Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Edukasi Budidaya Lele Sistem Bioflok dan Diversifikasi Produk di Desa Jati Mulyo Kecamatan Dendang Amry, Ary Dean; Wulandari, Fitria Sari; Ardiansyah, Ardiansyah; Saputri, Wahyu Eka; Salsabilla, Tasya Isra; Haryani, Reny; Kakyarmabin7, Melikson; Komala, Rossie Intan; Rahayu, Anggraini Gita; Santi, Lala Delva; Safitri, Helni Yusriya; Mawarti, Septia Dwi; Nurmardiah, Nurmardiah
BangDimas Jurnal Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 1 (2025): Jurnal Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (Maret 2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jppm.v4i1.42456

Abstract

Program sosialisasi budidaya lele di Desa Jati Mulyo dilaksanakan dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik budidaya yang tepat, khususnya sistem bioflok, agar dapat meminimalisir risiko kerugian dalam usaha perikanan. Kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan metode budidaya yang efisien dan ramah lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga. Selain itu, dilaksanakan pula demonstrasi diversifikasi produk olahan lele yang ditujukan kepada ibu-ibu pemilik balita. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang untuk mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah stunting. Produk yang diperkenalkan adalah bola-bola lele sebagai alternatif makanan tinggi protein. Proses pelaksanaan mencakup survei awal, penyampaian materi budidaya bioflok, serta praktik memasak secara langsung. Antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif dan komunikasi dua arah selama kegiatan berlangsung. Program ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat baik dalam bidang budidaya ikan maupun pengolahan pangan berbasis protein lokal. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran gizi keluarga serta mendorong pengembangan usaha kecil berbasis sumber daya lokal.
PENERAPAN LATIHAN RENTANG GERAK UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT PADA PASIEN STROKE NON - HEMORAGIK DENGAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK DIRUANG UNIT STROKE RSUD RADEN MATTAHER JAMBI haryani, reny; Oktarina, Yosi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i3.48857

Abstract

Stroke non hemoragik merupakan kondisi dimana terjadi gangguan peredaran darah di otak akibat sumbatan oleh trombus atau embolus yang menyebabkan penurunan suplai oksigen dan glukosa ke jaringan otak. Salah satu dampak klinis yang sering ditemukan pada penderita stroke non hemoragik adalah gangguan mobilitas fisik akibat penurunan kekuatan otot. Intervensi non farmakologis seperti latihan rentang gerak (Range of Motion / ROM) berperan penting dalam upaya pemulihan fungsi motorik pasien pasca stroke. Tujuannya untuk menggambarkan penerapan latihan rentang gerak ROM dalam meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik di ruang Unit Stroke RSUD Raden Mattaher Jambi. Rancangan penulisan karya ilmiah akhir ners ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada dua pasien stroke non hemoragik. Intervensi keperawatan berupa latihan ROM aktif dan pasif yang dilakukan sebanyak 1 kali dalam sehari selama 3 hari berturut – turut dan penilaian hasil kekuatan otot menggunakan skala Manual Muscle Testing (MMT). Setelah dilakukan intervensi latihan ROM aktif dan pasif secara rutin, terdapat peningkatan kekuatan otot pada kedua pasien, sesuai dengan penilaian skala Manual Muscle Testing (MMT). Hasil ini menunjukkan adanya kesesuaian antara teori dan praktik di lapangan. Disimpulkan bahwa latihan ROM terbukti efektif dalam meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik.
The relationship between knowledge and adherence to insulin therapy in type 2 diabetes mellitus patients at the outpatient clinic of Budi Kemuliaan Hospital, Batam City Rachmayanti, Aprilya Sri; Hasan, Nahrul; Sammulia, Suci Fitriani; Haryani, Reny; Suhaera, Suhaera; Meilanda, Rastria; Sinaga, Asmina
Science Midwifery Vol 11 No 5 (2023): December
Publisher : Institute of Computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/midwifery.v11i5.1382

Abstract

Diabetes mellitus is a prevalent degenerative disease in today's society. Indonesia, as one of the countries with the largest population, has experienced a significant increase in the global prevalence of type 2 diabetes mellitus. Approximately 20% of the Indonesian population uses insulin with or without oral antidiabetic drugs. It has been found that patient compliance in Indonesia does not meet the recommended glycemic targets. This non-compliance is attributed to patients' lack of knowledge and understanding about insulin and its use in therapy. This study aims to explore the relationship between knowledge and adherence to insulin therapy among type 2 diabetes mellitus patients in the outpatient clinic of Budi Kemuliaan Hospital, Batam City. A descriptive correlation method was employed, utilizing a prospective cross-sectional research design. The sample was selected using purposive sampling, resulting in a total of 60 patients who met the inclusion criteria. Data were collected through two questionnaires: a knowledge questionnaire and the Medication Adherence Scale (MMAS). Statistical analysis included frequency distribution tests and chi-square tests. The research findings revealed a significant relationship between knowledge and adherence to insulin therapy, with a Chi-Square test yielding a P-Value of 0.029, where P-Value α < 0.05. In conclusion, this study demonstrates a significant correlation between knowledge and adherence to insulin therapy among type 2 diabetes mellitus patients. It is recommended that healthcare providers at Budi Kemuliaan Hospital deliver accurate information to patients to enhance their knowledge and understanding of insulin use, as well as the potential complications associated with diabetes mellitus.
Gambaran Potensi Interakasi Obat pada Resep Polifarmasi Pasien Lansia di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam: Description of Potential Drug Interaction in Polypharmaceutical Prescription in Elderly Patients in Badan Pengusahaan Batam Hospital Rachmayanti, Aprilya Sri; Suhera, Suhera; Haryani, Reny; Sammulia, Suci Fitiriani; Meilandra, Rastria; Agnesfebrianti, Agnesfebrianti
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v10i1.7201

Abstract

Polifarmasi merupakan penggunaan obat dalam jumlah yang banyak dan tidak sesuai dengan kondisi kesehatan pasien dengan pemberian ≥5 jenis obat dan sering dijumpai pada populasi lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran potensi interaksi obat pada resep polifarmasi pasien lansia di Rumah Sakit Badan Pengusahaan Batam. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan pendekatan retrospektif dengan mengambil data pada periode Januari – Desember 2021. Sampel diperoleh dengan Teknik Purposive Sampling dan diproses melalui www.medscape.com atau Drugs Interaction Checker dan Stockley’s Drug Interaction 9th Edition untuk mengetahui interaraksi obat berdasarkan tingkat keparahan, Mayor, Moderate dan Minor. Hasil pada analisa diklasifikasikan dalam bentuk persentase. Dari 98 lembar resep polifarmasi yang terdapat 1.150 interaksi obat dengan jumlah R/ sebanyak 831. Jenis interaksi obat berdasarkan tingkat keparahannya dengan jumlah kelompok kelompok Mayor sebanyak 108 (9,35 %), Moderat sebanyak 923 (80,57 %) dan Minor sebanyak 119 (10,09 %). Hasil dari penelitian ini diperoleh potensi interaksi obat yang terbanyak adalah Moderat sehingga sebaiknya dilakukan pemantauan dalam pemberian terapi obat.
Pemanfaatan Kalsium dari Limbah Cangkang Kerang Hijau (Perna viridis) Sebagai Zat Aktif pada Sediaan Pasta Gigi: Utilization of Calcium From Waste Shell Green Shells (Perna viridis) as Active Ingredients on the Preparation of Toothern Paste Suhaera, Suhaera; Rachmayanti, Aprilya Sri; Sammulia, Suci Fitriani; Dewi, Shinta Sari; Haryani, Reny; Hasan, Nahrul; Haris, Restu Nur Hasanah; Annisa, Nabila
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v10i1.7237

Abstract

Pasta gigi mengandung senyawa kimia, salah satunya adalah kalsium karbonat (CaCO3). Salah satu upaya untuk memperoleh bahan abrasif seperti kalsium karbonat (CaCO3) dalam pasta gigi adalah menggunakan bahan alami dari hewani. Cangkang kerang hijau diketahui memiliki unsur anorganik seperti kalsium karbonat (CaCO3) sebesar 95,69%. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan formula dan mengetahui stabilitas fisik sediaan pasta gigi dari cangkang kerang hijau (Perna viridis). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Pasta gigi dibuat dengan empat varian konsentrasi yaitu kontrol, 25%, 30% dan 35% dalam 100 gram. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah rendemen dari sampel tepung cangkang kerang hijau 90%. Hasil uji pH yang diperoleh 7. Bobot jenis optimum yang diperoleh 49,90 g/mL. Viskositas optimum yang diperoleh 100.000 cps. Daya sebar 50 gram optimum yang diperoleh 6,87 cm, 100 gram optimum 6,90 cm. Daya lekat optimum yang dihasilkan 4,35 detik. Stabilitas busa yang diperoleh 15 mm. hasil uji cycling test tidak terjadi perubahan warna dan pemisahan fase. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa evaluasi stabilitas fisik sediaan pasta gigi untuk organoleptis, homogenitas, pH, bobot jenis, viskositas, daya lekat, daya sebar, stabilitas busa dan uji cycling test untuk keempat formula sudah memenuhi persyaratan pasta gigi yang baik.
Shifting the paradigm to letrozole as first-line ovulation induction in pcos: a review of efficacy and safety Janu, Juwana; Haryani, Reny
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 5 No. 1 (2026): April Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v5i1.3084

Abstract

Background: Polycystic ovary syndrome (PCOS) is a primary cause of anovulatory infertility. While clomiphene citrate (CC) has been the traditional treatment, letrozole (LE) has emerged as a superior alternative with better clinical outcomes. Purpose: to evaluate the clinical efficacy, safety, and biological mechanisms of LE compared with CC in ovulation induction for PCOS patients. Method: A comprehensive literature search was conducted on PubMed and Google Scholar for studies published between 2021 and 2026. Seven high-quality articles, including randomized controlled trials (RCTs) and meta-analyses, were selected for synthesis. Results: The synthesis of the literature indicates that LE significantly increases the live birth rate by 54% (RR 1.54) and improves ongoing pregnancy rates compared with CC. LE is more efficient, showing a shorter time to ovulation (17.2 vs 24.1 days) and higher success in obese patients (BMI > 30). Mechanistically, LE superiorly enhances endometrial receptivity by significantly increasing Integrin αvβ3 and VEGF expression, as well as the Endometrial Flow Index (FI). Furthermore, LE demonstrates a superior safety profile with a 58% lower risk of multiple pregnancies and minimal incidence of ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS). Conclusion: Letrozole is more effective and safer than CC, primarily due to its beneficial impact on the endometrial microenvironment. LE could be implemented as the universal first-line treatment for infertility in women with PCOS. Suggestion: For clinicians, LE can be considered as the universal first-line therapy for ovulation induction in patients with PCOS, replacing CC. From a health service policy perspective, standard protocols in fertility clinics need to be updated to integrate LE use in order to improve pregnancy success and reduce long-term costs due to complications of multiple pregnancy