Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Amerta

IDENTIFIKASI BEBERAPA TEMUAN ARTEFAK LOGAM¹ DARI SITUS INTAN SHIPWRECK² Sarjiyanto
AMERTA Vol. 28 No. 1 (2010)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Informasi penemuan kapal karam dengan berbagai jenis muatanya di perairan Nusantara memiliki arti penting. Berbagai jenis artefak seperti keramik, kaca, tembikar, artefak batu, artefak logam, sebagaimana ditemukan di Situs Intan Shipwreck membuktikan peran penting pelayaran di perairan Nusantara. Artefak berbahan logam yang ditemukan terdiri dari berbagai jenis. Beberapa diantaranya berupa batangan logam, baki atau nampan, cermin, genta. Dari berbagai analisis yang telah dilakukan diduga juat artefak-artefak ini berasal dari sekitar abad ke-9-10 Masehi. Periode ini dapat dihubungkan dengan masa transisi perpindahan kerajaan Mataram Kuna di Jawa tengah ke wilayah Jawa bagian Timur dan juga kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kata kunci: artefak logam, komoditi dagang, kapal karam, Situs Intan Wreck ABSTRACT. Identification of Metal Artifacts Finds from Intan Shipwreck Information on discoveries of shipwreck with is various trade commodities in the water territory of Nusantara has an important meaning. Different types of articats such as ceramics, glass artifacts, potteries, stone artifacts, and metal artifacts like those found at the Inta Wreck Site prove the important role of sea transportation in water territory of Nusantara. Metal artifacts found there comprise various types including ingots, pans/trays, mirrors, bells, etc. From a number of analyses that have been carried out, it is strongly assumed that those artifacts are from around 9th – 10th centuries AD, which can be atrtributed to a period of transition from the Ancient Mataram Empire in Central Java to East Java, as well as the Sriwijaya Kingdom with its capital in Palembang. Keywords: metal artifact, trade commodity, shipwreck, Intan Wreck Site
POTENSI ARKEOLOGIS KEPULAUAN MALUKU: PENELITIAN DAN PEMANFAATAN* Sarjiyanto
AMERTA Vol. 33 No. 1 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kepulauan Maluku dikenal dunia sebagai tempat produksi, jalur, dan tujuan pencarian rempah oleh negara-negara Eropa pada periode perdagangan masa lampau. Beberapa negara seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris telah memberi pengaruh perkembangan peradaban di Kepulauan Maluku. Beberapa penelitian di situs-situs bekas kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, dan bekas tempat kekuasaan lokal Orang Kaya di Banda telah memberi gambaran potensi sumberdaya budaya dan arti penting situs-situs itu bagi sejarah Nusantara. Belum semua informasi atau data yang diperoleh langsung dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas dengan berbagai media komunikasi. Untuk itu diharapkan data dan informasi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kepentingan berbagai hal. Metodenya dengan memperlihatkan nilai penting dari hasil penelitian situs dan tinggalannya serta memberikan berbagai bentuk pemanfaatannya. Hasil pemanfaatannya antara lain melalui media penyaluran informasi publikasi, pengeluaran peraturan/kebijakan, tata lingkungan, pengembangan wisata, program pendidikan, pengembangan konsep baru, pengembangan museum. Regulasi yang lebih membuka peluang peran publik dalam pengelolaan dan penyajian benda budaya juga masih perlu dikembangkan.Termasuk di dalamnya peningkatan berbagai bentuk program pameran, pendidikan, dan event yang lebih berorientasi kepada masyarakat. Kata Kunci: Maluku, Rempah, Pengelolaan, Pemanfaatan, Media komunikasi Abstract. Archaeological Potency of Maluku Islands and Its Utilitations. Maluku islands is known to the world, especially European countries, as a producer, part of trade route, and destination of spices during the trade period in the past. Some countries such as Portugal, Spain, the Netherlands, and the United Kingdom have influenced the development of civilization in the Maluku islands. Several studies on the sites of the former kingdoms of Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, and the former site of the local authority of the rich society in Banda has given an overview of cultural resource potential and importance of the sites for the history of the archipelago. Not all the information or data obtained can be utilized directly for the benefit of the wider community with diverse communication media. Therefore it is hoped that the available data and information can be utilized for various purposes by showing their important values of sites and their finds as well as the variety of proper uses, among others publications, issuance of regulations/policies, environmental management, tourism development, educational programs, development of new concepts, or establishing and improving museums. Regulations that provide more opportunity for public involvement in management and display of cultural heritage items – such as exhibitions, education, and events that are more community-oriented – also need to be made. Keywords: Maluku, Spices, Management, Utilization, Communication media
MENCERMATI KEMBALI KOMODITAS LADA MASA KESULTANAN BANTEN ABAD KE-16-19 Sarjiyanto
AMERTA Vol. 26 No. 1 (2008)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Dalam banyak sumber sejarah telah disebutkan tentang lada sebagai komoditas penting yang diperdagangkan di pelabuhan Banten sejak periode kerajaan Sunda Pajajaran hingga pada Kesultanan Banten yang muncul pada abad ke XVT. Dari bu.kti sejarah dan.fakta arkeologi yang terbatas dapat tergambar perkebunan lada telah diusahakan di wilayah Banten dan meluas ke Lampung tatkala permintaan pasar dunia meningkat akan produk ini. Data arkeologi berupa toponimi Pamarican di situs Banten pesisir dan juga dalung-dalung atau prasasti tembaga dari Sultan Banten banyak terkait dengan Jada. Meskipun jarang sekali disebut, namun hingga abad XIX perkebunan Jada masih diupayakan di wilayah Banten. Dari data arsip Belanda tergambar sisa-sisa kaum bangsawan Banten masih berperan dalam pengolahan produk lada di wilayah ini. Data paling aktual pada beberapa lokasi di Banten masih terdapat kantong-kantong perkebunan lada yang tersisa terutama di wilayah Pandeglang dan sedikit di Serang. Kata kunci: Pamarican, perkebunan lada, prasasti tembaga (dalung). ABSTRACT. Reinvestigating Pepper as a Commodity during the Period of the Sultanate of Banten in 6th-19th Centuries AD. Many historical sources mention pepper as important commodity traded at the port of Banten since the period of the Sunda Kingdom of Pajajaran until the period of the Sultanate of Banten, which emerged in 161hcentury AD. Limited historical evidences and archaeological facts have shown that there were pepper plantations at Banten, which then spread to Lampung when demand from international market increased. Archaeological data, which include the toponym Pamarican (merica = pepper) at a site in coastal Banten and dalungs or copper inscriptions of the Sultan of Banten, are closely related to pepper. Although rarely mentioned, up to 19th century AD pepper plantations were still operated in Banten. Data from Dutch archives describe that the last of the Banten aristocrats were still participated in the management of pepper manufacture in this area. The most actual data reveal that a number ofclusters of pepper plantations can still be found here, especially in Pandeglang and a few in Serang. Keywords: Pamarican, pepperplantation, pepper sorter, copper inscription (dalung).
IDENTIFIKASI BEBERAPA TEMUAN ARTEFAK LOGAM¹ DARI SITUS INTAN SHIPWRECK² Sarjiyanto
AMERTA Vol. 28 No. 1 (2010)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Informasi penemuan kapal karam dengan berbagai jenis muatanya di perairan Nusantara memiliki arti penting. Berbagai jenis artefak seperti keramik, kaca, tembikar, artefak batu, artefak logam, sebagaimana ditemukan di Situs Intan Shipwreck membuktikan peran penting pelayaran di perairan Nusantara. Artefak berbahan logam yang ditemukan terdiri dari berbagai jenis. Beberapa diantaranya berupa batangan logam, baki atau nampan, cermin, genta. Dari berbagai analisis yang telah dilakukan diduga juat artefak-artefak ini berasal dari sekitar abad ke-9-10 Masehi. Periode ini dapat dihubungkan dengan masa transisi perpindahan kerajaan Mataram Kuna di Jawa tengah ke wilayah Jawa bagian Timur dan juga kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kata kunci: artefak logam, komoditi dagang, kapal karam, Situs Intan Wreck ABSTRACT. Identification of Metal Artifacts Finds from Intan Shipwreck Information on discoveries of shipwreck with is various trade commodities in the water territory of Nusantara has an important meaning. Different types of articats such as ceramics, glass artifacts, potteries, stone artifacts, and metal artifacts like those found at the Inta Wreck Site prove the important role of sea transportation in water territory of Nusantara. Metal artifacts found there comprise various types including ingots, pans/trays, mirrors, bells, etc. From a number of analyses that have been carried out, it is strongly assumed that those artifacts are from around 9th – 10th centuries AD, which can be atrtributed to a period of transition from the Ancient Mataram Empire in Central Java to East Java, as well as the Sriwijaya Kingdom with its capital in Palembang. Keywords: metal artifact, trade commodity, shipwreck, Intan Wreck Site