Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

MENINGKATKAN KOMPETENSI BAHASA INGGRIS GENERASI MUDA DI LINGKUNGAN OBJEK WISATA DI KAB. BANJAR DALAM RANGKA MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN Hengki Hengki; Ratna Ratna; Yudha Aprizani
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 10, No 3 (2024): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jpaiuniska.v10i3.15670

Abstract

Integrasi beberapa model pembelajaran digunakan pada proyek ini, pendekatan community language sangat diutamakan, pada model ini pelajar dianggap sebagai 'manusia seutuhnya' atau utuh (individual), artinya dosen dan guru tidak hanya memperhatikan perasaan dan kecerdasan mereka tetapi juga hubungan dengan sesama pembelajar dan keinginan mereka untuk belajar. Para pakar bahasa dalam pengamatanya sering menemukan pelajar merasa tidak nyaman dalam situasi baru.Dengan memahami perasaan takut dan sensitif pembelajar, Instruktur berupaya dapat menghilangkan perasaan negatif pelajar menjadi energi positif untuk belajar. Selain itu, Mereka pelajar juga terkadang takut terlihat bodoh di depan kelas sehingga cenderung pasif dalam kegiatan kelas. Oleh karena itu, seorang guru harus memposisikan dirinya sebagai seorang konselor yang akan memahami perasaan dan permasalahan yang dihadapi oleh warga belajarnya. Keberadaaninstruktur/ dosen tidak dilihat sebagai ancaman yang menunjukkan kesalahan dan keterbatasan para pembelajar, melainkan sebagai konselor yang berfokus pada mereka dan kebutuhannya. Tujuan menggunakan model Community learning (CL) pada program ini adalah untuk (1) membangun hubungan komunikasi dan menghilangkan rasa takut pada pelajar ketika dia belajar bahasa kedua/asing. (2) Pelajar dapat belajar bagaimana menggunakan bahasa target (bahasa yang dipelajari) secara komunikatif. (3) Menghilangkan kecemasan atau ketakutan pembelar untuk berbicara dan berkomunikasi dengan peserta lainya. Edukasi mendalam berlansung pada program ini, peserta pelatihan memperoleh capaian yang sangat mereka. Pada proses pembelajaran Seluru peserta mendapat dan merasakan ketenangan, keterlibatan secara aktif, perhatian, refleksi.Kata Kunci : Kompetensi Bahasa Inggris, Generasi Muda, Objek Wisata Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN
Self-Efficacy and Self-Confidence Strengthening Training for High School Students and Equivalent in Activating Transactional and Interpersonal Communication Hengki Hengki; Ratna Ratna
NEAR: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): NEAR
Publisher : Komunitas Dosen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32877/nr.v4i2.2368

Abstract

This training aims to enhance self-efficacy and self-confidence among high school students through specialized activities targeting key objectives. These include improving communication skills by teaching effective techniques such as expressing ideas, active listening, and persuasive speaking in both transactional and interpersonal contexts. The program also focuses on building self-efficacy by offering practical scenarios to boost confidence in social interactions. The training incorporates social and interpersonal skill development to strengthen students' ability to navigate daily interactions. Methods are grounded in self-efficacy and confidence theories, emphasizing practical applications through activities like simulations and interactive exercises. A holistic evaluation approach measures self-efficacy and confidence levels before and after the training, alongside the impact on students' transactional and interpersonal communication skills.. The findings reveal significant insights into the importance of strengthening self-efficacy and self-confidence for improving students' communication abilities. Practical implications include aiding in the development of more effective training programs to prepare young people for the demands of the modern workforce and daily life. Additionally, the training highlights the importance of ethical communication norms, fostering healthy interpersonal relationships, and equipping students with strong communication skills to gain a competitive edge in their careers.
PEMBINAAN PERMAINAN TRADITIONAL PADA SISWA HANDIL BAKTI Andi Kasanrawali; Hengki; Bonita Amaliah; Endang Pratiwi
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO) Vol. 2 No. 1 (2025): Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2025
Publisher : PT. Jurnal Center Indonesia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62567/micjo.v2i1.343

Abstract

Permainan tradisional adalah aktivitas rekreasi atau hiburan yang telah ada dan dimainkan oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Permainan ini biasanya diwariskan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan merupakan bagian integral dari kehidupan budaya suatu komunitas. Berbeda dengan permainan modern yang mungkin melibatkan teknologi atau peralatan canggih, permainan tradisional seringkali menggunakan alat atau benda sederhana yang tersedia di sekitar masyarakat pada masa tersebut. Permainan lokal merujuk kepada berbagai jenis permainan yangtumbuh dan berkembang di suatu daerah atau komunitas tertentu. Permainan ini sering kali mencerminkan budaya, tradisi, dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat setempat Pembinaan permainan tradisional pada siswa SDN Handil Bakti, bertujuannya untuk dapat mengatasi tantangan utama, yaitu kurangnya minat dan pengetahuan siswa terhadap permainan tradisional. Dengan Pemberian edukasi tentang nilai-nilai budaya permainan tradisional serta penyelengaraan demontrasi permainnan tradisional sehingga dapat menjadi jembatan untuk membangun rasa bangga terhadap budaya lokal,dan dapat memahami dan menghargai keunikan budaya tradisional Indonesia sehingga menumbuhkan minat anak-anak pada permainan tradisioanal dan mempertahankan kelestarian permainan tradisional Indonesia. keberhasilan pembinaan menunjukkan bahwa siswa merasakan manfaat yang signifikan dari kegiatan ini. Sebelum pelatihan, beberapa siswa merasa bahwa pembinaan ini hanya cukup bermanfaat, sementara sebagian besar merasa sangat bermanfaat. Setelah kegiatan selesai, hampir seluruh siswa merasa bahwa pembinaan ini sangat bermanfaat bagi mereka, baik dari segi keterampilan, pengetahuan, maupun pemahaman budaya. 70% siswa merasa kegiatan ini sangat bermanfaat, dengan 85% siswa merasakan manfaat yang signifikan setelah mengikuti pelatihan.
A Morphological Analysis of Verb Derivation from Adjectives in Bugis, English, And Javanese: An Interlingual Perspective with a Cultural Dimension Hengki Hengki; Ratna Ratna; Nehru Pasoloran Pongsapan
Journal of linguistics, culture and communication Vol 4 No 1 (2026): Journal of Linguistics, Culture, and Communication
Publisher : CV. Rustam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61320/jolcc.v4i1.79-101

Abstract

This study compares the morphological construction of verbs from adjectives in three typologically and genetically distinct languages: Bugis (Austronesian, spoken in South Sulawesi, Indonesia), Javanese (Austronesian, Central and East Java), and English. Using an interlingual and culturally informed approach, the study investigates 15 systematic adjective-verb pairings from different languages to find underlying derivational mechanisms, structural patterns, and the linguistic encoding of cultural values. The analysis shows unique morphological strategies: Bugis primarily uses verbalizing prefixes such as ma- and mam- often accompanied by phonological adjustments—demonstrating a tightly integrated system of affixation and reduplication; English relies heavily on zero derivation (conversion) and suffixation (e.g., -ize, -ify), reflecting its trend toward analyticity and syntactic flexibility; meanwhile, Javanese employs a complex system involving the prefix N- (with allomorphs like ng-, n-, m-) combined with the suf Crucially, the study shows that these morphological processes are not just grammatical, but also deeply embedded with cultural semantics—for example, the Bugis mappadeceng ("to act honestly") and Javanese ngresiki ("to cleanse inwardly") reflect ethical and communal values, implying that word formation serves as a linguistic vessel for cultural cognition. This study advances comparative linguistics by connecting Austronesian and Indo-European morphological typologies, enriches efforts in endangered language documentation (particularly for under-documented languages such as Bugis), and advances understanding of the language-culture interface in morphological derivation. The findings call for a more holistic approach to language research, in which structure and culture are studied together.
The Disruptive Innovation of Communicative Language Teaching (CLT) in English Language Presentations for Economic and Management Knowledge Hengki Hengki; Ratna Ratna; Nina Anis
Journal Emerging Technologies in Education Vol. 3 No. 5 (2025)
Publisher : Yayasan Adra Karima Hubbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jete.v3i5.1609

Abstract

Background. This paper aims to provide an overview of the key findings and implications of the research conducted. The present study examines the impact of communicative language teaching (CLT) as a disruptive innovation on the pedagogy of English language instruction. Purpose. This paper aims to provide an overview of the key findings and implications of the research conducted. The present study examines the impact of communicative language teaching (CLT) as a disruptive innovation on the pedagogy of English language instruction for the acquisition of knowledge in the fields of management and economics. Method. The implementation of the Critical Learning Theory (CLT) presents a novel pedagogical strategy that fosters the development of critical thinking abilities, enhances effective communication skills, and cultivates cultural competency. Results. This essay examines the fundamental principles of Communicative Language Teaching (CLT) and its integration into the domains of economics and management education. Additionally, it investigates the impact of CLT on both educators and learners. Conclusion. Based on the findings, the incorporation of CLT has the potential to enhance students' competence and engagement, thereby equipping them with the necessary skills to thrive in the competitive.