Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI BALAI PENGOBATAN UPTD PUSKESMAS BUAY SANDANG AJI KABUPATEN OKU SELATAN TAHUN 2017 Eko Heryanto
Jurnal Kesehatan Abdurrahman Vol 7 No 2 (2018): Jurnal Kesehatan Abdurrahman
Publisher : STIKES Abdurrahman. Pusat Informasi dan Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.532 KB)

Abstract

Introduction: Hypertension is a degenerative disease that becomes a serious problem today. In Indonesia hypertension is the third leading cause of death for all ages. Based on the report of 10 major non-communicable diseases of South Okino District Health Office in 2016, the proportion of cases of Hypertension is 1,996 cases (51.57%). Based on the report on the number of 10 diseases in UPTD Puskesmas Buay Sandang Aji in 2016, Hypertension is in 3rd place with case proportion of 500 cases (15,41%). Method: The research design used was Cross-Sectional research design. The population of this study was all adult patients who were treated at Medical Center UPTD Puskesmas Buay Sandang Aji. The sample size is 46 samples. The statistical test used is chi-square test. Result: Based on the univariate analysis, there were 34,8% of respondents suffering from hypertension, as many as 54,3% of respondents had no family history of hypertension, 63% of respondents with normal western body, 54.3% of respondents with coffee drinking hazard, and As many as 65.2% of respondents with the habit of consuming jelantah oil are at risk. The result of bivariate analysis showed that there was a correlation between a family history of hypertension with hypertension occurrence with p-value 0,009. There is a significant relationship between obesity with an incidence of hypertension with p-value 0.021, there is a significant relationship between the habit drinking coffee with the occurrence of hypertension with p-value 0.018 and there is a habitual relationship consuming waste oil incidence Hypertension with p-value 0.046. Conclusion: There is a significant correlation between the family history of hypertension, obesity, drinking habits and consuming habits of cooking oil with hypertension. Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang menjadi masalah serius saat ini. Di Indonesia hipertensi merupakan penyebab kematian ketiga untuk semua umur. Berdasarkan laporan jumlah 10 penyakit tidak menular terbesar Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Selatan pada tahun 2016 proporsi kasus Hipertensi 1.996 kasus (51,57%). Berdasarkan laporan jumlah kunjungan 10 penyakit di UPTD Puskesmas Buay Sandang Aji pada tahun 2016, Hipertensi berada pada urutan ke 3 dengan proporsi kasus sebesar 500 kasus (15,41%). Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien dewasa yang berobat di Balai Pengobatan UPTD Puskesmas Buay Sandang Aji. Besar sampel yaitu 46 sampel. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil: Berdasarkan analisis univariat diperoleh hasil sebanyak 34,8% responden menderita Hipertensi, sebanyak 54,3% responden tidak ada riwayat keluarga Hipertensi, sebanyak 63% responden dengan barat badan normal, sebanyak 54,3% responden dengan kebiasaan minum kopi beresiko, dan sebanyak 65,2% responden dengan kebiasaan mengkonsumsi minyak jelantah beresiko. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara riwayat keluarga Hipertensi dengan kejadian Hipertensi dengan p value 0,009. Ada hubungan bermakna antara obesitas dengan kejadian kejadian Hipertensi dengan p value 0,021, ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan minum kopi dengan kejadian Hipertensi dengan p value 0,018 dan ada hubungan kebiasaan mengkonsumsi minyak jelantah kejadian Hipertensi dengan p value 0,046. Kesimpulan: terdapat hubungan yang bermakna antara, riwayat keluarga hipertensi, obesitas, kebiasaan minum kopi dan kebiasaan mengkonsumsu minyak jelantah dengan kejadian Hipertensi
DETERMINAN KEPEMILIKAN JAMBAN KELUARGA DI DESA TANJUNG JATI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS KISAM ILIR KABUPATEN OKU SELATAN TAHUN 2019 Eko Heryanto; Fera Meliyanti
Jurnal Kesehatan Abdurrahman Vol 9 No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Abdurrahman
Publisher : STIKES Abdurrahman. Pusat Informasi dan Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.487 KB) | DOI: 10.55045/jkab.v9i1.104

Abstract

Open defecation (BABS) is still common in Indonesia. In some areas, people still defecate carelessly in rivers or streams. Data obtained from the South OKU District Health Office in 2018 amounted to 80.14% of the KK of 92,825 households having family latrines. Kisam Ilir Puskesmas ranks 4th among the lowest coverage of healthy latrines out of 19 OKU Selatan District Puskesmas.Data for 2017-2018 shows (26.29%) of 2035 households that have access to healthy latrines. Tanjung Jati Village is one of the villages in the Kisam Ilir Community Health Center with the lowest number of healthy latrine ownership, 18.06%.The research design used was a cross sectional research design. The population was all family heads in Tanjung Jati Village, Kisam Ilir Health Center, South OKU Regency, with 155 households. The sample size is 112 samples. The statistical test used was the chi square test.Based on univariate analysis, 84 (75%) respondents did not have latrines, 66 (58.9%) respondents lacked knowledge, 60 (53.6%) respondents did not support, 73 (65, 2%) respondents with the availability of clean water available and as many as 77 (68.8%) respondents claimed to have never attended counseling. The results of the bivariate analysis showed that there was a relationship between knowledge and ownership of family latrines with p value 0,000, there was a significant relationship between attitude and ownership of family latrines with p value of 0.001, there was a significant relationship between availability of clean water and ownership of family latrines with p value of 0,000, and there is a significant relationship between attending counseling with the ownership of the family toilet with a p value of 0,000.There is a significant relationship between knowledge, attitudes, availability of clean water and having attended counseling with the ownership of family toilets. Perilaku buang air besar sembarangan (BABS) masih banyak terjadi di Indonesia.Di sejumlah daerah, masyarakat masih membuang air besar sembarangan di kali atau sungai.Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Selatan Tahun 2018 sebanyak 80,14% KK dari 92.825 KK telah memiliki jamban keluarga. Puskesmas Kisam Ilirmenempati urutan ke 4 cakupan jamban sehat terendah dari 19 puskesmasKabupaten OKU Selatan. Data pada tahun 2017-2018, menunjukkan sebanyak (26,29%) dari 2035 KK yang memiliki akses jamban sehat. Desa Tanjung Jatimerupakan salah satu desa yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Kisam Ilir dengan cakupan kepemilikan jamban sehat nomor 2 terendah yaitu 18,06%.Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian Cross Sectional Populasi adalah seluruh kepala keluarga di Desa Tanjung Jati Wilayah Kerja Puskesmas Kisam Ilir Kabupaten OKU Selatan yang berjumlah 155 kepala keluarga. Besar sampel yaitu 112 sampel.Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square.Berdasarkan analisis univariat diperoleh hasil sebanyak 84 (75%) responden tidak tersedia jamban, sebanyak 66 (58,9%) responden berpengetahuan kurang baik, sebanyak 60(53,6%) responden dengan sikap tidak mendukung, sebanyak 73 (65,2%) responden dengan ketersediaan air bersih tersedia dan sebanyak 77 (68,8%) responden mengaku tidak pernah mengikuti penyuluhan. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan kepemilikan jamban keluarga dengan p value 0,000, ada hubungan yang bermakna antara sikap dengan kepemilikan jamban keluarga dengan p value 0,001, ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan air bersih dengan kepemilikan jamban keluarga dengan p value 0,000, dan ada hubungan yang bermakna antara mengikuti penyuluhan dengan kepemilikan jamban keluarga dengan p value 0,000 .Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, ketersediaan air bersih dan pernah mengikuti penyuluhan dengan kepemilikan jamban keluarga keluarga.
FAKTOR RESIKO DERMATITIS PADA ANAK YANG DATANG BEROBAT KE UPTD PUSKESMAS PENYANDINGAN KABUPATEN OKU TAHUN 2022 Eko Heryanto; Sabtian Sarwoko; Fera Meliyanti
Jurnal Kesehatan Abdurrahman Vol 11 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Abdurahman
Publisher : STIKES Abdurrahman. Pusat Informasi dan Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.017 KB) | DOI: 10.55045/jkab.v11i1.133

Abstract

Dermatitis merupakan penyakit kulit kronis, residif yang sering terjadi pada bayi, anak dan dewasa. Berbagai penelitian menyatakan bahwa prevalensi dermatitis makin meningkat setiap tahun sehingga menjadi masalah kesehatan besar. Berdasarkan data 10 penyakit terbanyak yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten OKU, proporsi penyakit dermatitis pada tahun 2021 sebesar 2.992 kasus (17,9%). UPTD Puskesmas Penyandingan, pada tahun 2021 proporsi penyakit dermatitis yaitu sebesar 227 kasus (14,4%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko dermatitis pada anak yang datang berobat ke UPTD Puskesmas Penyandingan Kabupaten OKU Tahun 2022. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional. Populasi adalah seluruh pasien anak yang berobat ke UPTD Puskesmas Penyandingan Kabupaten OKU, berdasarkan data kunjungan bulan Januari – Maret 2022 berjumlah 246 anak, jadi rata-rata kunjungan perbulan sebanyak 82 anak. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Berdasarkan analisis univariat terdapat terdapat sebanyak 29 (35,4%) anak menderita Dermatitis, sebanyak 54 (65,9%) responden dengan kualitas air bersih memenuhi syarat, responden sebanyak 56 (68,3%) responden dengan personal hygiene baik dan sebanyak 50 (61%) responden dengan sanitasi lingkungan bersih. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa, hubungan yang bermakna antara kualitas air bersih dengan kejadian dermatitis pada anak dengan p value 0,001, ada hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan kejadian Dermatitis pada anak dengan p value 0,002 dan ada hubungan yang bermakna antara sanitasi lingkungan dengan kejadian Dermatitis pada anak p value 0,001. Ada hubungan yang bermakna antara kualitas air bersih, personal hygiene dan sanitasi lingkungan dengan kejadian dermatitis pada anak. Dermatitis is a chronic, residive skin disease that often occurs in infants, children and adults. Various studies state that the prevalence of dermatitis is increasing every year so that it becomes a major health problem. Based on data for the 10 most common diseases obtained from the OKU District Health Office, the proportion of dermatitis in 2021 was 2,992 cases (17.9%). UPTD Puskesmas Penyandingan, in 2021 the proportion of dermatitis was 227 cases (14.4%). This study aims to determine the risk factors for dermatitis in children who come for treatment to the UPTD Puskesmas Pengandingan, OKU Regency in 2021. The research design used was Cross Sectional. The population is all pediatric patients who seek treatment at the UPTD of the Puskesmas Penyandingan, OKU Regency, based on visit data from January to March 2022 totaling 246 children, so the average monthly visit is 82 children. The statistical test used is the chi square test. Based on univariate analysis, there were 29 (35.4%) children suffering from Dermatitis, 54 (65.9%) respondents with clean water quality met the requirements, 56 (68.3%) respondents with good personal hygiene and 50 respondents with good personal hygiene. (61%) respondents with clean environmental sanitation. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between clean water quality and the incidence of dermatitis in children with p value 0.001, there was a significant relationship between personal hygiene and the incidence of dermatitis in children with p value 0.002 and there was a significant relationship between environmental sanitation and the incidence of dermatitis. in children p value 0.001. There is a significant relationship between the quality of clean water, personal hygiene and environmental sanitation with the incidence of dermatitis in children.
Hubungan Status Imunisasi, Status Gizi, dan ASI Eksklusif dengan Kejadian ISPA pada Anak Balita di Balai Pengobatan UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2016 Eko Heryanto
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 1 No. 1 (2016): Cendekia Medika
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.114 KB)

Abstract

ISPA dikenal sebagai salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang. Di Indonesia, ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Data 10 penyakit terbanyak dari Dinkes Kabupaten OKU, kasus ISPA tahun 2015 sebanyak 19.503 kasus. Di UPTD Puskesmas Sekar Jaya jumlah kasus ISPA pada tahun 2015 sebesar 5,76%. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan status imunisasi, status gizi, dan ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada anak balita di Balai Pengobatan UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabupaten OKU Tahun 2016. Penelitian ini dengan desain cross sectional, pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan menggunakan kuesioner. Populasi adalah seluruh anak balita yang berkunjung di Balai Pengobatan UPTD Puskesmas Sekar Jaya dengan rata-rata kunjungan perbulan berjumlah 102 balita. Sampel penelitian yaitu 82 responden. Pengolahan data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariatdengan uji statistik Chi-Square untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil analisa univariat diketahui sebanyak 35,4% balita menderita ISPA, sebanyak 65,9% balita dengan imunisasi lengkap, sebanyak 78% balita dengan status gizi baik, dan sebanyak 61% balita dengan ASI eksklusif. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita dengan nilai p 0,001, ada hubungan yang bermakna status gizi dengan kejadian ISPA pada balita dengan nilai p 0,000, ada hubungan yang bermakna pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita dengan nilai p 0,000.Semua variabel dalam penelitian ini ada hubungan yang bermakna. Artinya Status imunisasi lengkap, pemberian ASI secara Eksklusif dan status gizi balita yang baik terbukti dapat mengurangi faktor resiko ISPA pada balita. Untuk itu diharapkan petugas kesehatan berperan dalam memberikan edukasi melalui penyuluhan mengenai imunisasi, perlu dilakukan tindakan antisipatif dengan cara melakukan penimbangan yang dilakukan setiap bulannya di posyandu.
Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI dan Cara Merebus Air Minum dengan Kejadian Diare pada Bayi Usia 0-6 Bulan Eko Heryanto
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 1 No. 2 (2016): Cendekia Medika
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.875 KB)

Abstract

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia karena masih timbul sebagai kejadian luar biasa. Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur pada tahun 2015 ditemukan kasus diare pada bayi sebanyak 9.230 kasus (31,06%). Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Bunga Mayang pada tahun 2015 ditemukan kasus Diare pada bayi sebanyak 244 kasus (43,13%). Peelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemberian makanan pendamping ASI dan cara merebus air minum dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang membawa bayinya di Balai Pengobatan UPTD Puskesmas Bunga Mayang dengan rata-rata kunjungan per bulan sebanyak 43 bayi. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Analisa data yaitu analisa univariat dan analisa bivariat. Berdasarkan analisis univariat diperoleh hasil sebanyak 65,1% responden bayinya tidak diare, sebanyak 62,8% responden dengan kategori pemberian MP-ASI tidak beresiko, dan sebanyak 53,5% responden dengan kategori cara merebus air minum tidak baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara pemberian MP-ASI dengan kejadian diare pada bayi dengan p value 0,000. ada hubungan bermakna antara cara merebus air minum dengan kejadian diare pada bayi dengan p value 0,004. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna pemberian MP-ASI dan cara merebus air minum dengan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan. Disarankan pada petugas kesehatan agar meningkatkan penyuluhan mengenai MP-ASI dengan komposisi yang baik.
Dampak Pemberian Susu Formula Tinggi Kadar Gula dan Cara Penyajian Botol Susu dengan Kejadian Diare pada Anak Usia 6 - 24 Bulan Di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten OKU Tahun 2017 Eko Heryanto; Yeviza Puspitasari
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 2 No. 2 (2017): Cendekia Medika
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.585 KB)

Abstract

Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting karena merupakan penyumbang ketiga angka kesakitan dan kematian anak diberbagai negara termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 Prevalensi angka kematian diare pada balita adalah 75,3/100.000 balita, dan merupakan penyebab kematian no.4 (13,2%) pada semua umur dalam kelompok penyakit menular serta sebagai penyebab kematian no.1 pada bayi postneonatal (31,4%) dan pada anak balita (25,2%). Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah ibu yang membawa balitanya berobat ke ruang MTBS di UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kecamatan Baturaja Barat Kabupaten Ogan Komering Ulu, pengambilan sampel secara acidental sampling. Analisa data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat dengan menggunakan tabel distribusi dan uji statistik Chi-Square, dengan derajat kepercayaan 95%. Pada analisa univariat, dari 123 responden didapat responden yang menderita diare sebesar 30 responden (24,4%). Responden yang diberi susu formula tinggi kadar gula sebesar 30 responden (24,4%) dan responden yang tidak diberi susu formula tinggi kadar gula sebesar 93 responden (75,6%). Cara penyajian botol susu yang tidak memenuhi syarat sebesar 37 responden (30,1%) dan cara penyajian botol susu yang memenuhi syarat sebesar 86 responden (69,9%). Analisa bivariat di dapatkan hasil ada hubungan pemberian susu formula tinggi kadar gula dengan kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan (p value 0,026), dan ada hubungan cara penyajian botol susu dengan kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan (p value 0,002). Ada hubungan yang bermakna antara pemberian susu formula tinggi kadar gula dengan kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan di UPTD Puskesmas Sekar Jaya tahun 2017 dengan p value 0,026. Ada hubungan yang bermakna antara cara penyajian botol susu dengan kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan di UPTD Puskesmas Sekar Jaya tahun 2017 dengan p value 0,002. Diarrhea is one of important public health problems because it is the third contributor to the morbidity dan mortality rate of the childrend in various country, including Indonesia. Besed on the result of Riskesda in 2013, prevalence of diarrhea mortality rate is 75.3/100.000, and cause the fourth of mortality (13,2%) at all age in the infectious disease grup, and the first of mortality at post neonatal babies. (31,4%) and at toddler (25,2%). This study uses an analytical method with cross sectional approach. The study population was mothers who bring their babies into space IMCI treatment UPTD Sekar Jaya sub-district Puskesmas Ogan Ogan West Baturaja Ulu, sampling acidental sampling. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis using the statistical distribution tables and Chi-Square test, with a 95% degree of confidence. The univariate analysis, obtained from 123 respondents who suffer from diarrhea by 30 respondents (24,4%). Respondents respondents who were formula-fed high sugar content of 30 respondents (24,4%) and respondents who were formula-fed high sugar content of 93 respondents (75,6%). How to penyejian milk bottle ineligible by 37 respondents (30,1%) and the way of presenting a bottle of milk that meets the requirements of 86 respondents (69,9%). The bivariate analysis results get no relationship formula feeding high levels of sugar in the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months (p value 0,000), and there is a connection way of presenting a bottle of milk with the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months (p value 0,000 ). There is a correlation relationship between formula feeding high sugar levels and way of presenting the milk bottles with the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months. There is a significant correlation between formula feeding high sugar levels the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months in UPTD Puskesmas Sekar Jaya 2017 with p value 0,026. There is a significant relationship between way of presenting a bottle of milk the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months in UPTD Puskesmas Sekar Jaya in 2017 with p value 0,002.
Faktor Risiko Dermatitis Pada Petani Fera Meliyanti; Eko Heryanto
Lentera Perawat Vol. 1 No. 2 (2020): Lentera Perawat
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.635 KB)

Abstract

Penyakit dermatitis terjadi pada pekerja informal yang umumnya kurang memperhatikan sanitasi dan perlindungan bagi kesehatan dirinya misalnya petani. Desa Muara Sindang merupakan salah satu desa yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Kisam Ilir memiliki kasus dermatitis yang cukup tinggi yaitu sebesar 28%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko dermatitis pada petani di Desa Muara Sindang Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kisam Ilir Kabupaten OKU Selatan tahun 2020. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional. Populasi adalah seluruh petani  di Desa Muara Sindang Wilayah Kerja Puskesmas Kisam Ilir Kabupaten OKU Selatan yang berjumlah  146 orang. Besar sampel yaitu 107 sampel. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square dengan derajat kepercayaan 95%, p value 0,05.Berdasarkan analisis univariat diperoleh hasil sebanyak  85 (79,4%) responden tidak menderita dermatitis, sebanyak 59 (56,1%) responden menggunakan alat pelindung diri tidak lengkap, sebanyak 63 (58,9%) responden dengan personal hygiene dan sebanyak 62 (57,9%) responden dengan waktu kerja beresiko. Hasil analisis bivariat menunjukkan  bahwa ada hubungan yang bermakna antara penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian dermatitis pada petani dengan p value 0,013, ada hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan kejadian dermatitis pada petani dengan p value 0,000, dan ada hubungan yang bermakna antara waktu kerja dengan kejadian dermatitis pada petani. Terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan alat pelindung diri, personal hygiene dan waktu kerja dengan kejadian dermatitis.
Hubungan Pengetahuan, Pekerjaan, Dan Penyuluhan Dengan Tindakan Kepala Keluarga Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Eko Heryanto; Fera Meliyanti
Lentera Perawat Vol. 2 No. 1 (2021): Lentera Perawat
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.317 KB)

Abstract

Penyakit infeksi oleh virus masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan perhatian internasional salah satunya ialah Demam Berdarah Dengue (DBD). Walaupun penderita DBD di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2016 ke tahun 2017, kasus ini masih menjadi pusat perhatian. Berdarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Timur, kasus DBD di Kabupaten OKU Timur pada tahun 2020 periode Januari-Juni tercatat sebanyak 12 kasus. Data dari UPTD Puskesmas Kota Baru kasus DBD tahun 2020 periode Januari-Juni terdapat 6 kasus. Dari seluruh kasus di Puskesmas Kota Baru, kasus tertinggi terdapat di Desa Kota Baru Barat yaitu pada bulan Februari tahun 2020 terdapat 1 kasus. Kesadaran masyarakat sampai saat ini untuk mencegah DBD belum berubah, masyarakat biasanya datang terlambat,ketika sudah jatuh korban baru akan sadar pentingnya budaya hidup sehat yang harus dimulai dari lingkungan sendiri. Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah Populasi penelitian adalah seluruh kepala keluarga yang bertempat tinggal di Desa Kota Baru Barat berjumlah 205 KK. Besar sampel yaitu 136 sampel. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Berdasarkan analisis univariat diperoleh hasil sebanyak 58,1% responden tidak ada upaya pencegahan DBD, sebanyak 52,2% responden pengetahuan baik, sebanyak 65,4% responden bekerja, dan sebanyak 59,6% responden dengan kategori tidak mengikuti penyuluhan. Hasil analisis bivariat menunjukkan  bahwa ada hubungan antara pengetahuan, pekerjaan dan penyuluhan dengan upaya pencegahan DBD dengan p value 0,000; 0,001 dan 0,000. Pengetahuan, pekerjaan dan penyuluhan terbukti mempunyai hubungan yang bermakna dengan upaya pencegahan DBD.
Faktor Resiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Terhadap Paparan Polusi Udara Dalam Rumah Eko Heryanto
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 4 No. 2 (2019): Cendekia Medika
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.773 KB)

Abstract

Penyakit ISPA adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit menular di dunia. Di Indonesia angka kejadian ISPA dari tahun ke tahun selalu masuk kedalam 10 besar penyakit.Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten OKU Selatan, pada tahun 2018 ISPA masih menduduki peringkat pertama yaitu 3.828 kasus.Puskesmas Mekakau Ilir pada tahun 2018 jumlah kasus ISPA pada balita sebanyak 613 kunjungan (44,9%). Desa Kota Dalam. Tercatat pada tahun 2018 sebanyak 113  kunjungan (53,8%) kasus dari 210 balita. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh balita yang berada di Desa Kota Dalam wilayah kerja UPTD Puskesmas Mekakau Ilirtahun 2019 yaitu sebanyak 210 balita dengan besar sampel sebanyak 138 sampel.Uji statistik yang digunakan adalah uji chi square. Berdasarkan analisis univariat diperoleh hasil sebanyak 60 (43,5%) balita menderita ISPA, sebanyak 62 (44,96%) responden mempunyai kebiasaan menggunakan kayu bakar, sebanyak 73 (52,9%) responden mempunyai kebiasaan merokok dalam rumah, dan sebanyak 57 (41,3%) responden mempunyai kebiasaan menggunakan obat nyamuk bakar. Hasil analisis bivariat menunjukkan  bahwa, ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan menggunakan kayu bakar dengan kejadian ISPA pada balita dengan pvalue 0,000, ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah dengan kejadian ISPA pada balita dengan pvalue 0,000 dan ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan menggunakan obat nyamuk bakar dengan kejadian ISPA pada balita dengan pvalue 0,000. Ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan menggunakan kayu bakar dengan kejadian ISPA pada balita dengan pvalue 0,000, ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok anggota keluarga dalam rumah dengan kejadian ISPA pada balita dengan pvalue 0,000 dan ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan menggunakan obat nyamuk bakar dengan kejadian ISPA pada balita dengan pvalue 0,000
FAKTOR RESIKO KEJADIAN MALARIA KLINIS DI DESA TANJUNG DALAM WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS LUBUK BATANG KABUPATEN OKU Eko Heryanto; Deli Lilia; Fera Meliyanti
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 Nomor 1
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v5i1.451

Abstract

The World Malaria Report 2005, dijelaskan bahwa di dunia saat ini lebih dari 1 juta orang setiap tahun meninggal akibat malaria. Hasil laporan Riskesdas tahun 2007, prevalen malaria di Indonesia mencapai 2,85%. Prevalensi kasus malaria di Sumatera Selatan adalah 1,01% (Laboratorium) dan 1,63 % (gejala klinis). Desa Tanjung Dalam yang merupakan salah satu desa yang berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lubuk Batang menunjukan AMI pada tahun 2013 yaitu 60,69‰ dengan jumlah kasus 86 dari 1.417 penduduk. Tujuan penelitian diketahui factor resiko kejadian malaria klinis di Desa Tanjung Dalam Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Batang Kabupaten OKU tahun 2014.Penelitian ini dilakukan dengan desain Cross Sectional. Populasi meliputi seluruh kepala keluarga berjumlah 387 KK dengan sampel 197. Analisis data univariat dan bivariat dengan uji statistik chi-square, dengan derajat kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan penderita malaria 56 (28,4%) responden, 91 (46,2%) tidak menggunakan kelambu, 77 (39,1%) tidak menggunakan obat nyamuk, 66 (33,6%) memiliki kebiasaan keluar rumah di malam hari, 115 (58,45) tidak memasang kawat kasa pada ventilasi rumahnya, 87 (44,2%) disekitar lingkungan rumahnya ada tempat perindukan nyamuk, dan 95 (48,2%) terdapat semak-semak disekitar lingkungan rumahnya. Dari hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pemakaian kelambu (p=0,000), kebiasaan memakai obat nyamuk (p=0,000), kebiasaan keluar malam (p=0,000), pemasangan kawat kasa ventilasi (p=0,002), tempat perindukan nyamuk (p=0,005), dan keberadaan semak-semak (p=0,003) dengan kejadian malaria klinis. Disimpulkan, bahwa pemakaian kelambu, kebiasaan memakai obat nyamuk, kebiasaan keluar malam, pemasangan kawat kasa ventilasi, tempat perindukan nyamuk, dan keberadaan semak-semak merupakan faktor resiko terjadinya malaria klinis.Kata kunci : Malaria klinis