Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Factors Associated With Eye Complaints Among Welders at PT. X In Batam City Yolanda Sari, Chinta; Siddiq Ilhamsyah, Muhammad; Anggun Ramadhani, Natasyah; Amanda Tobing, Silvia; Talos Pangaribuan, Roman; Khailla, Risda
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 4 No 11 (2025): KESANS: International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v4i11.408

Abstract

Introduction: Occupational safety and health (OSH) is a critical aspect in the welding industry, which poses a high risk to workers' eye health. Exposure to ultraviolet radiation, hot metal splashes, and welding fumes can lead to eye disorders ranging from mild irritation to severe damage such as blindness. Objective: This study aimed to identify factors associated with eye complaints among welders at PT X in Batam City. Method: A quantitative approach with a cross-sectional study design was used. A total of 40 welders were selected as respondents through total sampling. Data were collected using questionnaires and interviews to measure variables such as safe behavior, OSH training, technical skills (OSH skills), and eye complaints. Data analysis was conducted using univariate and bivariate methods with the chi-square test at a significance level of α = 0.05. Result and Discussion: The results showed that 60% of respondents exhibited unsafe behavior, 62.5% had received OSH training, 70% possessed OSH skills, and 60% experienced eye complaints. A significant relationship was found between safe behavior, OSH training, and OSH skills with eye complaints (p=0.001). Conclusion: These findings highlight the importance of promoting safe work behavior, effective OSH training, and skill enhancement to prevent eye health problems among welding workers.
Penerapan Workplace Stretching Exercise Guna Menghilangkan Nyeri Otot Pada Pekerja Di PT Gaspro Sentraco Parisma, Wan Intan; Sari, Chinta Yolanda; Irawati, Ice; Safitri, Khoerun Nisa
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 4 No. 3 (2024): Journal of Human And Education
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v4i3.1050

Abstract

Nyeri otot merupakan masalah umum di kalangan pekerja yang sering disebabkan oleh aktivitas statis dan postur kerja yang kurang ergonomis, yang berdampak negatif pada produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai cara menghilangkan nyeri otot melalui penerapan Workplace Stretching Exercise. Sasaran pengabdian adalah 34 pekerja PT Gaspro Sentraco. Metode yang digunakan meliputi pengukuran gangguan muskuloskeletal dengan instrumen Nordic Body Map, penjelasan tujuan dan manfaat kegiatan, serta pemberian latihan peregangan otot di tempat kerja. Evaluasi dilakukan selama dua minggu untuk mengukur perubahan tingkat nyeri otot dengan kategori rendah, menengah, dan tinggi. Sebelum intervensi, 58,8% pekerja mengalami nyeri otot kategori tinggi, 29,4% kategori menengah, dan 11,8% kategori rendah. Setelah intervensi, hanya 14,7% pekerja yang masih berada di kategori tinggi, 35,3% di kategori menengah, dan 50% di kategori rendah. Kesimpulannya, penerapan latihan peregangan di tempat kerja efektif dalam mengurangi nyeri otot serta meningkatkan kenyamanan dan produktivitas pekerja. Hasil ini menekankan pentingnya integrasi program peregangan dalam rutinitas kerja sebagai langkah preventif dan intervensi untuk meningkatkan kesehatan pekerja.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Musculoskletal Disorders (MSDS) Pada Pekerja Officer dan Welder Menggunakan Metode Nordic Body Map di PT XYZ Kota Batam Sari, Chinta Yolanda
Jurnal Liga Ilmu Serantau Vol. 1 No. 1 (2024): Edisi Februari - JLIS: Jurnal Liga Ilmu Serantau
Publisher : LPPM Universitas Ibnu Sina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36352/jlis.v1i1.785

Abstract

Musculoskeletal Disorders (MSDS) is an occupational risk characterized by complaints in the muscles. MSDS occurs due to incorrect body posture while working which causes muscles to stretch too hard over a long period of time. PT. Officer and welder workers are at risk of MSDS occurring which is caused by many factors. This research is descriptive analytical with a total population of 30 officers and welders. The sampling technique uses saturated samples and primary and secondary data sources. Data collection methods are field observation, questionnaires and interviews. The research instrument was a checklist using the Nordic Body Map (NBM), a list of question items and interview guidelines. The research results show that there is an influence of work period, length of work and work attitude on the incidence of MSDS. Based on the results of the simple logistic regression test, the length of service variable was p=0.027 and OR 10.00 CI 95% (0.994-100.612). The length of work variable obtained a value of p=0.010 and OR CI 95% 13.71 (1.381-136.212) and the work attitude variable had a value of p=0.003 CI 95% 18.66 (1.879-185.399).
DETERMINASI FAKTOR RISIKO TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN PUSKESMAS X KOTA BATAM Sari, Chinta Yolanda; Parisma, Wan Intan; Husein, Al Hafez; Hutabarat, Jolie Rossinsky Br
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 7, No 4 (2025): OKTOBER: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v7i4.34007

Abstract

Infeksi Mycobacterium tuberculosis menyebabkan tuberkulosis paru yang umumnya menyerang paru dan dapat menyebar melalui udara. Beberapa individu berpendapat bahwa faktor seperti pendidikan, kepadatan populasi, ventilasi, dan pencahayaan rumah berperan dalam tingkat kejadian tuberkulosis. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis simultan faktor pendidikan, ventilasi, pencahayaan, dan kepadatan hunian dalam satu model statistik berbasis Multiple Logistic Regression pada konteks wilayah kerja Puskesmas X Kota Batam, yang sebelumnya belum banyak dilaporkan dalam studi lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi prevalensi TB di masyarakat sekitar Puskesmas X di Kota Batam. Studi ini menggunakan desain case-control dengan 50 responden, terdiri dari 25 kasus dan 25 kontrol, yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur dan observasi kondisi perumahan. Hasil menunjukkan bahwa pendidikan rendah meningkatkan risiko TB sebesar 23,40 kali (OR=23,40; p=0,045) dan kepadatan hunian tinggi meningkatkan risiko sebesar 38,65 kali (OR=38,65; p=0,036). Ventilasi tidak memadai meningkatkan risiko 21,49 kali (OR=21,49; p=0,333) dan pencahayaan buruk meningkatkan risiko 73,11 kali (OR=73,11; p=0,028). Kesimpulannya penelitian ini menegaskan bahwa faktor lingkungan fisik rumah maupun karakteristik sosial signifikan dalam penularan TB, serta memberikan bukti lokal terbaru yang dapat menjadi dasar intervensi pencegahan terpadu. Program pencegahan dianjurkan berfokus pada peningkatan edukasi masyarakat, pemenuhan pencahayaan alami, ventilasi optimal, serta pengendalian kepadatan hunian.
Analysis of Determinants of Nurses' Perception of Hospital Occupational Health and Safety at Hospital X Batam City Parisma, Wan Intan; Sari, Chinta Yolanda; Jayati, Trisna
Jurnal KESANS : Kesehatan dan Sains Vol 5 No 2 (2025): KESANS: International Journal of Health and Science
Publisher : Rifa'Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54543/kesans.v5i2.479

Abstract

Introduction: Nurses are the health workers with the largest presentations and play an important role in the provision of health services. Hospital Occupational Safety and Health is all activities to ensure and protect the safety and health of hospital human resources. Objective: The purpose of this study is to find out the perception of nurses about hospital occupational safety and health at Regional General Hospital X Batam City. Method: The research design is cross sectional. The research population is nurses who work at Regional General Hospital X Batam City with a sample of 73 people who were taken by the proportional sampling method. Data analysis was carried out using chi-square. Result and Discussion: The results of the analysis showed that there were 53.4% of respondents with a bad perception of Occupational Safety and Health, 71.2% of respondents with a new working period, 56.2% of respondents who had never participated in HOHS training, 90.4% of respondents who had good knowledge and 69.9% of respondents with undergraduate education. Conclusion: The results of the statistical test showed that there was a significant relationship between the length of service (p-value 0.007), HOHS training (p-value 0.000), knowledge (p-value 0.003) and education level (p-value 0.001) with the perception of nurses about hospital occupational safety and health at Regional General Hospital X hospital safety, knowledge and nurse education level.
Hubungan Perilaku Dengan Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Bengkel Las Di Kelurahan Bengkong Sadai Kota Batam Nurhidayah, Ana Nabila; Sari, Chinta Yolanda; Poetri, Azzahra Salsabila; Sujak, Tina Ramadhani; Nurhalizah, Kylla Sultanic
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 11 (2025): Volume 12 Nomor 11
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i11.21602

Abstract

Keselamatan kerja pada bengkel las merupakan aspek penting yang sangat dipengaruhi oleh perilaku individu. Tingginya insiden kecelakaan di lingkungan ini sebagian besar disebabkan oleh berbagai potensi bahaya serta minimnya penerapan perilaku kerja yang aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara perilaku kerja dengan kejadian kecelakaan kerja di kalangan pekerja bengkel las yang berada di Kelurahan Sadai, Kecamatan Bengkong, Kota Batam, yang dilaksanakan pada periode april sampai juni 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 40 orang yang dipilih melalui teknik total sampling penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan observasi. Dari hasil analisis univariat diketahui bahwa (25%) responden memiliki perilaku kerja yang tergolong tidak aman, sementara (75%) lainnya menunjukkan perilaku yang aman. Selain itu, diketahui bahwa (50%) dari total responden pernah mengalami kecelakaan kerja. Pekerja dengan perilaku tidak aman memiliki 3,2 kali kemungkinan mengalami kecelakaan kerja dibanding pekerja dengan perilaku aman (p=0,011), yang lebih kecil dari batas signifikansi (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku kerja dan kejadian kecelakaan kerja. Dengan demikian, perilaku kerja merupakan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya kecelakaan di bengkel las. Untuk itu, diperlukan sistem pengawasan yang ketat dan berkelanjutan terhadap perilaku kerja serta penerapan prosedur keselamatan guna meminimalkan risiko kecelakaan di tempat kerja.
PENGUATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BAGI PENAMBANG BOAT DI PELABUHAN PULAU BULUH BATAM Irawati, Ice; Herman, Herman; Sari, Chinta Yolanda; Rasuanto, Budi; Gultom, Agustina Berliana
MINDA BAHARU Vol 9, No 2 (2025): Minda Baharu
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/jmb.v9i2.8400

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) pada komunitas penambang boat di Pelabuhan Pulau Buluh, Sagulung, Batam. Metode yang digunakan meliputi identifikasi masalah melalui diskusi kelompok, penyuluhan dan edukasi bahaya kerja, pemeriksaan kesehatan, serta pembagian alat pelindung diri (APD). Kegiatan juga memperkenalkan konsep ekowisata sebagai alternatif peningkatan ekonomi komunitas. Evaluasi dampak dilakukan melalui pre-test dan post-test, yang menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman peserta terhadap K3 dengan hasil uji Wilcoxon (p = 0,001). Hasil ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan efektif meningkatkan kesadaran dan praktik keselamatan kerja. Kegiatan ini merekomendasikan perlunya pelatihan berkelanjutan, dukungan regulasi untuk kapal kecil, serta integrasi program K3 dengan pemberdayaan ekonomi lokal.
Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Kinerja Karyawan Di PT X Kota Batam Parwata, Mahani Dwi; Sari, Chinta Yolanda; Soberi, Nilam Ligita; Cahyani, Herlina Dwi; Sari, Novita
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2026): Volume 13 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i1.21585

Abstract

Salah satu faktor yang dapat menurunkan kinerja pekerja konstruksi dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja adalah lingkungan kerja fisik yang buruk, yang mencakup suhu, pencahayaan, kebisingan, ventilasi, kebersihan, dan fasilitas kerja. Namun, kondisi kerja yang kurang optimal masih banyak ditemukan di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana lingkungan kerja fisik memengaruhi kinerja pekerja konstruksi di PT X Batam. Populasi penelitian terdiri dari lima puluh pekerja dengan teknik pengambilan sampel total. Data diolah dan dianalisis secara statistik melalui uji validitas dan keandalan instrumen, analisis univariat untuk distribusi frekuensi dan persentase, serta analisis bivariat menggunakan regresi linier sederhana untuk menguji hubungan dan pengaruh antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 42% responden menilai kondisi lingkungan kerja fisik di PT.X berada dalam kategori rendah dan 44% dalam kategori sedang. Kinerja pekerja secara keseluruhan berada dalam kategori sedang (64%), dengan masing-masing 18% berada dalam kategori rendah dan tinggi, yang menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik di PT.X belum optimal. Meskipun demikian, lingkungan kerja fisik memengaruhi kinerja pekerja konstruksi secara substansial. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,103, yang berarti bahwa lingkungan kerja fisik mampu menjelaskan sebesar 10,3% variasi kinerja pekerja, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian. Untuk meningkatkan kenyamanan, keselamatan, dan produktivitas kerja secara keseluruhan, peningkatan elemen lingkungan fisik seperti pencahayaan dan ventilasi sangat penting.