Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia

Kuat Geser Tanah Gambut Berserat di Kabupaten Ogan Ilir Hartini Hartini; Yulindasari Sutejo; Febrian Hadinata
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.093 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i9.9325

Abstract

The peat soil used in this research is fibrous peat soil. The block sampling method was carried out to obtain undisturbed soil samples. The sample locations are from Tanjung Pule Village and Bakung Village, Ogan Ilir Regency. The property index and classification tests include: water content (w), specific gravity (Gs), acidity (pH), ash content (AC), organic content (OC), and fiber content (FC). The parameters of the peat soil shear strength were obtained from the Triaxial UU and Vane Shear tests. Test results in Bakung Village: 693.14 %, Gs = 1.79, pH = 3.01, e = 9.95, b = 12.74 kN/m3, d = 1.61 kN/ m3 OC = 96.60%, AC = 3.3%, and FC = 27.14 %. Test results in Tanjung Pule Village: = 714,77 %, Gs = 1,72, pH = 4,14, e = 13,06, gb = 9,78 kN/m3, gd = 1,11kN/m3, OC = 93.00 %, AC = 7 %, and FC = 36.35 %. Fiber content (FC) in Bakung and Tanjung Pule villages is > 20 %, so it is classified as fibrous peat soil. Triaxial test results obtained shear strength values ​​t =10.72 kPa (Bakung Village) and t =11.62 kPa (Tanjung Pule Village). While the results of the Vane Shear test in Bakung Village, Su = 11.39 kPa and Tanjung Pule Village, Su = 14.31 kPa. Keywords: Peat Soil, Shear Strength, Triaxial, Vane Shear
Metode Penanganan MUD Pumping Pada Jalan Rel Wilayah UPT Resor Jalan Rel III.3 Payakabung Sugita, Ageng Trisno; Sutejo, Yulindasari; Kadarsa, Edi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.738 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i11.11684

Abstract

Mud pumping adalah salah satu alasan penurunan efisiensi kereta api. Berkurangnya fungsi lapisan balas sebagai filter tanah dasar dapat menyebabkan proses pemompaan lumpur jika air tidak dialirkan dengan baik sehingga menyebabkan ketidakstabilan struktur rel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan metode perawatan yang efektif untuk menangani jalan rel kereta api lokal yang terindikasi mud pumping, yaitu melalui pemasangan geotekstil woven dan penggantian material sub balas. Pengamatan dilakukan di UPT Resor Jalan Rel III.3 Payakabung pada km 371.000/100 hilir dan km 375.400/500 hulu. Berdasarkan klasifikasi tanah, tanah di dua tempat tersebut tergolong pasir bergradasi buruk/SP. Substrat di lokasi A memiliki Gs = 1,82 kg/cm3, ϕ = 12,71° dan Phi = 0,29 kg/cm2, sedangkan di lokasi B memiliki Gs = 2,33 kg/cm3, ϕ = 17, 43° dan Phi = 0,5 kg/ cm2. Hasil uji lapisan balas menunjukkan batu berukuran 25-60 mm sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 60 Tahun 2012 tentang persyaratan teknis jalur kereta api, dengan berat jenis 2.688 gr/cm3. Berdasarkan klasifikasi tanah, tanah di dua tempat tersebut tergolong pasir bergradasi buruk/SP. Pemasangan geotekstil dan penggantian sebagian balas meningkatkan nilai safety factor. Hasil yang diperoleh dari analisis Slope/W adalah ketebalan bagian lapisan balas optimal yang memenuhi persyaratan safety factor adalah 15 cm. Hasil implementasi lapangan menunjukkan bahwa penggantian sub balas dan pemasangan geotekstil woven dapat mengembalikan fungsi penyaringan dan drainase struktur bawah jalan rel, sehingga untuk mengatasi kerusakan akibat mud pumping pada jalan rel metode ini memiliki kinerja yang efektif.
Evaluasi Penyebab Longsor Lereng Jalan di Kabupaten Lahat Hiraliyamaesa H, R Dewo; Iqbal, Maulid M.; Sutejo, Yulindasari
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i9.14674

Abstract

Fenomena alam lanjutan berupa tanah longsor dan banjir di sebagian besar wilayah Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan pada Januari 2020 disebabkan oleh hujan yang sangat deras. Istilah tanah longsor digambarkan sebagai hasil dari berbagai gerakan material lereng (ke luar dan ke dalam) termasuk batuan, tanah, tanaman, bahan buatan manusia, atau kombinasi dari keduanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor penyebab kegagalan lereng di Kabupaten Lahat. Serta menganalisis stabilitas lereng dari nilai safety factor (FK) menggunakan program Slope/W. Lokasi penelitian adalah Desa Muara Siban STA 222+850 dan Desa Kuba STA 227+700. Hasil analisis dari program Slope/W di lokasi 1 Desa Muara Siban, nilai Faktor Keamanan Awal (FK) dengan metode Bishop adalah 1,640. Sedangkan setelah rembesan terjadi, nilai FK menjadi 1.199. Nilai FK awal dengan metode Bishop di lokasi 2 Desa Kuba adalah 1,718 dan setelah rembesan FK adalah 1,158. Semua nilai FK berdasarkan hasil program Slope/W menunjukkan penurunan setelah rembesan terjadi pada rentang nilai 1,033-1,199. Hasil analisis program Slope/W dari penelitian ini menjelaskan bahwa telah terjadi longsor dan lereng dalam kondisi kritis (1,07-1,25). Jadi, hasil penelitian ini sebagai berikut: penyebab longsor terjadi karena dua hal, yaitu adanya aliran rembesan pada tubuh menuju kaki lereng dan karena drainase jalan yang buruk.
Pengaruh Stabilisasi Tanah Gambut Menggunakan Fly Ash Bottom Ash Ditinjau dari Nilai California Bearing Ratio (CBR) Khaidarius, Angga; Sutejo, Yulindasari; Hadinata, Febrian
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i8.17073

Abstract

Tanah gambut merupakan salah satu tanah bermasalah yang memiliki kompresibilitas dan kandungan air yang sangat tinggi. Tanah gambut juga memiliki kapasitas daya dukung tanah yang rendah sehingga diperlukan teknik perbaikan. Pada penelitian ini menggunakan bahan campuran Fly Ash, Bottom Ash, dan Fly Ash+Bottom Ash. Penggunaan fly ash dan bottom ash sebagai bahan campuran karena bahan ini memiliki butiran yang halus, berwarna keabu- abuan dan diperoleh dari hasil pembakaran batu bara dengan kandungan unsur kimia antara lain silika (SiO2), alumina (Al2O3), Fero oksida (Fe2O3) dan kalsium oksida (CaO) serta memiliki kandungan unsur-unsur lainnya. Penelitian ini menggunakan variasi kadar fly ash dan bottom ash yaitu 0%, 10%, 15%, 20%, 25%. Lokasi pengambilan sampel tanah gambut diambil di Desa Parit Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Pengujian laboratorium meliputi pengujian soil properties dan California Bearing Ratio (CBR) Unsoaked.Hasil soil properties (lokasi 1) yaitu: Kadar air (w) 550 ,64%, Kadar Organik (OC) 49,54%, Kadar Abu (AC) 50,46%, Kadar Serat (FC) 42,03%, Berat Jenis (Gs) 1,754 gr/cm3, dan Nilai pH 3. Hasil Pengujian CBR tanah gambut asli sebesar 4.73 % (Lokasi 1) dan 4.55% (Lokasi 2). Nilai CBR Unsoaked Tanah Gambut + fly ash yaitu 3,99%; 4,94%; 7,30%; 9,86%; 12,16%; 15,97%. Tanah Gambut + bottom ash yaitu 3,99%; 4,44%; 6,66%; 8,32%; 10,57%; 13,86%. Tanah Gambut + fly ash + bottom ash yaitu 3,99%; 5,43%; 7,84%; 10,03%; 12,95%; 18,72%.
Karakteristik Pemilihan Lahan Potensial Untuk Pembangunan Perumahan Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Hidayat, Syarif; Susanti, Betty; Sutejo, Yulindasari
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v10i6.59529

Abstract

Rumah merupakan kebutuhan primer yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Namun, terbatasnya lahan dan naiknya harga tanah menjadi tantangan besar, terutama bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Di Kota Palembang, pemerintah mengupayakan program perumahan subsidi sebagai solusi. Keberhasilan program ini memerlukan kontribusi aktif pengembang, khususnya dalam pemilihan lokasi lahan yang strategis dan layak. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model pemilihan lahan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dari perspektif pengembang. Sebanyak 35 responden dari 50 developer anggota REI Sumatera Selatan menjadi sampel, dihitung berdasarkan rumus Slovin dengan margin error 10%. Data dianalisis untuk menentukan bobot kriteria dan subkriteria pemilihan lahan. Hasil menunjukkan bahwa kriteria paling berpengaruh adalah RTRW dan legalitas (0,364), diikuti harga (0,247), aksesibilitas (0,238), kondisi lahan (0,077), dan infrastruktur (0,075). Subkriteria tertinggi meliputi sesuai RTRW dan SHM (0,324), harga < Rp150.000,- (0,208), dekat jalan utama (0,190), bebas bencana (0,061), dan akses transportasi umum (0,048). Temuan ini menekankan pentingnya legalitas dan keterjangkauan dalam menentukan lokasi lahan subsidi MBR yang layak huni, terjangkau, dan berkelanjutan secara ekonomi bagi pengembang.