Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

IDENTIFIKASI BEBERAPA TEMUAN ARTEFAK LOGAM¹ DARI SITUS INTAN SHIPWRECK² Sarjiyanto
AMERTA Vol. 28 No. 1 (2010)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Informasi penemuan kapal karam dengan berbagai jenis muatanya di perairan Nusantara memiliki arti penting. Berbagai jenis artefak seperti keramik, kaca, tembikar, artefak batu, artefak logam, sebagaimana ditemukan di Situs Intan Shipwreck membuktikan peran penting pelayaran di perairan Nusantara. Artefak berbahan logam yang ditemukan terdiri dari berbagai jenis. Beberapa diantaranya berupa batangan logam, baki atau nampan, cermin, genta. Dari berbagai analisis yang telah dilakukan diduga juat artefak-artefak ini berasal dari sekitar abad ke-9-10 Masehi. Periode ini dapat dihubungkan dengan masa transisi perpindahan kerajaan Mataram Kuna di Jawa tengah ke wilayah Jawa bagian Timur dan juga kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kata kunci: artefak logam, komoditi dagang, kapal karam, Situs Intan Wreck ABSTRACT. Identification of Metal Artifacts Finds from Intan Shipwreck Information on discoveries of shipwreck with is various trade commodities in the water territory of Nusantara has an important meaning. Different types of articats such as ceramics, glass artifacts, potteries, stone artifacts, and metal artifacts like those found at the Inta Wreck Site prove the important role of sea transportation in water territory of Nusantara. Metal artifacts found there comprise various types including ingots, pans/trays, mirrors, bells, etc. From a number of analyses that have been carried out, it is strongly assumed that those artifacts are from around 9th – 10th centuries AD, which can be atrtributed to a period of transition from the Ancient Mataram Empire in Central Java to East Java, as well as the Sriwijaya Kingdom with its capital in Palembang. Keywords: metal artifact, trade commodity, shipwreck, Intan Wreck Site
BENTENG BALANGNIPA DI KABUPATEN SINJAI, SULAWESI SELATAN (POLA TATA RUANG DAN ARTI PENTING KEDUDUKANNYA) Sarjiyanto
Berkala Arkeologi Vol. 22 No. 1 (2002)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v22i1.852

Abstract

The fort complex was not very large, so there were only a few simple main buildings. This is related to the function, level of space requirements and the role of the fort. The internal condition of the Netherlands is also experiencing a decline in strength and threats from outside at that time. The artifactual remains also show the role (of the Dutch) in the use of the fort. The construction of the fort considered economic interests by trying to control the kingdom of Bone and the strategic bay of Bone. Fort Balangnipa was once used for Indonesian independence fighters, police dormitories, and currently planned to be use as a regional museum. This fort proved to be of real importance especially for the Sinjai area and for the Dutch when they wanted to control Bone because of their economic interests. The remains of the existing colonial fortress also enriched the historical data of the Indonesian struggle, especially the Bone kingdom.
ARTEFAK LOGAM DARI SITUS BUTON, SULAWESI TENGGARA ARTI PENTINGNYA BAGI KEKUASAAN MASA KESULTANAN BUTON Sarjiyanto
Berkala Arkeologi Vol. 20 No. 1 (2000)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v20i1.812

Abstract

It can be said that the discovery of metal artifacts, especially those related to war equipment, shows that Buton has economic potential as well as a strategic position. This situation then encourages outsiders to attack and try to control them. The consequences of the war later helped determine the political policies of the Buton government, especially in the defense aspect. As a government institution, although the Sultanate of Buton might be less important internationally, but in terms of the development of Islamic culture in the archipelago, it has an important meaning. The Sultanate of Buton is proven to continue to exist with its various dynamics from 1538-1960.
SURVEI MINAT ADOPSI PRAKTIK UMKM HIJAU DALAM MENDUKUNG SUSTAINABLE RURAL TOURISM DEVELOPMENT DI DUSUN PAYAKAN KABUPATEN MAGELANG (Studi Kasus Kelompok Tani Ngudi Rejeki) Hilmah Zuryani; Mafruhah, Izza; Sarjiyanto
Jurnal Dinamika Ekonomi Syariah Vol 12 No 1 (2025): Jurnal Dinamika Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah, Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/jdes.v12i1.1189

Abstract

Tujuan penelitian ini ada lima yakni memetakan sebaran luas lahan sawah, memetakan sebaran jumlah penduduk, memetakan potensi desa di Magelang, menganalisis minat UMKM dalam praktik ekonomi hijau dalam mendukung sustainable rural tourism development dan menganalisis faktor-faktor mempengaruhi minat adopsi praktik umkm hijau dengan mengambil studi kasus kelompok tani ngudi rejeki di Dusun Payakan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan aplikasi Geo-Maps Orange Data Mining dan analisis kuantitatif deskriptif yakni analisis regresi linear berganda menggunakan alat software E-Views dengan mengambil sampel 60 dari anggota tani ngudi rejeki. Hasil penelitian nya adalah Minat UMKM dalam Praktik Hijau di Dusun Payakan adalah Tinggi dengan skor 4,15. Variabel pengetahuan memiliki pengaruh signifikan positif sebesar 0.0761, sedangkan Kebiasaan juga menjadi variabel yang berpengaruh terhadap minat adopsi UMKM hijau sebesar 0.23%.
Komoditifikasi Budaya pada Pemberdayaan Masyarakat Desa Bagor Kecamatan Miri-Sragen Melalui Event Budaya Grebeg Klobot Sarjiyanto; Sarwoto; Ma'Arif, Miftachul; Wahyudi, Lilik; Atmaji
Jurnal Pemberdayaan Ekonomi dan Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2025): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/jpem.v2i3.792

Abstract

Tujuan pengabdian kepada masyarakat adalah pemberdayaan Desa Bagor yang strategis karena desa ini terletak diantara tiga kawasan berlian wisata Sragen (Gunung Kemukus, Gedung Ombo dan Museum Sangiran). Hal ini tentunya merupakan suatu keberuntungan bagi masyarakat di Desa Bagor, karena berpotensi menjadi desa yang potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata di Kabupaten Sragen. Metode pemberdayaan dirancang dalam 3 pendekatan kegiatan; menggali kearifan lokal budaya pertanian jagung sebagai ikon pariwisata, dengan menciptakan berbagai atribut pariwisata bersumber dan berbahan dasar dari jagung. Merancang event budaya yang dapat dikomoditifikasi; yaitu membuat gunungan dari hasil olahan tanaman jagung dan kemudian menciptakan event budaya festival gunungan antar kelompok tani jagung se Desa Bagor. Puncak kegiatan adalah membuat kegiatan event budaya “Grebeg Klobot”. Budaya sebagai agen perubahan melaui penciptaan event budaya “Grebeg Globot” yang diselenggarakan sebagai agenda tahunan di Desa Wisata Bagor Miri-Sragen sebagai komoditifikasi budaya. Hasil pengabdian menunjukkan komoditifikasi budaya dapat menjadi daya tarik yang efektif. Penyelenggaran “Grebeg Klobot” dipilih sebagai event budaya terbukti mampu menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan keberadaan Desa Wisata Bagor Miri-Sragen yang secara langsung berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
SURVEI MINAT ADOPSI PRAKTIK UMKM HIJAU DALAM MENDUKUNG SUSTAINABLE RURAL TOURISM DEVELOPMENT DI DUSUN PAYAKAN KABUPATEN MAGELANG (Studi Kasus Kelompok Tani Ngudi Rejeki) Hilmah Zuryani; Mafruhah, Izza; Sarjiyanto
Jurnal Dinamika Ekonomi Syariah Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Dinamika Ekonomi Syariah
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah, Universitas Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/jdes.v12i1.1189

Abstract

Tujuan penelitian ini ada lima yakni memetakan sebaran luas lahan sawah, memetakan sebaran jumlah penduduk, memetakan potensi desa di Magelang, menganalisis minat UMKM dalam praktik ekonomi hijau dalam mendukung sustainable rural tourism development dan menganalisis faktor-faktor mempengaruhi minat adopsi praktik umkm hijau dengan mengambil studi kasus kelompok tani ngudi rejeki di Dusun Payakan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan aplikasi Geo-Maps Orange Data Mining dan analisis kuantitatif deskriptif yakni analisis regresi linear berganda menggunakan alat software E-Views dengan mengambil sampel 60 dari anggota tani ngudi rejeki. Hasil penelitian nya adalah Minat UMKM dalam Praktik Hijau di Dusun Payakan adalah Tinggi dengan skor 4,15. Variabel pengetahuan memiliki pengaruh signifikan positif sebesar 0.0761, sedangkan Kebiasaan juga menjadi variabel yang berpengaruh terhadap minat adopsi UMKM hijau sebesar 0.23%.
Penguatan science based policy pada pemanfaatan riset dan inovasi guna mewujudkan daya saing daerah Sarjiyanto; Tuhana; Sudarsana; Noviani, Leny; Ismoyowati, Dewi; Istiqomah, Nurul; Setyawan, Ary; Mafruhah, Izza; Rinanto, Yudi; Wirajaya, Asep Yudha; Perdana, Dian Noor Citra
Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M) Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jp2m.v5i1.21517

Abstract

Transformasi Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BAPPELBANGDA) menjadi Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) mempunyai konsekuensi diantaranya perlu menyusun blueprint dalam upaya meningkatkan penelitian, pengembangan, pendayaan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan inovasi daerah berdasarkan science based policy guna menciptakan daya saing daerah. Namun demikian, permasalahan mitra saat ini khususnya BAPPERIDA adalah hasil penelitian belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh perangkat daerah dan Pemerintah Daerah juga belum memiliki blueprint atau roadmap penelitian dan inovasi untuk 5-10 tahun kedepan yang inovatif dan sesuai kebutuhan daerah. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendampingan dan penguatan kepada BAPPERIDA Solo Raya melalui implementasi science based policy melalui penguatan penelitian, pengembangan, dan inovasi dalam rangka meningkatkan daya saing daerah. Metode yang digunakan adalah metode Participatory Action Research (PAR) dengan berpartisipasi dalam kegiatan penyusunan roadmap dan implementasi science based policy. Hasil pengabdian adalah masukan dan rancangan blueprint dan roadmap BAPPERIDA Kabupaten/ Kota di Solo Raya.  Peningkatan pemahaman aparatur tehnoktarik tentang pentingnya kebijakan berdasarkan penelitian. Hal ini membantu BAPPERIDA Kabupaten/ Kota Solo Raya mengoptimalkan pemanfaatan hasil penelitian   dan inovasi baru dalam menciptakan produk kebijakan dan semakin kuatnya science based policy dalam mewujudnya daya saing daerah.
POTENSI ARKEOLOGIS KEPULAUAN MALUKU: PENELITIAN DAN PEMANFAATAN* Sarjiyanto
AMERTA Vol. 33 No. 1 (2015)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kepulauan Maluku dikenal dunia sebagai tempat produksi, jalur, dan tujuan pencarian rempah oleh negara-negara Eropa pada periode perdagangan masa lampau. Beberapa negara seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris telah memberi pengaruh perkembangan peradaban di Kepulauan Maluku. Beberapa penelitian di situs-situs bekas kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, dan bekas tempat kekuasaan lokal Orang Kaya di Banda telah memberi gambaran potensi sumberdaya budaya dan arti penting situs-situs itu bagi sejarah Nusantara. Belum semua informasi atau data yang diperoleh langsung dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas dengan berbagai media komunikasi. Untuk itu diharapkan data dan informasi yang ada dapat dimanfaatkan untuk kepentingan berbagai hal. Metodenya dengan memperlihatkan nilai penting dari hasil penelitian situs dan tinggalannya serta memberikan berbagai bentuk pemanfaatannya. Hasil pemanfaatannya antara lain melalui media penyaluran informasi publikasi, pengeluaran peraturan/kebijakan, tata lingkungan, pengembangan wisata, program pendidikan, pengembangan konsep baru, pengembangan museum. Regulasi yang lebih membuka peluang peran publik dalam pengelolaan dan penyajian benda budaya juga masih perlu dikembangkan.Termasuk di dalamnya peningkatan berbagai bentuk program pameran, pendidikan, dan event yang lebih berorientasi kepada masyarakat. Kata Kunci: Maluku, Rempah, Pengelolaan, Pemanfaatan, Media komunikasi Abstract. Archaeological Potency of Maluku Islands and Its Utilitations. Maluku islands is known to the world, especially European countries, as a producer, part of trade route, and destination of spices during the trade period in the past. Some countries such as Portugal, Spain, the Netherlands, and the United Kingdom have influenced the development of civilization in the Maluku islands. Several studies on the sites of the former kingdoms of Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, and the former site of the local authority of the rich society in Banda has given an overview of cultural resource potential and importance of the sites for the history of the archipelago. Not all the information or data obtained can be utilized directly for the benefit of the wider community with diverse communication media. Therefore it is hoped that the available data and information can be utilized for various purposes by showing their important values of sites and their finds as well as the variety of proper uses, among others publications, issuance of regulations/policies, environmental management, tourism development, educational programs, development of new concepts, or establishing and improving museums. Regulations that provide more opportunity for public involvement in management and display of cultural heritage items – such as exhibitions, education, and events that are more community-oriented – also need to be made. Keywords: Maluku, Spices, Management, Utilization, Communication media
MENCERMATI KEMBALI KOMODITAS LADA MASA KESULTANAN BANTEN ABAD KE-16-19 Sarjiyanto
AMERTA Vol. 26 No. 1 (2008)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Dalam banyak sumber sejarah telah disebutkan tentang lada sebagai komoditas penting yang diperdagangkan di pelabuhan Banten sejak periode kerajaan Sunda Pajajaran hingga pada Kesultanan Banten yang muncul pada abad ke XVT. Dari bu.kti sejarah dan.fakta arkeologi yang terbatas dapat tergambar perkebunan lada telah diusahakan di wilayah Banten dan meluas ke Lampung tatkala permintaan pasar dunia meningkat akan produk ini. Data arkeologi berupa toponimi Pamarican di situs Banten pesisir dan juga dalung-dalung atau prasasti tembaga dari Sultan Banten banyak terkait dengan Jada. Meskipun jarang sekali disebut, namun hingga abad XIX perkebunan Jada masih diupayakan di wilayah Banten. Dari data arsip Belanda tergambar sisa-sisa kaum bangsawan Banten masih berperan dalam pengolahan produk lada di wilayah ini. Data paling aktual pada beberapa lokasi di Banten masih terdapat kantong-kantong perkebunan lada yang tersisa terutama di wilayah Pandeglang dan sedikit di Serang. Kata kunci: Pamarican, perkebunan lada, prasasti tembaga (dalung). ABSTRACT. Reinvestigating Pepper as a Commodity during the Period of the Sultanate of Banten in 6th-19th Centuries AD. Many historical sources mention pepper as important commodity traded at the port of Banten since the period of the Sunda Kingdom of Pajajaran until the period of the Sultanate of Banten, which emerged in 161hcentury AD. Limited historical evidences and archaeological facts have shown that there were pepper plantations at Banten, which then spread to Lampung when demand from international market increased. Archaeological data, which include the toponym Pamarican (merica = pepper) at a site in coastal Banten and dalungs or copper inscriptions of the Sultan of Banten, are closely related to pepper. Although rarely mentioned, up to 19th century AD pepper plantations were still operated in Banten. Data from Dutch archives describe that the last of the Banten aristocrats were still participated in the management of pepper manufacture in this area. The most actual data reveal that a number ofclusters of pepper plantations can still be found here, especially in Pandeglang and a few in Serang. Keywords: Pamarican, pepperplantation, pepper sorter, copper inscription (dalung).
IDENTIFIKASI BEBERAPA TEMUAN ARTEFAK LOGAM¹ DARI SITUS INTAN SHIPWRECK² Sarjiyanto
AMERTA Vol. 28 No. 1 (2010)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Informasi penemuan kapal karam dengan berbagai jenis muatanya di perairan Nusantara memiliki arti penting. Berbagai jenis artefak seperti keramik, kaca, tembikar, artefak batu, artefak logam, sebagaimana ditemukan di Situs Intan Shipwreck membuktikan peran penting pelayaran di perairan Nusantara. Artefak berbahan logam yang ditemukan terdiri dari berbagai jenis. Beberapa diantaranya berupa batangan logam, baki atau nampan, cermin, genta. Dari berbagai analisis yang telah dilakukan diduga juat artefak-artefak ini berasal dari sekitar abad ke-9-10 Masehi. Periode ini dapat dihubungkan dengan masa transisi perpindahan kerajaan Mataram Kuna di Jawa tengah ke wilayah Jawa bagian Timur dan juga kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kata kunci: artefak logam, komoditi dagang, kapal karam, Situs Intan Wreck ABSTRACT. Identification of Metal Artifacts Finds from Intan Shipwreck Information on discoveries of shipwreck with is various trade commodities in the water territory of Nusantara has an important meaning. Different types of articats such as ceramics, glass artifacts, potteries, stone artifacts, and metal artifacts like those found at the Inta Wreck Site prove the important role of sea transportation in water territory of Nusantara. Metal artifacts found there comprise various types including ingots, pans/trays, mirrors, bells, etc. From a number of analyses that have been carried out, it is strongly assumed that those artifacts are from around 9th – 10th centuries AD, which can be atrtributed to a period of transition from the Ancient Mataram Empire in Central Java to East Java, as well as the Sriwijaya Kingdom with its capital in Palembang. Keywords: metal artifact, trade commodity, shipwreck, Intan Wreck Site