Pengelolaan sampah perkotaan di Kota Makassar masih menghadapi persoalan struktural karena didominasi oleh pola linier collect–transport–dispose, yang menyebabkan rendahnya pemilahan dari sumber, terbatasnya pra-pengolahan, dan tingginya ketergantungan pada TPA. Di sisi lain, timbulan sampah sekitar 1.000 ton per hari dengan dominasi sampah organik 60–65% menunjukkan potensi besar untuk dihilirkan menjadi bahan bakar RDF dan energi listrik melalui pendekatan waste-to-energy (WtE). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan 15 responden yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas unsur Dinas Lingkungan Hidup, pengelola TPA, pelaku UMKM/koperasi daur ulang, dan komunitas masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Validasi data dilakukan melalui triangulasi sumber dan member checking untuk memastikan konsistensi temuan antar-kelompok responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting pengelolaan sampah masih memiliki tingkat pemilahan sekitar 10–15%, sedangkan melalui skenario hilirisasi berbasis UMKM, penguatan fasilitas pra-pengolahan, dan integrasi RDF/WtE, tingkat pemilahan dan pemanfaatan sampah berpotensi meningkat menjadi 45–55%. Proyeksi tersebut menunjukkan potensi peningkatan efektivitas pengelolaan sebesar 30–40%, pengurangan beban sampah ke TPA sebesar 25–35%, serta peningkatan pasokan bahan baku RDF dari sekitar 10% menjadi 35–45%. Dari sisi energi, sekitar 25–30% dari total timbulan sampah harian berpotensi menjadi bahan baku energi listrik apabila didukung oleh pemilahan, pengeringan, pencacahan, dan rantai pasok RDF yang stabil. UMKM berbasis lingkungan berperan strategis sebagai penghubung antara masyarakat, pemerintah, dan industri melalui kegiatan pengumpulan, pemilahan, pra-pengolahan, penyediaan bahan baku energi, serta penciptaan nilai ekonomi sirkular lokal.