Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Peningkatan Literasi Budaya Pada Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital Di Desa Citengah, Sumedang Selatan Zulkifli Mahmud, Erlina; Sobarna, Cece; Afsari, Asri Soraya
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 3 (2025): Edisi Juli - September
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i3.6204

Abstract

Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat integratif dengan kegiatan KKN yang diusung oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran di bawah payung “Hibah Bermanfaat” telah memasuki tahun ke tiga. Pada tahap ini kegiatan dengan tema utama “Pengembangan Desa Ramah Anak Berbasis Literasi Digital di Desa Citengah, Kabupaten Sumedang Selatan” difokuskan pada peningkatan literasi budaya. Literasi budaya dipilih sebagai upaya mengembangkan Desa Ramah Anak berbasis literasi digital karena masih minimnya pengetahuan budaya masyarakat desa Citengah khususnya anak-anak terkait kekayaan budaya yang ada di desa tersebut. Sesuai dengan karakter anak yang dapat berkembang dengan pesat melalui permainan atau bermain, maka kegiatan literasi budaya dilakukan dalam bentuk edukasi berupa sosialisasi permainan-permainan tradisional seperti Engklek, Oray-orayan pada anak-anak PAUD Kober Lestari dengan menggunakan kekuatan teknologi antara lain menggunakan video pembelajaran dan video interaktif. Sementara literasi budaya berupa penguatan materi kesenian tradisional yaitu Songah (Songsong Citengah), Calung, dan Sisingaan diberikan pada selain anak-anak SDN Citengah dan kalangan remaja, juga masyarakat umumnya melalui pembuatan akun media sosial, dokumentasi kesenian, dan pemasangan pigura di Kantor Desa. Hasil kegiatan Pengabdian pada Masyarakat terkait literasi budaya ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan pengetahuan anak-anak PAUD pada permainan-permainan tradisional yang dibuktikan dari antusiasme anak-anak terhadap permainan-permanian tradisional yang diajarkan, dan hasil terkait kegiatan penguatan kesadaran diri pada kesenian tradisional untuk sementara dapat dikatakan cukup memadai karena untuk acara-acara di lingkungan Desa Citengah pertunjukan kesenian tradisional seperti Songah dan Calung mulai digalakkan.  Penting untuk ditindaklanjuti bahwa upaya-upaya tersebut harus terus dilakukan untuk mencapai tahapan masyarakat yang memiliki literasi budaya berbasis literasi digital terkait pengembangan Desa Ramah Anak.
RAGAM POLA KONSTRUKSI PADA KALIMAT AKTIF BERPREDIKAT MANG-+-KEUN DALAM BAHASA SUNDA: RAGAM POLA KONSTRUKSI PADA KALIMAT AKTIF BERPREDIKAT MANG-+-KEUN DALAM BAHASA SUNDA Soraya Afsari, Asri
KABUYUTAN Vol 2 No 2 (2023): Kabuyutan, Juli 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i2.168

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai pola kontruksi kalimat yang dapat dibangun oleh predikat aktif mang- + -keun dalam bahasa Sunda. Afiks mang- + -keun merupakan afiks yang masih cukup produktif digunakan dalam bahasa Sunda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dekskriptif. Data kalimat bahasa Sunda yang digunakan untuk analisis bersumber dari sumber tulis baik berupa sastra maupun nonsastra. Berdasarkan hasil analisis, pola konstruksi kalimat aktif berpredikat mang-+-keun berupa S + P + O, S + P + Ket, S + P + 0₁ + 0₂, S + P + 0 + Ket, S + P + Pel + Ket, Ket + S + P + O, S + P + O + P + O, dan S + P + Ket + P + O. Konstituen yang hadir setelah predikat mang- + -keun dapat berupa objek, pelengkap, dan keterangan. Objek yang ditemukan berkategori nomina konkret, frasa nomina konkret, nomina persona (insan), pronomina, pronominal(1), dan frasa nomina persona (insan). Pelengkap yang ditemukan berkategori pronomina(1). Keterangan yang ditemukan berupa keterangan waktu yang berkategori Frasa Preposisi. Objek, pelengkap, dan keterangan ini secara semantik menyandang peran objektif/benefaktif, agentif dan benefaktif.
Campur Kode pada Akun Instagram @fiksiaunurofik: Analisis Sosiolinguistik Berbantu Mini Korpus Kurniasih, Nia; Sobarna, Cece; Afsari, Asri Soraya
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4596

Abstract

Penelitian ini berangkat dari fenomena kebahasaan yang semakin menguat di ruang digital, khususnya pada media sosial Instagram, yaitu praktik campur kode sebagai bentuk adaptasi bahasa dalam konteks komunikasi modern. Dengan mengkaji caption Instagram pada akun @fiksiaunurofik, penelitian ini menempatkan bahasa sebagai praktik sosial yang tidak hanya berfungsi menyampaikan pesan, tetapi juga membangun identitas, kedekatan, dan relasi sosial antara penutur dan audiens. Pendekatan sosiolinguistik dipilih karena mampu menjelaskan keterkaitan antara pilihan bahasa dan faktor sosial-budaya yang melatarbelakanginya.Penggunaan metode mini korpus terhadap 600 caption memberikan landasan empiris dalam melihat pola-pola kebahasaan secara sistematis. Melalui teknik scraping berbasis Python, data dikumpulkan secara objektif dan representatif, sehingga analisis kuantitatif dapat mengungkap frekuensi serta kecenderungan kemunculan unsur campur kode. Selanjutnya, analisis kualitatif deskriptif untuk menafsirkan fungsi dan makna sosial dari temuan kuantitatif tersebut, sehingga penelitian ini tidak hanya bersifat statistik, tetapi juga interpretatif.Hasil penelitian menunjukkan dominasi tiga jenis campur kode, yakni inner code-mixing, outer code-mixing, dan hybrid code-mixing. Campur kode ke dalam yang melibatkan bahasa Sunda menegaskan akar lokal dan identitas kedaerahan pemilik akun, sementara campur kode ke luar dengan bahasa Inggris mencerminkan orientasi global, modernitas, dan prestise sosial. Adapun campur kode campuran menunjukkan kreativitas linguistik dalam mengombinasikan berbagai sumber bahasa untuk menciptakan efek ekspresif yang lebih kaya.Dominannya leksikon seperti terlibat, impian, dan bersama mengindikasikan bahwa bahasa digunakan sebagai sarana membangun nilai kebersamaan, kolaborasi, dan solidaritas sosial. Jika campur kode dalam caption Instagram tidak sekadar fenomena linguistik, melainkan strategi komunikasi untuk menyesuaikan diri audiens multikultural dan dinamika interaksi digital kontemporer.
Pengenalan Identitas Kependudukan Digital di Dusun Cijolang, Desa Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan: Facilitating Digital Population Identity Registration in Cijolang Hamlet, Citengah Village, South Sumedang District Mahmud, Erlina Zulkifli; Sobarna, Cece; Afsari, Asri Soraya
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 2 (2026): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v11i2.11203

Abstract

This activity represents the implementation of an integrated Community Service Learning and Community Engagement program organized by the Faculty of Cultural Sciences, Universitas Padjadjaran, conducted in Cijolang Village to strengthen the community's capacity to utilize digital technology for public services. The program focused on facilitating the registration of Digital Population Identity through a door-to-door approach to expand service accessibility despite limited technological infrastructure and low levels of digital literacy. Assistance was provided through collaboration between village officials and the implementing team, offering technical guidance for the registration process and education on the use of digital applications for population administration and other public services. The program employed outreach and participatory methods that actively involved residents throughout its stages. The results indicate an improvement in the community's ability to operate digital technology and understand online administrative procedures. These findings demonstrate that the integrated program is effective in strengthening digital literacy within rural communities and can serve as a model for improving access to technology-based public services.
Campur Kode pada Akun Instagram @brother_sae Kajian Sosiolinguistik Berbasis Mini Corpus Diki Wahyudi; Hera Meganova Lyra; Asri Soraya Afsari
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.8554

Abstract

Di era digital sekarang, media sosial telah berubah menjadi ruang gerak bebas dalam mengekspresikan bahasa yang dapat memicu pergeseran pola dalam menghadirkan campur kode. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola apa saja dan fungsi yang terdapat dalam campur kode serta alih kode pada akun Instagram @brother_sae melalui pendekatan sosiolinguistik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripstif kualitatif dengan menggunakan teknik computational linguistic sederhana menlalui web scarping dan pengolahan data pada platform Sketch Engine. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran frekuensi dan distribusi bahasa secara akurat dalam ekosistem digital. Hasil dari analisis ini adalah terdapat data campur kode di lingkup bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Alih kode lebih sering terjadi pada interaksi mengenai informasi seseorang dengan mengubah bahasa pada caption atau deskripsi dalam postingan Instagram antara bahasa Sunda dan bahasa Indonesia untuk mewakili identitas budayanya. Temuan penelitian menunjukkan dinamika dalam penggunaan bahasa melalui media sosial khususnya Instagram pada pola identitas sosial di era digital sekarang. Hasil dari analisis menunjukkan adanya intensitas data campur kode, antara bahasa Sunda, bahasa Indonesia, juga bahasa Inggris. Ini dapat menjadi langkah sebuah strategi dalam berkomunikasi, hal ini sangat lah lumrah bagi para kreator konten yang ada di Indonesia , terkhusus konten kreator instagram yang berfokus dalam kebahasaan yaitu @brother_sae. Sedangkan, alih kode sangat sering terjadi pada sebuah takarir (caption) di dalam postingan. Peralihan dalam menggunakan bahasa ini sangat membantu dalam menyampaikan informasi yang dibungkus secara menarik , dengan menggunakan elemen budaya lokal yaitu bahasa Sunda.
Penggunaan Pronomina Persona sebagai Bentuk Sapaan di Kalangan Remaja Sunda Asri Soraya Afsari; Cece Sobarna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 13, No 2 (2024): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v13i2.7775

Abstract

Adolescents have different characteristics compared to adults and children. They also have distinct addressing characteristics, especially among Sundanese adolescents. The shift and change in the use of personal pronouns as a form of address among Sundanese adolescents is an intriguing area for further study. Sundanese addresses are dynamic and evolve with the times and societal developments, including those among adolescents. This research uses descriptive and qualitative methods to use personal pronouns as an address among Sundanese adolescents. Data collection involved observation and recording of speech among male and female Sundanese adolescents, as well as interviews to gather additional information. The research was conducted in three stages: data collection, analysis, and presentation of the results. The study was centered in Bandung City and found that the personal pronoun "manéh" is dominantly used by both male and female Sundanese adolescents in relaxed and informal speech situations. Additionally, "sia" is used among male Sundanese adolescents, "anjeun" among female Sundanese adolescents, "kamu" among both male and female adolescents, and " énté " specifically among male adolescents. AbstrakRemaja mempunyai karakter yang berbeda dengan orang dewasa juga anak-anak. Dalam hal menyapa pun mereka memiliki kekhasan yang berbeda dengan kalangan lainnya, tidak terkecuali remaja Sunda. Pergeseran dan perubahan fungsi pronomina persona sebagai bentuk sapaan di kalangan remaja Sunda merupakan kajian yang menarik untuk diteliti lebih jauh. Sehubungan dengan sapaan bahasa Sunda senantiasa berdinamika sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan yang terjadi di masyarakat Sunda itu sendiri, termasuk di kalangan remaja. Penelitian ini berfokus pada penggunaan pronomina persona sebagai sapaan di kalangan remaja Sunda. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menerapkan metode kualitatif. Metode yang digunakan dalam memupu data adalah observasi, yaitu dengan cara mengamati dan merekam pertuturan yang berlangsung di kalangan remaja Sunda, baik laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini juga memanfaatkan metode wawancara kepada informan remaja guna menggali informasi yang tidak diperoleh dalam obervasi, Metode dan teknik penelitian dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu tahapan penyediaan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Lokasi penelitian ini berpusat di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam konteks situasi pertuturan yang santai dan informal, pronomina persona manéh ‘kamu’ merupakan pronomina yang paling dominan digunakan oleh remaja Sunda laki-laki dan perempuan. Pronomina sia ‘kamu’ digunakan di kalangan remaja Sunda laki-laki dan anjeun ‘kamu’ digunakan di kalangan remaja Sunda perempuan. Di samping itu, remaja Sunda juga menggunakan pronomina kamu di kalangan remaja laki-laki dan perempuan serta  énté di kalangan remaja laki-laki.
Pola Nama pada Masyarakat Baduy Cece Sobarna; Asri Soraya Afsari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 9, No 2 (2020): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v9i2.2939

Abstract

The giving of people's names is a universal phenomenon. However, every society has its own convention. The Baduy community as Sundanese indigenous people are unique in terms of giving names. The life of the Baduy community has recently begun to open up. This condition of course affects the joints of socio-cultural life, including the naming of names. The Baduy millennials, especially the Outer Baduy, for example, are more proud to have a name they consider modern so that some of them have nicknames that are far different from their real names. Of course this is a concern if left unchecked. This study examines the pattern of naming the Baduy community that has been going on for a long time. The aim is to describe the convention of naming patterns as the identity of the Baduy community. The data studied came from ten Outer Baduy villages by using the Family Card (KK) data in the Kenekes Village Office archive. Furthermore, the list of names contained in the KK was processed using the Microsoft Excel program through gender classification, age range, and name standard patterns. The results showed that the naming pattern of the Baduy community was that the names of girls took part, especially the initial syllable, from the father's name, while the names of boys took part of the mother's name. This is related to the philosophical values that protect each other between children and parents. AbstrakPemberian nama orang merupakan gejala yang universal. Namun, setiap masyarakat memiliki konvensinya masing-masing. Masyarakat Baduy sebagai indigenous people Sunda memiliki keunikan dalam hal pemberian nama. Kehidupan masyarakat Baduy akhir-akhir ini mulai terbuka. Kondisi ini tentu saja memengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial-budayanya, tidak terkecuali dengan pemberian nama. Kaum milineal Baduy, terutama Baduy Luar, misalnya, lebih bangga memiliki nama yang dianggapnya modern sehingga sebagian dari mereka memiliki nama panggilan yang jauh berbeda dari nama aslinya. Tentu hal ini menjadi sebuah kekhawatiran apabila dibiarkan. Penelitian ini mengkaji pola pemberian nama masyarakat Baduy yang sudah berlangsung sejak lama. Tujuannya adalah mendeskripsikan konvensi pola-pola penamaan sebagai identitas masyarakat Baduy. Data yang dikaji berasal dari sepuluh kampung Baduy Luar dengan memanfaatkan data Kartu Keluarga (KK) yang ada di arsip Kantor Desa Kenekes. Selanjutnya, daftar nama yang terdapat pada KK diolah dengan menggunakan program Microsoft Excel melalui klasifikasi jenis kelamin, rentang usia, dan pola kakonis nama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penamaan masyarakat Baduy adalah nama anak perempuan mengambil sebagian, terutama suku kata awal, dari nama ayah, sedangkan nama anak laki-laki mengambil sebagian dari nama ibu. Hal ini berkaitan dengan nilai filosofis yang saling melindungi antara anak dan orang tua.
Toponim dalam Upaya Pemertahanan Bahasa Sunda di Wilayah Jawa Tengah: Kasus di Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacaplam Upaya Pemertahanan Bahasa Sunda di Wilayah Jawa Tengah: Kasus di Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap Cece Sobarna; Gugun Gunardi; Asri Soraya Afsari
Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya Vol. 4 No. 1 (2019): MAKNA : Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa dan Budaya
Publisher : Fakultas Komunikasi, Sastra, dan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/makna.v4i1.1678

Abstract

Bahasa Sunda tidak hanya digunakan oleh masyarakat Sunda di Provinsi Jawa Barat danBanten, tetapi juga digunakan oleh sebagian orang di sebagian wilayah barat ProvinsiJawa Tengah, lebih tepatnya Kecamatan Dayeuhluhur. Hal ini menarik karena wilayahbarat Provinsi Jawa Tengah merupakan daerah dimana mayoritas masyarakatnyaberbahasa Jawa. Menilik fenomena tersebut, penelitian ini bertujuan meneliti mengapaBahasa Sunda bisa bertahan di wilayah yang mayoritas penuturnya tidak hanyaberbicara Bahasa Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untukmendapatkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan BahasaSunda di Kecamatan Dayeuhluhur dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktoreksternal mencakup letak geografis, historis, sosial-budaya, keluarga, aktivitaskeagamaan, dan pendidikan formal. Faktor internal berkaitan dengan sebagianmasyarakat yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang Sunda. Jati diri inidikuatkan oleh nama tempat (toponim) di Kecamatan Dayeuhluhur yang pada umumnyamenggunakan Bahasa Sunda.