Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENGETAHUAN PASIEN TUBERKULOSIS TENTANG PENGOBATAN TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT Mahfudzoh, Alif; Purwanto, Nasrul Hadi
Enfermeria Ciencia Vol. 2 No. 3 (2024): Jurnal Enfermeria Ciencia, Volume 2, Nomor 3, Agustus 2024
Publisher : Yayasan Abdi Amanah Masyarakat Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/ec.v2i3.57

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang terus mengalami peningkatan kasus setiap tahunnya. Kemenkes 2023 menyebutkan bahwa ada kenaikan dari 8.268 kasus pada 2021 menjadi 12.794 kasus di tahun 2022. Selain TBC, kasus TBC RO juga mengalami peningkatan setiap tahun dan memiliki tingkat keberhasilan pengobtan yang rendah yaitu sebesar 55%. Salah satu penyebab tingginya kasus TBC RO adalah kurangnya pemahaman pasien tentang TBC RO sehingga semakin banyak pasien yang menyepelekan pengobatan dan tidak teratur minum obat sehingga tidak rutin minum obat OAT sesuai anjuran dari tenaga kesehatan. Di Puskesmas Sooko Kabupaten Mojokerto ditemukan beberapa pasien yang mengalami rasa bosan dalam minum obat TBC dan kurang paham tentang pengobatan TBC dan TBC-RO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan pasien tuberkulosis yang sedang menjalani pengobatan di Puskesmas Sooko tentang pengobatan TBC-RO. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode sampling yang digunakan adalah simple random sampling. Populasi sebanyak 28 responden, sampel yang diambil sebanyak 26 responden. Variabel yang diteliti yaitu tingkat pengetahuan dengan menggunakan kuesioner. Setelah data terkumpul lalu dilakukan Editing, Coding, Scoring, Tabulating, dan perhitungan nilai rata-rata pengetahuan responden. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengobatan TBC RO. Sebesar (46.1%) memiliki pengetahuan cukup tentang pengobatan TBC-RO, 15.3% memiliki pengetahuan baik, dan 38.6% memiliki pengetahuan kurang. Maka dapat disimpulkan rata- rata pengetahuan pasien tuberkulosis di puskesmas Sooko Kabupaten Mojokerto adalah cukup dengan total 12 responden dari 26 keseluruhan responden. Upaya yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan pasien adalah dengan rutin memberikan fasilitas edukasi tentang pentingnya keteraturan minum obat, bahaya nya menghentikan pengobatan, dan koordinasi dengan keluarga sebagai PMO (Pengawas Minum Obat) sebagai bentuk dukungan di rumah
PERUBAHAN KOLESTEROL DARAH PASCA PEMBERIAN RENDAMAN BUAH OKRA (ABELMOSCHUS ESCULENTUS (L.) MOENCH) Waskito, Rohmad Hadi; Purwanto, Nasrul Hadi; Supriani, Anik; Rosyidah, Nanik Nur
Journals of Ners Community Vol 11 No 1 (2020): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v11i1.1030

Abstract

Kolesterol merupakan zat lemak yang sangat diperlukan oleh tubuh. Namun peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh akan menyebabkan resiko arterioklerosis dan penyakit jantung yang dipengaruhi oleh seringnya konsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi seperti otak sapi, daging merah, seafood, kuning telur, keju, dan lain lain atau makanan cepat saji serta kurangnya aktivitas fisik. Pengaturan pola diet untuk menurunkan kadar kolesterol dilakukan dengan mengontrol asupan zat gizi secara seimbang sesuai dengan kebutuhan. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengkonsumsi sayuran tinggi serat yaitu buah okra.Desain penelitian ini menggunakan pra eksperimental dengan rancangan one group pre post test design. Populasi adalah warga yang menderita kolesterol di Dusun Terate Desa Karang Sentul Kecamatan Gondang Wetan Kabupaten Pasuruan berjumlah 20 orang. Sampel yang diambil sebanyak 20 responden yang memenuhi kriteria dengan pengambilan teknik purposif sampling. Varibel independen pemberian rendaman buah okra, variable dependen perubahan cholesterol darah. Data yang terkumpul melalui lembar observasi kemudian ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxon test dengan tingkat kemaknaan 0,05.Hasil penelitian menunjukkan sebelum mengkonsumsi rendaman buah okra yang mempunyai  nilai kolesterol batas tinggi 11 responden (55%) sesudah diberikan rendaman buah okra mengalami perubahan nilai kolesterol menjadi normal sebanyak 7 (35%) responden, sedangkan yang mempunyai nilai cholesterol tinggi 9 (45%) sesudah diberikan rendaman buah okra mengalami perubahan nilai cholesterol menjadi nilai normal 2 responden (10%) dan 3 responden (15%) mengalami perubahan nilai cholesterol menjdi nilai batas tinggi. Hasil uji statistik wilcoxon menunjukkan signifikan sebesar 0,000 ( < 0,05) yang berarti ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikan rendaman buah okra terhadap penurunan kolesterol.Melihat hasil penelitian ini, maka perlu adanya kebiasaan dalam mengkonsumsi rendaman buah okra sebagai penurun kolesterol sehingga konsumsi terhadap obat-obatan farmakologi menurun.Kata kunci: Buah Okra, KolesterolDOI: 10.5281/zenodo.4736064
TRANSFER IPTEK TENTANG TATALAKSANA HIPERTENSI KEPADA PASIEN HIPERTENSI GUNA PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN MINUM OBAT Purwanto, Nasrul Hadi; Chasanah, Nur
Masyarakat Mandiri dan Berdaya Vol. 1 No. 1 (2022): Volume I, Nomor 1, Agustus 2022
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/mbm.v1i1.202

Abstract

Hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga juga disebut silent killer. Hipertensi dapat menyerang semua lapisan usia masyarakat dan baru disadari ketika sudah dalam kondisi parah. Penyakit hipertensi sebagai salah satu penyakit menahun dan tidak dapat disembuhkan menjadikan penderita hipertensi harus hidup berdampingan dengan hipertensi seumur hidupnya. Tatalaksana hipertensi dimaksudkan agar penderita hipertensi mampu mengendalikan tekanan darah agar tetap ada dalam kondisi terkendali. Fenomena di wilayah kerja Puskesmas Keputih Kota Surabaya seringkali ditemukan pasien hipertensi yang tidak patuh dalam menjalankan advice tenaga kesehatan untuk mengkonsumsi obat anti hipertensi yang diberikan sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah yang tidak terkendali pada pasien hipertensi itu sendiri. Tujuan pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk transfer iptek tentang tatalaksana hipertensi kepada pasien hipertensi guna peningkatan pengetahuan dan kepatuhan minum obat. Asas yang mendasari pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah asas edukatif. Masyarakat sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah pasien hipertensi di Puskesmas Keputih Kota Surabaya. Bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah transfer ilmu pengetahuan tentang tatalaksana hipertensi kepada pasien hipertensi guna peningkatan pengetahuan dan kepatuhan minum obat. Pendekatan pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan edukatif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan pada Bulan Juli 2022. Materi disampaikan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Dari pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat di Puskesmas Keputih Kota Surabaya didapatkan hampir separuh peserta kegiatan pengabdian masyarakat memiliki pengetahuan cukup tentang hipertensi yaitu sebanyak 14 peserta (48,3%), dan sebagian besar peserta kegiatan pengabdian masyarakat tidak patuh dalam minum obat anti hipertensi yaitu sebanyak 19 peserta (65,5%)
TRANSFER IPTEK PEMANFAATAN KOMPRES HANGAT UNTUK MENURUNKAN KELUHAN NYERI KEPALA PADA PENDERITA HIPERTENSI Purwanto, Nasrul Hadi; Aini, Luthfiah Nur; Sutomo, Sutomo
Masyarakat Mandiri dan Berdaya Vol. 3 No. 6 (2024): Volume 3, Nomor 6, Desember 2024
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/mbm.v3i6.417

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama kematian terbesar di dunia. Hipertensi sering disebut the silent killer karena sering tanpa keluhan, sehingga penderita tidak tahu kalau dirinya mengidap hipertensi, tetapi kemudian mendapatkan dirinya sudah terdapat penyakit penyulit atau komplikasi dari hipertensi. Salah satu metode non-farmakologi yang dapat diaplikasikan untuk meredakan nyeri leher pada penderita hipertensi adalah dengan penerapan kompres hangat. Kompres hangat merupakan tindakan yang dilakukan dengan memberikan sensasi hangat pada area yang mengalami nyeri dengan tujuan untuk menurunkan spasme otot, memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi rasa sakit atau nyeri. Kompres hangat merelaksasi otot pada pembuluh darah dan melebarkan pembuluh darah sehingga meningkatkan pemasukan oksigen dan nutrisi ke jaringan otak. Kompres hangat dilakukan dengan menempelkan handuk, kain hangat atau hot cold pack pada permukaan kulit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Sooko Kabupaten Mojokerto. Metode penyampaian materi dilakukan menggunakan teknik wawancara, tanya jawab dan praktik. Evaluasi kegiatan dilakukan sebanyak 2 kali. Berdasarkan hasil pengumpulan data didapatkan bahwasanya tingkat pengetahuan baik tentang implementasi terapi komplementer menggunakan kompres hangat untuk meredakan nyeri kepala akibat peningkatan tekananan darah yang tidak terkendali yang semula tidak ada, naik menjadi 5 peserta (18,5%), tingkat pengetahuan cukup tentang implementasi terapi komplementer menggunakan kompres hangat untuk meredakan nyeri kepala akibat peningkatan tekananan darah yang tidak terkendali yang semula sebanyak 7 peserta (25,9%) naik menjadi 16 peserta (59,3%) dan tingkat pengetahuan kurang tentang implementasi terapi komplementer menggunakan kompres hangat untuk meredakan nyeri kepala akibat peningkatan tekananan darah yang tidak terkendali yang semula sebanyak 20 peserta (74,1%) turun menjadi 6 peserta (22,2%). Hasil ini secara tidak langsung menunjukkan bahwasanya terjadi peningkatan pengetahuan tentang implementasi terapi komplementer menggunakan kompres hangat untuk meredakan nyeri kepala akibat peningkatan tekananan darah yang tidak terkendali pada peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat
TRANSFER IPTEK POLA PEMBERIAN MAKAN BALITA (USIA 6 BULAN SAMPAI 5 TAHUN) DALAM PENCAPAIAN STATUS GIZI YANG OPTIMAL Suwanti, Iis; Purwanto, Nasrul Hadi
Masyarakat Mandiri dan Berdaya Vol. 4 No. 2 (2025): Volume 4, Nomor 2, April 2025
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan dalam pola pemberian makan balita usia 6 bulan sampai 5 tahun masih menjadi tantangan utama dalam pencapaian status gizi yang optimal di Indonesia. Banyak orang tua, khususnya ibu, belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang kebutuhan gizi balita sesuai tahapan usianya, sehingga praktik pemberian makan sering kali tidak sesuai, baik dari segi jenis, jumlah, frekuensi, maupun kualitas makanan. Masih banyak ditemukan kasus pemberian makanan yang monoton, minim protein hewani, atau terlalu dini mengenalkan makanan olahan tinggi gula dan garam. Selain itu, rendahnya akses terhadap informasi yang benar, pengaruh budaya lokal, serta keterbatasan ekonomi juga turut memperburuk situasi. Akibatnya, balita rentan mengalami masalah gizi seperti stunting, wasting, atau bahkan obesitas, yang dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif mereka secara jangka panjang. PKM ini dilakukan menggunakan metode edukasi. Materi disampaikan kepada peserta kegiatan melalui kegiatan ceramah dan tanya jawab. Evaluasi kegiatan dilakukan secara sumatif. Hasil analisis data yang dilakukan didapatkan tingkat pengetahuan peserta kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang semua berpengetahuan kurang tentang pola pemberian makan pada balita (usia 6 bulan sampai 5 tahun) sebanyak 8 peserta (47,1%) turun menjadi 4 peserta (23,5%), yang semua berpengetahuan cukup tentang pola pemberian makan pada balita (usia 6 bulan sampai 5 tahun) masih tetap sebanyak 7 peserta (41,2%), dan yang semua berpengetahuan baik tentang pola pemberian makan pada balita (usia 6 bulan sampai 5 tahun) sebanyak 2 peserta (11,8%) meningkat menjadi 6 peserta (35,3%). Keterlibatan lintas sektor, strategi yang terintegrasi dan pendekatan yang ramah masyarakat, diharapkan akan mampu meningkatkan pengetahuan orang tua tentang pola makan balita serta berdampak positif pada kesehatan dan tumbuh kembang anak
PENGEMBANGAN ALAT PERAGA SAFE KIT (SUPPORTING AID FOR FIRST EMERGENCIES KIT) Aini, Luthfiah Nur; Purwanto, Nasrul Hadi; Indrawati, Indrawati
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 3 (2025): Volume 4, Nomor 3, Juni 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i3.480

Abstract

Alat peraga memiliki peran penting dalam meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penanganan awal kondisi gawat darurat di tingkat komunitas, karena memungkinkan peserta pelatihan untuk mempraktikkan keterampilan secara langsung dan realistis. Dengan bantuan alat peraga, seperti manekin CPR, peraga luka, perlengkapan tindakan gawat darurat, masyarakat dapat memahami langkah-langkah pertolongan pertama secara visual dan kinestetik, sehingga meningkatkan kepercayaan diri dan ketepatan tindakan saat menghadapi situasi darurat sesungguhnya. Penggunaan alat peraga juga membuat proses edukasi menjadi lebih interaktif dan mudah dipahami, terutama bagi masyarakat yang belum terbiasa dengan pendekatan teori semata. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan alat peraga SAFE KIT (Supporting Aid for First Emergencies KIT) yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di komunitas dalam mengatasi dan penanganan awal kondisi kegawatdaruratan. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan Borg and Gall untuk menguji efektivitas alat peraga SAFE KIT. Penelitian ini melibatkan praktisi kesehatan, dosen, dan masyarakat umum sebagai pengguna akhir produk. Validasi dilakukan oleh para ahli menggunakan instrumen skala penilaian validasi ahli untuk menilai aspek kelayakan isi, desain, bahasa, dan keterpakaian produk. Untuk pengujian efektvitas alat peraga dalam peningkatan kemampuan masyarakat umum sebagai pengguna akhir produk digunakan uji gain score. Uji analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, yaitu menjabarkan hasil pengembangan dari produk. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh prosentase validasi validator terhadap model alat peraga SAFE KIT (Supporting Aid for First Emergencies KIT) hasil pengembangan sebesar 73,2 dengan kriteria validasi layak. Berdasarkan hasil ini maka disimpulkan bahwasanya alat peraga SAFE KIT (Supporting Aid for First Emergencies KIT) layak untuk digunakan sebagai media edukasi / alat peraga dalam pembelajaran penanganan kondisi awal kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Dibutuhkan adanya pengembangan lebih lanjut terkait alat peraga SAFE KIT terutama dalam penggunaannya secara langsung di lapangan dan sekaligus menyesuaikan kebutuhan peralatan penanganan awal kondisi kegawatdaruratan yang terjadi
PERUBAHAN KOLESTEROL DARAH PASCA PEMBERIAN RENDAMAN BUAH OKRA (ABELMOSCHUS ESCULENTUS (L.) MOENCH) Waskito, Rohmad Hadi; Purwanto, Nasrul Hadi; Supriani, Anik; Rosyidah, Nanik Nur
Journals of Ners Community Vol 11 No 1 (2020): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v11i1.1030

Abstract

Kolesterol merupakan zat lemak yang sangat diperlukan oleh tubuh. Namun peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh akan menyebabkan resiko arterioklerosis dan penyakit jantung yang dipengaruhi oleh seringnya konsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi seperti otak sapi, daging merah, seafood, kuning telur, keju, dan lain lain atau makanan cepat saji serta kurangnya aktivitas fisik. Pengaturan pola diet untuk menurunkan kadar kolesterol dilakukan dengan mengontrol asupan zat gizi secara seimbang sesuai dengan kebutuhan. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengkonsumsi sayuran tinggi serat yaitu buah okra.Desain penelitian ini menggunakan pra eksperimental dengan rancangan one group pre post test design. Populasi adalah warga yang menderita kolesterol di Dusun Terate Desa Karang Sentul Kecamatan Gondang Wetan Kabupaten Pasuruan berjumlah 20 orang. Sampel yang diambil sebanyak 20 responden yang memenuhi kriteria dengan pengambilan teknik purposif sampling. Varibel independen pemberian rendaman buah okra, variable dependen perubahan cholesterol darah. Data yang terkumpul melalui lembar observasi kemudian ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxon test dengan tingkat kemaknaan 0,05.Hasil penelitian menunjukkan sebelum mengkonsumsi rendaman buah okra yang mempunyai  nilai kolesterol batas tinggi 11 responden (55%) sesudah diberikan rendaman buah okra mengalami perubahan nilai kolesterol menjadi normal sebanyak 7 (35%) responden, sedangkan yang mempunyai nilai cholesterol tinggi 9 (45%) sesudah diberikan rendaman buah okra mengalami perubahan nilai cholesterol menjadi nilai normal 2 responden (10%) dan 3 responden (15%) mengalami perubahan nilai cholesterol menjdi nilai batas tinggi. Hasil uji statistik wilcoxon menunjukkan signifikan sebesar 0,000 ( < 0,05) yang berarti ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikan rendaman buah okra terhadap penurunan kolesterol.Melihat hasil penelitian ini, maka perlu adanya kebiasaan dalam mengkonsumsi rendaman buah okra sebagai penurun kolesterol sehingga konsumsi terhadap obat-obatan farmakologi menurun.Kata kunci: Buah Okra, KolesterolDOI: 10.5281/zenodo.4736064
KOMBINASI INTERMITTENT FASTING DAN STRENGTH TRAINING UNTUK MENURUNKAN LINGKAR PERUT DAN INDEKS MASSA TUBUH Purwanto, Nasrul Hadi; Wardani, Riska Aprilia; Cahyono, Eko Agus
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 4 No. 5 (2025): Volume 4, Nomor 5, Oktober 2025
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56586/pipk.v4i5.542

Abstract

Masyarakat Indonesia menghadapi masalah obesitas yang semakin mengkhawatirkan, ditandai dengan peningkatan prevalensi Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas normal dan lingkar perut yang berlebih. Kondisi ini tidak hanya mencerminkan ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, tetapi juga menjadi faktor risiko utama untuk penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, dan stroke. Transisi gaya hidup urbanisasi, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, serta kurangnya aktivitas fisik berkontribusi besar terhadap fenomena ini, menciptakan beban ganda kesehatan yang serius bagi sistem kesehatan nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kombinasi intermittent fasting dan strength training untuk menurunkan lingkar perut dan indeks massa tubuh pada penderita obesitas. Desain penelitian yang digunakan adalah quasy eksperimen dengan pendekatan pretest posttest design. Variabel dalam penelitian ini adalah lingkar perut dan indeks massa tubuh. Instrument penelitian yang digunakan adalah lembar kuesioner dan lembar observasi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 responden yang terbagi menjadi 3 kelompok penelitian. Untuk menganalisis pengaruh kombinasi intermittent fasting dan strength training terhadap perubahan lingkar perut dan indeks massa tubuh penderita obesitas digunakan uji paired t test dan uji anova. Hasil penelitian menyimpulkan bahwasanya pemberian intervensi kombinasi intermitted fasting dan strength training efektif untuk menurunkan lingkar perut pada penderita obesitas (Sig. 0,029), dan pemberian intervensi kombinasi intermitted fasting dan strength training efektif untuk menurunkan indeks massa tubuh pada penderita obesitas (Sig. 0,041). Dibutuhkan adanya konsistensi untuk melakukan kombinasi intermitted fasting dan strength training dalam upaya pengendalian obesitas pada masyarakat dan kepatuhan penerapan pola hidup sehat guna pencapaian hasil yang maksimal
PENINGKATAN PARTISIPASI DAN KEMANDIRIAN MASYARAKAT DALAM PENANGANAN STUNTING MELALUI PROGRAM DAPUR IBU LURAH Wardani, Riska Aprilia; Purwanto, Nasrul Hadi; Cahyono, Eko Agus
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 1 (2026): Periode Januari 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i1.7412

Abstract

This Community Service activity was motivated by the high prevalence of stunting in Sooko Village, Mojokerto Regency, which is triggered by multidimensional factors including parental ignorance in fulfilling toddler nutrition, economic limitations, and the lack of synergy of sustainable programs among stakeholders at the village level. To address this, a series of activity implementation methods were carried out, including intensive nutrition education on stunting and the preparation of nutritious menus, local food diversification training to optimize affordable food ingredients, and productive skills training such as making herbal products using a food dehydrator and making ecoprint batik using a steaming technique. All methods were designed in a participatory and collaborative manner, involving the village government, health workers, and PKK members as participants, with direct mentoring from a team of academics to ensure the achievement of applicable and sustainable knowledge and skills transfer. This community service activity has been successfully implemented through a series of collaborative interventions between the village government, health workers, and academics in Sooko Village, Mojokerto Regency. The implementation results showed a significant increase in community capacity, including a 40% increase in nutritional knowledge, mastery of herbal product production skills (using a food dehydrator) and ecoprint batik by 100% of participants, and the establishment of a Healthy Fund mechanism from the allocation of group business profits to purchase nutritious food for stunted toddlers. Sustainable synergy between nutrition training, economic empowerment, and local policy support can be an effective blueprint for accelerating the reduction in stunting prevalence independently and sustainably.
PROGRAM RUMAH SABUN SEBAGAI UPAYA BERBASIS MASYARAKAT DALAM MENGATASI PERMASALAHAN STUNTING Purwanto, Nasrul Hadi; Wardani, Riska Aprilia; Widiyawati, Rina
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 1 (2026): Periode Januari 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i1.7422

Abstract

The problem of stunting that occurs in the community tends to occur due to the inability of the community, especially families, to meet the nutritional needs of toddlers during growth and development. To resolve this problem, one effort that can be done is to stimulate the community, especially families of stunted toddlers, to become economically empowered. One of these efforts is by providing productive skills combined with education related to stunting. The implementation method of the activity is focused on a collaborative and practical approach, starting with coordination with the Village Government to identify participants, followed by entrepreneurship training that includes interactive lectures on stunting and hands-on training in making dish soap, laundry soap, and softener. Through this method, the activity aims to create new sources of income for families as a practical step in stunting prevention efforts. The Rumah Sabun community service activity has succeeded in improving the technical skills of 23 participants in producing dish soap, laundry soap, and softener, which previously did not have any at all. The evaluation results showed a significant increase, where 34.8% of participants (8 people) were categorized as capable and 65.2% (15 people) were categorized as quite capable, so that there were no longer any unskilled participants. As a form of sustainability, this program goes beyond training and has also pioneered the formation of community-based entrepreneurial groups, assisted by the village government and academic volunteers. This collaboration also facilitates local product marketing, ensuring that this activity is not only a successful empowerment intervention but also creates a sustainable micro-enterprise ecosystem to support family economic growth, a strategic step in stunting prevention.