Triyanto, Triyanto
Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Sebelas Maret

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 17 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2015/2016 Rosadi, Amri; Triyanto, Triyanto; Aryuna, Dyah Ratri
Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika SOLUSI Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Pendidikan Matematika dan Matematika SOLUSI, Volume 1, Nomor 1, Januari 2
Publisher : F.KIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.569 KB)

Abstract

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share(TPS) yang dapat meningkatkan keaktifan dan pestasi belajar matematika siswa kelas VIII A SMP Negeri 17 Surakarta dan mengetahui peningkatan keaktifan dan prestasi belajar matematika siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).Berdasarkan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) keaktifan siswa kategori tinggimengalami peningkatan dari25% pada prasiklus menjadi 37,5%pada siklus I dan menjadi 46,43% pada siklus II, sedangkan pada keaktifan kategori rendah mengalami penurunan dari 46,43% pada prasiklus menjadi 37,5% pada siklus I dan menjadi 19,64%. Untuk prestasi belajar matematika, persentase siswa yang tuntas KKM mengalami peningkatan dari 46,43% pada prasiklus menjadi 71,43%  pada siklus I dan menjadi 89,29%pada siklus II. Nilai rata-rata kelas juga mengalami peningkatan dari 66,60pada prasiklus menjadi 70,71 pada siklus I dan menjadi 74,91 pada siklus II. Hal ini sesuai dengan indikator ketercapaian yang ditentukan yaitu setidaknya, minimal 30% dari siswa berada pada keaktifan kategori tinggi sedangkan maksimal 20% siswa berada pada keaktifan kategori rendah dan sedikitnya 75% dari siswa memperoleh hasil ujian lebih dari atau sama dengan batas KKM yaitu 72 dengan rata-rata kelas lebih besar atau sama dengan 72
ANALISIS MISKONSEPSI MAHASISWA STKIP PGRI PACITAN PADA MATA KULIAH PENGANTAR DASAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN LOGIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF MAHASISWA Edi Irawan; Riyadi Riyadi; Triyanto Triyanto
Journal of Mathematics and Mathematics Education Vol 2, No 1 (2012): Journal of Mathematics and Mathematics Education
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jmme.v2i1.9942

Abstract

Abstrak :Miskonsepsi adalah gagasan yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang dicetuskan oleh para pakar dalam suatu bidang serta bisa berupa pengertian yang tidak akurat terhadap konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda dan hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak benar. Oleh karena itu, diperlukan informasi mengenai miskonsepsi untuk menghindari terjadinya miskonsepsi yang berkelanjutan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penguasaan konsep seseorang adalah gaya kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan terjadinya miskonsepsi pada mata kuliah pengantar dasar matematika pokok bahasan logika, ditinjau dari gaya kognitif mahasiswa. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa semester satu Program Studi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Pacitan, tahun 2011. Teknik yang digunakan dalam pengambilan subjek adalah purposive sampling. Identifikasi terjadinya miskonsepsi dilakukan dengan menggunakan teknik Certainly of Response Index(CRI) yang dikembangkan oleh Saleem Hasan. Sedangkan identifikasi gaya kognitif mahasiswa dilakukan dengan menggunakan instrumen Group Embedded Figures Test(GEFT) yang dikembangkan oleh Witkin. Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi miskonsepsi pada mahasiswa dengan gaya kognitif Field dependent(FD) lebih tinggi dibandingkan dengan miskonsepsi pada mahasiswa dengan gaya kognitif Field independent(FI). Mahasiswa FD lebih banyak mengalami miskonsepsi pada konsep invers, konvers, dan kontraposisi (38 %) sedangkan pada mahasiswa FI lebih banyak mengalami miskonsepsi pada konsep negasi pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor (32 %). Miskonsepsi pada mahasiswa FD lebih banyak disebabkan oleh prakonsepsi yang salah dan rendahnya kemampuan mahasiswa. Sedangkan miskonsepsi pada mahasiswa FI lebih banyak disebabkan oleh Simplifikasi dan intuisi yang salah dari mahasiswa.Kata kunci: miskonsepsi, gaya kognitif, CRI, GEFT.
EFEKTIFITAS PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PEMECAHAN MASALAH DITINJAU DARI KONSEP DIRI SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SMP NEGERI DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Abdul Aziz KH; Mardiyana Mardiyana; Triyanto Triyanto
Journal of Mathematics and Mathematics Education Vol 2, No 2 (2012): Journal of Mathematics and Mathematics Education
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jmme.v2i2.9968

Abstract

 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1). Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik, pendekatan pembelajaran Kontekstual, Pemecahan Masalah atau Pembelajaran Langsung. (2). Manakah yang memberikan prestasi belajar matematika siswa yang lebih baik, siswa dengan konsep diri tinggi, sedang atau rendah. (3). Apakah  pada masing-masing konsep diri siswa (tinggi, sedang dan rendah) pendekatan pembelajaran Kontekstual lebih baik dibanding Pemecahan Masalah dan Pembelajaran Langsung, dan Pemecahan Masalah lebih baik dibanding Pembelajaran Langsung. (4). Apakah pada masing-masing pendekatan pembelajaran (Kontekstual, Pemecahan Masalah dan Pembelajaran Langsung) pada siswa dengan konsep diri tinggi lebih baik dibanding dengan konsep diri sedang dan rendah serta apakah siswa dengan konsep diri sedang lebih baik dibanding dengan konsep diri rendah.Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain faktorial 3x3. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten Sragen semester genap tahun pelajaran 2011/2012. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified cluster random sampling dengan sampel penelitian adalah siswa-siswi SMP Negeri 2 Sragen, SMP Negeri 1 Karangmalang, dan SMP Negeri 2 Karangmalang masing-masing terdiri dari tiga kelas, satu kelas sebagai kelas Pembelajaran Kontekstual, satu kelas sebagai kelas Pembelajaran Pemecahan Masalah dan satu kelas sebagai kelas Pembelajaran Langsung. Banyak anggota sampel seluruhnya adalah 265 siswa. Uji instrumen yang digunakan adalah uji validitas, reliabelitas, daya beda dan tingkat kesukaran. Uji normalitas menggunakan Lilliefors, uji homogenitas dengan uji Bartlett dan uji keseimbangan menggunakan uji-F. Uji hipotesis menggunakan uji anava dua jalan dengan sel tak sama.Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dalam penelitian ini dapat disimpulkan. (1). Pendekatan pembelajaran kontekstual memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pembelajaran pemecahan masalah dan pembelajaran langsung, dan pembelajaran pemecahan masalah memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pembelajaran langsung. (2). Siswa yang memiliki konsep diri tinggi mempunyai prestasi belajar lebih baik daripada siswa yang memiliki konsep diri sedang dan rendah, dan siswa dengan konsep diri sedang memberikan prestasi belajar lebih baik daripada siswa dengan konsep diri rendah. (3a). Pada siswa dengan konsep diri tinggi, pembelajaran pemecahan masalah memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pembelajaran langsung. Sedangkan pendekatan pembelajaran kontekstual sama baiknya dengan pembelajaran pemecahan masalah dan pembelajaran langsung. (3b). Pada siswa dengan konsep diri sedang, pembelajaran kontekstual memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pembelajaran langsung. Sedangkan pendekatan pembelajaran pemecahan masalah sama baiknya dengan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran langsung. (3c). Pada siswa dengan konsep diri rendah, pendekatan pembelajaran kontekstual memberikan prestasi belajar lebih baik daripada pembelajaran pemecahan masalah. Sedangkan pendekatan pembelajaran pemecahan masalah dan kontekstual sama baiknya dengan pembelajaran langsung. (4a). Pada pendekatan pembelajaran kontekstual, semua siswa dengan beragam konsep diri memiliki prestasi belajar yang sama. (4b). Pada pendekatan pembelajaran pemecahan masalah, siswa dengan konsep diri tinggi memiliki prestasi belajar lebih baik daripada siswa dengan konsep diri sedang dan siswa dengan konsep diri tinggi memiliki prestasi belajar lebih baik daripada konsep diri rendah, dan siswa dengan konsep diri sedang akan lebih baik daripada siswa dengan konsep diri rendah. (4c). Pada pendekatan pembelajaran langsung, semua siswa dengan beragam konsep diri memiliki prestasi yang sama. Kata kunci :     Pendekatan Pembelajaran Matematika, Kontekstual, Pemecahan Masalah, Pembelajaran Langsung, Prestasi Belajar, Konsep Diri.
MODIFIKASI PEMBELAJARAN STATISTIKA MATEMATIKA DENGAN METODE PETA KONSEP MELALUI PENDEKATAN ANALOGI Triyanto Triyanto
Journal of Mathematics and Mathematics Education Vol 1, No 2 (2011): Journal of Mathematics and Mathematics Education
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jmme.v1i2.9938

Abstract

ABSTRAK             Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan menerapkan model dan perangkat pembelajaran Statistika Matematika I melalui modifikasi pembelajaran dengan metode peta konsep melalui pendekatan analogi,  dengan harapan kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan. Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model 4-D. Sedangkan dalam penerapannya,  penelitan ini menggunakan metode diskriptif kuantitatif untuk mengetahui pengaruh pembelajaran peta konsep melalui pendekatan analogi (yang dikembangkan) terhadap prestasi  belajar mahasiswa pada mata kuliah Statistika Matematika I.  Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 70 mahasiswa yang secara acak dari mahasiswa yang mengambil mata kuliah  Statistika Matematika I tahun akademik 2010/2011. Dari sampel tersebut 35 mahasiswa ditempatkan dalam kelas eksperimen dan 35 mahasiwa yang lain ditempatkan dalam kelas kontrol.Hasil penelitian ini adalah 1) Telah dikembangkan perangkat pembelajaran yang  berupa bahan ajar dan RPP untuk mata kuliah  Statistika Matematika I yang mengacu pada pembelajaran peta konsep melalui pendekatan analogi. 2) Terdapat pengaruh positif pembelajaran peta konsep melalui pendekatan analogi pada mata kuliah Statistika Matematika I di Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Kata Kunci : Statistika Matematika, Peta Konsep, Analogi1)         Artikel hasil penelitian2)         Staf Pengajar pada Program Studi Pend. Matematika, FKIP, UNS
ANALISIS BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN POLYA PADA POKOK BAHASAN PERSAMAAN KUADRAT (Penelitian pada Siswa Kelas X SMK Muhammadiyah 1 Sragen Tahun Pelajaran 2013/2014) Harlinda Fatmawati; Mardiyana Mardiyana; Triyanto Triyanto
Jurnal Pembelajaran Matematika Vol 2, No 9 (2014): Pembelajaran Matematika
Publisher : Jurnal Pembelajaran Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : This research aims were to describe: (1) students’ level of critical thinking, (2) students’ process of critical thinking in problem solving based on Polya, (3) factors influencing students’ process of critical thinking. This was a descriptive qualitative research. Subject of the research was students grade X AP 1 of SMK Muhammadiyah 1 Sragen consisting of four students. Subject was selected using purposive sampling. Instrument of collecting data were observation, problem solving test and interview. Validity of the data was tested using triangulation method. The data were analyzed by: (1) classifying the data in level of critical thinking based on indicators of critical thinking stated by Ennis; (2) analyzing each critical thinking level based on four steps of Polya’s problem solving; (3) analyzing factors influencing students’ process of critical thinking. From the research on 36 students, the results of students’ level of critical thinking are 19.4% for critical thinking level 0, 72.2% for critical thinking level 1, 5.6% for critical thinking level 2 and 2.8% for critical thinking level 3. Students’ process of critical thinking in (a) understanding problems, critical thinking level 0 was not able to construct point of the problems and reveal the facts, critical thinking level 1, 2, and 3 were able to construct point of the problems and reveal the facts; (b) making a plan, critical thinking level 0 was not able to detect the bias and determine theorem in solving problems, critical thinking level 1 was not able to detect the bias but was able to theorem in solving problems, critical thinking level 2 and 3 were able to detect the bias and determine theorem in solving problems; (c) carrying out the plan, critical thinking level 0 was not able to solve problems as the planning, critical thinking level 1, 2 and 3 were able to solve problems as the planning; (d) looking back the completed solution, critical thinking level 0 and 1 were not able to select logical argument and to draw conclusion, however, critical thinking level 1 was able to solve the problems using another method, critical thinking level 2 was not quite able to select logical argument and to draw conclusion, but it was able to solve the problems using another method, and critical thinking level 3 was able to select logical argument, to draw conclusion and to solve the problems using another method. Factors influencing students’ process of critical thinking are students were not accustomed to solve story problems so that they were not able to understand the problems, students found it difficult to construct Mathematics model, and students were accustomed to solve questions using only one method.Key words: Critical thinking, Polya’s problem solving, Process of critical thinking, Level of critical thinking.
PENDEKATAN DAN PENILAIAN PEMBELAJARAN PADA KURIKULUM 2013 REVISI 2017 YANG MENDUKUNG PENINGKATAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA Anisa Astra Jingga; Mardiyana Mardiyana; Triyanto Triyanto
Jurnal Pembelajaran Matematika Vol 5, No 3 (2018): Jurnal Pembelajaran Matematika
Publisher : Jurnal Pembelajaran Matematika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.81 KB)

Abstract

Abstract: Mathematical connection ability is an ability that becomes the goal of mathematics learning. The importance of mathematical connection ability for students requires teachers to carry out mathematical connection ability in learning and it should be in accordance with the applicable curriculum. The fundamental difference between curriculum 2013 and the previous curriculum lies in the learning approach and learning assessment. This is a library research which combines all relevant books, journals, and other libraries as data sources. The purpose of this study is to find out how 2013 curriculum supports the improvement of students' mathematical connection ability. The scientific approach contains observing and gathering information activities. The RME approach contains the implementation of characters, such as the real world context, models, production, students’ construction, interaction, and interrelatedness. The CTL approach contains components in the form of making meaningful connection and doing significant work. AfL consists of feedback activities. AaL contains self-analysis, self-reference, self-evaluation, self-correction performed by students in the learning process, and other metacognitive strategies. These things facilitate students and teachers to develop mathematical connection ability.Keywords: AaL, AfL, Mathematical Connection, Approach.
Students’ Mathematical Reasoning Skills in Solving Mathematical Problems Christine Iriane Gultom; Triyanto; Dewi Retno Sari Saputro
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 11 No 3 (2022): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.924 KB) | DOI: 10.23887/jpiundiksha.v11i3.42073

Abstract

Mathematical material will be easily understood through reasoning and that reasoning skills can be trained through mathematics learning. However, there are still many students who do not have good reasoning skills. This study aims to analyses the mathematical reasoning skills of class XI students of Senior High School on trigonometry in solving mathematical problems. This research is a qualitative descriptive study. The participants of this study were 2 students, namely student 1 (S1) and student 2 (S2) who were selected by purposive sampling. The instruments used to explore this mathematical reasoning skill were written tests and interviews. Triangulation method was employed to validate the data. The results showed that S1 was able to meet the reasoning indicator in proposing conjectures, predicting the answers and the solution process, performing mathematical manipulation and concluding sentences at the end of a completion. S2 was able to meet the reasoning indicator in proposing conjectures and predicting the answers and the solution process. However, S2 was less capable in performing mathematical manipulation and less capable concluding sentences at the end of a completion.