Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

EPISTEMOLOGI ISLAMISASI ILMU SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS Muh. Bahrul Afif
J-Alif : Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah dan Budaya Islam Vol 7, No 2 (2022): J-Alif, Volume 7, Nomor 2, November 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jalif.v7i2.3735

Abstract

 Artikel ini membahas tentang epistemologi konsep Islamisasi Ilmu yang digagas oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas. Konsep ini adalah respons intelektual al-Attas terhadap peradaban Barat yang dianggap telah mengakibatkan kerusakan serius. Hal itu merupakan dampak negatif yang dihasilkan oleh ilmu yang dikembangkan oleh peradaban Barat, yang cenderung mengenyampingkan aspek metafisika dan spiritualitas dalam aktivitas ilmiah. Artikel ini berupaya mengidentifikasi unsur-unsur epistemologis dari konsep tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sumber pengetahuan adalah Tuhan, sehingga pengetahuan pada hakikatnya adalah penafsiran terhadap pengetahuan yang datang dari Tuhan. Instrumen dalam memperoleh pengetahuan adalah indra, akal sehat dan intuisi. Kebenaran tertinggi diperoleh oleh seseorang yang telah menjalani ketaatan dan pengabdian yang tulus terhadap Tuhan. Pengetahuan dikatakan benar jika terbebas dari keraguan, dan kebenaran tersebut akan terus diterima selama sesuai dengan worldview Islam. 
KEMASLAHATAN SEBAGAI PRINSIP ETIKA ISLAM (TELAAH ATAS PANDANGAN ‘ĀBID AL-JĀBIRĪ) Muh. Bahrul Afif; Muhammad Syibli Sahabuddin
Journal Peqguruang: Conference Series Vol 8, No 1 (2026): Peqguruang, Volume 8 Nomor 1 Mei 2026
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/jp.v8i1.7159

Abstract

Artikel ini mengkaji pemikiran Muḥammad ‘Ābid al-Jābirī tentang prinsip utama etika Islam dalam proyek Kritik Nalar Arab miliknya. Melalui riset kepustakaan, ditemukan bahwa al-Jābirī mengidentifikasi lima warisan tradisi yang membentuk nalar etika Arab-Islam: Persia (etika kepatuhan), Yunani (etika kebahagiaan), Sufi (etika kefanaan), Arab murni (etika harga diri), dan Islam (konsep kemaslahatan). Al-Jābirī menetapkan konsep al-maṣlaḥah sebagai prinsip paling otentik etika Islam karena bersumber murni dari ajaran agama tanpa terikat tradisi lain. Konsep ini digali dari pemikiran ‘Izz al-Dīn bin ‘Abd al-Salām, ulama Syāfi‘ī, melalui karyanya Qawā‘id al-Akām fī Maṣāliḥ al-Anām dan Syajarah al-Ma‘ārif. Kesimpulannya, kebangkitan nalar etis Islam yang berorientasi masa depan harus berpijak pada prinsip kemaslahatan.
Islamic Environmental Ethics in Global Context: A Trends, Gaps, and Theological Contributions Adnan Nuril Anwar; Muh. Bahrul Afif; Anti Anfaul Lisani; Moch. Farich Alfani; Safinatul Umami
International Journal of Social Science and Religion (IJSSR) 2026: Volume 7 Issue 2
Publisher : Indonesian Academy of Social and Religious Research (IASRR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53639/ijssr.v7i2.409

Abstract

This study shows that Islam’s contribution to the discourse on eco-theology and environmental ethics tends to be limited. In fact, Islam possesses a strong theological-ethical foundation through the concept of Islamic Environmental Ethics (IEE). Using the PRISMA method and VOSViewer software, the author conducted a search using the keywords “Islamic AND Environmental AND Ethics” and identified 265 articles from 2004 through May 31, 2026. After undergoing an inclusion and exclusion process, 30 relevant articles were selected for analysis. The results of the bibliometric analysis indicate that IEE studies have developed significantly, focusing on the themes of khalīfah, maslahah, and ‘adl (justice); however, the majority remain normatively and legalistically oriented without strengthening their theological foundations. Visual analysis indicates that IEE serves as a bridge between Islamic concepts and global environmental issues (responsibility, sustainability, and conservation). The author proposes the Ash‘ari theological framework as an alternative approach to reconstructing IEE into an integrative paradigm of ecological theology, while also opening space for interfaith dialogue in building a just and sustainable global environmental ethics.