Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Camellia

Nilai Rasio Neutrofil Limfosit (NLR) Terhadap Komorbid Hipertensi Pada Pasien Covid-19 Maulidiyanti, Ellies Tunjung Sari; Azizah, Fitrotin; Hidayat, Mariza; Purwaningsih, Nur Vita; Widiyastuti, Rahma
Camellia : Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal Vol 2 No 1 (2023): Camellia (Clinical, Pharmaceutical, Analytical, and Pharmacy Community Journal)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/cam.v2i1.18806

Abstract

Tingkat kematian pasien Covid-19 lebih tinggi pada pasien yang memiliki komorbid dibandingkan dengan pasien tanpa komorbid dikarenakan imunitas yang lebih rendah. Kondisi dan tingkat keparahan infeksi dapat terjadi akibat peningkatan ikatan virus dengan sel target yang memanfaatkan ACE-2. Disfungsi endotel vascular pada pasien Covid-19 dengan komorbid hipertensi dapat meningkatkan keparahan infeksi hingga beresiko kematian. Hal itu terjadi karena pada pasien yang menderita hipertensi dapat meningkatkan ekspresi reseptor ACE-2 akibat disfungsi pada sel endotel vascular. Parameter pemeriksaan hematologi yang dapat digunakan untuk pemeriksaan adalah Nilai Rasio Limfosit/ Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR). NLR dapat digunakan untuk melihat dan memantau status inflamasi atau prediksi tingkat keparahan yang terjadi sebagai faktor resiko Covid-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai NLR (Neutrophil Lymphocyte Ratio) pada pasien Covid-19 dengan komorbid hipertensi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan sampel penelitian sebanyak 50 data pasien dalam kurun waktu 1 tahun (Desember 2020 - Desember 2021). Didapatkan hasil dari 50 data pasien yaitu sebanyak 26 pasien (52%) memiliki nilai NLR normal (<3,13) dan 24 pasien (48%) memiliki nilai NLR diatas nilai normal (>3,13), serta rata-rata nilai NLR dari 50 pasien Covid-19 dengan komorbid hipertensi adalah 4,13.
Studi Literatur Profil Bakteri dan Pola Resisten Antibiotik Beta-Laktam pada Pasien Pneumonia Ainutajriani; Artanti, Dita; Yusuf, Muhammad Bilal; Maulidiyanti, Ellies Tunjung Sari
Camellia : Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal Vol 2 No 2 (2023): Camellia (Clinical, Pharmaceutical, Analytical, and Pharmacy Community Journal)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/cam.v2i2.21031

Abstract

Pneumonia, suatu infeksi paru-paru yang umum yang sering ditemui di berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga lansia. Bakteri yang umumnya terkait dengan pneumonia meliputi Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza hingga Staphylococcus aureus. Namun, dengan kemajuan dalam teknologi diagnostik, berbagai jenis bakteri lainnya juga telah diidentifikasi sebagai penyebab pneumonia. Berbagai jenis bakteri ini dapat menunjukkan resistensi terhadap antibiotik tertentu, terutama kelompok beta-laktam. Resistensi antibiotik telah menjadi masalah yang semakin mendesak. Bakteri yang sebelumnya rentan terhadap antibiotik ini kini menunjukkan tingkat resistensi yang meningkat, mempersulit pengobatan infeksi pneumonia. Peningkatan penggunaan antibiotik yang tidak terkendali, baik dalam pengaturan medis maupun pertanian, telah berkontribusi pada peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Hasil menunjukkan bakteri penyebab utama pneumonia di Korea (Mycoplasma pneumonia : 97,7%), China (Streptococcus pneumonia : 39%), Mexico (Pseudomonas aeruginosa : 60%) dan Indonesia (Klebsiella pneumonia : 22.9%). Pola resistensi antibiotic beta-lactam terhadap K. pneumonia yaitu di Irank : resisten terhadap Ceftriaxone (18%), Imipenem (63%), China : resisten terhadap Ceftriaxone (100%), Imipenem (93%), Egypt : resisten terhadap Cefoxitin (38%), Imipenem (20%) dan Indonedia 80% sensitive terhadap Cefoxitin dan Imipenem. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya variasi profil bakteri penyebab pneumonia diberbagai Negara serta memiliki pola resisten antibiotik beta-lactam yang berbeda terhadap bakteri K. pneumoniae.
Kadar HbA1c dan Jumlah Trombosit Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe I Dan Tipe II Widyastuti, Rahma; Azizah, Fitrotin; Maulidiyanti, Ellies Tunjung Sari; Purwaningsih, Nur Vita; Saputro, Tri Ade
Camellia : Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal Vol 4 No 1 (2025): Camellia (Clinical, Pharmaceutical, Analytical, and Pharmacy Community Journal)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/cam.v4i1.26452

Abstract

Pasien yang memiliki kadar HbA1c >7% akan berisiko 2 kali lebih tinggi untuk mengalami komplikasi. Keadaaan hiperglikemia pada pasien diabetes melitus menyebabkan gangguan pembuluh darah dan pengeluaran Trombosit tinggi sehingga dapat menyebabkan pembekuan darah yang berlebihan, meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, atau penyumbatan pembuluh darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar HbA1c dan jumlah trombosit pada pasien diabetes mellitus tipe I dan tipe II. Kadar HbA1c yang tinggi pada DM tipe 1 sebesar 78,78% dan tipe II sebesar 21,21% dan jumlah trombosit yang tinggi pada DM tipe 1 sebesar 80,76%, tipe II sebesar 19,23%. Sedangkan kadar HbA1c dan jumlah trombosit tinggi sebesar 67,56%, dan kadar HbA1c tinggi dengan jumlah trombosit normal sebesar 29,72%, dan kadar HbA1c normal dengan jumlah trombosit normal sbesar 10,81%. Hasil ini menunjukan betapa pentingnya pemeriksaan HbA1c dan jumlah tombosit paa pasien diabetes mellitus
Nilai Rasio Neutrofil Limfosit (NLR) Terhadap Komorbid Hipertensi Pada Pasien Covid-19 Maulidiyanti, Ellies Tunjung Sari; Azizah, Fitrotin; Hidayat, Mariza; Purwaningsih, Nur Vita; Widiyastuti, Rahma
Camellia : Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal Vol 2 No 1 (2023): Camellia (Clinical, Pharmaceutical, Analytical, and Pharmacy Community Journal)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/cam.v2i1.18806

Abstract

Tingkat kematian pasien Covid-19 lebih tinggi pada pasien yang memiliki komorbid dibandingkan dengan pasien tanpa komorbid dikarenakan imunitas yang lebih rendah. Kondisi dan tingkat keparahan infeksi dapat terjadi akibat peningkatan ikatan virus dengan sel target yang memanfaatkan ACE-2. Disfungsi endotel vascular pada pasien Covid-19 dengan komorbid hipertensi dapat meningkatkan keparahan infeksi hingga beresiko kematian. Hal itu terjadi karena pada pasien yang menderita hipertensi dapat meningkatkan ekspresi reseptor ACE-2 akibat disfungsi pada sel endotel vascular. Parameter pemeriksaan hematologi yang dapat digunakan untuk pemeriksaan adalah Nilai Rasio Limfosit/ Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR). NLR dapat digunakan untuk melihat dan memantau status inflamasi atau prediksi tingkat keparahan yang terjadi sebagai faktor resiko Covid-19. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai NLR (Neutrophil Lymphocyte Ratio) pada pasien Covid-19 dengan komorbid hipertensi. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif, dengan sampel penelitian sebanyak 50 data pasien dalam kurun waktu 1 tahun (Desember 2020 - Desember 2021). Didapatkan hasil dari 50 data pasien yaitu sebanyak 26 pasien (52%) memiliki nilai NLR normal (<3,13) dan 24 pasien (48%) memiliki nilai NLR diatas nilai normal (>3,13), serta rata-rata nilai NLR dari 50 pasien Covid-19 dengan komorbid hipertensi adalah 4,13.
Studi Literatur Profil Bakteri dan Pola Resisten Antibiotik Beta-Laktam pada Pasien Pneumonia Ainutajriani; Artanti, Dita; Yusuf, Muhammad Bilal; Maulidiyanti, Ellies Tunjung Sari
Camellia : Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal Vol 2 No 2 (2023): Camellia (Clinical, Pharmaceutical, Analytical, and Pharmacy Community Journal)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/cam.v2i2.21031

Abstract

Pneumonia, suatu infeksi paru-paru yang umum yang sering ditemui di berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga lansia. Bakteri yang umumnya terkait dengan pneumonia meliputi Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza hingga Staphylococcus aureus. Namun, dengan kemajuan dalam teknologi diagnostik, berbagai jenis bakteri lainnya juga telah diidentifikasi sebagai penyebab pneumonia. Berbagai jenis bakteri ini dapat menunjukkan resistensi terhadap antibiotik tertentu, terutama kelompok beta-laktam. Resistensi antibiotik telah menjadi masalah yang semakin mendesak. Bakteri yang sebelumnya rentan terhadap antibiotik ini kini menunjukkan tingkat resistensi yang meningkat, mempersulit pengobatan infeksi pneumonia. Peningkatan penggunaan antibiotik yang tidak terkendali, baik dalam pengaturan medis maupun pertanian, telah berkontribusi pada peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Hasil menunjukkan bakteri penyebab utama pneumonia di Korea (Mycoplasma pneumonia : 97,7%), China (Streptococcus pneumonia : 39%), Mexico (Pseudomonas aeruginosa : 60%) dan Indonesia (Klebsiella pneumonia : 22.9%). Pola resistensi antibiotic beta-lactam terhadap K. pneumonia yaitu di Irank : resisten terhadap Ceftriaxone (18%), Imipenem (63%), China : resisten terhadap Ceftriaxone (100%), Imipenem (93%), Egypt : resisten terhadap Cefoxitin (38%), Imipenem (20%) dan Indonedia 80% sensitive terhadap Cefoxitin dan Imipenem. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya variasi profil bakteri penyebab pneumonia diberbagai Negara serta memiliki pola resisten antibiotik beta-lactam yang berbeda terhadap bakteri K. pneumoniae.