Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

HUBUNGAN JENIS FASILITAS KESEHATAN DAN STATUS KEPESERTAAN DENGAN KEPUASAN PASIEN PESERTA JKN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN: STUDI DI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA KOTA BANJARBARU Nurul Mardiati; Fitriyanti Fitriyanti; Sari Wahyunita; Rizka D.A. Widianti; Era Habibah
JCPS (Journal of Current Pharmaceutical Sciences) Vol 1 No 2 (2018): March 2018
Publisher : LPPM - Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.938 KB)

Abstract

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah perlindungan kesehatan agar peserta mendapatkan manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan. JKN merupakan bentuk perlindungan kesehatan yang diberikan kepada peserta yang telah membayar iuran atauoleh pemerintah iurannya dibayarkan. Status kepesertaan dalam JKN terdiri dari dua kelompok yaitu Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan peserta non PBI. Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dalam melaksanakan pelayanan primer salah satunya ditunjang dengan kerjasama jejaring fasilitas kesehatan yaitu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FTKP). Penelitian ini bersifat korelasional yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan tempat fasilitas kesehatan dan status kepesertaan dengan kepuasan pasien peserta JKN terhadap pelayanan kefarmasian di FKTP. Penelitian ini merupakan penelitian survey cross sectional analitik dengan jumlah sampel 100 orang. Sampel masing-masing di FKTP terpilih diambil secara proporsional stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner berdasarkan skala likert. Data dianalisis dengan uji chi-square untuk melihat hubungan tempat fasilitas kesehatan dan status kepesertaan dengan kepuasan pasien peserta JKN terhadap pelayanan kefarmasian di FKTP. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara tempat fasilitas kesehatan (p=0.000) dan status kepesertaan (p=0.000) dengan kepuasan pasien peserta JKN terhadap pelayanan kefarmasian.
PEMANFAATAN BIJI CIMPEDAK SEBAGAI MINUMAN KESEHATAN DI BERUNTUNG JAYA KELURAHAN SUNGAI TIUNG KECAMATAN CEMPAKA KOTA BANJARBARU Ratna Restapaty; Rahmi Hidayati; Sari Wahyunita
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 5, No 2 (2020): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.821 KB) | DOI: 10.31602/jpaiuniska.v5i2.2840

Abstract

Buah cempedak (Artocarpus champeden sp.) merupakan komoditas perkebunan yang memiliki prospek cerah di masa yang akan datang khusunya untuk daerah Kalimantan, karena di samping dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, dapat diproyeksikan sebagai bahan industri, salah satunya biji cempedak. Kandungan karbohidrat yang dimiliki biji cempedak, berbanding dengan yang ada pada tepung terigu. Selama ini biji dari buah cempedak kebanyakan dibuang, padahal dapat dikembangkan menjadi satu bentuk bahan pangan baru yang dapat dikonsumsi. Mata pencahariaan warga Beruntug Jaya Kel. Sungai Tiung Cempaka sebagaian besar adalah pendulang intan, petani, dan pedagang. Kesejahteraan warga terbatas dan tidak ada usaha mandiri bagi ibu-bu atau remaja perempuan. Kendala yang dihadapi warga (1) Kegiatan posyandu yang sangat belum optimal, (2) belum memiliki keahlian dalam membuat dan memanfaatkan biji cimpedak, (3) Kurangnya pemahamanan terhadap penanganan terhadap ibu menyusui. Permasalahan-permasalahan yang terjadi disebabkan : (1) Kurangnya informasi yang di berikan petugas posyandu tentang hasil-hasil penelitian kesehatan terutama dalam hal pengolahan bahan alam. (2) Rendahnya kemampuan dan keterampilan warga dalam mengolah bahan alam untuk produk minuman atau makanan sehat, (3) Kurangnya informasi bagi ibu tentang produksi ASI. Luaran kegiatan ini adalah : (1) warga dapat menguasai teknik pembuatan susu cimpedak dengan baik. (2) warga memahami komponen gizi dan khasiat biji cimpedak bagi kesehatan, terutama khasiat bagi ibu menyusui.Metode kegiatan yang dilaksanakan adalah (1) pemberian informasi/ teori, (2) demontrasi/ Praktek langsung pembuatan susu biji cimpedak. Khalayak sasaran adalah petugas posyandu dan warga sekitar di desa Beruntung Jaya, Kel Sungai Tiung, Cempaka-Banjarbaru
EDUKASI DAN PEMBERDAYAAN KELOMPOK WANITA TANI (KWT) CEMARA DALAM UPAYA PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH MENGGUNAKAN SERBUK DAUN PEPAYA Sari Wahyunita; Didik Rio Pambudi; Hasan Ismail; M. Andi Chandra; Syahrizal Ramadani; Aesty Rahayu; Wahyudi Wahyudi
Jurnal Abdimas Bina Bangsa Vol. 4 No. 2 (2023): Jurnal Abdimas Bina Bangsa
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46306/jabb.v4i2.532

Abstract

Abate powder In the field, the use of abate powder is still not well controlled, because the community feels that there has been a change in the quality of the water, such as taste, smell, and color. Papaya leaves can be processed and used as a natural mosquito repellent that is safe and inexpensive. Papain contained in papaya leaves has antitoxic properties even in low doses, when enters the body of Aedes aegypti mosquito larva it will cause a chemical reaction in the body's metabolic processes which can cause inhibition of growth hormone so that the larvae can’t grow into instar IV. Even the aftermath of the inability of the larva to grow resulted in death. This activity was carried out to empower the community in the utilization of papaya leaves as a natural larvicide to prevent the spread of dengue hemorrhagic fever which is mediated by the Aedes aegypty
Comparison of Extraction Solvents Towards Anti-Propionibacterium acnes activity of Alphitonia incana (Roxb). Teijsm. & Binn. ex Kurz Leaves Hafiz Ramadhan; Rahmi Muthia; Sari Wahyunita; Dyera Forestryana; Sherly Mar'atu Soleha; Lihimi Lihimi
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Suppl. 5, No. 1 (2023)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v0i0.45897

Abstract

Alphitonia incana (Roxb.) Teijsm. & Binn. ex Kurz locally known as Balik Angin in Borneo Island is one of the endemic plants that have the potential to be an alternative antibacterial agent. Balik Angin leaves contain secondary metabolites that have to play a role to inhibit the growth of Gram-positive bacteria. This study aimed to compare the different extraction solvents which are methanol and ethanol on the maceration of Balik Angin leaves in producing antibacterial activity against Propionibacterium acnes. The leaves were macerated using methanol and ethanol respectively. Antibacterial assay was carried out by the Well diffusion method. The results showed minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanol extract which is 3.2% has a diameter of clear zone of 9.475±0.311 mm. Meanwhile, the methanolic extract with a similar MIC has a lower diameter of clear zone of 2.55±0.85 mm. The results correlate with the number of secondary metabolites groups that were identified based on phytochemical screening in ethanol extract containing alkaloid, phenolic, flavonoid, tannin, saponin, and phytosteroid, however, methanol extract not containing alkaloid. The conclusion of this study is ethanol solvent more effective to extract secondary metabolites from Balik Angin leaves compare to methanol solvent, so that can produce more powerful anti-Propionibacterium acnes activity.
PERBANDINGAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN HBA1C PADA INSULIN GLARGINE DAN DETEMIR PASIEN DIABETES MELITUS TYPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN helmina wati; Karunita Ika Astuti; Syahrizal Ramadhani; Guntur Kurniawan; Aprilia Rahmadina; Sari Wahyunita
Jurnal Ilmiah Farmasi 2023: Special Issue
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.specialissue2023.art5

Abstract

Background: Based on the International Diabetes Federation, the prevalence of diabetes in 2030 will be around 438 million people. In 2019, type 2 diabetes mellitus caused 4.2 million deaths in the world. Diabetes mellitus is a metabolic disorder that requires long-term therapy. Insulin is one of the therapies for type 2 diabetes mellitus. Parameters for monitoring the success of therapy were plasma glucose levels and Hba1c values.Objective: This study aimed to compare the values of plasma glucose and glycosylated hemoglobin (Hba1c) in insulin glargine and detemir patients with type 2 diabetes mellitus (DM) at Ulin Regional Public Hospital, Banjarmasin.Method: This study used a cross-sectional study design in March-May 2022 in 60 patients with type 2 DM at Ulin Regional Public Hospital, Banjarmasin. The data taken was in the form of fasting plasma glucose (FPG), 2-hour post-load plasma glucose (OGTT), and Hba1c values for 12 weeks. Statistical analysis was performed using the Mann-Whitney test with a confidence level of 95%. Results: The results showed that the average pre-post glargine FPG values were 212-139,6 mg/dL and the pre-post detemir FPG values were 224.6-159.8 mg/dL. Hba1c values in patients using glargine pre-post were 9.1% and 8.3%, and the average Hba1c values on insulin detemir pre-post were 9.28% and 8.29%.Conclusion: In therapy using insulin glargine compared to detemir, there was no significant difference between KGDP, KGD2PP, and Hba1C (p> 0.05). Intisari Latar belakang: Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF), prevalensi DM tipe 2 tahun 2030 berkisar 438 juta orang. Pada tahun 2019, DM tipe 2 menyebabkan 4,2 juta kematian di dunia. Diabetes mellitus merupakan penyakit gangguan metabolisme yang membutuhkan terapi jangka panjang, dan insulin merupakan salah satu terapi DM tipe 2. Parameter untuk monitoring keberhasilan terapi dapat dilihat berdasar nilai kadar glukosa darah dan nilai Hba1c. Tujuan: Membandingkan nilai Kadar Glukosa Darah Puasa (KGDP), Kadar Glukosa Darah 2 jam Post Prandial (KGD2PP), dan Hba1c pada insulin glargine dan insulin detemir pasien DM tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, Banjarmasin.Metode: Penelitian menggunakan rancangan cross sectional selama bulan Maret-Mei 2022 pada 60 pasien rawat jalan DM tipe 2 di RSUD Ulin Banjarmasin. Data yang diambil berupa nilai KGDP, KGD2PP dan Hba1c selama 12 minggu. Analisis statistik dilakukan menggunakan analisis mann-whitney test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata nilai KGDP glargine pre-post adalah 212 – 139,6 mg/dL dan nilai KGDP detemir pre-post adalah 224,6 – 159,8 mg/dL. Hba1c pada pasien yang menggunakan glargine pre-post adalah 9,1% dan 8,3% serta rata-rata nilai Hba1c pada insulin detemir pre-post adalah 9,28% dan 8,29%.Kesimpulan: Terapi menggunakan insulin glargine dibandingkan detemir tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai KGDP, KGD2PP, dan Hba1C p>0,05).Kata kunci: KGDP, KDG2PP, Hba1c, glargine, detemir
OPTIMALISASI PERAN PENYULUH KESEHATAN EDUKASI VIDEO ANIMASI MENINGKATKAN PENGETAHUAN USIA PRODUKTIF TERHADAP RESIKO ANEMIA DI SMAN I MATARAMAN KAB. BANJAR Sari Wahyunita; Andri Nur Rahman; Akhmad Yanie; Aulia Ramadhani
Jurnal Abdimas Bina Bangsa Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Abdimas Bina Bangsa
Publisher : LPPM Universitas Bina Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46306/jabb.v5i1.781

Abstract

Anemia is a global health problem that affects various age groups, including the productive age. Anemia in young women has a significant impact on productivity, including affecting their ability to concentrate, learn, and actively participate in school activities. This community service activity aims to optimize the role of the health extension team by using video education media to see the level of knowledge for female students productive age for anemia prevention at SMAN 1 Mataraman, Banjar Regency. The method used is pretest and postest using google form with a total of 89 female students. The results obtained in this activity were before being given an animated video with the results of a knowledge level of 52 people 58% (medium knowledge level) and after being given an animated video 77 people, 86% (good knowledge level). With increased knowledge, female students can understand and contribute With increased knowledge, young women can understand and contribute to healthy living, healthy diets, iron supplementation, and lifestyles that support the prevention of anemia
Optimalisasi kader posyandu dalam meningkatkan gizi pada anak dengan pangan lokal di wilayah kerja Puskesmas Astambul Andri Nur Rahman; Sari Wahyunita; Adies Riyana; Bandawati Bandawati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.33602

Abstract

AbstrakKurangnya pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi keluarga, terutama ikan patin dan daun kelor, menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya status gizi anak di wilayah kerja Puskesmas Astambul, Kabupaten Banjar. Kondisi ini juga diperburuk dengan keterbatasan pengetahuan mitra, yaitu kader Posyandu dan ibu rumah tangga, dalam hal variasi menu berbasis pangan lokal serta keterampilan mengolah bahan makanan menjadi produk bergizi yang menarik untuk anak-anak. Akibatnya, meskipun ikan patin dan daun kelor mudah diperoleh di sekitar wilayah tersebut, pemanfaatannya dalam menu harian keluarga masih rendah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal menjadi makanan yang bergizi dan menarik bagi anak-anak. Sasaran kegiatan ini adalah kader Posyandu dan ibu rumah tangga dengan total peserta sebanyak 24 orang. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan gizi dan demonstrasi pengolahan pangan lokal berupa pembuatan nugget ikan patin dan daun kelor, yang disampaikan melalui media video interaktif dan diskusi langsung. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap manfaat gizi ikan patin dan daun kelor sebesar 71%, dari 12% sebelum kegiatan menjadi 83% setelah kegiatan. Selain itu, peserta menyatakan bahwa pendekatan visual melalui video mempermudah mereka memahami dan tertarik mempraktikkan resep di rumah. Kegiatan ini tidak hanya menjawab permasalahan mitra berupa keterbatasan pengetahuan dan keterampilan pengolahan pangan lokal, tetapi juga memperkuat potensi pemanfaatan sumber daya lokal sebagai alternatif pemenuhan gizi keluarga. Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis visual dan praktik langsung efektif dalam meningkatkan keterampilan pengolahan pangan lokal dan berpotensi mendukung program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN). Kata kunci: pangan lokal; nugget ikan patin; daun kelor; edukasi gizi; pengabdian masyarakat. AbstractThe lack of utilization of local food as a source of family nutrition, especially catfish and moringa leaves, is one of the factors contributing to the low nutritional status of children in the Astambul Community Health Center (Puskesmas) working area, Banjar Regency. This condition is also exacerbated by the limited knowledge of partners, namely Posyandu cadres and housewives, regarding the variety of local food-based menus and the skills to process food ingredients into nutritious products that are attractive to children. As a result, although catfish and moringa leaves are easily obtained around the area, their utilization in the daily family menu is still low. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of the community in processing local food ingredients into nutritious and attractive foods for children. The target of this activity is Posyandu cadres and housewives with a total of 24 participants. The implementation method includes nutrition counseling and demonstrations of local food processing in the form of making catfish and moringa leaf nuggets, which are delivered through interactive video media and live discussions. The evaluation results showed an increase in participants' understanding of the nutritional benefits of catfish and moringa leaves by 71%, from 12% before the activity to 83% after the activity. Furthermore, participants stated that the visual approach through videos made it easier for them to understand and encourage them to practice the recipes at home. This activity not only addressed partners' limited knowledge and skills in local food processing but also strengthened the potential of utilizing local resources as an alternative way to meet family nutritional needs. Furthermore, this activity demonstrated that visual-based education and hands-on practice are effective in improving local food processing skills and have the potential to support the Movement to Promote Fish Eating (GEMARIKAN) program. Keywords: local food; catfish nuggets; moringa leaves; nutrition education; community service.