Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Persepsi Dosen dan Mahasiswa terhadap Pembelajaran Apresiasi Sastra Berperspektif Gender Nas Haryati Setyaningsih; Meina Febriani; Zuliyanti Zuliyanti
Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 6, No 2 (2018): Juli-Desember 2018
Publisher : PBSI, FKIP UNISSULA, Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/j.6.2.138-151

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap persepsi mahasiswa dan dosen terhadap materi, proses, dan penilaian pembelajaran apresiasi sastra. Salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah mata kuliah Apresiasi Sastra. Membelajarkan apresiasi sastra kepada peserta didik sesungguhnya bukan hal yang mudah karena guru dituntut untuk memastikan agar siswa memiliki pemahaman, penikmatan, dan penilaian terhadap karya sastra. Di sisi lain, dalam membelajarkan sastra, guru perlu memiliki: (1) pemahaman terhadap tujuan pembelajaran sastra, (2) ketepatan memilih, menentukan, dan mengemas materi ajar sastra berdasarkan nilai-nilai atau muatan yang ada di dalamnya, (3) kemampuan memilih dan menggunakan strategi pembelajaran apresiasi sastra yang mampu memantik minat dan pengalaman apresiatif siswa, dan (4) ketepatan dalam memilih dan menggunakan penilaian pembelajaran apresiasi sastra sesuai dengan kompetensi yang diharapkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif  dengan metode deskriptif. Data penelitian ini berupa persepsi mahasiswa dan dosen terhadap pembelajaran apresiasi prosa berperspektif gender. Sumber data penelitian ini adalah mahasiswa peserta kuliah dan dosen mata-mata kuliah apresiasi sastra (Apresiasi Puisi, Apresiasi Prosa, dan Apresiasi Drama)  pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS, Universitas Negeri Semarang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik teknik angket dan wawancara mendalam. Data kuantitatif di dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik diskriptif persentase. Adapun data yang bersifat kualitatif dianalisis dengan langkah reduksi data, displei data, dan verifikasi data untuk memperoleh simpulan. Hasil penelitian menunjukkan, dosen dan mahasiswa mempersepsi bahwa (1) materi pembelajaran sudah dalam bentuk bahan ajar (hand-out), tetapi belum lengkap karena hanya memuat konsep-konsep yang bersifat teoretis, (2) materi belum memuat nilai-nilai gender, padahal mahasiswa memerlukan nilai tersebut, (2) proses pembelajaran apresiasi sastra menggunakan strategi yang memungkinkan mahasiswa sampai pada tahapan mengapresiasi, akan tetapi metode yang digunakan monoton dan kurang variatif, kegiatan pembelajaran belum sampai pada tahapan akhir apresiasi, yakni mereproduksi, dan proses pembelajaran belum memperhatikan perspektif gender, (3) penilaian pembelajaran apresiasi sastra sudah menggunakan penilaian autentik, namun belum mencakupi keseluruhan aspek penilaian (kognitif, afektif, psikomotor). Penilaian belum memperhatikan perspektif gender.
ADAPTASI KRITIS CINDERELLA: PENDEKATAN NARATOLOGI GÉRARD GENETTE BAGI PENDIDIKAN LITERASI ANAK Meina Febriani; Sri Sumaryani; Diyamon Prasandha
INDONESIA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 7 Number 2 June 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/indonesia.v7i2.83202

Abstract

The Brothers Grimm's Cinderella is a world classic that contains gender bias and patriarchal ideology, which require critical examination. This study aimed to analyse the narrative structure of Cinderella through Gérard Genette's narratological theory and to formulate a critical adaptation model based on Jack Zipes' framework. The study employed a qualitative approach using Genette's narratological theoretical framework, consisting of five categories: order, duration, frequency, mood, and voice. The data analysis consisted of five stages: narrative mapping, structural analysis, ideological critique, critical adaptation, and pedagogical interpretation. The results suggest that the narrative features a progressive, linear plot and minimal temporal distortion, dynamic duration variation, diverse narrative frequencies, a didactic mood with dominant external focalization, and a heterodiegetic voice that emphasizes the moral and structural functions of the story. Comparatively, the Grimm's version presents passive characters, while the critical adaptation reconstructs active female agency, equal relationships, and the elimination of symbolic violence. The conclusion confirms that integrating the two approaches yields a transformative model for developing reading materials grounded in critical literacy and gender equality.
Desain Media Grafis Berbasis Stimulasi Gambar Bermuatan Budaya Daerah untuk Pembelajaran Menulis Teks di SMP Berdasarkan Kurikulum Merdeka Bambang Hartono; Meina Febriani; Diyamon Prasandha; Deby Luriawati Naryatmojo; Haryadi Haryadi; Yustinah Yustinah
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 2 (2026): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i2.10835

Abstract

Penelitian ini bertujuan menghasilkan dan menguji kelayakan model media grafis berstimulasi gambar bermuatan kebudayaan daerah untuk pembelajaran menulis teks pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP berdasarkan Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan metode research and development (R&D) dengan mengadaptasi lima dari sepuluh langkah Borg dan Gall, meliputi studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan prototipe, validasi, dan revisi produk.  Penelitian dilaksanakan di dua SMP di Kota Semarang dengan subjek penelitian terdiri atas guru Bahasa Indonesia, murid SMP, dan ahli media pembelajaran. Data dikumpulkan melalui angket, observasi, wawancara, dokumentasi, dan penilaian ahli, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa media pembelajaran menulis yang digunakan guru masih didominasi penyajian teks dan belum mampu memvisualisasikan tahapan menulis secara sistematis. Berdasarkan analisis kebutuhan, dikembangkan media grafis berbentuk bagan alir berbasis stimulasi gambar yang mengintegrasikan kebudayaan daerah. Model dikembangkan berdasarkan prinsip kesederhanaan, kelengkapan, efektivitas, daya tarik, motivasi, variasi, pembimbingan, dan integrasi. Hasil validasi ahli serta tanggapan guru dan murid menunjukkan bahwa media yang dikembangkan memiliki tingkat kelayakan, penerimaan, dan kebermanfaatan yang tinggi dalam mendukung pembelajaran menulis teks. Media ini berpotensi menjadi alternatif inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menulis sekaligus melestarikan budaya daerah.
Penerapan Media Sosial Untuk Pembelajaran Literasi Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Asyam Sholikhul Hadi; Nur Azizah; Rahayu Pristiwati; Meina Febriani
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2026): May : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i2.1196

Abstract

Evolusi pendidikan di era Society 5.0 menuntut transformasi paradigma pembelajaran Bahasa Indonesia dari model tradisional menuju integrasi ekosistem digital yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan media sosial sebagai sarana pembelajaran literasi, mengidentifikasi tantangan yang muncul, serta merumuskan strategi mitigasi pedagogis yang relevan bagi pendidik. Menggunakan metode studi pustaka atau Systematic Literature Review (SLR), riset ini menyintesis berbagai literatur akademik dari basis data terakreditasi dalam rentang waktu 2021–2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan platform seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan X (Twitter) secara signifikan mampu meningkatkan motivasi intrinsik dan partisipasi aktif siswa. Berdasarkan landasan Teori Konektivisme dan Multimodalitas, media sosial mentransformasi peran siswa dari konsumen pasif menjadi pencipta pengetahuan (prosumer). Platform Instagram dan TikTok efektif untuk melatih keterampilan menulis kreatif serta berbicara performatif melalui fitur video pendek dan visual. Sementara itu, YouTube dan X mendukung pengembangan kemampuan menyimak kritis serta penyusunan argumen yang logis dan kohesif. Namun, integrasi ini menghadapi hambatan serius berupa distraksi kognitif akibat algoritma konten hiburan, degradasi kualitas kebahasaan (penyimpangan PUEBI), ancaman perundungan siber (cyberbullying), dan kesenjangan akses infrastruktur digital. Sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan strategi "walled-garden pedagogy" melalui penggunaan fitur privasi, penetapan kontrak etika digital (netiket), serta standardisasi rubrik penilaian yang memberikan bobot seimbang pada aspek gramatikal, substansi nalar, dan kreativitas multimodal. Sinergi lintas disiplin antara guru Bahasa Indonesia, PPKn, dan TIK menjadi kunci untuk membentuk ekosistem literasi yang inklusif dan tangguh. Simpulannya, media sosial yang dikelola dengan mitigasi risiko yang presisi dapat menjadi sekutu strategis dalam mengatasi krisis literasi nasional dan menyiapkan generasi yang kritis di era pascakebenaran (post-truth).
Penguatan Kesadaran Hak Cipta Karya Pembelajaran Bagi Guru di Kota Tegal melalui Katalogisasi dan Digitalisasi Tommi Yuniawan; Meina Febriani; Rio Anugrah Rizkiansyah; Ning Imas Ati; Desyfa Cahya Aina; Muhammad Farchan Muntaha
Educivilia: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Educivilia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/ejpm.v7i1.22688

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menciptakan karya inovatif pembelajaran berbasis digital yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa. Sasaran program ini adalah para guru di Kota Tegal yang memiliki potensi besar namun menghadapi kendala dalam pengembangan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan era digital. Dengan demikian SMP 1 Tegal sangat cocok sebagai mitra UNNES untuk memperluas jejaring tridarma perguruan tinggi sesuai dengan visi UNNES sebagai PTNBH dan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK). Masalah utama yang dihadapi guru meliputi: (1) kurangnya wawasan terkait pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung inovasi pembelajaran, (2) minimnya pemahaman tentang mekanisme perlindungan hak cipta atas karya pembelajaran, dan (3) terbatasnya akses ke pelatihan yang relevan dengan kebutuhan pengembangan profesional.Program ini mengusung metode pelaksanaan berbasis partisipatif, meliputi pelatihan, pendampingan teknis, dan penyusunan karya inovatif. Guru dibimbing untuk menciptakan berbagai bentuk media pembelajaran, seperti modul digital interaktif, video pembelajaran, atau presentasi berbasis teknologi yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, program juga mengintegrasikan sesi pendampingan untuk membantu guru dalam proses pendaftaran hak cipta di Kemenkumham sehingga karya inovatif mereka mendapatkan perlindungan hukum sekaligus dapat digunakan untuk keperluan kenaikan angka kredit. Untuk menjaga keberlanjutan program, tim pengabdi merencanakan pendampingan lanjutan berupa klinik hak cipta dan inovasi pembelajaran yang dilakukan secara berkala, baik secara luring maupun daring. Dengan demikian, program ini tidak hanya berhenti pada peningkatan kompetensi individual, tetapi juga menciptakan ekosistem pembelajaran digital yang berkelanjutan dan berkontribusi pada peningkatan mutu pendidikan di Kota Tegal.