Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Testing of Concrete Structures with Non-Destructive Test Method (NDT) Using Ultrasonic Pulse Velocity (UPV) at the Building on the Ancol Beach Citra, Zel; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Malinda, Yosie; Wibisono, Anom; Apdeni, Risma; Herol, Herol
CIVED Vol. 11 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/cived.v11i1.530

Abstract

The UPV test procedure with the PUNDIT device is set based on the concept of the wave flow speed passing through a solid object bound to the elastic properties of a tangible medium. When used properly and correctly, this tool will provide a lot of information about the condition of the surface or the inside of the concrete. Classification for pulse velocity results according to the speed criteria of concrete quality presented in BS 1881: Section 203:1986 as follows: 4500 m/s = excellent concrete condition, 3400 – 4500 m/s = good concrete conditions, 3000-3500 m/s = medium concrete situation, < 3000 m/ s = concrete problem condition (doubtful concrete condition). The pulse velocity test results are measured by three methods: direct transmission, semi-direct transmission and indirect or surface transmission. The test results for the structure of the beams, cylinders, tie beams, and floor plates of the office building on the edge of the anchor showed that it is in medium concrete condition. The average value of the estimated quality of concrete results of the test UPV Pundit for Beams was 25,29MPa, Slabs was 25,17MPa, Tie Beam was 25,06MPa, and Pilecap was 25,46MPa. The result has met the minimum requirement for concrete solid pressure of 21MPa for the quality of unique structures concrete according to SNI-2847-2019.
Perancangan Interior Control Room Industri 4.0 Footwear Sport Shoes Direct Injection Process Pada Kampus Politeknik ATK Yogyakarta Wibisono, Anom
Lintas Ruang: Jurnal Pengetahuan dan Perancangan Desain Interior Vol 10, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/lintas.v10i1.6944

Abstract

Politeknik ATK (dahulu bernama Akademi Teknologi Kulit/ATK) di Yogyakarta merupakan Perguruan Tinggi dibawah naungan Kementrian Perindustrian yang memiliki 3 jurusan, yakni Teknologi Pengolahan Kulit (TPK), Teknologi Pengolahan Kulit dan Plastik (TPKP), Teknologi Pengolahan Produk Kulit (TPPK). Untuk mendukung proses belajar mengajar sekaligus praktek di lingkungan kampus maka Perancangan ini dilatar belakangi kebutuhan ruangan yang menjadi pengendali komputerisasi (control room) dari aktifitas workshop pembuatan sepatu pada Politeknik ATK, untuk mengimplementasikan Industri 4.0 yang telah ditetapkan Pemerintah dalam menyikapi revolusi industri di Indonesia. Perancangan interior ini memfokuskan pada aspek fungsi dan estetika dalam mendukung kinerja pada sebuah ruang pengendali (control room) sehingga mampu memberi daya dukung yang lebih optimal pada proses belajar mengajar yang lebih nyata.Control room ini juga merupakan etalase penting bagi kampus Politeknik ATK untuk mendedikasikan atas capaian dalam implementasi Industri 4.0 kepada masyarakat. Dimana pada control room ini sumber daya teknologi dan sumber daya manusia saling sinergi dalam mensukseskan proses implementasi ini.
Peningkatan Pemahaman Masyarakat terkait Manfaat Sumur Biopori sebagai Drainase Vertikal dalam Mengatasi Banjir di Kelurahan Meruya Selatan Malinda, Yosie; Citra, Zel; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Wibisono, Anom
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 05 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i05.1142

Abstract

Topografi Jakarta bervariasi, namun sebagian besar berada pada dataran rendah dengan kemiringan antara 0-2% dan ketinggian rata-rata sekitar 7 meter di atas permukaan air laut. Musim penghujan dimulai pada Oktober-Maret, sedangkan musim kemarau biasanya dimulai pada bulan April-September. Curah hujannya rata-rata 920,1 milimeter pertahun. Menurut Badan Nasional Penanggulan Bencana (2020), Jakarta Barat dengan 18 kelurahan, 2.887 orang mengungsi, Jakarta Utara dengan 5 kelurahan, 738 orang mengungsi, Jakarta Timur dengan 6 kelurahan, 3.640 orang mengungsi, Jakarta Pusat dengan data nihil dan Jakarta Selatan dengan 10 kelurahan, 4.209 orang mengungsi dan ketinggian air mencapai 0,3-1,2 meter. Banjir di Jakarta sudah menjadi masalah yang kerap terjadi terutama dengan adanya faktor sekunder dan faktor primer. Faktor sekunder adalah intensitas hujan yang tinggi. Faktor primer adalah kebiasaan masyarakat membuang sampah pada saluran air perkotaan, banyak saluran drainase yang menyempit oleh padatnya bangunan, menebalnya sedimentasi yang terakumulasi oleh sampah di aliran badan air, sehingga air tidak bisa mengalir dengan lancar. Oleh karena itu, munculah ide pembuatan lubang resapan biopori dimana bahan utamanya adalah sampah organik. Lubang resapan biopori (LRB) itu sendiri merupakan lubang vertikal silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan ukuran diameter 10-30 cm, dengan kedalaman 50-100 cm atau bila permukaan air tanahnya dangkal, maka tidak sampai kedalaman air tanah. Pemberdayaan kepada masyarakat menekankan pada aspek keterampilan, pengetahuan, keahlian untuk meningkatkan kapasitas dirinya yang cukup, sehingga jika terjadi suatu bencana banjir maka masyarakat sekitar dapat diberdayakan secara mandiri untuk mengatasinya. Teknik yang sederhana dalam mengatasi banjir, maka diusulkan program pengabdian berjudul “Peningkatan Pemahaman Masyarakat terkait Manfaat Sumur Biopori sebagai Drainase Vertikal dalam Mengatasi Banjir di Kecamatan Kembangan Meruya Selatan”.
Implementasi Pembuatan Konstruksi Sumur Biopori Di Kelurahan Meruya Selatan Wibisono, Anom; Citra, Zel; Malinda, Yosie; Dwiyanto WIbowo, Paksi
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 05 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i05.1151

Abstract

Tindakan untuk meminimalisir kejadian genangan atau banjir di wilayah DKI Jakarta serta meningkatkan konservasi air untukterjaminnya ketersediaan air bersih di Kota Jakarta, maka salah satu solusinya dengan Pekerjaan Pembuatan Lubang Biopori dan Sumur Resapan di wilayah di Kota Jakarta. Biopori adalah teknik sederhana untuk melindungi tanah dan menghasilkan kualitas air yang bersih. Biopori dibuat dengan prinsip ekohidrologi, yaitu untuk memperbaiki kondisi tanah sehingga fungsi hidrologi ekosistem terjaga. Teknik ini bisa digunakan pada area padat pemukiman dan tidak memiliki lahan terbuka sama sekali, atau area persawahan di area perbukitan. Dalam rangka memberi solusi bagi persoalan air hujan, lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar Kelurahan Meruya Selatan tersebut maka diusulkan program pengabdian berjudul “Implementasi Pembuatan Konstruksi Sumur Biopori Sebagai di Kelurahan Kembangan Meruya Selatan”.
Penyuluhan Terkait Bahan dan Peralatan Pembuatan Biopori kepada Masyarakat Kembangan Meruya Selatan Frangklyn Sinulingga, Jef; Sinulingga, Jef Frangklyn; Dharmapribadi, Ernanda; Kinasih, Reni Karno; Citra, Zel; Malinda, Yosie; Wibisono, Anom; Wibowo, Paksi Dwiyanto
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 05 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i05.1162

Abstract

Pertumbuhan kota Jakarta yang pesat dan pembangunan bangunan gedung meningkat, maka resapan air hujan menjadi berkurang. Pada musim hujan, banjir terjadi dalam jumlah besar, dan pada musim kemarau, kekeringan terjadi karena kurangnya air di tanah. Dengan teknologi pembuatan lubang resapan biopori jumlah kapasitas atau volume air yang meresap akan meningkat. Kegiatan pengabdian masyarakat itu menjadi ajang untuk mendorong inovasi dan pembelajaran berkelanjutan. Melestarikan air tanah dengan membuat biopori di rumah-rumah sebagai drainase vertikal Meruya Selatan. Pengabdian masyarakat merupakan upaya mewujudkan perubahan positif bagi lingkungan dan pembuatan biopori merupakan sebuah inovasi ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi tantangan lingkungan sekitar.
Penyuluhan tentang Bahan Bangunan yang Berkualitas untuk Rumah Aman Gempa Citra, Zel; Malinda, Yosie; Wibisono, Anom; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Apdeni, Risma
Jurnal Pengabdian West Science Vol 3 No 12 (2024): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v3i12.1825

Abstract

Indonesia merupakan wilayah yang sangat berpotensi terkena gempa bumi. Karena posisinya yang diapit lempeng Eurasia, Indo Australia dan Pasifik. Kondisi wilayah Indonesia masuk ke dalam kategori wilayah yang sangat rawan bencana gempa bumi. Oleh sebab itu, pemerintah melalui menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengingatkan supaya tercipatanya rumah dengan konstruksi ramah gempa bagi masyarakat dengan menggunakan bahan konstruksi atau material bangunan dengan kualitas yang baik serta harga terjangkau bagi masyarakat untuk pembuatan struktur bangunan seperti pondasi, sloof, kolom, balok, dinding, serta atap bangunan. Hasil pelaksanaan pengabdian masyarakat di SMK Negeri 4 Tangerang, peserta terutama siswa sudah mampu untuk memahami dan menjelaskan bahan bangunan yang baik dan berkualitas bangunan untuk konstruksi rumah yang aman terhadap gempa. Bahan bangunan yang dipergunakan seperti pasir, batu, bata, semen, besi, kayu, dan air.
Implementasi Pemasangan Geotextile Non Woven untuk Biopori Resapan Air Hujan di Kembangan Utara Malinda, Yosie; Citra, Zel; Wibowo, Paksi Dwiyanto; Wibisono, Anom
Jurnal Pengabdian West Science Vol 4 No 01 (2025): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v4i01.1853

Abstract

Sistem drainase yang buruk merupakan suatu masalah sehingga genangan air sering muncul terutama di kota-kota yang padat penduduk. Sebagai civitas akademis yang memiliki tanggung jawab moral untuk menangani dan memecahkan masalah-masalah tersebut dengan menggunakan IPTEK. Salah satunya yaitu membangun sumur resapan. Sumur resapan digunakan untuk meresapkan air permukaan jika terjadi hujan atau genangan masuk ke dalam tanah. Saat ini, salah satu teknologi resapan yaitu modular tank tau geotextile non-woven yang dibuat dari polimer berbahan dasar polypropylene. Pada hari Sabtu tanggal 18 Januari 2020 dan Sabtu tanggal 29 Januari 2020, pelaksanaan pengabdian masyarakat dengan pengenalan geotextile non-woven dan praktik pemasangannya telah dilakukan di lima lokasi seperti Kantor Kelurahan Kembangan Utara, RT 01 RW 01 Kelurahan Kembangan Utara, RT 01 RW 02 Kelurahan Kembangan Utara, RT 01 RW 03 Kelurahan Kembangan Utara, dan RPTRA Kelurahan Kembangan Utara.
Inspection of Foundation Structures with Pile Integrity Test (PIT) of Steel Tower Building Citra, Zel; Malinda, Yosie; Dwiyanto Wibowo, Paksi; Ferial Ashadi, Reza; Wibisono, Anom; Apdeni, Risma
Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2 (2024): Rekayasa Sipil Vol. 18 No. 2
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2024.018.02.10

Abstract

Pile Integrity Test (PIT) is a tool from Pile Dynamic Inc. (PDI), consisting of a mini-computer, accelerometer, and hammer. Integrity testing on piles using PIT equipment is carried out by analyzing one-dimensional wave propagation provided by hammer blows on the pile head. An accelerometer sensor installed on the pole will read the reflection that occurs during wave propagation on the pole head. The wave propagation speed that occurs in concrete will range from 3,500 m/s to 4,200 m/s. The PIT test results indicate the reduction in impedance in the pole by the BTA value, which compares the theoretical impedance value to the residual impedance. From the results of the Pile Integrity Test carried out at three pile points, it was found that all samples experienced a reduction in impedance around a depth of ± 3.0 meters below the sensor with BTA values of 75%, 78%, and 72% and fell into the damaged category. The reduction in impedance at a depth of 3 meters is most likely part of the connection between piles because one pile point uses 2–3 spun piles, with the length of 1 spun pile being 9 meters. From the results of visual observations, it can be seen that the condition of the existing spun pile and pile cap is still quite good.