalasari, Ida; A.Djdwad, Alimuddin; Jabar, Abdul; Indah Wulandari, Noor; Humaidi, Akhmad; Suwandi, Achmad; Amaliani, Rizky; Syawaluddin, Akhmad
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2023): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Getting to know Banjar culture while learning mathematics (ethnomathematics) and getting to know Banjar culture as well as learning language (ethnolinguistics) is a new thing for people to love Banjar culture more. This service introduced ethnomathematics and ethnolinguistics to the wider community through Radio Republik Indonesia Banjarmasin. The broadcast that specifically talks about Banjar culture is the Baisukan Pandiran Event which is held every Monday at 09.00-10.00 WITA. This activity was carried out 4 times in a row regarding: a) ethnomathematics of Sultan Suriansyah Mosque, b)Ethnomathematics in Kuntau Martial Arts in South Kalimantan, c) Ethnolinguistics of Religion and Beliefs of the Banjar People, and d) Ethnolinguistics of Traditional Arts of the Banjar People.
Tradisi Malabuh Masyarakat Banjar Sebagai Sumber Pembelajaran Teks Berbasis Kearifan Lokal dalam Pendidikan Bahasa Indonesia Harpriyanti, Haswinda; Wulandari, Noor Indah; Lismayanti, Heppy
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 001 February 2026 (Spesial Issue)
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i001.3249

Abstract

Pembelajaran bahasa Indonesia membutuhkan sumber belajar yang kontekstual dan berakar pada pengalaman budaya peserta didik. Salah satu sumber pembelajaran yang potensial adalah kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tradisi malabuh masyarakat Banjar sebagai sumber pembelajaran teks berbasis kearifan lokal dalam Pendidikan Bahasa Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, sesepuh kampung, dan pelaku ritual, serta dokumentasi narasi lisan masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi malabuh mengandung kekayaan narasi spiritual, simbol ritual, dan nilai budaya yang relevan untuk pembelajaran teks, seperti teks narasi budaya, teks deskripsi, teks eksplanasi, dan teks laporan hasil observasi. Tradisi ini merepresentasikan relasi harmonis manusia–alam–entitas spiritual serta sistem pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pemanfaatan tradisi malabuh sebagai sumber pembelajaran teks memungkinkan peserta didik memahami struktur dan makna teks secara kontekstual sekaligus menumbuhkan kesadaran budaya dan identitas lokal. Dengan demikian, tradisi malabuh tidak hanya berfungsi sebagai praktik budaya, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, bermakna, dan relevan dengan tujuan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Campur Kode dalam Novel Rindu Karya Tere Liye: (Kajian Sosiolinguistik) Hidayah, Nor; Lismayanti, Heppy; Wulandari, Noor Indah; Arifin, Johan; Agustina, Rahidatul Laila
Education Achievement: Journal of Science and Research Volume 7 Issue 001 February 2026 (Spesial Issue)
Publisher : Pusdikra-Publishing.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51178/jsr.v7i001.3256

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis jenis dan konteks sosial di mana kode campur muncul dalam novel Rindu karya Tere Liye. Kode campur adalah fenomena linguistik di mana seorang penutur memasukkan unsur-unsur bahasa lain seperti kata, frasa, klausa, atau idiom ke dalam bahasa utama tanpa mengubah topik pembicaraan. Fenomena ini khususnya relevan untuk diteliti dalam Rindu, karena narasinya berlatar pada masa kolonial, yang menyediakan lingkungan ideal untuk kontak bahasa dan interaksi antarbudaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teks novel sebagai sumber data. Data kode campur diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan jenisnya (intra-kalimat, antar-kalimat, atau frasa nominal) dan bahasa yang digunakan (Belanda atau Inggris), dengan mengacu pada teori Fishman (1972) dan Holmes (2013). Data tersebut kemudian ditafsirkan dengan memeriksa konteks sosial dan naratif untuk memahami peran sosial, makna simbolik, dan hubungan kekuasaan di antara karakter sebagaimana tercermin melalui penggunaan bahasa. Secara hipotetis, penelitian ini diharapkan menunjukkan bahwa campur kode intrakalimat dengan unsur-unsur Belanda mendominasi, mencerminkan identitas sosial dan status kolonial yang berlaku pada masa itu. Kesimpulan akan merangkum berbagai bentuk campur kode dan implikasinya terhadap hubungan sosial dan dinamika kekuasaan dalam konteks novel.