Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : hikamatzu journal of multidisciplinary research

Epistemologi Islam dalam Pemikiran Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd : Analisis Komparatif dan Relevansinya Bagi Pendidikan Islam Modern Andri Suryani; Normuslim
Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary Vol. 2 No. 2 (2025): Multidisciplinary Approach
Publisher : Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam konsep epistemologi dalam pemikiran tiga tokoh utama Islam klasik, Ibnu Sina, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd, serta menelaah relevansinya terhadap rekonstruksi pendidikan Islam modern. Latar belakang penelitian ini berangkat dari krisis epistemologis dalam pendidikan Islam kontemporer yang ditandai oleh fragmentasi antara dimensi rasional, spiritual, dan wahyu. Krisis tersebut mengakibatkan orientasi pendidikan Islam kehilangan keseimbangan antara pengembangan intelektual dan pembentukan moral-spiritual.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan analisis filosofis-komparatif. Data dikumpulkan dari karya-karya primer seperti Al-Shifa’ dan Al-Najat (Ibnu Sina), Ihya’ Ulum al-Din dan Al-Munqidz min al-Dhalal (Al-Ghazali), serta Fashl al-Maqal dan Tahafut al-Tahafut (Ibnu Rusyd), yang kemudian dianalisis melalui proses identifikasi, perbandingan, dan sintesis konseptual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Sina menegaskan rasionalitas demonstratif (burhānī) sebagai sarana pencapaian pengetahuan hakiki, Al Ghazali mengedepankan iluminasi intuitif (kasyf) melalui penyucian jiwa sebagai jalan menuju pengetahuan ilahiah; sedangkan Ibnu Rusyd menawarkan sintesis epistemologis melalui harmonisasi akal dan wahyu menggunakan metode ta’wīl. Ketiganya membentuk kerangka epistemologi Islam yang komplementer antara akal, hati, dan wahyu.Secara konseptual, temuan ini menegaskan bahwa integrasi pemikiran ketiga tokoh tersebut relevan untuk mengembangkan model pendidikan Islam transformatif yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan kognitif, tetapi juga pada pembentukan kesadaran moral dan spiritual menuju terwujudnya insan kamil. Hasil penelitian ini memberikan arah baru bagi rekonstruksi epistemologi pendidikan Islam di era modern.
Pendidikan Agama Islam: Integrasi Ruang Lingkup Ajaran Islam (Aqidah, Syari’ah, Dan Akhlak) Andri Suryani; Hamdanah; Normuslim
Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary Vol. 3 No. 1 (2026): Multidisciplinary Approach
Publisher : Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas integrasi ajaran Islam yang meliputi tiga pilar utama, yaitu aqidah, syari’ah, dan akhlak dalam perspektif pendidikan agama Islam. Ketiga dimensi tersebut merupakan satu kesatuan sistemik yang membentuk struktur ajaran Islam secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan normatif-filosofis dan analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa aqidah berfungsi sebagai fondasi teologis, syari’ah sebagai sistem normatif, dan akhlak sebagai manifestasi etis dalam kehidupan manusia. Integrasi ketiganya melahirkan paradigma keberagamaan yang holistik serta berimplikasi pada pembentukan karakter individu dan peradaban Islam yang berkeadaban. Tanpa integrasi tersebut, pemahaman Islam berpotensi menjadi parsial dan reduksionistik. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam harus mengembangkan pendekatan integratif guna menjawab tantangan modernitas.
Integrasi Pendidikan Agama Islam Dengan Ilmu Pengetahuan Dan Tekhnologi Di Smk Al-Amin Kapuas Supriyanto; Normuslim; Hamdanah
Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary Vol. 3 No. 1 (2026): Multidisciplinary Approach
Publisher : Hikamatzu | Journal of Multidisciplinary

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Agama Islam memiliki peranan penting dalam membentuk karakter dan moral generasi muda di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi, globalisasi, dan pengaruh budaya modern telah membawa perubahan signifikan terhadap pola pikir dan perilaku remaja, termasuk di Kalimantan Tengah. Fenomena krisis moral seperti menurunnya etika sosial, rendahnya kepedulian terhadap nilai keagamaan, kecanduan media sosial, pergaulan bebas, serta meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan remaja menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Islam perlu dioptimalkan agar mampu menjalankan fungsinya secara efektif sebagai sarana pembentukan karakter Islami generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimalisasi Pendidikan Agama Islam dalam menghadapi krisis moral generasi muda di Kalimantan Tengah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui pengkajian berbagai buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan Pendidikan Agama Islam, pendidikan karakter, dan kondisi sosial generasi muda. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dengan mengidentifikasi serta menginterpretasikan berbagai fenomena sosial yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi Pendidikan Agama Islam perlu dilakukan melalui penguatan kurikulum berbasis karakter Islami, peningkatan kompetensi dan keteladanan guru, pemanfaatan teknologi digital sebagai media pembelajaran edukatif, serta penguatan peran keluarga dan masyarakat dalam pembinaan moral remaja. Selain itu, integrasi nilai-nilai budaya lokal masyarakat Kalimantan Tengah yang religius dan menjunjung nilai kebersamaan dapat menjadi pendekatan efektif dalam membentuk karakter generasi muda. Pendidikan Agama Islam tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan akhlak, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial peserta didik. Penelitian ini menegaskan bahwa optimalisasi Pendidikan Agama Islam merupakan langkah strategis dalam menghadapi krisis moral generasi muda di era modern. Dengan adanya sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang berakhlakul karimah, memiliki kesadaran spiritual yang kuat, serta mampu menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan identitas keislaman dan nilai budaya lokal.