Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

POTEHI IN NEW ORDERS RESTRAINT: THE LOST OF INHERITOR GENERATION OF CHINESE WAYANG CULTURE Hendra Kurniawan
International Journal of Humanity Studies (IJHS) Vol 1, No 1 (2017): September 2017
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/ijhs.v1i1.671

Abstract

This article aimed to describe the history of wayang potehi development in Indonesia especially during the New Order period that became a dark time for its development. This study used historical research methods including heuristic step or source searching, source critics, data interpretation, and historiography or historical writing. The results showed that wayang potehi began to develop in Indonesia as the coming of Chinese immigrants around the 17th century and experienced acculturation with local culture. Wayang potehi experienced dark times when emerged the discriminatory rule of the New Order government against all things related to Chinese culture. The restraint to freedom of expression and preservation of wayang potehi cut off the chain of inheritor generation.
PELATIHAN GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS) DI SMP PANGUDI LUHUR ST. VINCENTIUS SEDAYU BANTUL Sumini Theresia; Hendra Kurniawan
ABDIMAS ALTRUIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.309 KB) | DOI: 10.24071/aa.v3i1.2950

Abstract

Edukasi Sejarah Publik Melalui Media Sosial pada Era 4.0 bagi Siswa SMA di Yogyakarta Hendra Kurniawan; Christophorus Putro Damaringtyas; Lucius Pravasta Alver Leryan; Maria Nikkita Mega Melati; Agustinus Christian Nugraha; Nicholas Adven Christiyanto
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 14, No 1 (2023): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v14i1.5995

Abstract

Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi diperlukan edukasi dan pendampingan agar tidak terjadi kesesatan sejarah berupa pemanfaatan informasi yang tidak sesuai fakta sejarah, sarat hoax, dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu, program edukasi sejarah publik penting diberikan pada siswa SMA di Yogyakarta. Tujuannya mengenalkan sejarah publik dalam platform digital di media sosial dan membantu siswa dalam memanfaatkannya secara kritis, literat, dan bermakna dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Untuk menumbuhkan kreativitas siswa juga dikenalkan keterampilan membuat konten digital sejarah yang dapat dipublikasikan di media sosial Instagram. Hasilnya para siswa sangat antusias terlibat dalam program penyuluhan ini. Para siswa mengaku bertambah wawasan dan pengetahuannya seputar Sejarah Publik di media sosial yang diwujudkan dalam rencana tindak lanjut dengan dibentuknya Komunitas Digital Pendidikan Sejarah Publik dalam platform Instagram.
Public History of Chinese-Javanese Harmony in Yogyakarta for History Learning with Diversity Insights Kurniawan, Hendra; Supriatna, Nana; Mulyana, Agus; Yulifar, Leli
Paramita: Historical Studies Journal Vol 33, No 1 (2023): Social and Religious Aspect in History
Publisher : History Department, Semarang State University and Historian Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v33i1.35720

Abstract

History learning is often still dominated by mainstream material in textbooks. Local historical studies, such as Chinese-Javanese relations in Yogyakarta, have yet to be accommodated. For this reason, this study formulates the construction of history learning about Chinese-Javanese harmony in Yogyakarta in the context of utilizing public history. This qualitative research uses library methods to identify history learning sources about Chinese-Javanese relations in Yogyakarta. Furthermore, with the critical theory paradigm, the construction of history learning with the perspective of diversity regarding Chinese-Javanese harmony in Yogyakarta is formulated that can be applied in the classroom. As a result, it was found that the existence of the Chinatown area, inscriptions at the Yogyakarta Palace, kelenteng (temples), wayang Cina-Jawa or Wacinwa (Chinese-Javanese puppets), and local cuisine can be a source of learning the history of Chinese-Javanese harmony in Yogyakarta. These learning sources have the potential to be studied in the space of public history, so history learning can be constructed by encouraging students to produce public historical works in digital form through social media so that they can be widely enjoyed. Constructing history learning like this can contribute to building diverse discourses in society to strengthen national integration.Keywords: Chinese, Yogyakarta, public history, history learning, diversity.Pembelajaran sejarah kerap masih didominasi materi arus utama dalam buku teks. Kajian sejarah lokal seperti relasi Tionghoa-Jawa di Yogyakarta belum terakomodasi. Untuk itu, penelitian ini merumuskan konstruksi pembelajaran sejarah tentang keharmonisan Tionghoa-Jawa di Yogyakarta dalam konteks pemanfaatan sejarah publik. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode penelitian kepustakaan untuk mengindentifikasi sumber-sumber belajar sejarah tentang relasi Tionghoa-Jawa di Yogyakarta. Selanjutnya dengan paradigma teori kritis dirumuskan konstruksi pembelajaran sejarah berwawasan kebinekaan mengenai keharmonisan Tionghoa-Jawa di Yogyakarta yang dapat diterapkan di kelas. Hasilnya didapati bahwa keberadaan kawasan Pecinan, prasasti-prasasti di Keraton Yogyakarta, kelenteng, wayang Cina Jawa (Wacinwa), dan kuliner lokal dapat menjadi sumber belajar sejarah keharmonisan Tionghoa-Jawa di Yogyakarta. Sumber-sumber belajar tersebut berpotensi untuk dikaji dalam ruang sejarah publik, maka pembelajaran sejarah dapat dikonstruksi dengan mendorong siswa menghasilkan karya sejarah publik dalam bentuk digital melalui media sosial sehingga dapat dinikmati secara luas. Konstruksi pembelajaran sejarah seperti ini dapat berkontribusi membangun wacana kebinekaan di tengah masyarakat untuk menguatkan integrasi bangsa.Kata kunci: Tionghoa, Yogyakarta, sejarah publik, pembelajaran sejarah, kebinekaan.