Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN WANITA PEKERJA SEKS (WPS) TENTANG PENYAKIT MENULAR SEKSUAL (PMS) DI PROSTITUSI SEER KABUPATEN KARAWANG Vivi Dwi Putri
Jurnal Kesehatan Abdurrahman Vol 9 No 1 (2020): Jurnal Kesehatan Abdurrahman
Publisher : STIKES Abdurrahman. Pusat Informasi dan Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.974 KB) | DOI: 10.55045/jkab.v9i1.105

Abstract

According to WHO estimates in 2008, 499 million new cases of curable STI (syphilis, gonorrhea, chlamydia and trikomoniasis) takes place every year around the world in adults aged 15-49 years. These figures do not include extra health burden caused by HIV and other viruses such as HSV IMS. The design that was used in the preparation of analytical research methods is by using a Cross-sectional approach in simple random sampling, with the number of respondents to be 65. The research and discussion of the 65 respondents, a total of 20 respondents (30.8%) good knowledge level and 45 respondents (69,2%) level of knowledge. Of the 5 variables are examined, there is one variable that meaningful socio-economic value of the obtained p = 0.05 (≤0.05), and 4 other variables was not meaningfully. There is a meaningful relationship between the socioeconomic level of knowledge of women sex workers (WPS) against sexually transmitted diseases (STDS), whereas other characteristics such as age, experience, the status of residence and source of information on the absence of a meaningful relationship with the level of knowledge of female sex workers (WPS) against sexually transmitted diseases. Therefore this research as a basis to improve the quality of service type to the community in order to be able to empower communities especially the society became a target in the health establishments. Menurut 2008 WHO memperkirakan, 499 juta kasus baru IMS dapat disembuhkan (sifilis, gonore, klamidia dan trikomoniasis) terjadi setiap tahun di seluruh dunia pada orang dewasa berusia 15-49 tahun. Angka-angka ini tidak termasuk beban kesehatan tambahan yang disebabkan oleh HIV dan IMS virus lainnya seperti HSV. Desain yang digunakan dalam penyusunan ini adalah metode penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional secara simple random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 65. Hasil penelitian dan pembahasan dari 65 responden, sebanyak 20 responden (30,8%) tingkat pengetahuan baik dan 45 responden (69,2%) tingkat pengetahuan kurang baik. Dari 5 variabel yang diteliti, terdapat satu variable yang bermakna yaitu sosial ekonomi diperoleh nilai p = 0,05 (≤0,05), dan 4 variabel lainnya tidak bermakna.Terdapat hubungan yang bermakna antara sosial ekonomi dengan tingkat pengetahuan wanita pekerja seks (WPS) terhadap penyakit menular seksual (PMS), sedangkan karakteristik lainnya seperti umur, pengalaman, status tempat tinggal dan sumber informasi tidak adanya hubungan yang bermakna dengan tingkat pengetahuan wanita pekerja seks (WPS) terhadap penyakit menular seksual. Untuk itu penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukkan untuk meningkatkan kualitas pelayanannya terhadap masyarakat agar lebih bisa memberdayakan masyarakat terutama masyrakat yang menjadi binaan di instansi kesehatan tersebut
PENGARUH PIJAT OKETANI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU POSTPARTUM Tiara Fatrin; Vivi Dwi Putri
Jurnal Kesehatan Abdurrahman Vol 10 No 2 (2021): Jurnal Kesehatan Abdurrahman
Publisher : STIKES Abdurrahman. Pusat Informasi dan Manajemen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.871 KB) | DOI: 10.55045/jkab.v10i2.129

Abstract

Pada masa nifas sering kali ibu mengalami produksi ASI yang kurang, produksi ASI dapat ditingkatkan dengan melakukan perawatan payudara. Salah satu perawatan payudara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pijat oketani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pijat oketani terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu postpartum. Dengan menggunakan metode studi literatur maka dilakukan analisis terhadap hasil penelusuran jurnal (e-journal) dan artikel dengan tinjauan teori yang ada (e-book) jurnal yang telah di review yaitu sebanyak 6 jurnal 5 dari nasional 1 dari internasional. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pijat oketani merupakan salah satu cara untuk menstimulasi otot pektoralis payudara yang menjadikan payudara elastis dan lentur sehingga produksi ASI menjadi lebih banyak. Pijat oketani paling efektif dilakukan 2-5 kali perhari dengan intensitas pijat oketani secara rutin selama 3 hari karena pada tiga hari pertama postpartum ASI belum keluar disebabkan kurangnya rangsangan hormon prolactin dan oksitosin. pijat oketani lebih efektif meningkatkan produksi ASI jika dibandingkan dengan pijat marmet dan pijat oksitosin dilihat dari rata ASI yang diperoleh paling banyak ialah hasil dari pijat oketani. Hasil penelitian ini merekomendasikan pijat oketani sebagai salah satu cara untuk meningkat produksi ASI.
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Terhadap Pertumbuhan Panjang Badan dan Lingkar Kepala Bayi Usia 6-9 Bulan di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Ariodillah Palembang Tahun 2020 Melia Rahma; Vivi Dwi Putri; Shinta Puspitasari
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 6 No. 1 (2021): Cendekia Medika
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.057 KB) | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v6i1.79

Abstract

Berdasarkan data WHO pada tahun 2016 hampir 10.000.000 anak-anak meninggal sebelum usia 5 tahun dan lebih dari 200 juta anak tidak mencapai potensi perkembangan secara optimal.Rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan dapat disebabkan masih kurang pemahaman masyarakat bahwa pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemberian ASI Eksklusif terhadap pertumbuhan panjang badan dan lingkar kepala bayi usia 6-9 bulan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan sampel 36 responden usia bayi 6-9 bulan. Pengumpulan data dengan lembar check list dan lembar kuisioner dengan hasil uji statistik menggunakan chi square. Hasil analisis univariat di dapatkan dari 36 responden, bayi yang mendapatkan ASI sebanyak 26 bayi (72,2%) lebih besar dari yang tidak diberikan ASI (Non ASI) yaitu 10 bayi (27,8%). untuk panjang badan bayi yang normal yaitu 32 bayi (88,9%), lebih besar dari yang tidak normal yaitu 4 bayi (11,1%) lalu untuk lingkar kepala yang normal yaitu 33 bayi (91,7%), lebih besar dari yang tidak normal yaitu 3 bayi (8,3%). Hasil analisis bivariat Ada hubungan yang bermakna antara pemberian ASI Eksklusif terhadap pertumbuhan panjang badan bayi usia 6-9 bulan, berdasarkan hasil Chi-Square nilai ρ value = 0,025 yang lebih kecil dari α = 0,05. dan tidak ada hubungan yang bermakna antara pemberian ASI Eksklusif terhadap lingkar kepala bayi usia 6-9 bulan berdasrakan hasil dari Chi-Square nilaiρ value = 0,822 yang lebih besr dari α = 0,05.
FAKTOR RISIKO GANGGUAN PSIKOLOGIS PADA IBU POSTPARTUM DI RSUD KOTA BEKASI vivi dwi putri
Masker Medika Vol 10 No 1 (2022): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Postpartum mood disorder is not a trivial issue. It has possibility to disrupt the life of the mother, family, baby and other children. Mother will have difficulty in caring and maintaining adequate emotional bond to the baby and other children. To study and analyze The Risk Factors of Psychological Disorders on Postpartum Mothers in Bekasi City Hospital at 2015. This research is an analytic research with cross sectional approach. Data collection was done on February 26, 2015. The population in this research are all mothers who gave birth in Bekasi City Hospital with a total sample of 155 mothers. Sample technique is accidental sampling. The results of research shows that psychological disorders on postpartum mothers relates with education factor (p value = 0.011), parity (p value = 0.011), giving birth types (p value = 0.007), social support (p value = 0.004), and not related, they are age factor (p value = 0.068) and work status (p value = 0.125). And the most dominant factor is social support with OR score = 3.782. It is expected that hospitals can giving directions to health workers replace the roles of a husband and family the mothers postpartum that is less social the provision of support of them.
Hubungan Berat Badan Lahir Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Usia 2-5 Tahun Vivi Dwi Putri; Ayu Tiara Levia
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 7 No. 2 (2022): Cendekia Medika : Jurnal STIKes Al-Ma'arif Baturaja
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v7i2.192

Abstract

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, prevalensi stunting  di seluruh dunia sebesar 22% atau sebanyak 149,2  juta, sumatera selatan tercatat 31,7% sementara secara nasional sebnyak 20,8%. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan berat badan lahir terhadap kejadian stunting pada anak balita. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak balita usia 2-5 tahun yang berjumlah 77 responden. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 77 responden yang diambil menggunakan data sekunder. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis bahwa dari responden yang mempunyai berat badan lahir rendah dan mengalami kejadian stunting berjumlah 68,9% dan responden yang mempunyai berat badan lahir rendah dan tidak mengalami stunting (normal) berjumlah 31.1%, sedangkan responden yang mempunyai berat badan lahir normal dan mengalami kejadian stunting  berjumlah 37.5% dan responden yang memiliki berat badan lahir normal dan dengan kondisi normal berjumlah  62.5%. Hasil uji statistic chisquare, berdasarkan analisis chi square menunjukan anak BBLR memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian stunting (pvalue≤0.012) dengan kata lain anak yang lahir dengan BBLR berpeluang lebih besar untuk mengalami stunting dari pada anak yang memiliki berat badan lahir normal. Kesimpulanya adalah ada hubungan antara berat badan lahir terhadap kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun.
Penyuluhan Keluarga Berencana (KB) di PMB Lismarini Kec. Talang Kelapa Vivi Dwi Putri
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 4 No 4 (2022): Jurnal Peduli Masyarakat: Desember 2022
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v4i4.1369

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan peningkatan jumlah penduduk yang signifikan setiap tahunnya. Masalah utama yang dihadapi di Indonesia dibidang kependudukan adalah masih tingginya angka pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Salah satu upaya pemerintah dalam mengendalikan jumlah penduduk adalah melalui Program KB. Program KB sudah berjalan lama, namun masih banyak calon akseptor mengalami kesulitan di dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini agar masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan tentang alat kontrasepsi sebagai proteksi pencegahan kehamilan. Kegiatan ini telah dilaksankan pada hari Sabtu tanggal 5 November 2022. Adapun kegiatan yang dilakukan berupa penyuluhan kepada masyarakat khususnya untuk ibu-ibu yang menjadi pasien di wilayah kerja PMB Lismarini tentang pemilihan alat kontrasepsi KB. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode ceramah dan aplikasi Leaflet. Hasil pengabdian masyarakat ini diterima antusias oleh peserta yang terlihat dari banyaknya ibu-ibu yang bertanya seputar informasi alat kontrasepesi, prosedur pemasangan, kontra indikasi, keuntungan dan kerugian dari penggunaan alat kontasepsi. Disarankan agar kegiatan penyuluhan dalam peningkatan pengetahuan tentang alat kontrasepsi KB dapat dilakukan secara berkala dengan frekuensi yang lebih sering dan jangkauan penyebaran informasinya juga dapat diperluas kepada keluarga secara umum agar setiap orang, keluarga dan masyarakat lebih mengetahui, memahami tentang alat kontrasepsi sebagai proteksi pencegahan kehamilan.
Edukasi Pemakaian APD (Alat Pelindung Diri) pada Pekerja Apriyanti Aini; Vivi Dwi Putri; Popy Apriyanti
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v5i1.1636

Abstract

Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang dipakai oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh tubuhnya terhadap adanya potensi bahaya kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja pada tempat lingkungan kerja. Banyak para pekerja menganggap tidak penting pemakaian APD, terutama pada pekerja pengangkut getah karet karena mereka merasa sudah terbiasa dan merasa nyaman bekerja tidak memakai APD (Paletean et al., 2020). Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menimbulkan kesadaran pentingnya pemakaian APD dengan benar. Pelaksaanaan kegiatan yang dilakukan dengan metode ceramah dan tanya jawab. Kegiatan ini dilaksanakan 02 Maret 2023 dengan responden sebanyak 15 pekerja di PT Hok Tong Keramasan. Kegiatan ini diawali dengan pretest didapatkan nilai rata-rata sebesar 50 poin, setelah itu dilakukan edukasi tentang penggunaan APD dan selanjutnya dilakukan dengan posttest nilai rata – rata adalah 90 poin. Terdapat peningkatan pengetahuan pekerja dalam penggunaan APD dengan nilai rata-rata peningkatan sebesar 40 poin. Dengan dilakukannya edukasi dalam pemakaian APD diharapkan pekerja dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dalam pemakaian APD saat bekerja.
Perbandingan antara Permen Jahe dan Permen Mint dalam Mengatasi Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil Trimester I Sagita Darma Sari; Vivi Dwi Putri
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 13 No 3 (2023): Jurnal Ilmiah Permas: jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v13i3.1021

Abstract

Emesis gravidarum merupakan keluhan umum yang disampaikan kehamilan muda. Kehamilan menimbulkan perubahan hormonal pada wanita karena terdapat peningkatan hormon estrogen, progesteron dan dikeluarkan hormon gonodotropine plasenta. Perubahan hormon-hormon inilah yang menyebabkan timbulnya gejala pusing dan mual muntah terutama pada kehamilan trimester pertama. Jahe dan daun mint dapat mengurangi mual muntah karena mengandung minyak atrisi yang memblokir reflek muntah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan frekuensi mual muntah pada ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan permen jahe dan permen mint. Metode penelitian ini adalah Quasi Experimental. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 20 orang ibu hamil yang mengalami emesis gravidarum yang berada di BPM Ferawati Palembang pada tahun 2021. Sebelum dibarikan perlakuan, ibu hamil diberikan kuesioner untuk mengetahui frekuensi mual muntah sebelum setelah itu masing – masing kelompok diberikan perlakuan selama 7 hari kemudian diukur kembali frekuensi mual muntah setiap responden. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji indepent t-test untuk mengetahui rerata frekuensi mual muntah sebelum dan setelah dilakukan perlakuan. Hasil penelitian menunjukan nilai p value 0,000 < α 0,05, artinya ada perbedaan rata-rata frekuensi mual muntah antara kelompok permen jahe dan permen mint. Dengan mean rank (1,40) pada kelompok permen jahe dan (2,50) pada kelompok permen mint. Dengan demikian kelompok pemberian permen jahe lebih efektif dibandingkan dengan pemberian permen mint.
Analisis Pengaruh Waktu Pengeluaran Kolostrum Terhadap Kejadian Ikterus Fisiologis Pada Bayi Baru Lahir Marchatus Soleha; Vivi Dwi Putri; Vika Tri Zelharsandy
Lentera Perawat Vol. 4 No. 2 (2023): Lentera Perawat
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/lp.v4i2.225

Abstract

Dari masalah yang sering timbul pada bayi baru lahir adalah ikterus fisiologis bayi yang tidak menyusu atau tidak diberi ASI akan mengalami dehidrasi. Kolostrum merupakan cairan susu yang pertama kali berwarna keemasan, kental dan lengket yang disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama, hari ketiga atau hari keempat dan dihasilkan dalam 24-36 jam pertama setelah melahirkan oleh karena itu kolostrum sendiri mengandung protein yang tinggi, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI matur. Banyak sekali ibu-ibu yang tidak memberikan kolostrum kepada bayinya karena faktor kurangnya petugas kesehatan didaerah-daerah terpencil, perubahan sosial-budaya, pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian kolostrum, faktor ASI yang belum keluar dan payudara ibu yang kecil sehingga tidak menghasilkan kolostrum yang cukup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh waktu pengeluaran kolostrum terhadap kejadian ikterus fisiologis pada bayi baru lahir. Dengan menggunakan metode studi literatur maka dilakukan analisis terhadap hasil penelusuran 12 jurnal dan artikel dengan tinjauan teori (e-book). Penelitian ini mengungkapkan bahwa waktu pemberian kolostrum yang paling efektif yaitu 1-24 jam pertama, kejadian ikterus fisiologis yang sering timbul pada 2-3 hari kelahiran, dan waktu pemberian kolostrum yang tepat sangat berpengaruh terhadap bayi baru lahir
Efektivitas Pemberian Tablet Fe Ditambah Buah Pepaya (Carica Pepaya L.) Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Remaja Putri Anemia Vivi Dwi Putri Putri; Apriyanti Aini; Marchatus Soleha
Cendekia Medika: Jurnal Stikes Al-Ma`arif Baturaja Vol. 8 No. 2 (2023): Cendekia Medika : Jurnal STIKes Al-Ma'arif Baturaja
Publisher : LPPM STIKES Al-Ma'arif Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52235/cendekiamedika.v8i2.242

Abstract

Berdasarkan data hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, prevalensi angka kejadian anemia di Indonesia sebanyak 48,9%, dengam rentang usia 15 - 24 tahun. Salah satu penyebab anemia pada remaja putri adalah karena kekurangan zat besi dalam tubuh dan menstruasi. Salah satu upaya untuk meningkatkan penyerapan zat besi didalam tubuh yaitu dengan dengan mengkomsumsi tablet Fe dan buah papaya, hal tersebut karena vitamin C dalam buah papaya bisa membantu mempecepat penyerapan zat besi dalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Efektivitas Pemberian Tablet Fe ditambah Buah Pepaya (Carica Pepaya L.) Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Remaja Putri Anemia. Metode penelitian ini menggunakan teknik  Quasy Eksperiment dengan pendekatan non-equivalent control-group, serta pengambilan sample menggunakan purposive sampling. Hasil uji t-test dengan taraf signifikansi α = 0,05 didapatkan ( p value = 0,003) pada kelompok eksperimen dan (p value = 0,008) pada kelompok kontrol dengan nilai rata-rata terjadi peningkatan kadar hemoglobin pada kelompok eksperimen sebanyak 0,750 gr/dl sedangkan rata-rata peningkatan kadar hemoglobin pada kelompok kontrol 0.714 gr/dl  dengan selisih 0.61 gr/dl sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima,  artinya ada efektivitas pemberian tablet Fe ditambah buah papaya terhadap peningkatan kadar hemoglobin remaja putri anemia di STIKES Abdurahman Palembang