Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam Meningkatkan Kehadiran Siswa Sekolah Dasar Ering, Cherol Nelson; Lolaro, Gischella Elvira; Wuisang, Metty; Tendean, Angelia Friska
NUTRIX Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Issue 1, 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v10i1.1510

Abstract

The Free Nutritious Meal Program (MBG) is an Indonesian government policy aimed at improving the nutritional status, health, and educational quality of elementary school students. Student attendance is one of the key indicators used to assess educational success. This study aimed to analyze the effect of the MBG program on student attendance at SD GMIM Kinilow. This study employed a quantitative approach with a one-group pre-test post-test design. The population consisted of all 227 students at SD GMIM Kinilow, with a sample of 125 students selected using stratified random sampling. Data were collected using student attendance observation sheets before and after the implementation of the MBG program. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods, with the Wilcoxon test applied at a 95% confidence level (p < 0.05). The results showed that prior to the implementation of the MBG program, most students were categorized as having low attendance (32.8%). After the program was implemented, the majority of students were categorized as having high attendance (72.8%). Statistical analysis indicated a significant difference in student attendance before and after the implementation of the MBG program (p value = 0.000 < 0.05). In conclusion, the MBG program has a significant effect on improving student attendance at SD GMIM Kinilow. It is expected that this program can be sustained and further developed as a strategy to support improvements in student health and school attendance at the elementary level. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang dirancang untuk meningkatkan status gizi, kesehatan, dan kualitas pendidikan siswa sekolah dasar. Kehadiran siswa di sekolah menjadi salah satu indikator penting dalam menilai keberhasilan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelaksanaan MBG terhadap tingkat kehadiran siswa di SD GMIM Kinilow. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pre-test post-test. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa SD GMIM Kinilow sebanyak 227 orang, dengan sampel 125 siswa yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi kehadiran siswa sebelum dan sesudah implementasi program MBG. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon pada tingkat kepercayaan 95% (p < 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pelaksanaan MBG, sebagian besar siswa memiliki tingkat kehadiran rendah (32,8%). Setelah program diterapkan, mayoritas siswa mengalami peningkatan kehadiran ke kategori tinggi (72,8%). Uji statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara tingkat kehadiran sebelum dan sesudah pelaksanaan MBG (p value = 0,000 < 0,05). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa program MBG berpengaruh signifikan dalam meningkatkan tingkat kehadiran siswa di SD GMIM Kinilow. Program ini diharapkan dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai strategi dalam mendukung peningkatan kesehatan serta partisipasi belajar siswa di sekolah dasar.
ANALISIS PERILAKU MEROKOK DENGAN KESEHATAN MENTAL REMAJA DI SALAH SATU SEKOLAH MENENGAH ATAS MINAHASA UTARA Ering, Cherol Nelson; A'naabawati, Meylani; Turangan, Happy Christania; Tendean, Angelia Friska
Klabat Journal of Nursing Vol. 8 No. 1 (2026): Nursing and Well-being Dynamics
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v8i1.1497

Abstract

Smoking behavior among adolescents remains a public health problem both globally and nationally. Adolescence is a developmental period that is vulnerable to environmental influences and psychological changes, thereby increasing the risk of smoking behavior and mental health disorders. This study aimed to analyze the relationship between smoking behavior with adolescent mental health in one Senior High School (SMA) in North Minahasa. This research employed an observational analytic design with a cross-sectional approach. The study population consisted of all eleventh-grade students, and a total sampling technique was applied, resulting in 207 respondents. Smoking behavior was measured using the standardized questionnaire from the Basic Health Research (Riset Kesehatan Dasar), while mental health was assessed using the Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Data analysis was conducted using the Chi-Square test. The results showed that 62.3% of respondents were non-smokers, while 37.7% were smokers. A total of 53.6% of respondents experienced emotional mental health problems. The Chi-Square test yielded a p-value of 0.736 (p > 0.05), indicating that there was no significant relationship between smoking behavior and adolescent mental health. In conclusion, although the proportion of mental health problems was relatively high, smoking behavior was not significantly associated with mental health among the study sample. Further research using a longitudinal design and controlling for potential confounding variables is recommended to better understand the comprehensive relationship between these two variables.  Perilaku merokok pada remaja masih menjadi masalah kesehatan masyarakat baik secara global maupun nasional. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang rentan terhadap pengaruh lingkungan dan perubahan psikologis, sehingga berpotensi meningkatkan risiko perilaku merokok dan gangguan kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku merokok dengan kesehatan mental remaja di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Minahasa Utara. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI dengan teknik total sampling, sehingga diperoleh 207 responden. Perilaku merokok diukur menggunakan kuesioner baku Riset Kesehatan Dasar, sedangkan kesehatan mental diukur menggunakan Self Reporting Questionnaire (SRQ-20). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,3% responden tidak merokok dan 37,7% merokok. Sebanyak 53,6% responden mengalami gangguan kesehatan mental emosional. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,736 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku merokok dan kesehatan mental remaja. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun proporsi gangguan kesehatan mental cukup tinggi, perilaku merokok tidak berhubungan secara signifikan dengan kesehatan mental pada sampel penelitian ini. Disarankan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal dan kontrol variabel perancu untuk memahami hubungan yang lebih komprehensif antara kedua variabel tersebut.