Findy Renggono, Findy
Unknown Affiliation

Published : 37 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

POLA SEBARAN HUJAN DI DAS LARONA Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 12, No 1 (2011): June 2011
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3941.381 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v12i1.2186

Abstract

Teknologi modifikasi cuaca dengan cara penyemaian awan sering dilakukan di DASLarona, guna memenuhi kebutuhan air bagi pembangkit tenaga listrik di wilayahtersebut. Informasi mengenai pola distribusi awan hujan di dalam DAS sangat pentingdalam menentukan strategi penyemaian awan. Pengamatan dengan menggunakanradar cuaca menunjukkan pola distribusi awan di wilayah tersebut mengikuti kondisisinoptik. Akan tetapi pada saat sinoptik lemah, pengaruh local juga sangat dominant.Topografi yang berbukit-bukit dan tiga buah danau yang cukup luas dan dalam jugamemberikan pengaruh yang besar pada pertumbuhan awan di dalam DAS.Weather modification technology by means of cloud seeding is often done in the Laronawatershed, in order to meet the water needs for electric power generation in the region.Information on the distribution pattern of rain clouds in the watershed is very importantin determining the strategy of cloud seeding. Observations using the weather radarshowed the distribution pattern of clouds in the region following the synoptic conditions.But during weak synoptic condition, local effect is also dominant as it has deep and widelakes inside the watershed.
PERBANDINGAN PENGUKURAN RADIOMETER DAN RADIOSONDE PADA MUSIM HUJAN DI DRAMAGA BOGOR Athoillah, Ibnu; Dewi, Saraswati; Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 17, No 2 (2016): December 2016
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.045 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v17i2.640

Abstract

IntisariBalai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BB-TMC) BPPT bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan kegiatan Intensive Observation Period (IOP) selama puncak musim hujan pada tanggal 18 Januari - 16 Februari 2016 di wilayah Jabodetabek. Salah satu peralatan yang digunakan untuk observasi adalah Radiometer dan Radiosonde. Pada penelitian ini akan difokuskan bagaimana perbandingan hasil dari pengukuran Radiometer dan Radiosonde selama kegiatan IOP terutama untuk parameter temperatur dan kelembapan relatif. Hasil dari perbandingan pada profil atmosfer di lapisan tertentu terlihat adanya data yang mempunyai kecenderungan jauh dan tidak memiliki kedekatan nilai. Untuk pengukuran temperatur dengan radiometer jika dibandingkan dengan radiosonde, korelasi data semakin kecil di lapisan atas, sebaliknya jika untuk pengukuran kelembapan relatif, korelasi data di lapisan atas lebih tinggi daripada korelasi data di lapisan bawah. Sedangkan jika dibandingkan pada satu waktu antara radiometer dan radiosonde menunjukkan kecocokan untuk kedua data, meskipun kecocokan data kelembapan relatif lebih kecil dibandingkan data temperatur.  AbstractNational Laboratory for Weather Modification (BB-TMC) BPPT has colaborated with Meteorological Climatology and Geophysic Agency (BMKG) in conducting Intensive Observation Period (IOP) during the peak of rainy season in Jabodetabek area on January 18th- February 16th 2016. One of the tools used in the observation is Radiometer and Radiosonde. This study will focus on comparison result between Radiometer and Radiosonde measurement during IOP especially for temperature and relative humidity parameters. The result in a particular layer of profile atmosphere indicates that the data  tends to deviate away. The temperature difference measured using radiometer and radiosonde in the upper layer shows smaller value than that in the lower layer.  In contrast,  the correlation for relative humidity data in the upper layers is higher than in the lower layers. Meanwhile when compared at one time indicate a good match for both data, although the data matches of  the relative humidity are lower than the temperature data.  
ANALISIS KEMUNCULAN AWAN HUJAN BERDASARKAN JENISNYA UNTUK MENDUKUNG KEGIATAN MODIFIKASI CUACA Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 16, No 2 (2015): December 2015
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.149 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v16i2.1050

Abstract

Untuk memenuhi kebutuhan cadangan air di tiga danau yang ada di DAS Larona, telah beberapa kali dilakukan penyemaian awan dengan menggunakan Teknologi Hujan Buatan. Teknologi yang selama ini dilakukan adalah penyemaian awan dari udara dengan menggunakan pesawat terbang sebagai sarana penghantar bahan semainya. Namun akhir-akhir ini di Balai Teknologi Modifikasi Cuaca, BPPT telah mulai dikembangkan teknologi penyemaian awan dari darat yang menggunakan menara. Penempatan menara ini perlu mempertimbangkan unsur meteorologi agar bahan semai secara efektif dapat masuk ke dalam awan yang potensial menghasilkan hujan. Dari data satelit dan penakar hujan didapatkan gambaran secara umum sebaran awan hujan. Dengan melakukan analisis reflektifitas radar diperoleh sebaran awan hujan berdasarkan jenis awan hujannya. Dengan metoda ini diketahui bahwa awan-awan hujan yang muncul di Matano, Timampu dan Tokalimbo kebanyakan awan hujan jenis shallow convective. Awan hujan shallow convective dan convective pada bulan Januari-Maret lebih banyak tumbuh di bagian Utara dan Timur DAS. Di bagian tengah DAS, kemunculan awan hujan lebih sedikit.Kata Kunci: radar, awan hujan, sorowako, modifikasi cuacaCloud seeding project has been carried out in Larona watershed to enhanced the rainfall in this area. Until now the cloud seeding technology has been done by delivering the seeding material directly to the cloud by aircraft. But recently, the National Laboratory of Weather Modification Technology of Indonesia is developing a new method of ground based seeding by building some towers for delivering the seeding agent to the cloud. Location of the tower should consider elements of Meteorology in order for the seeding materials can effectively enter into cloud which potentially produce rain. By doing an analysis of the radar reflectivity obtained the distribution of clouds based on the type of precipitation cloud. With this method it is known that rain clouds that appeared in Matano, Timampu and Tokalimbo are mostly shallow convective clouds. In January-March, shallow convective clouds and convective grew more in the North and East of the Larona watershed. In the central part of the watershed, there is less precipitating clouds appear.Keywords: radar, rain cloud, sorowako, weather modification
KARAKTERISTIK KETINGGIAN DASAR AWAN YANG DIUKUR DENGAN SENSOR INFRA MERAH RADIOMETER PADA PUNCAK MUSIM HUJAN DI JABODETABEK. Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 20, No 1 (2019): June 2019
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.547 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v20i1.4045

Abstract

IntisariInformasi mengenai tinggi dasar awan penting bagi penelitian atmosfer dan juga sebagai masukan bagi pemodelan cuaca. Pada kegiatan modifikasi cuaca, informasi ini juga sangat penting dalam menentukan awan yang akan disemai. Dalam tulisan ini, pengukuran tinggi dasar awan dilakukan dengan menggunakan sensor infra merah yang terpasang pada radiometer. Sensor infra merah ini akan mengukur suhu dasar awan yang kemudian dapat diketahui ketinggiannya dengan melihat temperatur lapse rate. Hasil pengukuran dibandingkan dengan hasil pengamatan awan oleh micro rain radar yang terletak di lokasi yang sama. Hasil pengukuran dari kedua peralatan ini menunjukkan kesesuaian antara kemunculan awan pada micro rain radar yang ditunjukkan dengan struktur vertikal awan dengan hasil pengamatan dengan IRT dari radiometer. Pengamatan selama puncak musim hujan di Jabodetabek (Januari ? Maret 2019) menunjukan adanya pola harian yang cukup jelas. AbstractInformation on cloud properties is important for atmospheric research and as well as for weather modeling. In weather modification, this information is very important for cloud seeding strategy. The observation of cloud base height is carried out using infrared sensors mounted on a radiometer. These infrared thermometer sensors are capable of detecting the cloud base temperature, the cloud base height is obtained by looking at the temperature lapse rate retrieved from radiometer observation. The results were compared with the cloud observation by micro rain radar which is located at the same location. The comparison results of these two instruments show that the consistency of cloud detection was good. Based on the observation during the peak of the rainy season in Jabodetabek (January-March 2019), it is shown a fairly clear daily pattern
PENGARUH ENSO TERHADAP POLA ANGIN DAN CURAH HUJAN DI DAS LARONA, SULAWESI SELATAN Renggono, Findy
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 12, No 2 (2011): December 2011
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1587.378 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v12i2.2192

Abstract

Ketersediaan air di danau-danau yang berada di DAS Larona sangat penting karenaair yang mengalir keluar dari danau digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkitlistrik. Kajian pola cuaca dan iklim di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk mengetahuiwaktu yang tepat dalam melakukan tindakan antisipasi kekurangan air, termasuk mengadakan kegiatan teknologi modifikasi cuaca untuk menambah curah hujan. Hasilanalisis dengan data angin permukaan NCEP menunjukkan bahwa pola pergerakanangin di wilayah ini dipengaruhi oleh kondisi ENSO. Pada saat El Nino Angin Timuranbertambah kuat, dan angin dari selatan melemah. Curah hujan pada saat El Nino dapatberkurang sampai 22% dari normalnya, namun pada saat La Nina dapat bertambahsebesar 50%.Water availability in Larona watershed is very important as it is used to drive turbinesof Hydro electric power. Study of weather and climate patterns is needed to anticipatedwater shortages, as well as to conduct the weather modification technology for rainenhancement. NCEP surface wind data analysis indicate that the pattern of windmovement in the region is affected by ENSO. During El Nino, easterly wind is gettingstronger, and the southerly wind is weaker. during El Nino rainfall reduced to 22% ofnormal, but during La Nina it increased by 50%.
APLIKASI TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA UNTUK MENINGKATKAN CURAH HUJAN DI DAS CITARUM - JAWA BARAT 12 MARET S.D. 10 APRIL 2001 Arifian, Jon; Kudsy, Mahally; Goenawan, R Djoko; Yahya, Rino Bahtiar; Renggono, Findy; Karmini, Mimin; Nugroho, Sutopo Purwo; Tikno, Sunu; Nuryanto, Satyo; Sitorus, Baginda Patar; Bahri, Samsul; Widodo, Florentinus Heru
Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca Vol 2, No 1 (2001): June 2001
Publisher : BPPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.864 KB) | DOI: 10.29122/jstmc.v2i1.2141

Abstract

Teknologi modifikasi cuaca sudah sering diaplikasikan di Indonesia terutama untukmeningkatkan jumlah curah hujan. Teknologi modifikasi cuaca diterapkan bila terjadiindikasi penurunan jumlah curah hujan dan kemungkinan akan munculnya fenomena ElNiño sebagai tindakan preventif. Aplikasi teknologi modifikasi cuaca yang dilaksanakan diDAS Citarum, Jawa Barat mulai tanggal 12 Maret s.d. 10 April 2001 adalah berdasarkan kenyataan bahwa inflow DAS Citarum menurun dengan drastis pada bulan Desember 2000 dan sebagai tindakan preventif akan munculnya fenomena El Niño pada akhir tahun 2001 atau 2002. Pada awal tahun 2001, tiga kaskade waduk di DAS Citarum mengalami defisit cadangan air sebanyak 486,36 juta m . Waduk Ir. Juanda yang merupakan waduk multi fungsi harus menyediakan pasokan air untuk: irigasi teknis pada lahan sawah seluas 296.000 ha (2 kali tanam), yang memberikan kontribusi sebesar ± 40 % ke Jabar atau setara dengan ± 10 % Nasional; air baku permukiman dan industri; serta penyediaan tenaga listrik (± 4,5 milyar kWh). Data akhir setelah dilaksanakan penerapan teknologi modifikasi cuaca dengan menggunakan konsep sistim dan lingkungan adalah nilai rata-rata aliran total Citarum sebesar 326,81 m /det dan volume total aliran Citarum sejak mulai kegiatan hingga tanggal 10 April 2001 adalah sebesar 847,1 juta m3.Weather modification technology has been applied in Indonesia especially to enhancerainfall. Weather modification technology has been employed whenever there has beenan indication of rainfall shortage and the possibility of El Niño occurrence asprecautionary action. Weather modification technology that was applied in Citarumcatchment area ? West Java on 12 March ? 10 April 2001 was based on the fact thatCitarum inflow decreased drastically in December 2000 and also as a preventiveendeavor to the possibility of warm episode in 2001/2002. In the early of 2001, threecascade dams had water storage deficit as much as 486.36 million m3. Ir. Juanda dam,which has multi purposes, has to supply water for: technical irrigation for 296,000 ha ofrice field (2 planting seasons) that contributes ± 40 % to West Java or about ± 10 % ofnational production; fresh water for community and industry; as well as electricity of about 4.5 billion kWh. After the application of weather modification technology by employing system and environment concept, it was recorded that the average inflow of Citarum catchment area was 326.81 m /sec and total volume during the activity was 847.1million m3.
PENGAMATAN KONDISI CUACA PENYEBAB BENCANA BANJIR KASUS KEJADIAN BANJIR DI TOL CIKAMPEK 14 FEBRUARI 2016 Renggono, Findy
Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.286 KB) | DOI: 10.29122/jstmb.v12i1.3695

Abstract

Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya padatanggal 14 Februari 2016 menimbulkan banyak genangan yang cukup tinggi di beberapa lokasi. Beberapa jalan utama, terutama jalan tol Cikampek,terendam banjir sehingga akses transportasi terputus dan beberapa wilayahpermukiman penduduk juga kebanjiran yang memaksa penghuninya untukmengungsi. Model prediksi cuaca numerik yg dijalankan pada pagi hari maupun pengamatan cuaca lainnya tidak dapat mendeteksi kejadian hujanderas pada siang hari yang merata di seluruh wilayah Jakarta. Hasil pengamatan dengan radar dan peralatan lain menunjukkan awan baru mulai tumbuh sekitar 1-2 jam sebelum hujan terjadi. Pengamatan intensif yangsedang dilakukan oleh BPPT dan BMKG berhasil menangkap kejadianhujan yang terjadi. Pertumbuhan dan pergerakan awan hujan, termasuksebaran hujan yang terjadi dapat diketahui dari radar. Sedangkan hasil pengamatan yang dilakukan di Bogor, yaitu peluncuran radiosonde,radiometer dan AWS dapat memantau perubahan cuaca secara detil. Hasilanalisis awal dari pengamatan ini dapat digunakan untuk meningkatkankualitas prediksi cuaca dalam sistem peringatan dini kebencanaan.