Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Dietary Knowledge and Physical Activity Level as Correlates of Excess Weight Categories Among Grade VIII Students: A Cross-Sectional Study at SMPN 271 Jakarta Chairurizki, Dinda; Dinaryanti, Ratna Sari; Rostarina, Nila; Ramadhan, Gaung Eka
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v5i1.2469

Abstract

Adolescent overweight is increasing in many low- and middle-income settings and is shaped by diet-related knowledge, daily activity patterns, and the school environment. Objective: This study aimed to examine the association between students’ dietary knowledge and physical activity level with excess weight categories among Grade VIII students at SMPN 271 Jakarta in 2024. Methodology: A quantitative cross-sectional analytic study was conducted among 183 Grade VIII students selected using stratified random sampling. Dietary knowledge was measured using a validated 11-item questionnaire (Cronbach’s alpha = 0.931) and categorized as good, moderate, or poor. Physical activity was assessed using the WHO Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and categorized into low or moderate levels. Associations between dietary knowledge and excess weight categories, and between physical activity and excess weight categories, were tested using the chi-square test (p < 0.05). Findings: Almost half of students had good dietary knowledge (48.1%), while most reported low physical activity (89.1%). Dietary knowledge level was significantly associated with excess weight category (p = 0.004), and physical activity level was also significantly associated with excess weight category (p = 0.004). Implications: The findings support integrated school-based interventions that combine nutrition education with strategies to increase daily physical activity and reduce sedentary routines, including optimizing the school food environment and expanding opportunities for active breaks and extracurricular activities. Originality: This study provides context-specific evidence from an urban junior high school in Jakarta by assessing dietary knowledge and physical activity concurrently in relation to excess weight categories, offering practical insights for designing comprehensive school health programs targeting adolescents.
The Effect of Young Coconut Water on Blood Pressure in Middle-Aged Adults (45–59 Years) with Hypertension in RT005/RW012, Taman Mangu Indah Residential Area, South Tangerang Cahyadi, Raidah Shahirah; Rostarina, Nila; Achirman, Achirman; Ramadhan, Gaung Eka
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v5i1.2517

Abstract

Hypertension is a leading contributor to cardiovascular morbidity and mortality and is often undetected until complications occur. Community-friendly, affordable non-pharmacological approaches are therefore needed to support blood pressure control alongside standard therapy. Objective: This study aimed to examine the effect of young coconut water on blood pressure among middle-aged adults (45–59 years) with hypertension in RT005/RW012, Taman Mangu Indah Residential Area, South Tangerang. Methodology: This quantitative study used a quasi-experimental pretest–posttest design without a control group. A total of 21 participants received young coconut water (250 cc) twice daily (morning and afternoon) for five consecutive days. Blood pressure was measured before and after the intervention using a calibrated sphygmomanometer, and changes were analyzed using paired t-tests. Findings: Young coconut water consumption was associated with significant reductions in both systolic and diastolic blood pressure. Morning measurements showed decreases from 150.71 to 140.95 mmHg (systolic) and from 96.19 to 90.48 mmHg (diastolic) (p = 0.001). Afternoon measurements decreased from 145.24 to 132.86 mmHg (systolic) and from 96.19 to 85.24 mmHg (diastolic) (p = 0.001). The afternoon reductions appeared greater than those observed in the morning. Implications: Young coconut water may serve as an accessible, low-cost complementary nursing intervention to support community-based hypertension management. The findings may inform community health education and practical programs to improve blood pressure control among middle-aged adults. Originality: This study provides neighborhood-based evidence using a feasible twice-daily regimen over five days and highlights potential differences in blood pressure reduction between morning and afternoon administrations, offering implementation-oriented insight for community nursing practice.
EDUKASI SENAM KAKI DIABETIK SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KOMPLIKASI DIABETES MELITUS BERBASIS MASYARAKAT Ramadhan, Gaung Eka; Oktavia, Alfonsa Reni; Fitriany, Henny; Natasya, Ricca Olivia; Setiawan, Rian Agus
Multidisiplin Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 03 (2025): Multidisiplin Pengabdian Kepada Masyarakat, 2025
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran perawatan kaki diabetik serta mendorong praktik pencegahan melalui edukasi senam kaki yang terstruktur bagi individu yang berisiko mengalami komplikasi. Inisiatif ini berfokus pada pemberdayaan peserta dengan keterampilan praktis untuk meningkatkan sirkulasi darah, menambah fleksibilitas, dan menurunkan kemungkinan munculnya gejala neuropati. Tim multidisiplin merancang sesi pembelajaran interaktif yang mengintegrasikan promosi kesehatan, demonstrasi, dan praktik terpandu. Refleksi kualitatif dari para peserta menunjukkan peningkatan pemahaman, motivasi yang lebih kuat untuk menerapkan perawatan kaki secara rutin, serta kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam mengelola perilaku kesehatan sehari-hari. Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara institusi akademik dan tenaga kesehatan komunitas, sehingga mendukung jalur edukasi berkelanjutan untuk manajemen penyakit kronis. Secara keseluruhan, program ini memberikan wawasan penting mengenai strategi pencegahan yang dapat diterapkan di lingkungan masyarakat untuk mendukung kesejahteraan jangka panjang pada kelompok yang rentan terhadap komplikasi diabetes.
Peningkatan Pengetahuan Remaja Mengenai Diabetes Melitus dan Upaya Pencegahan Komplikasinya Ramadhan, Gaung Eka; Setiawan, Rian Agus; Rostarina, Nila; Maryati, Maryati; Achirman, Achirman
Jurnal Medika: Medika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/f0ck4n27

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikelola dengan baik sejak dini. Remaja menjadi kelompok yang penting untuk diberikan edukasi kesehatan karena berada pada fase pembentukan perilaku dan gaya hidup. Rendahnya pengetahuan remaja mengenai diabetes melitus, faktor risiko, serta upaya pencegahan komplikasi menjadi latar belakang dilaksanakannya kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai diabetes melitus dan langkah-langkah pencegahan komplikasinya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui metode edukasi kesehatan dengan pendekatan penyuluhan dan diskusi interaktif. Sasaran kegiatan adalah remaja, dengan pelaksanaan meliputi pemberian materi tentang pengertian diabetes melitus, faktor risiko, tanda dan gejala, pola hidup sehat, serta upaya pencegahan komplikasi. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pengukuran pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan remaja mengenai diabetes melitus dan upaya pencegahan komplikasinya setelah diberikan edukasi kesehatan. Peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik terkait pentingnya pola makan sehat, aktivitas fisik, dan pencegahan faktor risiko. Kegiatan ini dapat disimpulkan efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja dan diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk perilaku hidup sehat untuk mencegah diabetes melitus dan komplikasinya di masa mendatang.
Promosi Kesehatan: Strategi Efektif Meningkatkan Kesiapan Remaja Awal Menghadapi Pubertas Dais, Exsos Grend; Setiawan, Rian Agus; Rostarina, Nila; Junalia, Elly; Ramadhan, Gaung Eka
Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI) Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/jphi.v8i1.1172

Abstract

Masa remaja awal merupakan periode transisi penting yang ditandai dengan terjadinya pubertas, sehingga remaja memerlukan kesiapan pengetahuan untuk menghadapi perubahan fisik dan psikologis yang terjadi. Kurangnya pemahaman tentang pubertas dapat menimbulkan kecemasan dan sikap negatif pada remaja awal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan remaja awal dalam menghadapi pubertas melalui promosi kesehatan. Metode yang digunakan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, serta evaluasi dengan desain pre-test dan post-test pada 80 remaja awal di SDN 16 Grogol Utara. Intervensi diberikan melalui penyuluhan interaktif menggunakan media edukatif yang disesuaikan dengan usia remaja. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan peningkatan kategori pengetahuan baik dari 41,25% pada pre-test menjadi 71,25% pada post-test. Temuan ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan pubertas efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja awal mengenai perubahan pubertas dan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Disimpulkan bahwa promosi kesehatan merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan kesiapan remaja awal dalam menghadapi pubertas dan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah.