Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Upaya Humas Kementerian Agama Sumsel dalam Mengelola Komunikasi dan Kerja Sama dengan Lembaga Pendidikan Rosi Ayu Hermawanti; Eraskaita Ginting; Gita Astrid
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7085

Abstract

This research aims to describe and analyze the efforts of the Public Relations Office of the Regional Office of the Ministry of Religious Affairs of South Sumatra Province in managing communication and building cooperation with educational institutions. The focus of the study is directed at the communication patterns applied, relationship management strategies, as well as the obstacles and solutions developed by the Public Relations Office. The approach used is descriptive qualitative with in-depth interview, observation, and documentation techniques. The research results show that the Public Relations department has made efforts to carry out communicative and coordinative functions through the use of digital communication media, face-to-face meetings, activity publications, and routine evaluations with educational partners. The established cooperation is based on mutual trust, openness, commitment, and shared benefits. However, there are still challenges such as schedule changes, limited signal in some areas, and a shortage of PR human resources. Efforts to overcome these issues are made through rescheduling, strengthening communication, enhancing the use of digital media, and conducting cross-sector coordination.
FANATISME KOMUNITAS RRQ KINGDOM DALAM SCENE MOBILE LEGENDS SEBAGAI BENTUK KOMUNIKASI KRISIS PADA KALANGAN REMAJA PECINTA E-SPORT DI JAKARTA SELATAN Muhammad Fadhil Aqmar Rosan; Henny Yusalia; Gita Astrid
RELASI Vol 6 No 03 (2026): ILMU KOMUNIKASI
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/relasi.v6i03.2930

Abstract

Perkembangan pesat industri e-sport di Indonesia telah memicu kemunculan berbagai komunitas penggemar dengan loyalitas tinggi terhadap tim tertentu. Salah satu komunitas dengan basis massa terbesar adalah RRQ Kingdom, pendukung utama tim Rex Regum Qeon (RRQ) dalam skena kompetitif Mobile Legends: Bang Bang. Loyalitas anggota komunitas ini kerap bertransformasi menjadi fanatisme melalui ragam perilaku positif maupun negatif. Pada situasi tertentu, fanatisme tersebut melahirkan respons komunikasi krisis, seperti pembelaan agresif, penyebaran opini, konflik antar-fandom, hingga kritik tajam terhadap manajemen saat tim menghadapi permasalahan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk fanatisme komunitas RRQ Kingdom serta menganalisis perannya sebagai manifestasi komunikasi krisis di kalangan remaja pecinta e-sport di Jakarta Selatan. Metode kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini mengaplikasikan Situational Crisis Communication Theory (SCCT) guna mengkaji signifikansi respons komunikasi saat krisis dan dampaknya terhadap persepsi publik. Hasil penelitian menunjukkan fanatisme anggota bermanifestasi melalui loyalitas emosional, ikatan identitas kelompok, serta agresi proaktif saat membela tim. Dinamika fanatisme ini memicu ragam komunikasi krisis, termasuk pembentukan opini publik, dukungan moral, dan penyebaran informasi secara masif. Komunikasi ini berperan strategis menjaga citra tim sekaligus memengaruhi reputasi organisasi e-sport tersebut.
Peran Komunikasi Interpersonal dalam Membangun Personal Branding Wak Dolah sebagai Seniman Lokal Palembang Muhammad Fadhil Azmi; Ahmad Muhaimin; Gita Astrid
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 1 (2026): EduTIK : Februari 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan era digital telah mengubah cara seniman membangun citra diri di ruang publik, sehingga personal branding menjadi faktor penting dalam keberhasilan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi interpersonal dalam membentuk personal branding Wak Dolah sebagai seniman lokal Palembang. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam bersama Wak Dolah dan dua anggota Teater Wong Gerot, serta dokumentasi visual dan data sekunder dari artikel, arsip, dan media sosial. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, meliputi reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal yang konsisten, natural, dan terarah, dengan gaya santai, jenaka, dan hangat, serta penggunaan bahasa Palembang sebagai simbol identitas budaya, menjadi modal penting dalam membangun kedekatan dengan masyarakat. Dimensi “I” yang spontan dan kreatif serta dimensi “Me” yang menyesuaikan diri dengan norma sosial membentuk karakter seni Wak Dolah yang autentik dan mudah diterima. Dukungan komunitas teater, interaksi dengan audiens, dan pemanfaatan media sosial, khususnya Instagram, memperluas jangkauan citra seni Wak Dolah, sehingga personal branding terbentuk melalui proses komunikasi interpersonal yang berkesinambungan dan timbal balik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi interpersonal merupakan fondasi utama dalam pembentukan personal branding seniman lokal, serta menyarankan agar seniman lain memperhatikan aspek komunikasi dalam membangun citra diri, didukung oleh komunitas seni dan program pelatihan digital branding.
Representasi Cover Majalah Tempo Berjudul “Gue Jual, Ane Beli” Edisi 1 September 2024 (Studi Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce) Umi Puspita; Komaruddin; Gita Astrid
Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Sosial Politik Vol. 2 No. 3 (2025): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jiksp.v2i3.2403

Abstract

Ilustrasi pada cover Majalah Tempo edisi 1 September 2024 yang berjudul “GUE JUAL, ANE BELI” merupakan visualisasi terkait pendaftaran bakal calon kepala daerah Jakarta pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia, isu ini menjadi perbincangan hangat di kalangan media Indonesia sebab adanya keterkaitan Presiden Indonesia dalam Pilkada Jakarta diakhir masa jabatannya. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui makna triadik dari cover Majalah Tempo tersebut yang berupa ikon, objek, dan interpretan. Dengan menggunakan metode analisis semiotika dari Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan data menggunakan observasi dan juga dokumentasi. Hasil dari penelitian ini ialah ilustrasi cover Majalah Tempo yang menunjukkan bahwa Joko Widodo lebih berpihak dan mendukung kepada Pramono Anung dibandingkan dengan Anies Baswedan yang merupakan mantan Gubernur Jakarta sebelumnya. Dukungan politik hingga sekarang masih terjadi dan dipengaruhi oleh kepentingan dan kesepakatan tertentu, hal ini menegaskan adanya sebuah keberpihakan kekuasaan dalam penentuan calon pemimpin di Indonesia.
PERILAKU FLEXING CULTURE PADA KAUM MILLENIAL (Studi Kasus Masyarakat Pengguna Media  Instagram Di Kecamatan Kikim Timur Kabupaten Lahat) Nova April Liza; Sepriadi Saputra; Gita Astrid
AN-NASHIHA Journal of Broadcasting and Islamic Communication Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Oktober : Jurnal AN-Nashiha Journal of Broadcasting and Islamic Communcation St
Publisher : Institut Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55352/an-nashiha.v5i01.2201

Abstract

This study aims to describe the flexing culture behavior among millennials and identify the factors that influence it, with a focus on Instagram users in Kikim Timur District, Lahat Regency. The background of this study is based on the phenomenon of increasing flexing practices carried out by 210 millennials from 32 villages in Kikim Timur District, with the highest concentration in Linggar Jaya, Purwa Raja, and Lubuk Kuta Villages. This phenomenon raises concerns about shifting social values, social decline, and potential security risks due to flaunting wealth on social media. This study uses a qualitative approach with a case study method, referring to the Value-Expectancy Theory proposed by Martin Fishbein. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study indicate that flexing behavior is carried out through various forms of posts, such as showing off hobbies, achievements, collaboration promotions, sales testimonials, and proof of payment. These posts not only aim to build self-image but also open up economic opportunities. Factors driving flexing behavior include the need for social recognition, validation through likes and followers, constructing a more attractive image, and economic motivations such as building a personal brand and expanding business networks. This study illustrates that flexing culture among millennials in East Kikim is the result of the interaction between social and economic needs, and personal communication strategies on social media.