Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Hubungan Tingkat Kekambuhan Pasien Skizofrenia Dengan Peran Kader Jiwa Di Masyarakat Ardika, Noviana Ayu; Margatot, Didik Iman; Drajad Pamukhti, Bagas Biyanzah
Zaitun : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 11, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/zijk.v11i2.2442

Abstract

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di Dunia. WHO 2021, orang dengan gangguan jiwa terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Mental Health berdasarkan hasil sensus penduduk Amerika Serikat tahun 2021 bahwa ada sebanyak 44,7 juta orang dewasa berusia 18 tahun atau lebih mengalami gangguan jiwa. Seseorang yang pernah mengalami gangguan skizofrenia akan kembali kambuh karena kondisi yang tidak terkontrol dan tidak meminum obat secara rutin Pemberdayaan masyarakat seperti kader kesehatan jiwa bermanfaat untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah serta mempertahankan kesehatan jiwa masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran kader kesehatan jiwa dengan kekambuhan skizofrenia. Metode menggunakan Literature Review yaitu dengan pencarian melalui database elektronik, Pubmed, Google Schoolar dan Elsevier. Kriteria inklusi yang digunakan adalah artikel pada tahun 2013-2023 dan menghasilkan 5 artikel penelitian yang signifikan. Hasil dari literature yang didapat ada hubungan antara peran kader kesehatan jiwa dengan menurunnya kekambuhan pasien gangguan jiwa, oleh sebab itu kader diharapkan lebih aktif dalam memotivasi pasien agar melakukan kunjungan ke puskesmas secara berkala dan tidak mengalami kekambuhan.
The Effectiveness of Diabetic Foot Care (DiFoCa) on the Foot Care Behavior of Diabetes Mellitus Patients : A Quasi-Experimental Study with a Control Group Imamah, Ida Nur; Dwi Prajayanti, Eska; Margatot, Didik Iman
Jurnal Berita Ilmu Keperawatan Vol. 19 No. 1 (2026): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bik.v19i1.13140

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is the second most common disease in Indonesia after hypertension. Diabetes Mellitus can cause complications, one of which is diabetic ulcer. Diabetic ulcer can lead to amputation of the extremities, especially the lower extremities. Prevention measures that can be taken to prevent diabetic ulcer include foot care therapy. Foot care consists of three preventive measures, starting with education on foot care, diabetic foot exercises, and management of foot injuries/wounds. Foot care training was conducted for five weeks. The study aimed to determine the effect of Diabetes Foot Care Training on the foot care behavior of D patients. Foot care behavior was assessed using the Nottingham Assessment of Functional Footcare (NAFF) tool. The research was conducted over 5 weeks. The study involved 60 respondents divided into an intervention group and control group. The results of the control group showed a p-value > 0,005 (0,647), indicating no difference in foot care behavior in the control group. The Wilcoxon test for the intervention group showed a p-value < 0,005 (0,002), indicating a difference in foot care behavior before and after the intervention. The Mann Whitney test showed a p-value < 0,005 (0,027). The conclusion of the study states that Difoca intervention has an effect on improving foot care behavior in DM patients.
THE EFFECT OF CLASSICAL MUSIC THERAPY ON THE RISK OF VIOLENT BEHAVIOR IN RPK PATIENTS AT DR. ARIF ZAINUDIN RSJD Adibatul Istiqomah; Didik Iman Margatot; Annisa Cinta Kalista; Meinisa Putri Prasetyo; Nia Meilani; Wahyu Putri Lestari
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 3 No. 1 (2026): Vol. 3 No. 1 Edisi Januari 2026
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v3i1.2088

Abstract

Background: Risk of Violent Behavior (RVB) is a common mental health nursing problem among patients with severe mental disorders and may endanger both patients and others. One non-pharmacological intervention to reduce RVB is Group Activity Therapy using classical music. Objective: This study aimed to analyze the effect of classical music group activity therapy on the risk of violent behavior in RVB patients. Methods: This study employed a pre-experimental design with a one group pretest–posttest approach. The subjects consisted of four RVB patients hospitalized in the Gatotkaca Ward of RSJD dr. Arif Zainuddin, Central Java Province. The intervention involved playing instrumental classical music with a slow tempo for approximately 10–20 minutes. The risk of violent behavior was measured before and after the intervention using the RUFA instrument through behavioral observation. Results: The results showed behavioral improvements in all patients, indicated by enhanced emotional control, reduced agitation, and increased social interaction. Three patients showed improvement in RUFA category, while one patient demonstrated an increased score within the same category. Conclusion: Classical music group activity therapy is effective in reducing the risk of violent behavior and can be recommended as a complementary intervention in mental health nursing care.
Penerapan Senam Tera sebagai Intervensi untuk Menurunkan Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi di Desa Guwosari Wilayah Kerja Puskesmas Ngoresan Winda Safitri; Didik Iman Margatot; Panggah Widodo
Protein : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan.  Vol. 4 No. 3 (2026): Juli : Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/protein.v4i3.2339

Abstract

Hypertension is one of the most common non-communicable diseases among older adults. If not managed properly, hypertension can increase the risk of various complications, including stroke, heart disease, and kidney failure. One of the non-pharmacological approaches that can be used to reduce blood pressure is Tera Gymnastics (Senam Tera). This study aimed to determine the effectiveness of Tera Gymnastics in reducing blood pressure among older adults with hypertension. This study employed a descriptive case study approach involving two older adults with hypertension in Guwosari Hamlet, RT 03 RW 27, Jebres, Surakarta. The intervention consisted of Tera Gymnastics sessions lasting 30–45 minutes, conducted three times a week. Blood pressure was measured before and after the intervention using a sphygmomanometer. After participating in the Tera Gymnastics intervention, both participants experienced a reduction in blood pressure. Mrs. S's blood pressure decreased from 160/94 mmHg to 139/80 mmHg, while Mrs. W's blood pressure decreased from 150/90 mmHg to 130/80 mmHg. Tera Gymnastics is an effective non-pharmacological intervention that can help reduce blood pressure in older adults with hypertension.
Efektivitas Media Booklet terhadap Self-Efficacy Lansia dalam Kesiapsiagaan Bencana Banjir di Wilayah Rawan Banjir Sungai Bengawan Solo Ika Silvitasari; Didik Iman Margatot; Eni Setyowati; Hafizhah Nur Istiqomah
ASJN (Aisyiyah Surakarta Journal of Nursing) Vol 6 No 1 (2025): JULI
Publisher : P3M Universitas Aisyiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30787/asjn.v6i1.2120

Abstract

Latar Belakang: Banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Wilayah Ngoresan, yang berbatasan langsung dengan Sungai Bengawan Solo, termasuk daerah rawan banjir. Saat musim hujan, air sungai sering meluap dan menggenangi permukiman. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa lansia di wilayah ini cenderung pasif saat banjir, hanya menunggu bantuan, dan bergantung pada keluarga untuk memenuhi kebutuhan evakuasi. Keterbatasan fisik dan rendahnya pengetahuan kebencanaan menjadi faktor yang menghambat kesiapsiagaan. Tujuan: Mengetahui pengaruh media booklet kesiapsiagaan bencana banjir terhadap self-efficacy lansia. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan rancangan pre-test dan post-test without control group. Sampel berjumlah 30 lansia yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan General Self-Efficacy Scale versi Indonesia. Penelitian dilaksanakan pada 15 April–29 Mei 2025 di wilayah kerja Puskesmas Ngoresan. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan media booklet terhadap peningkatan self-efficacy lansia. Kesimpulan: Media booklet efektif sebagai sarana edukasi kesiapsiagaan bencana banjir bagi lansia di wilayah rawan banjir Sungai Bengawan Solo.
Complementary Therapy Program of Ergonomic Exercise to Improve the Quality of Life of Elderly People with Hypertension Didik Iman Margatot; Apridika Ajeng Kartika; Vania Ilmi Purwitasari
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/jphi.v8i1.1159

Abstract

The increasing elderly population in Indonesia has resulted in a high prevalence of hypertension, which significantly reduces quality of life due to physical and psychological limitations. Safe and applicable non-pharmacological interventions are needed to support elderly blood pressure management. This community service activity aims to improve the quality of life of elderly people with hypertension in the Ngoresan Community Health Center (Puskesmas) working area through ergonomic exercise therapy training. The implementation method used a participatory approach that included health education, intensive training in six ergonomic exercise movements, and formative and summative evaluations in 43 elderly people. The results showed that most participants were able to perform the movements independently and correctly. Clinically, there was a significant decrease in average blood pressure from 150/90 mmHg to 140/80 mmHg in 70% of participants. In addition, there was an increase in understanding of hypertension management and motivation to perform exercise regularly. It was concluded that ergonomic exercise is effective as a complementary therapy in lowering blood pressure and improving fitness. This intervention is recommended to be integrated into a routine program at the elderly integrated health post (Posyandu) as a sustainable promotive and preventive effort.
Knowledge And Foot Care Behavior in Patients With Diabetes Melitus: Study of Corelation Ida Nur Imamah; Guntur Harta Kusuma; Didik Iman Margatot
Jurnal Infokes Vol 16 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/ydbqha03

Abstract

Background: Hyperglycemic conditions can lead to microvascular (27.2%) and macrovascular (53.5%) complications. Hyperglycemia causes damage to nerve cells, resulting in neuropathy that leads to decreased protective sensation in the feet. This condition causes individuals with diabetes mellitus (DM) to be unaware of foot injuries. Proper foot care is an essential part of preventing diabetic foot ulcers and can be carried out by individuals with DM at low cost and with proven effectiveness. Foot care behavior refers to actions taken to maintain foot hygiene in diabetic patients and to prevent early injuries that could lead to infection risk. Knowledge serves as the foundation for behavior change and determines an individual's level of ability.Methods:This research is a quantitative study using a cross-sectional design. The population consists of all individuals with DM, with a sample size of 57 respondents in the Surakarta City prolanis group. The sampling technique used was accidental sampling. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis.The research instrument used DFKS for knowledge and NAFF foot care behavior. Results:The majority of respondents had a low level of knowledge (64.9%) and poor foot care behavior (71.9%). Bivariate analysis using the chi-square test showed a p-value < 0.05 (0.018).Conclusion:There is a significant relationship between the level of knowledge and foot care behavior
Penerapan Modern Dressing Dengan Metode Moist Wound Healing Menggunakan Foam Dressing Guna Mempercepat Proses Penyembuhan Luka Ulkus Diabetikum Sherli Zeniar Adelia Sagita Putri; Didik Iman Margatot
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 8 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i8.2336

Abstract

Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronis diabetes mellitus yang dapat menyebabkan infeksi, gangren, hingga amputasi apabila tidak ditangani dengan tepat. Modern dressing, khususnya foam dressing, mampu mempertahankan kelembapan luka (moist wound healing), menyerap eksudat, serta mendukung proses granulasi dan epitelisasi sehingga dapat mempercepat penyembuhan luka. Tujuan: Mendeskripsikan hasil penerapan modern dressing menggunakan foam dressing dalam mempercepat penyembuhan luka ulkus diabetes mellitus. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kasus deskriptif dengan dua responden penderita ulkus diabetes mellitus di Woundcare Rumah Rara, Kabupaten Wonogiri. Penerapan dilakukan selama 7 hari dengan pergantian balutan sebanyak 3 kali menggunakan foam dressing. Perkembangan luka dinilai menggunakan Bates-Jensen Wound Assessment Tool (BWAT) sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: Sebelum penerapan, Tn. G memiliki skor BWAT 33 dan Ny. S sebesar 29 dengan kategori wound regeneration dan grade luka II. Setelah penerapan, skor BWAT menurun menjadi 26 pada Tn. G dan 24 pada Ny. S dengan grade luka I. Terjadi perbaikan tepi luka, goa, warna kulit sekitar luka, jaringan granulasi, dan epitelisasi. Penurunan skor masing-masing sebesar 7 dan 5 poin menunjukkan perkembangan penyembuhan luka. Kesimpulan: Penerapan modern dressing menggunakan foam dressing menunjukkan hasil baik dalam mempercepat penyembuhan ulkus diabetes mellitus melalui pengendalian eksudat, pemeliharaan kelembapan luka, serta peningkatan granulasi dan epitelisasi.
Penerapan Senam Dismenore Untuk Mengurangi Skala Nyeri Haid Pada Remaja Putri Risnanda Putri Wardani; Didik Iman Margatot
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 5 No. 8 (2026)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v5i8.2340

Abstract

Dismenore merupakan masalah kesehatan reproduksi yang umum dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Data WHO menunjukkan sekitar 90% perempuan di dunia mengalami dismenore, sedangkan di Indonesia angka kejadiannya mencapai 64,25%. Penanganan dismenore dapat dilakukan secara farmakologis maupun non farmakologis. Salah satu terapi non farmakologis yang direkomendasikan adalah senam dismenore, yang dapat meningkatkan sirkulasi darah dan merangsang pelepasan endorfin sehingga menurunkan persepsi nyeri. Tujuan : penerapan ini adalah untuk mengetahui efektivitas senam dismenore dalam menurunkan skala nyeri haid pada remaja putri. Metode : Penerapan menggunakan desain deskriptif dengan observasi nyeri pre dan post intervensi. Subjek penerapan adalah dua remaja putri (Nn.A dan Nn.N) usia 14 tahun dengan dismenore derajat 2 di Desa Pakis Taji, Mojosongo, Boyolali. Senam dismenore dilakukan selama 3 hari berturut-turut pada hari pertama hingga ketiga menstruasi, pagi dan sore, dengan durasi kurang lebih 30 menit, terdiri atas gerakan pemanasan, inti, dan pendinginan. Pengukuran nyeri menggunakan lembar observasi Numeric Rating Scale (NRS). Hasil penerapan : menunjukkan skala nyeri Nn.A menurun dari 6 (nyeri sedang) menjadi 3 (nyeri ringan), sedangkan Nn.N menurun dari 5 (nyeri sedang) menjadi 2 (nyeri ringan). Dapat disimpulkan bahwa penerapan senam dismenore efektif menurunkan skala nyeri haid pada remaja putri, sehingga dapat direkomendasikan sebagai salah satu intervensi non farmakologis untuk mengatasi dismenore.