Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

EPISTEMOLOGI TAFSIR SURAT AL-FATIHAH KARYA MAHMUD YUNUS DAN PEUNOH DALY Achmad Najib; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 2 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i2.621

Abstract

Kitab tafsir surat al-Fatihah karya Mahmud Yunus dan Peunoh Daly merupakan kitab tafsir yang awal penulisanya hanya ditujukan untuk mahasiswa IAIN Imam Bonjol, kemudian setelahnya baru ditujukan untuk masyarakat umum. Didalamnya disajikan dengan bahasan yang lebih luas dan mendalam mengenai makna ayat-ayat al-Qur’an. Penelitian ini secara khusus mengkaji tafsir surat al-fatihah dari sisi epistemologi untuk mengetaahui metode, sumber, corak, validitas penafsiran, seta kekurangan dan kelebihan dari kitab tafsir ini. Penelitian ini meinggunakan meitodei deiskriiptiif-analiisiis dengan meimaparkan data seicara meindeitaiil meingeinaii masalah yang dii teiliitii.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa epistemologi Tafsir surat al-Fatihah ini berdasarkan sumbernya masuk dalam kategori tafsir bil-Ma’sur, karena mahmud Yunus dan Peunoh Daly dalam menjelaskan ayat banyak memakai sumber riwayat. Tetapi selain menggunakan tafsir bil-Ma’sur beliau juga banyak menggunakan tafsir bil-Ra’yu dan bil al-Itqirani. Sedangkan metode yang digunakan dalam tafsir ini masuk pada kategori metode tahlili, serta coraknya cenderung menggunkan corak al-Adabi al-Ijtima’i, corak al-Fiqhi, dan Tarbawi. Setelah melihat sumber, metode dan corak penafsiran, Tafsir surat al-Fatihah ini berkategori valid, hal ini bisa dibuktikan menggunakan teori pragmatis, penafsirannya mampu menjawab problem yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
HAK PRIORITAS KELUARGA DALAM AL-QUR’AN (TELAAH TAFSIR MAQASHIDI) Mufidatul Fitriah; M Muhid Mashuri; Miftara Ainul Mufid; Wiwin Ainis Rohtih
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 2 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i2.745

Abstract

Artikel ini dituliskan dengan tujuan untuk melakukan pemetaan terhadap hak-hak prioritas keluarga dalam al-Qur’an sebagai bentuk tawaran solusi atas permasalahan seperti penelantaran atau fanatisme keluarga yang menyebabkan terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Porsi prioritas keluarga seringkali diabaikan batasan-batasannya yang berdampak pada maraknya kasus penelantaran keluarga atau tindak pidana lain seperti korupsi yang berlandaskan hubungan kekeluargaan. Penelitian ini termasuk studi literatur dengan menggunakan pendekatan Tafsir Maqashidi untuk menguak signifikansi maqashid (ideal moral) dari literal teks yang eksplisit (al-manthuq bih) hingga literal teks yang implisit (al-maskut anh) dari setiap perintah dan larangan yang tertulis dalam al-Qur’an.Pendekatan ini juga memperhatikan pergerakan teks (harakiyyah al-nash) supaya tidak terjebak dalam kerangkeng tekstualisme.Hasil dari karya ini menjelaskan tentang aspek-aspek kemanusiaan dan kebebasan bersikap yang disertai dengan tanggung jawab dari internal teks (min dakhil al-nushush) dan eksternal teks (min kharij al-nushush) yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan berkeluarga.Dengan memperhatikan nilai-nilai yang ditemukan, diharapkan terbangun kesadaran masyarakat untuk memperlakukan keluarga dengan proporsional.
TAHADDUTH BI AL-NI’MAH DAN RELEVANSINYA TERHADAP ETIKA BERMEDIA SOSIAL DALAM AL-QUR’AN (Analisis Tafsir Maqashidi) Muflikhatul Ummah; Wiwin Ainis Rohtih; Mukhid Mashuri; Miftara Ainul Mufid
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i1.748

Abstract

Istilah tahadduhth bi al-Ni’mah adalah menunjukkan hal positif yang dapat menjadi contoh agar dapat ditiru orang lain. Dalam zaman canggih ini media sosial menjadi salah satu cara agar hal tersebut dapat diterapkan dan meminimalisir berbagai fenomena media sosial seperti swafoto maupun flexing atau kegiatan pamer dan branding diri lainnya. Dari penelitian ini akan diulas terkait makna tahadduth bi al-Ni’mah dan juga etika terhadap media sosial yang diambil dari ayat-ayat al-Qur’an untuk mengetahui urgensi dan nilai maqashid secara mendalam. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan metode maudhu’i dengan mengumpulkan ayat terkait etika media sosial dan tahadduth bi al-Ni’mah kemudian menggunakan sudut pandang tafsir maqashidi untuk menguak signifikansi maqashid (ideal moral) dari literal teks yang eksplisit (al-manthuq bih) hingga literal teks yang implisit (al-maskut anh) untuk mengetahui maksud perintah maupun larangan al-Qur’an lebih dalam lagi. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat nilai maqashid syari’ah yang terdiri dari maqashid zahir dan maqashid bathin dengan nilai dlaruriyyat hifdz din agar selalu bersyukur sekaligus terhindar dari kufur nikmat dan hifdz aql agar senantiasa berfikir kritis dan menjaga etika bermedia sosial agar menjadi ahsanu qaulan terhadap unggahan yang diposting di media sosial.
RELEVANSI MODEL KEPEMIMPINAN FIR’AUN DENGAN MASA KINI (Penerapan Metode Integrasi Terhadap Ayat Kisah QS. al-A’raaf: 127-129) Meilia Verisa; Mukhid Mashuri; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v2i2.749

Abstract

Salah satu tujuan manusia diciptakan oleh Tuhan adalah menjadi khalifah atau pemimpin di dunia, agar dapat menciptakan kemakmuran di bumi. Namun, bagaimana jika manusia-manusia yang diharapkan ini malah menimbulkan banyak kerusakan? Adapun diantara penyebab kerusakan di bumi adalah banyaknya tindak kesewenang-wenangan para pemimpin. Dampak dari tindakan ini tidak hanya berakibat buruk bagi pelaku itu sendiri, namun juga mengakibatkan tatanan masyarakat dan negara yang tengah dipimpin menjadi kacau balau. Seiring berjalannya waktu, mulai dari zaman kenabian hingga saat ini, ada banyak kasus mengenai tindak kesewenang-wenangan pemimpin, bahkan di dalam al-Qur`an pun dicantumkan tentang hal tersebut. Salah satu tokoh dalam al-Qur`an yang terkenal kekejamannya semasa menjadi pemimpin adalah Ramses II, yaitu pemimpin yang juga mendapat julukan Fir’aun pada masa Nabi Musa AS. Ramses II dikenal sebagai pemimpin yang mengelompokkan kalangan masyarakat menjadi beberapa bagian, artinya terdapat golongan paling bawah yang menjadi budaknya, bekerja tanpa henti dan tidak mendapatkan imbalan yang setimpal, dan ada beberapa tindak kekejaman yang dilakukannya. Meskipun begitu, Ramses II pada saat itu juga mampu memberikan kemakmuran untuk negara Mesir yang dipimpin olehnya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kembali tentang kepemimpinan Fir’aun dan menghubungkannya dengan masa kini. Dengan begitu, penulis menggunakan metode integrasi hermeneutika milik Fazlur Rahman sehingga dapat membantu penelitian ini untuk merelevansikan fenomena-fenomena yang ada di masa kini dengan apa yang terjadi pada masa tersebut.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, klaim atas pemerintah Indonesia yang disebut tirani atau diktator sebagaimana sebutan untuk Fir’aun pada masanya tidaklah benar. Memang, ada sebagian tindakan pemerintah yang bertindak semena-mena tanpa memikirkan keadaan rakyat, namun ada juga tindakan yang perlu diterapkan untuk masyarakat agar kedepannya bisa menuju pada perubahan yang lebih baik. Kurangnya komunikasi secara terbuka antara pihak pemerintahan dengan rakyat menjadi salah satu faktor munculnya anggapan-anggapan bahwa para pemerintah selalu berlaku tidak adil terhadap rakyat. Maka dari itu, kedepannya mungkin perlu ditingkatkan kembali serta pemerintah bisa lebih terbuka agar masyarakat juga bisa menerima segala keputusan dengan baik.
PENAFSIRAN MATI SYAHID (Menurut Imam Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid) Ahmad Miftahus Sudury; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid; M. Mukhid Mashuri
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umat Islam akan selalu menginginkan kondisi tutup usianya dengan keadaan husn al-khatimah, seperti mati syahid, Allah menjanjikan kepada orang yang mati syahid yaitu kedudukan yang mulia dan jaminan surga. Diperlukan usaha sekaligus pengorbanan yang besar, agar seseorang dikatakan mati syahid. Akan tetapi, saat ini masih banyak sekali masyarakat yang salah faham ataupun faham salah dalam memahami kriteria orang yang mati syahid. Maka dari itu, adanya pengkajian terhadap ayat-ayat tentang kriteria orang yang mati syahid ini, secara utuh dengan menggunakan penafsiran Nawawi al-Bantani dalam kitab tafsir marah labid yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana penafsiran Nawawi al-Bantani terhadap ayat-ayat yang menunjukkan kriteria orang mati syahid dalam kitab tafsir marah labid. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analis deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu dengan cara menganalisa makna yang termuat dalam berbagai sumber primer maupun sekunder dan mengeksplorasi serta menguraikan penelitian dengan deskripsi. Selain itu, metode penelitian tafsir yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode riset dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan buku-buku, jurnal, artikel, catatan, lampiran,dan literatur-literatur lainnya. Hal pertama yang dilakukan yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berhubungan dengan kriterian mati syahid, Kedua menganalisa penafsiran Nawawi al-Bantani pada ayat-ayat kriteria orang mati syahid. Ketiga, menarik kesimpulan dari penafsiran tersebut. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Penafsiran Nawawi al-Bantani terhadap ayat-ayat tentang kriteria orang mati syahid yaitu Pertama, syahid karena gugur di jalan Allah, Kedua, syahid karena berhijrah, Ketiga, syahid karena menaati Allah dan Rasul-Nya, Keempat, syahid karena berperang di jalan Allah dengan hartnya. Di dalam tafsirnya di jelaskan bahwa orang yang mati syahid itu adalah orang-orang yang telah menyatakan kesaksiannya tentang kebenaran agama Allah yang diutarakannya dengan hujjah dan keterangan, dan adakalanya dengan pedang, tombak atau senjata, sangat menyadari bahwa hidupnya di dunia hanya untuk beribadah dan taat pada perintah Allah juga Rasul-Nya. Mereka rela meninggalkan serta mengorbankan harta, jiwa dan raganya hanya untuk berjuang menegakkan agama Islam.
IMPLIKASI AYAT KURSI MENURUT ABU HAYYAN AL-ANDALUSI DALAM KITAB BAHR AL- MUHIT FI AL- TAFSIR M.Atho’ Illah Hikam; Wiwin Ainis Rohtih; Miftara Ainul Mufid; Mukhid Mashuri
Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia Vol. 1 No. 2 (2022): Relinesia: Jurnal Kajian Agama dan Multikulturalisme Indonesia
Publisher : Anfa Mediatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/relinesia.v1i2.799

Abstract

Mayoritas mufassir menjelaskan ayat kursi di ibaratkan sebagai ilmu tuhan, ada juga yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan salah satu surat yang mulia karena didalamnya menjelaskan tentang tuhan itu sendiri. Ada juga yang berpendapat makna ayat kursi sebagai adanya kekuasaan allah. Pada skripsi ini kami menggunakan kajian kepustakaan, dimana dalam kepenulisan ini. Sumber data primer kami menggunakan kitab bahr al muhit sebagai objek penelitian kami serta mengambil data sekunder yang mengambil dari berbagai sumber buku. Selanjutnya dalam analisis datanya kami menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif yakni penelitian berupaya untuk mendeskripsikan yang saat ini berlaku. Di dalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, menganalisis, dan menginterpretasikan kondisi yang yang saat ini terjadi. Data yang telah kami temukan yakni sudut pandang Abu hayyan Al-Andalusi mengibaratkan sebagai jism yang memuat langit dan bumi.
Pendampingan Penanganan Siswa Problematik Melalui Pendekatan BTQ Di MTs. Miftahul Ulum Tanjungarum Natasya Hayomi Salsabila; Miftakhul Khoiriyah; Siti Julaikha; Sofi Fauziyah; Miftara Ainul Mufid
Marsipature Hutanabe: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 01 (2025): Marsipature Hutanabe: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : CV. Devi Tara Innovations

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to explore the implementation of mentoring in addressing problematic students at MTs Miftahul Ulum Tanjungarum through the Qur'anic reading and writing approach. This approach is expected to help students facing behavioral, social, and academic issues find solutions through the moral values contained in the Qur'an. The research employs a descriptive qualitative method with data collection through interviews, observations, and documentation. The findings indicate that the mentoring program through Qur'anic reading and writing has a positive impact on improving students' behavior, social skills, and academic performance. The mentoring process involves teaching values such as honesty, discipline, and patience, which can be applied in everyday life. This study is expected to contribute to the development of student mentoring strategies in Islamic education-based schools