Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PEMBELAJARAN MUSIK REKORDER DENGAN METODE DRILL PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 8 DENPASAR Suwari, Ni Wayan Gayatri Wedha; Yulinis, Yulinis; Widyarto, Rinto
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v4i1.3161

Abstract

Program kegiatan Asistensi Mengajar merupakan salah satu bagian dari aktivitas pembelajaran. Pelaksanaan Asistensi Mengajar mempunyai beberapa tahapan sebelum terjun langsung ke lapangan yang dipilih. Penerapan Asistensi Mengajar dengan praktik pembelajaran pada mata pelajaran Seni Budaya bidang Musik ansambel di SMP Negeri 8 Denpasar. Sekolah ini dijadikan mitra karena telah menjadi salah satu sekolah favorit di Denpasar yang sudah terakreditasi A. Pembelajaran musik rekorder selama ini hasilnya belum maksimal, masih sekedar teori, praktik kurang menjadi perhatian. Pembelajaran musik rekorder bertujuan menerapkan ilmu ke peserta didik agar peserta didik mengetahui dan menambah informasi yang akurat tentang musik untuk dapat mempresentasikan hasil belajar. Pembelajaran musik rekorder menggunakan metode drill dengan peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar peserta didik memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi. Proses tahapan pembelajaran musik rekorder di SMP Negeri 8 Denpasar menggunakan 4 tahapan yaitu: tahap persiapan, penyampaian, pelatihan, dan tahap penampilan. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran musik yang diberikan. Rumusan masalahnya adalah mengenai konsep pembelajaran musik rekorder dan tahapan pembelajaran, serta capaian hasil pembelajaran musik rekorder. Selain itu kontribusi pembelajaran musik rekorder terhadap siswa, guru, dan sekolah. Hasil pembelajaran rata-rata peserta didik sudah memahami materi bermain musik ansambel khususnya rekorder. Peserta didik sudah mengetahui cara memainkan rekorder dengan baik. Kontribusi siswa, guru, dan sekolah yaitu: berkontribusi dalam pembelajaran seni budaya di kelas VIII, membantu guru pamong membuat soal ulangan harian, memeriksa hasil ujian siswa, serta pembelajaran Seni Budaya dapat dikontribusikan pada kegiatan sekolah, seperti bermain musik di acara HUT sekolah, pesta kesenian sekolah, dan mengikuti perlombaan.
PENGARUH AUDIO INSTRUMENTALIA MUSIK KLASIK TERHADAP HASIL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DI SMPK 1 HARAPAN DENPASAR Junedi, Rindi; Sustiawati, Ni Luh; Widyarto, Rinto
PENSI : Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/pensi.v4i2.4515

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pengaruh audio instrumentalia musik klasik terhadap hasil pembelajaran pendidikan Pancasila di SMPK 1 Harapan Denpasar yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan audio instrumentalia musik klasik dalam pembelajaran pendidikan Pancasila. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPK 1 Harapan Denpasar Tahun ajaran 2023/2024 dengan sampel berjumlah 36 peserta didik di kelas berapa VIII D. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan penelitian weak eksperimental designs (Pre-experimental), dengan bentuk The One-Group Pretest-Posttest Design. “Pre-experimental designs (Nondesigns) merupakan jenis eksperimen yang masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes hasil belajar kognitif. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis non statistik (deskriptif) dan analisis statistik. Hasil analisis data hasil pembelajaran peserta didik dan pengujian hipotesis menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh penggunaan audio instrumentalia musik klasik terhadap pembelajaran pendidikan Pancasila. Hal ini ditunjukkan dengan H1 ditolak dan hipotesis H0 diterima, dengan hasil nilai p-value = 0,415 > 0,05, artinya harga p-value lebih besar dan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara audio instrumentalia musik klasik dengan hasil pembelajaran pendidikan Pancasila. Implikasi penelitian adalah karena dalam penelitian ini pemilihan jenis musik ditentukan oleh peneliti, maka untuk selanjutnya pemilihan jenis musik yang dapat meningkatkan hasil pembelajaran yang signifikan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan peserta didik, dengan melakukan wawancara kepada peserta didik saat melakukan observasi di awal penelitian.
THE EXISTENCE OF “NGINANG” AS A SOCIAL AND THEOLOGICAL STUDY OF PUPPETRY IN BALI Widnyana, I Kadek; Sadevi, Luh Wina; Widyarto, Rinto; Shahab, Fauziah; Putra, Ida Bagus Hari Kayana
Proceeding Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference Vol. 4 (2024): Proceedings Bali-Bhuwana Waskita: Global Art Creativity Conference
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/bbwp.v4i1.576

Abstract

Nginang is the habit of chewing betel leaves and other herbs, such as lime, gambier, areca nut, and tobacco. Nginang has been practiced by people in Southeast Asian countries and parts of Southern China since the 15th century AD. Currently, nginang habit in Indonesia has decreased, which can be caused by many factors. The custom of nginang in Indonesia, especially in Bali, has meaning in various rituals, such as in Balinese puppetry. Nginang functions as a social and theological means of Balinese Dharma Pewayangan Bali. The purpose of this study is to explore the social-theological meaning and existence of the nginang custom for puppeteer in Bali. This is a qualitative study, where primary data is obtained through interviews and observations, while secondary data is obtained through literature review. The conclusion from this study is that nginang is a theological symbol that unites spiritual and social aspects in the life of Balinese puppeteers who must master various arts and the Dharma of Balinese puppetry. Nginang can control words, actions, peace, and harmony during the performance and daily life of the dalang. Nginang should continue to the young generations of puppeteers in order to master the various arts and Dharma of Balinese puppetry.