Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KENDALA IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI MIN 1 KOTA BANDA ACEH Aiyub, Aiyub; Jarjani, Jarjani; Sri Suryanta, Sri Suryanta
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v2i1.87

Abstract

Kurikulum merdeka dimaknai sebagai desain pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan tenang, santai, menyenangkan, bebas stres dan bebas tekanan, untuk menunjukkan bakat alaminya. Kurikulum ini dikembangkan dengan harapan dapat mencetak generasi milenial yang mampu memahami materi atau ilmu yang diajarkan oleh guru secara cepat(Azwardinsyah et al., 2023; Mulyana & Ramdani, 2023; Zahara & Nurfalah, 2022). Siswa juga diharapkan mampu memanfaatkan teknologi dalam proses belajarnya. Sebelumnya, pendidikan di Indonesia sangat bergantung dengan buku yang bersifat tekstual, namun saat ini sudah mulai tergantikan oleh produk digital seperti e-book(Muna, 2023). Dan guru memiliki kebebasan secara mandiri untuk menterjemahkan kurikulum sebelum dijabarkan kepada para siswa sehingga guru mampu menjawab setiap kebutuhan siswa pada saat proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hambatan sekaligus solusi permasalahan guru dalam Implementasi Kurikulum Merdeka(IKM) yang ada di MIN 1 Kota Banda Aceh . Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Responden dari penelitian ini adalah guru dan kepala sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan dalam IKM berasal dari lima aspek, yaitu 1)Sosialisasikan kurikulum merdeka belum dilakukan secara intensif 2) Sarana-prasarana belum memadai; 3) Sumber Daya Manusia yaitu tenaga pendidik (guru) dan tenaga kepedidikan (tenaga administrasi) belum memahami secara mendalam tentang kurikulum merdeka; 4) Kondisi siswa, keluarga, dan lingkungan yang belum benar-benar siap menerima kurikulum merdeka ; 5) Ketimpangan kebijakan pemerintah. Adapun solusi bagi hambatan tersebut yaitu 1) Mengintensifkan sosialisasi kurikulum merdeka kepada seluruh warga madrasah dan masyakarat 2) Memaksimalkan bantuan pendanaan dari pemerintah untuk mendukung sarana prasarana yang dibutuhkan oleh madrasah; 3) Mengaktifkan guru untuk mengikuti kegiatan Kelompok kerja Guru (KKG), pelatihan intensif, kolaboratif antar guru, penyediaan sumber belajar yang mendukung dan pelatihan teknologi terkait Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM); 4) Menjalin kerjasama yang baik antara warga madrasah dengan masayarakat; 5) Menerapkan kebijakan sesuai Kurikulum Merdeka
Kepemimpinan (Leadership) Perspektif Al-Mawardi: (Suatu Tinjauan Ontologis, Epistimologis Dan Aksiologis) Aiyub Jamaluddin, Aiyub Jamaluddin; Warul Walidin, Warul Walidin
Jurnal Pendidikan Nusantara Vol. 9 No. 1 (2024): Jurnal Pendidikan Nusantara ( Febuari-Agustus)
Publisher : lembaga Sepercenter

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang Kepemimpinan (leadership) perspektif Al-Mawardi. Pemimpin adalah penentu bagi kesejahteraan rakyat. Dalam kehidupan, pemimpin ibarat kepala dari seluruh anggota tubuh. Pemimpin memiliki peranan yang strategis dalam pengaturan pola dan gerakan. Kecakapannya dalam memimpin akan mengarahkan umatnya kepada tujuan yang ingin dicapai, yaitu kejayaan dan kesejahteraan umat dengan diiringi ridha Allah swt. Metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah menggunakan pendekatan sejarah (historical approach) yang merupakan suatu penelitian terhadap sejarah dalam kurun waktu tertentu. Metode ini tentu saja bersesuaian dengan tulisan penulis yang memang memfokuskan terhadap pemikiran seorang tokoh yaitu Al-Mawardi. Adapun Data penelitian ini dihimpun melalui studi pustaka, dimana data primernya diangkat dari buku al-Ahkam as-Sulthaniyah dan referensi sekunder berupa buku-buku, karya ilmiah, artikel dan jurnal yang berkaitan dengan pemikiran politik Al-Mawardi. Khususnya yang menjelaskan tentang paparan Al-Mawardi mengenai syarat-syarat menjadi pemimpin, kewajiban dan hak pemimpin, pemilihan pemimpin dan masa kepemimpinannya.
ANAK-ANAK MUSLIM DAN DAMPAK ERA GLOBALISASI BAGI PENDIDIKAN ISLAM MEREKA Aiyub, Aiyub; Huwaida, Huwaida
INTERNATIONAL JOURNAL OF CHILD AND GENDER STUDIES Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/equality.v1i2.785

Abstract

Kini umat Islam harus mampu menyiapkan suatu sistem baru di bidang pendidikan Islam yang bermutu world class school and world class university (sekolah bermutu kelas dunia dan universitas berkualitas dunia) yang berperspektif Islam. Serta harus mampu membangun strategi baru bagi pembangunan dunia pendidikan Islam secara lebih bermutu tinggi.Pola pendidikan sekolah kebanggaan (proud school), dan sekolah ber-asrama (boarding school) model dayah (pesantren) di Aceh, mesti juga menyiapkan diri menjadi dayah (pesantren) bermutu world class.Bukan justru sebaliknya menjadi terpuruk atau bangkrut, akibat penetrasian gelombang hedonistik, materialistik, dan individualistik arus globalisasi.
METODE DAN TIORI ILMIAH DALAM FILSAFAT ILMU Aiyub Jamaluddin, Aiyub Jamaluddin; Syamsul Rijal, Syamsul Rijal
Jurnal Cakrawala Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Cakrawala
Publisher : Yayasan Darul Hasanah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Philosophy of science is an activity of thinking, comprehensive, radical and deep and functional in the development of scientific methods and theories. Where the philosophy of science is seen as science, namely an assumption such as how to think, how empirical results are achieved, and where the limitations are. Meanwhile, the scientific method consists of a series of activities in the form of: introducing and formulating problems, collecting relevant information, formulating hypotheses, carrying out experiments and publishing or disseminating information. Then a scientific theory or scientific theory is a collection of propositions that include certain concepts that are interconnected or related logically to provide an explanation of a number of events or phenomena. The condition of interconnectedness between these concepts presents a complete and systematic view of the phenomenon or scientific object being studied so that it is able to explain and predict the phenomenon or scientific object in question. In principle, the ultimate goal of science is to produce theories, namely in the form of explanations of natural phenomena. So that this research results in the philosophy of science and scientific methods complementing and expanding knowledge, giving rise to disciplined understanding in scientific work, as well as increasing motivation as researchers to carry out their research using good scientific methods.
Muhammad Quraish Shihab’s Methodology in Interpretation of The Qur'an Aiyub, Aiyub; Mutia, Isna
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v20i1.16891

Abstract

One of Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab's books on archipelago interpretation is titled Tafsir al-Misbah and was authored in Indonesian. It took almost four years to complete, from 1999 to 2002. This interpretation book has added a treasure of interpretation in the Archipelago.  It needs to be examined because its author is an expert on interpretation in Indonesia. Besides, he is one of the contemporary scholars. Therefore, this study examines the author’s personality of al-Misbah interpretation book and examines its methodology in interpreting Qur’an, whether he uses the methodology of al-Ma'thur, al-Ra'y or al-Isyari in terms of sources the reference, or he uses the tahlili, al-muqarrin, al-Ijmali and al-Maudhu'i methods in terms of delivery. This article also seeks to ascertain the author's preferred method of interpretation, such as al-Fiqhi, al-adab al-Lughawi, al-adab al-Ijtima'i, etc. This study, which employs library technique, discovers that the al-Ma'thur and al-ra'yi methods, which are excellent for referencing, are used in this commentary book, whereas the tahlili method is used for delivery. It leans toward the interpretation of al-Adab al-Ijtima'i. This interpretation excels in discussing both language and the munasabah (appropriateness of the arrangement) of verses and surahs in the Qur'an.
KONSTRUKSI NIAT DAN IMPLIKASINYA DALAM EFEKTIVITAS BELAJAR : (Studi Perspektif Religious Experience dan Religious Consciousness) Aiyub Aiyub; Warul Walidin Warul Walidin; Syabudin Gade Syabudin Gade; Salami Mahmud Salami Mahmud
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 3 No 1 (2024): Jurnal Iktibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v3i1.93

Abstract

Agama Islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Ini sesuai dengan sabda yang disampaikan oleh panutan orang Islam, Nabi Muhammad SAW : اطلب العلم من المهد الى اللهد “Carilah ilmu sejak dalam buaian hingga ke liang lahat”. Atau اطلب العلم ولو بالصين“Carilah ilmu walau ke negeri Cina” Belajar bertujuan sebagai sarana untuk mewujudkan cita-cita seutuhnya sebagai makhluk yang beradab dan manusia yang kreatif serta memiliki inovasi untuk maju. Dalam surat Al-Alaq, Allah Swt memerintahkan kita agar menuntut ilmu. Setelah itu kewajiban kedua adalah mentransfer ilmu tersebut kepada generasi berikutnya. Dalam hal pendidikan, ada dua kesimpulan yang dapat kita ambil dari firman Allah Swt tersebut; yaitu Pertama, kita belajar dan mendapatkan ilmu yang sebanyak-banyaknya. Kedua, berkenaan dengan penelitian yang dalam ayat tersebut digunakan kata qalam yang dapat kita artikan sebagai alat untuk mencatat dan meneliti yang nantinya akan menjadi warisan kita kepada generasi penerus. Dengan demikian akan tumbuh dan berkembangnya kesadaran agama(relegious consciousness ) dan akan mendapatkan pengalaman agama(religious experience) yang memadai. Pada dasarnya setiap kebaikan yang akan kita lakukan, apalagi untuk belajar haruslah didasari dengan niat yang bersih dan tulus. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw riwayat Umar Ibnu Khattab ra yang berbunyi : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ Artinya :“Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: ‘Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan seseorang itu hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu (dinilai) karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena harta dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanyalah (dinilai) kepada apa yang menjadi tujuannya hijrahnya,” (H.R. Bukhari dan Muslim).