Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

The Discourse of Beauty Faced by Sales Promotion Girl in The Curse of Beauty Novel Fiqih Aisyatul Farokhah; Adi Putra Surya Wardhana
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v10i2.10

Abstract

This study aims to analyze the discourse of women's beauty and marginalization of women's beauty in the novel The Curse of Beauty by Indah Hanaco. This study uses a qualitative data analysis research method. This study uses critical discourse analysis by Sarah Mills to examine the beauty discourse that SPG faces in the story of the novel. The results show SPG became a tool to attract buyers' interests. the owners of capital have made the female body an important tool in every social and economic process, to provide the erotic appeal of products through the imaging of mass media. It means, women's bodies have been disciplined through the concept of beauty by the mass media. Thus, the female body represented in the SPG story experiences marginalization of women's beauty. Thus, the female body represented in the SPG story experiences marginalization of women's beauty.
POLITIK TUBUH DALAM SERAT KAWRUH SANGGAMA KARYA RADEN BRATAKESAWA AWAL ABAD XX Adi Putra Surya Wardhana; Fiqih Aisyatul Farokhah
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v13i1.699

Abstract

Hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas selalu menarik untuk dikaji meskipun diikat oleh tabu. Pada awal abad XX, naskah-naskah soal seksualitas cukup populer, apalagi sudah dicetak dalam bentuk buku yang diperjualbelikan di lapak-lapak buku. Salah satu naskah yang memuat seksualitas adalah Serat Kawruh Sanggama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap bentuk, fungsi, dan makna politik tubuh dalam Serat Kawruh Sanggama. Metode yang digunakan adalah analisis data kualitatif-interpretatif dengan pendekatan teori politik tubuh. Hasil penelitian menunjukkan, Serat Kawruh Sanggama ditulis di Kediri dan disebarluaskan oleh penerbit Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri. Bentuk politik tubuh berupa narasi tentang tata cara atau aturan bersenggama. Naskah ini mengandung politik tubuh yang berfungsi untuk menundukkan, mengontrol, dan mendominasi tubuh perempuan. Namun demikian, naskah ini dapat dimaknai sebagai upaya laki-laki untuk memahami misteri tubuh perempuan. Selain itu, naskah ini dimaknai pula sebagai daya perempuan, sehingga laki-laki harus berusaha untuk memahami seluk beluk tubuh perempuan.Despite a taboo subject amongst society, the matters related to sexuality are always interesting to study. In the early twentieth century, texts on sexuality were quite popular and had even been printed in the form of books that were sold in the book stalls. One of those was Serat Kawruh Sanggama. The purpose of this study was to analyze the form, the function, and the meaning of the politics of the body in the Serat Kawruh Sanggama. The method used in the research was the qualitative-interpretative data analysis combined with the approach of the Politics of the Body. The results of the study have shown that Serat Kawruh Sanggama was written in Kediri and then disseminated by the publisher of the Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri. The elements of the Politics of the Body revealed in the text are in the form of narratives related to the procedures or rules of sexual intercourse. It is evident that the elements of the Politics of the Body found on the text served as an instrument of subjugating, controlling, and dominating the female body. This text can be interpreted as an attempt by men to understand the mystery of the female body. However, on the other hand, the text can also be interpreted as an attempt by men to understand the mystery of the female body. In addition, it also represented as a woman's power that encourages men to understand the ins and outs of the female body.
MERAYAKAN HEDONISME: ANALISIS MULTIMODAL VIDEO “MENSCHEN IM HOTEL DES INDES”, AWAL ABAD XX Adi Putra Surya Wardhana; Fiqih Aisyatul Farokhah; Festa Kurnia Ramadhani
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.171

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengkaji representasi hedonisme pelancong Eropa dalam video “Menschen im Hotel des Indes” dengan menggunakan analisis multimodal. Beberapa permasalahan yang dibahas adalah mengenai bentuk, fungsi, dan makna video “Menschen im Hotel des Indes” dalam hubungannya dengan citra pariwisata Hindia Belanda. Penelitian ini dibuat karena video tersebut membangun citra kemewahan, hedonisme orang Eropa, eksotisme alam, dan kehidupan masyarakat bumiputra zaman kolonial. Penelitian ini menggunakan metode analisis data kualitatif dengan pendekatan analisis multimodal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video promosi tersebut secara visual, audio, dan linguistik membangun citra hedonisme, kemewahan, dan keindahan bukan hanya Hotel des Indes, melainkan juga tanah koloni Hindia Belanda. Video ini memiliki fungsi sebagai promosi pariwisata, citra keberhasilan misi pemberadaban bumiputra, dan citra modernitas kolonial. Maknanya, Hindia Belanda merupakan tempat yang indah dan nyaman untuk memuaskan hasrat bersenang-senang para pelancong di tanah koloni.
Revivalisme Kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII di Era Republik Adi Putra Surya Wardhana; Titis Srimuda Pitana; Susanto -
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 34 No 1 (2019): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v34i1.568

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membedah relasi kuasa-pengetahuan di balik diskursus revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII. Mangkunegaran adalah sebuah istana yang pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan Jawa pada masa kolonial. Mangkunegaran dipimpin oleh seorang Mangkunegara. Pasca kemerdekaan, Mangkunegaran tidak lebih dari sebuah bangunan yang menyimpan kisah-kisah kejayaan para leluhur. Mangkunegara VIII adalah pemimpin Mangkunegaraan pada saat itu. Ia harus menghadapi berbagai macam tekanan sosial, politik, dan ekonomi. Ia kehilangan kedudukan sebagai kepala pemerintahan Mangkunegaran. Oleh sebab itu, ia membutuhkan sesuatu untuk memulihkan kehormatannya, yaitu kebudayaan Jawa. Ada tiga pokok bahasan yang dikaji oleh tulisan ini. (1) Bagaimana bentuk wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII pada era Republik? (2) Bagaimana fungsi wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII? (3) Bagaimana makna wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII? Wacana revivalisme kebudayaan Jawa Mangkunegara VIII berbentuk klaim bahwa ia adalah pengayom kebudayaan Jawa. Mangkunegaran merupakan pusat pelestarian kebudayaan Jawa. Mangkunegaran mempertunjukkan kesenian-kesenian khasnya kepada khalayak umum, para pejabat, dan tamu-tamu asing. Mangkunegaran menjadi pusat untuk menggali kesenian-kesenian khasnya yang pernah mati suri. Fungsi dari wacana ini adalah untuk memperoleh kehormatan dari abdi dalem, masyarakat, dan petinggi republik dalam bidang kebudayaan. Makna dari wacana ini bagi mereka yang terhegemoni adalah anggapan bahwa Mangkunegaran menyimpan harta dan warisan budaya yang adiluhung dari para leluhur.
Cockfighting in Javanese Muslim Society during the Nineteenth and the Early Twentieth Century Adi Putra Surya Wardhana; Dennys Pradita; Fiqih Aisyatul Farokhah; Andriyanto Andriyanto
JOURNAL OF INDONESIAN ISLAM Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : State Islamic University (UIN) of Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/JIIS.2021.15.2.359-386

Abstract

This study aims to analyze the thoughts of Javanese Muslims on cockfighting in the nineteenth and the early twentieth centuries. It has been a custom and culture since humans domesticated chickens. At first, it had a sacred connotation. It eventually devolved into a profane gamble. Although Islam banned animals fighting and gambling, the tradition continued during the Islamic era. This study examines (1) the reasons why Javanese Muslim culture enjoys cockfighting, (2) the forms of Javanese Muslim thought about cockfighting in Javanese manuscripts from the nineteenth and the early twentieth centuries, (3) its influence on colonial and royal rule in Java. Research showed that some thoughts normalized cockfighting and cockfight gambling, but some viewed the game as an evil deed during the nineteenth and the early twentieth centuries.
REPRESENTASI BABAD PASANGGRAHAN MADUSITA MENGENAI MODERNITAS DAN HEDONISME PADA AWAL ABAD XX Adi Putra Surya Wardhana; Dennys Pradita
Handep: Jurnal Sejarah dan Budaya Volume 6, No. 1, December 2022
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33652/handep.v6i1.291

Abstract

This research aims to analyse the representation of Babad Pasanggrahan Madusita on modernity and hedonism. The hedonist lifestyle of the royal elite was influenced by modernity in the late nineteenth and early twentieth century. During the Paku Buwana X era, Surakarta Hadiningrat Sultanate carried out modernisation. This study used qualitative data analysis methods using the point of view of cultural studies. The research problems are how modernity characterises the lifestyle of hedonism in Babad Pasanggrahan Madusita, the form of representation, and the meaning of Babad Pasanggrahan Madusita. Several previous studies focused on aspects of a manuscript’s locality, moral values, education, culture, and religion. Therefore, this study has arranged to fill the gap in the study of the representation of modernity and hedonism in manuscripts influenced by discourses resulting from the interaction of Javanese culture and European culture. The results showed that Babad Pasanggrahan Madusita was written when modernity became the zeitgeist. At the end of the nineteenth century, hedonism was the lifestyle of the aristocrats, supported by modernisation. The form of Babad Pasanggrahan Madusita was represented by the narrative of the journey and recording of Pesanggrahan Madusita’s assets. The meaning was related to the progress and splendour during the period of Paku Buwana X as the Emperor of Java in the modern era.
The Landscape Changes in Mento Toelakan Plantation, 1863-1950s Dennys Pradita; Adi Putra Surya Wardhana
Paramita: Historical Studies Journal Vol 33, No 2 (2023): History and Tragedy
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v33i2.37888

Abstract

This research studies the landscape change of Mento Toelakan Plantation in Wonogiri(Periode). Mento Toelakan was a private plantation located in the Duchy of Mangkunegaran. The existence of this plantation was a sign of the triumph of the liberal economic era. This research used a historical method, landscape, and environmental history approach. Several problems discussed were (1) the causes of the Mento Toelakan area experiencing the landscape change, (2) the forms of landscape change, and (3) the impact of the landscape change in Mento Toelakan Plantation Periode. The results showed that the landscape at the Mento Toelakan Plantation underwent landscape changes in several stages. The reason was the rented land by European investors and the political dynamics after the end of Dutch colonialism. First, land rent converted forest areas in Mento Toelakan into plantations. Second, coffee cultivation introduced the local society to coffee culture. Third, changing coffee plantations to agave plantations introduced the local community to natural fiber processing. Fourth, the Japanese military occupation used Mento Toelakan land for military purposes. Finally, the Mento Toelakan plantation was taken over by the village community to become dry land and rice fields in the independence era. This indicates that many factors, such as capitalism, politics, human activities, and nature itself, influenced the changing landscape of Mento Toelakan.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan lanskap Perkebunan Mento Toelakan di Wonogiri 1863-1950-an. Mento Toelakan merupakan perkebunan swasta yang berada di wilayah Kadipaten Mangkunegaran. Keberadaan perkebunan ini menjadi tanda kejayaan era ekonomi liberal. Eksploitasi modal asing memengaruhi perubahan lanskap di wilayah Mento Toelakan, Wonogiri. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dan pendekatan lanskap dan sejarah lingkungan. Beberapa permasalahan yang dibahas adalah (1) penyebab area Mento Toelakan mengalami perubahan lanskap, (2) bentuk perubahan lanskap, (3) dan dampak perubahan lanskap Perkebunan Mento Toelakan 1863-1950-an(Periode) Hasil penelitian menunjukkan lanskap di Perkebunan Mento Toelakan mengalami perubahan lanskap dalam beberapa  tahap. Penyebabnya adalah penyewaan lahan oleh pemodal swasta dan dinamika politik pasca berakhirnya kolonialisme Belanda. Pertama, sewa tanah yang dilakukan pemodal swasta mengubah area hutan di Mento Toelakan menjadi perkebunan. Kedua, budidaya kopi mengenalkan masyarakat dengan budaya kopi. Ketiga, mengubah perkebunan kopi menjadi perkebunan agave telah mengenalkan masyarakat dengan pengolahan serat alam. Keempat, pemerintah militer Jepang memanfaatkan lahan untuk kepentingan militer. Terakhir, perkebunan Mento Toelakan diambil alih oleh masyarakat desa sehingga menjadi tanah-tanah tegalan dan sawah pada era kemerdekaan. Dengan demikian, perubahan lanskap Mento Toelakan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti kapitalisme, politik, ulah manusia, dan alam itu sendiri.
PENINGKATAN LITERASI DALAM PELATIHAN FOTOGRAFI PADA KOMUNITAS DALEM PASINAON WONOGIRI Risky Chairani Putri; Adi Putra Suryawardhana; Unik Dian Cahyawati
RESWARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v5i1.3844

Abstract

Pemberdayaan masyarakat salah satunya diwujudkan dengan meningkatkan literasi di masyarakat. Peningkatan literasi tidak hanya dipahami dalam lingkup kemampuan membaca dan menulis saja, tetapi juga kemampuan berbahasa dan berkarya atau berperilaku kreatif. Pengabdian ini bertujuan untuk ikut serta dalam pemberdayaan masyarakat terutama dalam peningkatan literasi sebagai bagian dari pendidikan yang merata dan pelestarian seni budaya. Dalem Pasinaon sebagai mitra dalam pengabdian masyarakat ini yaitu sebuah komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat khususnya literasi membaca memerlukan stimulus keilmuan lainnya seperti fotografi. Kemampuan fotografi diperlukan dalam giat literasi karena fotografi saat ini tidak hanya sebagai alat dokumentasi tetapi juga sebagai media komunikasi untuk menyampaikan ide atau gagasan tertentu. Hal ini selaras dengan kegiatan komunitas Dalem Pasinaon yang fokus pada peningkatan literasi masyarakat dan pelestarian seni dan budaya khususnya budaya Jawa. Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam tiga kegiatan yaitu pembuatan modul, pelatihan fotografi berupa pemaparan materi dan evaluasi. Hal yang diperoleh dari pengabdian masyarakat ini yaitu terlaksananya pelatihan fotografi dengan baik dan mencapai sasaran yang dibuktikan dengan antusiasme peserta dalam mengikuti pelatihan dan hasil praktik fotografi yang cukup baik dalam menyusun komposisi dan mengeksekusi sebuah foto
Pelatihan Penyelenggaraan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SDN Ketelan 12 Surakarta Citra Dewi Utami; Adi Putra Surya Wardhana; Agus Heru Setiawan; Purwastya Pratmajaya
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 14, No 4 (2023): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v14i4.13919

Abstract

SD Negeri Ketelan 12 Surakarta merupakan sekolah yang berada di tengah-tengah perkotaan tetapi menghadapi masalah kekurangan siswa dan fasilitas yang kurang memadai. Mayoritas guru kurang menguasai IT dan beberapa di antaranya memasuki usia pensiun. Selain itu, para guru kurang memiliki pemahaman terhadap Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang menjadi program baru Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Oleh sebab itu, permasalahan ini perlu diatasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan tema yang dipilih pihak sekolah, yaitu Kearifan Lokal. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh SDN Ketelan 12 Surakarta. Pengabdian masyarakat dilakukan secara luring dalam bentuk workshop fotografi dan videografi untuk merekam pembuatan nasi liwet sebagai kearifan lokal makanan tradisional Surakarta. Beberapa faktor pendukung dalam kegiatan ini adalah antusiasme entitas sekolah, yaitu guru dan siswa. Sedangkan faktor penghambat kegiatan adalah siswa masih perlu bimbingan orang dewasa selama projek berlangsung. Kegiatan ini perlu dilanjutkan agar entitas sekolah benar-benar dapat memahami dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sowing the Gospel in the southern "Vorstenlanden"; Wonogiri in the Protestant evangelists’ travelogues in the early twentieth century Wardhana, Adi Putra Surya; Pradita, Dennys
Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 25, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The goal of this study is to analyse the travelogues of Protestant evangelists in Wonogiri, a topic so far barely touched upon. Despite being a predominantly Muslim community, Wonogiri was one of the areas in the principalities of Surakarta targeted by the zending. Therefore, this study explores various aspects, including the purpose behind the visits of Protestant missionaries, the discourses presented in the travelogues, and the perspectives of these evangelists on the belief system prevalent in the community in the early twentieth century. Based on several travel accounts, this research utilizes a critical discourse analysis approach. The evangelists built a discourse which intertwined Christianity and identity discourse. The narratives reveal stark differences between the abangan communities and the stricter Muslims identified as putihan. The indigenous people who embraced Protestantism were perceived as the chosen ones, while those who remained unconverted were considered as the others. This reality highlights the inherent European-Christian perspective adopted by the travelogue writers.