Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Rethinking the Green Economy in Flores: A Dialectical Approach between Deep Ecology of Spinozism and Barong Wae Tradition of the Manggaraian People Tan, Petrus; Kosat, Oktovianus; Turu, Fransiskus Evanodius Roing
JURNAL LEDALERO Vol 24, No 1 (2025): Jurnal Ledalero Edisi Juni 2025
Publisher : Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31385/jl.v24i1.583.%p

Abstract

In recent years, Flores has become a frontier due to government policies that exploit living space, culture, and the rights of local communities. It represents the irony of the government's policy called the Green Economy as a model of development that emphasizes common prosperity without destroying the environment and culture. This research aims to respond further to this issue by proposing a dialectic between the deep ecology of Spinozism and the Barong Wae ritual of the Manggaraian people. The method used in this research is a dialectic approach of the Principle of Expression (critical study of literature) and the Principle of Differentiation (interview key informants). This research indicates that the normative concept of the green economy is inadequate for the sustainability of local communities in Flores. It requires a radical transformation in the human paradigm of nature, creating a green cognitive, followed by green affective, and green psychomotor. The dialectic between the deep ecology of Spinoza and the Barong Wae ritual can encourage this radical paradigm by providing some key concepts, including the intrinsic values of all entities, biosphere egalitarianism, self-realization, and ecological communitarianism. It can be concluded that talking about the green economy is not only about pro-people and pro-profit, but especially pro-ecology.Keywords: Deep Ecology, Spinozism, Barong Wae, Green Economy, Ecological Communitarianism
Meritokrasi, Populisme Kanan, dan Revitalisasi Diskursus Publik: Perspektif Filosofis Michael Sandel Tan, Petrus
Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology Vol 2, No 1 (2024): Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology
Publisher : Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/snf.v2i1.8484

Abstract

This article aims to elaborate the phenomenon of right-wing populism based on the thought of Michael Sandel on the tyranny of meritocracy. Various previous literatures understand right-wing populism as an anti-pluralism and anti-globalization movement. However, these analyses fail to see that meritocracy has fueled the anger of working class and the losers as expressed in the populist movement. This study uses literature review and critical analysis methods. This study indicates that: 1) Meritocracy is a certain moral belief in individual success that justifies inequality as fair based on the basic principles of liberalism; 2) There are five key theses on meritocracy that trigger right-wing populism, namely: a person's fate is determined by individual success; everyone is responsible for their life; everyone can rise as long as they work hard; social inequality is a problem of person's income which is linear with their hard work; and education is a solution of social inequality; 3) Sandel’s criticism on meritocracy can be an alternative perspective to analyze populism in Indonesia. 4) The challenge of right-wing populism can be answered by revitalizing public discourse. This study concludes that meritocracy is a trigger for the right-wing populism in various democratic countries, including Indonesia.AbstrakArtikel ini bertujuan menganalisis fenomena populisme kanan berdasarkan pemikiran Michael Sandel tentang tirani meritokrasi. Berbagai literatur sebelumnya memahami populisme kanan sebagai gerakan anti-pluralisme dan anti-globalisasi. Namun, analisis-analisis tersebut gagal memahami bahwa meritokrasi telah memicu kemarahan kelas pekerja dan para pecundang yang diekspresikan dalam gerakan populis. Studi ini memakai metode review literatur dan analisis kritis. Studi ini menemukan bahwa: 1) Meritokrasi adalah keyakinan moral tertentu terhadap prestasi individu yang membenarkan ketimpangan sosial sebagai hal yang fair berdasarkan prinsip-prinsip liberalisme; 2) Terdapat lima tesis kunci meritokrasi yaitu: nasib seseorang ditentukan prestasi individu; setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya; setiap orang bisa bangkit asalkan bekerja keras; ketimpangan sosial adalah masalah besar-kecilnya penghasilan seseorang yang linear dengan kerja kerasnya; dan pendidikan adalah solusi ketimpangan sosial; 3) Pandangan Sandel dapat menjadi perspektif alternatif untuk membaca populisme di Indonesia. 4) Tantangan populisme kanan dapat dijawab melalui revitalisasi diskursus publik. Studi ini menyimpulkan bahwa meritokrasi merupakan pemicu populisme kanan di berbagai negara demokrasi, termasuk Indonesia.  
Memaknai Eksistensi Atoin Meto dalam Merenovasi Atap Rumah Adat dengan Spirit ‘Nekaf Mese Ansaof Mese’ Gonzaga Afeanpah , Mario; Tan, Petrus; Naif, Darius
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v5i2.3000

Abstract

Terkikisnya nilai-nilai budaya tradisional dalam masyarakat suku Dawan (orang Atoni) di wilayah perbatasan Wini (Indonesia) dan Oekusi (Timor Leste) adalah salah satu gejala modernitas. Masyarakat modern adalah masyarakat yang tercerabut dari akar-akar budaya dan mengalami krisis identitas. Pergeseran ke budaya modern merupakan dampak nyata dari mobilitas, perubahan sosial, transaksi ekonomi, dan pertukaran budaya yang terjadi begitu cepat di wilayah perbatasan. Berdasarkan problem tersebut, kegiatan pengabdian merenovasi atap rumah adat sangat penting dilakukan. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini ialah membantu menemukan makna dan nilai dari salah satu tradisi Suku Meko di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, yang semakin hilang yaitu tradisi merenovasi atap rumah adat secara gotong royong. Kegiatan merenovasi atap rumah adat yang dilakukan para mahasiswa bersama dengan masyarakat suku Meko adalah bagian dari pelestarian budaya lokal setempat. Metode untuk mencapai tujuan tersebut dan memecahkan masalah di atas adalah metode filosofis yaitu implementasi konsep faktisitas dari Martin Haidegger. Hasilnya menunjukkan bahwa proses merenovasi atap rumah adat mengungkapkan keyakinan atoin meto (orang Dawan) terhadap Tuhan Pencipta, eksistensi manusia sebagai sebuah proyek bersama, dan nilai kerja sama sebagai syarat membangun komunitas umat manusia yang disebut spirit nekaf mese ansaof mese (sehati-sejiwa).
Double burden, ketimpangan gender, dan produktivitas kerja perempuan pemulung di Komunitas Pemulung Pasir Panjang Kota Kupang Medho, Yohana Fransiska; Tan, Petrus; Bidi, Maximianus Ardon; Niron, Eusabius Separera
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18987

Abstract

Scavenging has been the object of scientific and academic research based on various scientific viewpoints worldwide. Still, the issue of the double burden that is experienced by women scavengers and its impact on gender inequality and women's productivity has received less attention. This research aims to explore further the effects of double burden or dual responsibility burdened by women scavengers in Komunitas Pemulung Pasir Panjang Kota Kupang, East Nusa Tenggara (NTT), to gender inequality and the productivity of women scavengers in that community. This research employed a qualitative approach including field observation and in-depth interviews. This research has found that the phenomena of double burden does not liberate women scavengers from the patriarchal chain that binds and restrains them, but instead makes them increasingly dependent on men in the economic and financial dimension of household life. In addition, they are caught in a dilemma between maximizing the option of working outside the home or taking care of their domestic work. As a consequence of the long-standing and strong internalization of a false awareness about women's natural duties, those women scavengers do not think of this as an injustice but rather an obligation that must be carried out properly and consistently.
Integrasi Pendekatan Filsafat Maieutica Techne dalam Workshop Penulisan Esai bagi Guru-Guru SMA di Kota Kupang Tan, Petrus; Pramana, Oktavianus M. Yuda; Turu, Fransiskus Evanodius Roing
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2025): November 2025 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v5i6.963

Abstract

Menulis esai merupakan keterampilan yang sangat penting dalam meningkatkan wawasan ilmiah, mendistribusikan ilmu pengetahuan, membangun profil akademis guru, meningkatkan keahlian, mengembangkan kemampuan analisis masalah di kelas,  dan mengintegrasikan secara sistematis hasil penelitian dalam pelajaran di kelas. Namun, kemampuan guru-guru di NTT dalam menulis esai masih sangat rendah. Setiap kali tes guru penggerak, jumlah guru di NTT yang gagal dalam menulis esai sangat tinggi. Tujuan pengabdian ini adalah membantu guru-guru SMA di NTT, khususnya di Kupang, dalam menulis esai secara baik dan benar. Kegiatan ini dilakukan di SMA St. Arnoldus Janssen Kupang, diikuti oleh 40 guru SMA dari berbagai sekolah di Kupang. Pelatihan ini mengintegrasikan metode Sokratik yang disebut Maieutica Techne, yang meliputi instigating questions, written answer, dan revision. Kegiatan ini menemukan bahwa: 1) Para peserta mengenal masalah di kelas tetapi tidak mampu mengajukan pertanyaan yang tepat dan metode menganalisis masalah; 2) Keterampilan menulis sangat rendah sehingga pendampingan individual dan intensif dibutuhkan; 3) Integrasi pendekatan Maieutica Techne mendorong guru untuk berani berpikir sendiri dan menuliskan pemikiran tersebut, diikuti oleh revisi dan pendampingan berkelanjutan.