Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

MAKNA METAFORA LIRIK LAGU KONAYUKI DALAM ANALISIS WACANA KRITIS Santoso, Teguh; Sumarlam, Sumarlam; Jaya, Akmal
Tekstual Vol 22, No 1 (2024): Tekstual: Humaniora
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/tekstual.v22i1.7794

Abstract

Artikel ini berjudul Makna Metafora dalam Lirik Lagu Konayuki. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan makna metafora yang terdapat pada lirik lagu. Analisis makna metafora pada lirik lagu ini menggunakan telaah Moon dan Knowless. Metode penelitian ini menggunakan bentuk metode deskskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan menganalis tiap bait dari llirik lagu tersebut. Untuk menganalisis lirik lagu ini, penulis menggunakan pendekatan analisis Norman Fairclough. Dalam hal ini, penulis menganalisis lirik lagu dalam bentuk tiga dimensi teks yaitu:  analisis teks, praktik teks dan praktek sosiokultural. Dalam analisis teks (lirik) lagu ini penulis membahas tentang representasi, relasi, identitas, praktik teks (produksi, dan konsumsi) dan praktik sosiokultral (situasional, institusional, dan sosial). Hasil dari identifikasi unit leksikal dapat diketahui terdapat makna metafora yang cenderung mempunyai arti kontekstual yang berbeda dengan makna dasarnya yang tertuang pada 9 bait pada lirik lagu konayuki ini. 
Pelatihan Literasi Kritis Terhadap Informasi di Madrasah Aliyah Darul Ulum, Sasa, Kota Ternate Jaya, Akmal; Ridwan, Ridwan; Umar, Junaib
Journal of Research Applications in Community Service Vol. 3 No. 3 (2024): Journal of Research Applications in Community Service
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/jarcoms.v3i3.3067

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kritis terhadap informasi di kalangan siswa Madrasah Aliyah Darul Ulum. Di era digital saat ini, siswa sering kali terpapar berbagai informasi dari internet dan media sosial yang tidak selalu dapat diandalkan. Oleh karena itu, kemampuan untuk secara kritis mengevaluasi dan menganalisis informasi menjadi keterampilan yang sangat penting. Proyek ini mencakup serangkaian lokakarya yang melibatkan ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi. Kurikulum yang disampaikan mencakup metode untuk mengidentifikasi misinformasi, mengevaluasi sumber informasi, dan menggunakan alat digital untuk memverifikasi kredibilitas informasi. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan siswa untuk menilai keakuratan dan keandalan informasi yang mereka temui. Metode evaluasi termasuk pre-test, post-test, dan observasi partisipatif. Siswa juga melaporkan peningkatan kesadaran akan pentingnya literasi kritis dan penerapan keterampilan ini dalam kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, program pendidikan literasi kritis ini berhasil meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam mengelola informasi. Diharapkan program serupa dapat diimplementasikan secara luas untuk mempersiapkan generasi muda yang lebih tanggap dan bijaksana dalam menghadapi arus informasi di era digital.
Political dimensions in four Indonesian women’s travel writings: Cultural resistance and ambivalent agency Jaya, Akmal; Faruk, Faruk; Sudibyo, Sudibyo
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v9i1.1398

Abstract

This study examines four Indonesian women’s travel narratives published between 2011 and 2014: The Naked Traveler One Year Round The World Trip (Trinity), The Jilbab Traveler (Asma Nadia), Perempuan Merah Putih (Nungky Irma Nurmala Pratikno), and London: Angel (Windry Ramadhina) through the concept of ambivalent agency by Ullah (2025) and Spivak’s (1994) notion of the double bind. This study reinterprets these contradictions not as conscious political strategies, but as symptoms of a complex, often complicit, negotiation with hegemonic power. The analysis reveals that agency in these texts is achieved through patterned accommodations to the very structures they critique: Trinity articulates agency through self-orientalizing mimicry that internalizes the tourist gaze; Nadia navigates the commodification of piety, transforming the jilbab into a neoliberal lifestyle brand; Nungky operates within the gendered constraints of State Ibuism, performing empowerment only within state-sanctioned nationalism; and Ramadhina utilizes intimate relationality to manage the anxiety of the unhomely. The study concludes that Indonesian women’s travel writing is less a site of pure resistance than a space of ambivalence, where the postcolonial subject must inhabit conflicting norms, simultaneously resisting and reproducing patriarchal and capitalist logics to achieve mobility.