Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

ANALISIS SEBARAN KEBUTUHAN FASILITAS KESEHATAN GUNA MENINGKATKAN PELAYANAN DI KOTA DEPOK PROVINSI JAWA BARAT Sutaryo; Satria Nugroho, Aditya
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol 16 No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol.16 No.1 | Juni 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesatnya pertumbuhan dan perkembangan Kota Depok yang tidak diimbangi dengan sebaran kebutuhan fasilitas kesehatan dan prasarana sebagai konektivitas memadai menyebabkan jumlah angka kematian terus meningkat. Ketersediaan dan sebaran lokasi pelayanan fasilitas kesehatan serta penilaian kinerja pelayanan merupakan kunci keberhasilan fasilitas yang merata. Oleh karena itu, diperlukan penilaian tersebut guna meningkatkan pelayanan kesehatan di Kota Depok. Penelitian ini bertujuan mengetahui kinerja pelayanan atas ketersediaan dan sebaran lokasi pelayanan fasilitas kesehatan secara spasial dengan disertakan konsep dan strategi penanganannya. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial atas standar SNI untuk menilai ketersediaan dan sebaran lokasi fasilitas kesehatan. Jenis penelitian deskriptif yang bersifat observasi. Pengumpulan data menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Sehingga menghasilkan jumlah fasilitas kesehatan Kota Depok sebanyak 498 unit, standar SNI 603 unit. Radius jangkauan pencapaian sebesar 83.32% dari total luas Kota Depok, 63.65% persentase kinerja pelayanan berdasarkan pencapaian area terbangun, dan 66.97% persentase aksesibilitas pelayanan berdasarkan indeks supply dan indeks barrier. Kemudian peneliti membuat konsep dan penanganan penentuan lokasi fasilitas di 6 titik wilayah dengan pendekatan dokumen RTRW Kota Depok dan hasil penyebaran kuesioner. Dengan demikian, ada 32 kelurahan belum mampu melayani diatas rata – rata radius jangkauan dan 40 kelurahan bisa menjadi arahan prioritas pembangunana fasilitas kesehatan. Hanya 18 kelurahan yang memiliki kinerja pelayanan diatas rata – rata persentase pelayanan berdasarkan radius pencapaian area terbangun dan 4 kecamatan memiliki aksesibilitas pelayanan kesehatan diatas rata – rata berdasarkan indeks supply dan indeks demand Kota Depok. Penentuan 6 titik lokasi fasilitas terletak di kelurahan Cilangkap, Kalimulya, Cipayung, Lewinanggung, Limo, dan Gandul.
ANALISIS PENGEMBANGAN OBJEK PARIWISATA DI KOTA BENGKULU Sutaryo; Yolandari , Rani
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol 16 No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol.16 No.2 | Desember 2020
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu jenis industri yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang cepat, menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan penghasilan dan standar hidup, serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya. Perencanaan tata ruang pariwisata (tourism spatial planning) tampak kurang diperhatikan karena pemahaman tentang pariwisata sebagai industri dan bisnis yang menghasilkan nilai ekonomi lebih menguntungkan. Kota Bengkulu memiliki 27 objek wisata yang terdiri dari 9 objek wisata bahari yaitu Pantai Panjang, Pantai Pasir Putih, Pantai Jakat, Pantai Malabero, Pantai Tapak Paderi, Pantai Cemara Sungai Serut, Pantai Berkas, Muara Jenggalu dan Pantai Lentara Merah di Pulau Baai. 6 wisata cagar budaya dan sejara yaitu Benteng Marlborough, Makam Inggris, Rumah Pengasingan Bung Karno, Rumah Fatmawati, Masjid Jamik dan Tugu Thomas Parr. 1 wisata cagar alam pantai yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai. 1 wisata cagar alam danau yaitu Danau Dendam Tak Sudah. 1 wisata pulau yaitu Pulau Tikus. 1 wisata buatan yaitu Taman Remaja. 1 wisata alam yaitu wisata padang golf. 1 wisata budaya yaitu Kampung China. 6 wisata sejarah budaya dan sejarah yaitu Museum Bengkulu, Tugu View Tower, Rumah Dinas Gubernur Bengkulu, Balai Buntar, Monumen Fatmawati dan Makam Panglima Sentot Alibasyah. Kota Bengkulu memiliki potensi yang sangat besar namun belum terencana, terkelola dan terpromosikan dengan baik. Sehingga potensi pariwista di Kota Bengkulu harus dikembangkan lebih lanjut secara optimal tanpa harus mengurangi kuliatas fisik lingkungan dan kepentingan masyarakat setempat dan wisatawan sehingga dapat mendukung pariwisata yang memberikan nilai ekonomi dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dan masalah pengembangan objek wisata di Kota Bengkulu. Dalam Penelitian ini metode yang digunakan terdiri dari 2, yaitu metode pengumpulan data dan metode analisis, Adapun metode dan teknik analisis yang digunakan adalah : 1. Analisis Karakteristik Objek Wisata di Kota Bengkulu, analisis ini menggunakan model analisis deskriftif; 2. Analisis Hirarki Pusat Pelayanan Pariwisata di Kota Bengkulu, analisis ini menggunakan tabel penilaian tourism value chain, dengan keterngan nilai 3 tinggi, nilai 2 sedang, dan nilai 1 rendah. Peniliaan tersebut berdasarkan variabel Kebijakan, rawan bencana, aset pariwisata, aktivitas pariwisata, akomodasi, pusat oleh-oleh, fasilitas, aksesibilitas dan travel; 3. Analisis Strategi Pengembangan Objek Wisata di Kota Bengkulu, analisis ini menggunakan analisis SWOT untuk menentukan strategi pengembangan. Hasil penelitian ini di peroleh hiraraki pusat pelayanan pariwisata yaitu, Kecamatan Teluk Segara sebagai Pusat Pelayanan Primer Pariwisata dengan total nilai 155, Kecamatan Ratu Samban sebagai Pusat Pelayanan Sekunder Pariwisata dengan total nilai 67, Kecamatan Gading Cempaka sebagai Pusat Pelayanan Sekunder dengan total nilai 48, Kecamatan Singaran Pati sebagai Pusat Pelayan Sekunder dengan total nilai 37, Kecamatan Ratu Agung Pusat Pelayanan Sekunder dengan total nilai 38, Kecamatan Sungai Serut sebagai Sub Pusat Pelayanan Sekunder dengan total nilai 19, Kecamatan Kampung Melayu sebagai Sub Pusat Pelayanan Sekunder dengan total nilai 18. Dan untuk Kecamatan Selebar dengan total nilai 10 dan Kecamatan Muara Bangka Hulu dengan total nilai 5 di tetapkan sebagai wialyah pendukung pariwisata Kota Bengkulu.
ANALISIS KEBUTUHAN FASILITAS SOSIAL DAN EKONOMI DI KECAMATAN PONDOK GEDE KOTA BEKASI Sutaryo
Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol 17 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Plano Krisna Vol.17 No.2 | Desember 2021
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Krisnadwipayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan fasilitas sosial dan ekonomi di Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi berdasarkan sentralitas marshall, aksesibilitas, dan standar nasional Indonesia 2004 tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan. Pada dasarnya perkembangan dan pertumbuhan kegiatan di Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi dengan penduduk yang terus bertambah mebutuhkan lahan yang sangat banyak untuk memenuhi kebutuhan akan fasilitas sosial dan fasilitas ekonomi. Dalam Peraturan Daerah kota Bekasi Nomor 13 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bekasi tahun 2010-2030 menyatakan bahwa Kecamatan Pondok Gede dalam Sub Pusat Pelayanan Kota ( SPPK ) Pondok Gede di sekitar Kelurahan Jatiwaringin mencakup wilayah pelayanan Kelurahan Jaticempaka, Jatibening Baru, Jatibening, Jatiwaringin, Jatimakmur dengan fungsi pusat pemerintahan, perdagangan skala grosir dan retail berkelompok, pusat jasa dan pusat pendidikan. Perkembangan Kecamatan Pondok Gede ditandai dengan peningkatan dari berbagai fasilitas sosial dan fasilitas ekonomi seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas peribadatan, dan fasilitas perdagangan dan jasa.
ANALYSIS OF BIOMETHANE PRODUCTION POTENTIAL AND MITIGATION OF BIOMETHANE EMISSIONS FROM PIG FARMS IN NORTH SULAWESI PROVINCE Manullang, Efrando; Sutaryo; Kusdiyantini, Endang
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2023.2803

Abstract

The potential for biomethane production from livestock manure as renewable energy has good prospects, considering that the number of pigs in North Sulawesi Province increases yearly. Therefore, it is necessary to analyze the potential for biomethane production, replacing the use of LPG, and mitigate biomethane emissions from pig farms. The results showed that from 2015-2021, the most significant biomethane production was in 2021, amounting to 7,887 tons of CH4/year in the Minahasa Regency area, 2,496 tons of CH4/year (31.65%) in Tomohon City, 805 tons of CH4/year (10.20%) in South Minahasa Regency, 779 tons of CH4/year (9.88%), and in other areas 3,807 (48.27%). Biomethane can replace 8.59 million kg of Liquefied Petroleum Gas (LPG). The results of mitigating biomethane emissions in 2021 reached 34.22 Gg CO2eq, and using biomethane to replace LPG reached 11.59 Gg CO2eq. Total greenhouse gas emissions can be reduced to 45.81 Gg CO2eq. Biomethane from pig manure has promising potential as a new renewable energy and requires further investigation.