Aditya Fahmi Nurwahid
Universitas Negeri Surabaya

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

VISUAL RHETORIC OF ‘GUS’ AS POLITICAL IMAGE: ISLAM-NATIONALIST OR COMMODIFYING ISLAM Aditya Fahmi Nurwahid; Rahmatillah Dwi Putri
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pjk.v16i2.2976

Abstract

The rise of Islam-nationalist ideology in Indonesia's political contestation brings various Muslim figures to be involved. One of the most popular in the 2024 General Election is the appearance of ‘Gus’ as a representation of youth and religious politicians. This research focused on the construction of ‘Gus’ as a political image, and explored how their public relations team used visuals as an essential channel for storytelling, persuading, and image building. Adopting the agenda-setting theories and Burke’s dramatist pentad, this research draws the visual framing, answering ‘what is shown’ to the public and ‘how it is characterized’ as a presentation in social media. This research conducts the qualitative data analysis of four figures: Gus Muhaimin Iskandar, Gus Saifullah Yusuf, Gus Taj Yasin Maimoen, and Gus Ahmad Mudlor Ali. As a result, this research validates that the PR team used socially mediated images to build images based on “Islamic idealism”, the power of a local strongman, the leadership, and the point of view to legitimize their political position. To understand the political visual rhetoric, this research adopted the pentadic reading by looking at the element of social media post. It identifies the commodification goals of every figure, and shows where messaging priorities lies.
Analisis Struktur Naratif Video Iklan SATSPAM #NomorModusNoMore Juang Perwira Bakti; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81058

Abstract

Tingginya penetrasi internet di Indonesia turut meningkatkan risiko kejahatan digital, khususnya scam dan spam, yang berdampak secara materiil maupun psikologis bagi masyarakat. Merespons hal ini, IM3 meluncurkan fitur keamanan berbasis AI bernama SATSPAM melalui kampanye iklan #NomorModusNoMore dalam dua versi, reguler dan Ramadhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur naratif kedua iklan tersebut menggunakan teori naratologi Tzvetan Todorov (equilibrium, disruption, recognition, attempt to repair, dan new equilibrium). Metode yang digunakan adalah analisis naratif kualitatif, dengan data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan studi dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan kedua iklan menerapkan kelima tahapan naratif Todorov dengan strategi berbeda. Iklan versi reguler menonjolkan dramatisasi emosional korban melalui narator tunggal Najwa Shihab, sementara versi Ramadhan berfokus pada sisi korban yang rawan dan konteks budaya Ramadhan dengan narator yang lebih beragam. Kedua iklan memposisikan penonton sebagai bagian dari gerakan kolektif melawan scam dan spam, mencerminkan pendekatan societal marketing.
KOMODIFIKASI FRAGMENTASI TUBUH JENNIFER COPPEN (ANALISIS WACANA KRITIS SARA MILS DALAM IKLAN AZARINE GLOWKISS SUNSCREEN LIP BALM) Cindya Firyal Adini; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81357

Abstract

Representasi perempuan dalam iklan kosmetik kerap memunculkan ambiguitas antara kebebasan berekspresi dan komodifikasi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar komodifikasi fragmentasi tubuh yang diproduksi di balik layar iklan Azarine Glowkiss Sunscreen Lip Balm melalui sosok Jennifer Coppen sebagai muse. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengaplikasikan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Sara Mills untuk membedah posisi subjek-objek dan posisi pembaca dalam teks wacana iklan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi subjek ditempati oleh perusahaan yang menggunakan diksi asertif untuk memproduksi hegemoni kecantikan dalam teks wacana iklan. Pada posisi objek, muse mengalami objektifikasi terselubung melalui praktik fragmentasi tubuh, eksistensi dan personanya direduksi sebatas komoditas. Pada posisi pembaca, temuan menunjukkan teks memosisikan pembaca ke dalam ruang hegemonik yang mendisiplinkan audiens untuk menginternalisasi insekuritas terhadap tubuh mereka sendiri demi menstimulasi konsumsi. Wacana perempuan dalam iklan ini tidak menyuarakan kebebasan, melainkan sebagai taktik hegemonik untuk menormalisasi rasa tidak aman (insecurity) audiens untuk melanggengkan praktik kapitalisme perusahaan.
STUDI FENOMENOLOGI PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE PADA WARTAWAN SIWO PWI JAWA TIMUR Erlangga Putra Hardianto; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81390

Abstract

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) telah membawa gangguan masif dalam industri media digital, ditandai dengan tingginya tekanan kecepatan publikasi lintas platform. Wartawan olahraga, khususnya yang tergabung dalam Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia (SIWO PWI) Jawa Timur, membayangkan kenyataan beban kerja yang ketat dalam menyajikan berita kompetisi olahraga yang padat. Kehadiran teknologi AI generatif menawarkan solusi otomatisasi, namun memicu dinamika adaptasi serta tantangan etis tersendiri di ruang redaksi masih terhambatnya bias pemahaman konteks lokal dan adanya kesenjangan adaptasi digital antargenerasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami secara mendalam perspektif serta interaksi subyektif wartawan olahraga SIWO PWI Jawa Timur mengenai pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam aktivitas jurnalistik sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi fenomenologi Alfred Schutz. Data primer diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dengan lima informan wartawan olahraga SIWO PWI Jawa Timur yang dipilih berdasarkan variasi latar belakang generasi lintas era digital. Data sekunder didukung oleh studi dokumen produk artikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pers mengintegrasikan AI seperti ChatGPT, Gemini dan kecerdasan buatan lainnya murni sebagai alat bantu pendukung dalam proses jurnalisme tanpa mendegradasi intuisi serta kendali moral wartawan. Meski demikian, efektivitas pemanfaatannya di lingkungan SIWO Jatim.
The Makna Pernikahan Dini dalam Perspektif Society: Intervensi Keluarga terhadap Keputusan Menikah Pasangan di Kota Probolinggo Aurelia Putri; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna pernikahan dini yang dibentuk oleh pengaruh keluarga, dengan menggunakan perspektif "masyarakat" dalam kerangka teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead. Melalui pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini mengkaji lima pasangan di Kota Probolinggo yang menikah pada usia muda. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model yang dikembangkan oleh Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk menikah tidak semata-mata didasarkan pada kehendak individu, melainkan sangat dipengaruhi oleh keluarga yang terwujud dalam bentuk perjodohan, tuntutan kepatuhan kepada orang tua, nilai-nilai agama, serta tradisi budaya setempat. Nilai-nilai tersebut terinternalisasi sebagai pedoman dalam menyetujui pernikahan, meskipun sebagian responden pada awalnya belum siap secara psikologis. Penelitian ini menunjukkan bahwa "masyarakat" merupakan faktor dominan dalam membentuk makna pernikahan dini, yang mengesampingkan keinginan pribadi. Akibatnya, pernikahan dipandang sebagai wujud tanggung jawab, kepatuhan, dan pengabdian kepada keluarga.
The Audience Reception of Feminine Men in the Film and Web Series *Cek Toko Sebelah* Achmad Syaifuddin; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81416

Abstract

Media populer Indonesia masih kerap menampilkan laki-laki feminin sebagai sumber humor melalui stereotip gender. Penelitian ini menganalisis resepsi khalayak terhadap representasi laki-laki feminin melalui karakter Naryo dalam film dan web series Cek Toko Sebelah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi berdasarkan model encoding-decoding Stuart Hall. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap enam informan yang dipilih secara purposif berdasarkan pengalaman menonton serta keberagaman latar sosial dan kedekatan dengan isu gender. Preferred reading objek menempatkan ekspresi feminin Naryo melalui gestur, intonasi, interaksi, dan kontak fisik sebagai objek komedi yang wajar dalam narasi hiburan. Hasil penelitian menunjukkan tiga informan berada pada posisi dominan-hegemoni dengan menerima Naryo sebagai representasi yang wajar, humor sebagai konstruksi komedi, dan kehadirannya sebagai bentuk normalisasi laki-laki feminin. Tiga informan berada pada posisi negosiasi dengan menerima karakter tersebut sebagai hiburan, tetapi memberi batas berdasarkan norma, nilai, kenyamanan, serta konteks penyajian. Pembacaan oposisi muncul pada aspek tertentu, terutama kritik terhadap autentisitas pemeran dan humor fisik yang bertumpu pada penyimpangan norma gender. Temuan menegaskan bahwa resepsi tidak tunggal; seorang informan dapat menempati posisi berbeda terhadap aspek representasi yang berbeda, sesuai frame of reference dan field of experience masing-masing.
Komodifikasi Mitos Feminitas di Balik Narasi Pemberdayaan: Analisis Resepsi Iklan Lux I Love Being a Woman Khezia Nabiil; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81440

Abstract

Perempuan sering kali dihadapkan pada konstruksi sosial yang membatasi ruang ekspresi mereka, di mana masyarakat masih menetapkan standar atau ekspektasi tertentu mengenai peran ideal seorang perempua. Di tengah realitas tersebut, Lux Indonesia mengahadirkan iklan dengan tema I Love Being a Woman di YouTube hadir membawa narasi pemberdayaan perempuan melalui pesan penerimaan diri, kebebasan berekspresi, serta penolakan terhadap stigma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi khalayak terhadap pesan iklan. Penelitian ini menggunakam pendekatan kualitatif, dipadukan dengan metode analisis resepsi Stuart Hall guna memetakan posisi pemaknaan khalayak, serta teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir untuk menelaah secara kritis posisi perempuan dalam narasi iklan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan sejumlah informan dari latar belakang yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman pemaknaan. Informan pada posisi dominan hegemonik menerima pesan iklan sebagai wujud dukungan kebebasan perempuan. Informan pada posisi negosiasi sepakat dengan pesan tersebut, namun mengompromikannya dengan batasan nilai agama dan norma kepantasan sosial. Ditemukan pula informan yang cenderung menolak pesan iklan. Kesimpulan dari penelitian ini , iklan Lux I Love Being a Woman memiliki dua sisi yang bertentangan, yaitu di satu sisi membuka ruang bagi pesan pemberdayaan perempuan, tetapi di sisi lain tetap terikat pada logika industri kecantikan yang berpotensi mendisiplinkan tubuh perempuan.
Persepsi Jurnalis Media Lokal Jawa Timur terhadap Penggunaan AI dalam Aktivitas Jurnalistik Adinda Vira Eka Reynata; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81642

Abstract

Tingginya adopsi dan optimisme masyarakat Indonesia terhadap Artificial Intelligence (AI) telah mendorong masifnya integrasi teknologi pintar di ruang redaksi media nasional. Namun, di tingkat media lokal, pemanfaatan AI memunculkan keragaman respons dan pemaknaan yang tidak seragam di kalangan jurnalis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi jurnalis media lokal di Jawa Timur terhadap penggunaan AI dalam aktivitas jurnalistik melalui kacamata teori imagined affordance. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, data digali melalui wawancara mendalam bersama empat jurnalis aktif dari variasi posisi keredaksian (Informan AB, SI, IR, dan AS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi jurnalis terhadap AI tidak bersifat dinamis. imajinasi awal dan realitas lapangan, di mana jurnalis lokal tetap memegang kendali penuh atas kualitas dan etika karya jurnalistik. Meski mengadopsi AI sebagai alat bantu teknis, jurnalis tetap selektif dan menekankan pentingnya kontrol manusia.
Representasi Toxic Masculinity pada Karakter Isagi Youichi dalam Anime Blue Lock (Semiotika Charles Sanders Pierce) I Putu Tangkas I Wayan Jenar; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81809

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi toxic masculinity pada karakter Isagi Yoichi dalam anime Blue Lock dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dan studi literatur. Objek penelitian difokuskan pada episode 1, 5, dan 6 yang menunjukkan perkembangan karakter Isagi secara signifikan dalam sistem kompetisi Blue Lock. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi toxic masculinity dikonstruksikan melalui tanda-tanda visual maupun naratif yang merefleksikan ambisi, dorongan untuk mendominasi, egoisme dalam kompetisi, serta penekanan emosi sebagai standar maskulinitas. Berdasarkan analisis ikon, indeks, dan simbol, ditemukan bahwa sistem kompetitif dalam Blue Lock mendorong internalisasi nilai maskulinitas hegemonik yang menempatkan kemenangan dan superioritas individu sebagai tolok ukur utama keberhasilan laki-laki. Dengan demikian, anime Blue Lock tidak hanya menghadirkan narasi perjuangan dalam dunia olahraga, tetapi juga mereproduksi wacana maskulinitas kompetitif yang berpotensi mengarah pada toxic masculinity ketika empati, solidaritas, dan kerja sama dikesampingkan demi ambisi personal.
Analisis Resepsi terhadap Animal Welfare dalam Live Streaming Charity di Kanal Youtube Windah Basudara Farhan Risqy Pratama; Aditya Fahmi Nurwahid
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.72585

Abstract

Pemanfaatan fitur Live Streaming di YouTube untuk penggalangan dana amal (charity) oleh kreator konten telah menjadi fenomena komunikasi yang menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengeksplorasi secara mendalam resepsi penonton terhadap pesan kesejahteraan hewan (animal welfare) dalam konten live streaming charity di kanal YouTube Windah Basudara. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis resepsi model Encoding-Decoding dari Stuart Hall, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan delapan informan yang memiliki latar belakang beragam. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukannya penonton yang pada posisi oposisi. Resepsi penonton terbagi menjadi dua posisi utama yaitu dominan dan negosiasi. Tiga informan berada pada posisi dominan dengan menerima pesan secara utuh. Temuan paling krusial adalah adanya pesan yang hilang, di mana pesan animal welfaretereduksi menjadi sebuah aksi transaksional atau ajakan berdonasi, bukan sebuah komitmen transformatif terkait edukasi tentang tanggung jawab jangka panjang. Kesimpulannya, resepsi penonton terhadap pesan animal welfareternyata menjadi sekunder dibandingkan resepsi terhadap acara amal itu sendiri sebagai sebuah fenomena media. Kekuatan persona komunikator dan dinamika hiburan lebih dominan dalam proses pemaknaan penonton daripada substansi isu kesejahteraan hewan yang diusung.