Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Optimalisasi Pembelajaran dan Komunikasi Keluarga di SMA Al Hadi Melalui Evaluasi Kognitif dan Intervensi Terpadu Anissaniwaty, Myrna; Widyastuti, Linda; Hakim, Alfi Fauzia; Panjaitan, Yoko Jimmy; Rambe, Ira Hasianna; Nur’aeni, Siti; Ardiva, Elsya; Abdul Jabar, Raihan
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 4 No 6 (2024): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v4i6.451

Abstract

Introduction: Challenges in education and family dynamisc often hinder optimal learning and development among students. They face difficulties in focusing during lessons and comprehending instructions, resulting in suboptimal academic performance. Objective: The purpose of this service was to enhance student;s cognitive abilities, focus, and emotional well being while also empowering parents to adopt effective communication strategies to foster a supportive learning environment. Method: This public service was conducted by through several stages, including administering the Faxtor Cognitive Ability Test (FCAT) to assess student’s cognitive skills. Workshop for innovative learning and entrepreneurship were organized for student and teacher. For parents, a psychoeducation sessions were conducted to enhance their communication strategies with their children. Result: The activities showed a positive impact, with students demonstrating increased focus and engagement during learning sessions. The workshops provided a platform for students to improve their communication, problem-solving, and teamwork skills Conclusion: This community service initiative successfully addressed critical issues at SMA Al Hadi by enhancing students’ cognitive and social skills while equipping parents with effective communication tools. These results underscore the potential for replicating similar programs in other schools facing comparable challenges.
Aktivitas Komunikasi Antara Perawat Dan Pasien Penyalahgunaan Narkoba Din Layanan Rehabilitasi Rawat Jalan Mufti, Mufti fauzi Rahman; Rambe, Ira Hasianna; Dahliah, Dedeh; Nur’aeni, Siti; Santosa, Gaizka verrel; Lutpiah, Sephia Indah
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 2 No 2 (2022): Perawatan Pasien Yang Menderita Tuberkulosis Paru
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v2i2.297

Abstract

Backgroun: Doctors, nurses or health care providers are of course closely related to words or language. both simple and complex words sometimes become obstacles in therapeutic communication. Mulyana pointed out how simple words can be interpreted differently, that the meaning of the words conveyed is often ambiguous. Meanings or words are culturally bound. Situational factors, such as the context of place and time and the mood of the communicator, also influence how others interpret the message. Purpose: To explain the communication activities of nurses and patients in drug abuse with outpatient rehabilitation services. Methods: This study uses a constructivist paradigm, data obtained from participant observation, in-depth interviews, and literature study. This study uses qualitative research methods, because what will be studied is a central symptom. Furthermore, this study uses the ethnographic method of communication. Data were obtained from participant observation results, in-depth interview results, and literature study. Results: The results of the study show that the communicative situation that occurs between nurses and drug patients at the Antapani Medika Clinic is normal. In an informal setting, crowded at certain hours. Nurses and patients both carry out their roles. The communicative events that occurred between nurses and drug patients at the Antapani Medika Clinic ran smoothly, between nurses and patients being open to each other, honestly interacting with each other and providing responses. Communicative action between nurses and drug patients takes place using verbal and non-verbal communication. Conclusion: The form of verbal communication from nurses is with requests, statements, warnings to open questions before the patient enters the room for examination by the doctor. The language used tends to be a mixture of Indonesian and Sundanese.   Pendahuluan: Dokter, perawat atau penyedia layanan kesehatan tentunya erat kaitan dengan kata-kata atau bahasa. baik kata-kata yang sederhana maupun yang rumit kadang menjadi kendala dalam komunikasi terapeutik. Mulyana mengemukakan betapa kata-kata sederhana bisa diartikan berbeda, bahwa arti kata-kata yang disampaikan, seringkali ambigu. Makna atau kata-kata itu terikat budaya. Factor situasional seperti konteks tempat dan waktu serta suasana hati komunikator, juga memengaruhi cara orang lain menafsirkan pesannya. Tujuan: Untuk menjelaskan aktivitas komunikasi perawat dan pasien dalam penyalahgunaan narkoba dengan layanan rehabilitasi rawat jalan. Metode: Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, data diperoleh dari hasil observasi partisipan, hasil wawancara  mendalam, dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, sebab yang akan dikaji, merupakan gejala sentral. Selanjutnya penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi. Data diperoleh dari hasil observasi partisipan, hasil wawancara  mendalam, dan studi pustaka. Hasil: Dari hasil penelitian menunjukan bahwa situasi komunikatif yang terjadi antara perawat dan pasien napza di Klinik Medika Antapani normal. Dalam suasana informal, ramai di jam-jam tertentu. Perawat dan pasien sama-sama menjalanakan perannya. Peristiwa komunikatif yang terjadi antara perawat dan pasien napza di Klinik Medika Antapani berjalan secara lancar, antara perawat dan pasien saling terbuka, Jujur saling berinterkasi dan memberikan respon. Tindak komunikatif anatar perawat dan pasien napza berlangsung menggunakan komunikasi verbal dan non-verbal. Simpulan: Bentuk komunikasi verbal dari perawat adalah dengan permintaan, pernyataan, peringatan hingga pertanyaan terbuka sebelum pasien memasuki ruangan pemeriksaan oleh dokter.  Bahasa yang digunakan cenderung campuran bahasa Indonesia dengan Sunda.
Mewujudkan Sekolah Ramah Anak: Studi Kasus Program Kampanye 3 Dosa Besar Pendidikan Kampus Mengajar Siti Nur'aeni; Alfi Fauzia Hakim; Ermilda; Wazna Layalia Alyan; Rista Nurjani Hasnita; Syifa Nurfaujiah
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 1 Februari (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.1769

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran dan strategi mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 7 dalam melaksanakan Kampanye 3 Dosa Besar Pendidikan di SMP Muhammadiyah 5 Kota Bandung. Kampanye ini berfokus pada upaya pencegahan perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual untuk mendukung terciptanya sekolah ramah anak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, yang divalidasi menggunakan triangulasi sumber. Analisis data dilakukan berdasarkan metode interaktif Miles dan Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampanye 3 Dosa Besar Pendidikan efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa terhadap dampak negatif perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual. Pendekatan interaktif yang digunakan, seperti pembuatan poster, diskusi kelompok, dan talkshow, berhasil menciptakan pembelajaran yang relevan dan adaptif. Siswa menunjukkan perubahan sikap yang lebih menghargai perbedaan, menolak kekerasan, dan berkomitmen menjaga lingkungan yang aman. Keberhasilan program ini juga didukung oleh peran mahasiswa sebagai fasilitator yang mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan fleksibel. Penelitian ini menyoroti pentingnya pelibatan mahasiswa dalam program berbasis pendidikan karakter untuk mendukung sekolah ramah anak. Selain itu, kolaborasi antara mahasiswa, sekolah, dan dosen pembimbing memperkuat implementasi program. Penelitian ini merekomendasikan pelibatan lebih banyak pihak, seperti orang tua, untuk memperluas dampak kampanye, serta pengembangan model kampanye yang dapat diterapkan di sekolah lain. Model ini diharapkan menjadi pendekatan berkelanjutan untuk mendukung pendidikan karakter dan menciptakan budaya sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak.
Membangun Generasi Bebas Stunting Melalui Edukasi Pranikah di SMPN 2 Pacet Hakim, Alfi Fauzia; Nur’aeni, Siti; Rahman, Mufti Fauzi; Mayasari, Astri; Astuti, Ni Luh Budi; Kansida, Amelia; Jabar, Raihan Abdul; Alyan, Wazna Layalia; Rosada, Amrina
Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma Vol 6 No 2 (2025): Jurnal Abdimas Kartika Wijayakusuma
Publisher : LPPM Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26874/jakw.v6i2.603

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan kognitif anak-anak, yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektivitas program edukasi pranikah yang diselenggarakan di SMPN 2 Pacet dalam membangun kesadaran dan pengetahuan siswa tentang pentingnya pencegahan stunting. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini menggunakan pendekatan participatory rural appraisal (PRA). Hasil pengabdian masyarakat menunjukkan bahwa edukasi pranikah yang diberikan berhasil meningkatkan pemahaman siswa mengenai stunting. Penyuluhan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mempengaruhi sikap remaja terhadap pernikahan dini. Meskipun seminar penyuluhan ini belum sepenuhnya efektif dalam mengubah perilaku, setidaknya terjadi peningkatan dalam pengetahuan peserta. Temuan ini menekankan pentingnya peran pendidikan kesehatan reproduksi sejak usia remaja untuk menciptakan generasi bebas stunting di masa depan. Program ini juga direkomendasikan untuk diimplementasikan secara luas di sekolah-sekolah lain sebagai upaya pencegahan dini. Selain itu, perlu dilakukan kerjasama multi sektoral antara pemerintah desa, petugas kesehatan, dan masyarakat dalam mencegah meningkatnya prevalensi stunting.
Cegah Stunting dengan Pola Makan, Asuh, Hygiene, dan Sanitasi: Prevent Stunting by Diet, Parenting, Hygiene and Sanitation Noprianty, Richa; Dahliah, Dedeh; Nur’aeni, Siti; Rifai, Susan Irawan; Santoso, Rahmat; Jumiatun, Jumiatun
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2024): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v9i2.5902

Abstract

Baros is one of the sub-districts in Cimahi, where stunting is relatively high. Data from the Puskesmas Kelurahan Baros Mekar shows that 43 children are indicated to be stunted. The results of interviews with cadres showed that the community needs more knowledge and insight regarding stunting. Apart from that, there needs to be more public awareness regarding the importance of maintaining a balance of nutrients and vitamins in food. Community service was carried out in September 2023 by lecturers and students at Bhakti Kencana University. The target of the activity is families with 30 children aged 0–5 years. Activities include providing education about stunting prevention by lecturers and the nutrition section of the Puskesmas Cigugur Tengah, demonstrations of a nutritional menu balanced with my plate's contents, and how to breastfeed and wash hands correctly. After that, a stunting screening is carried out. Participants were given pre-test and post-test questionnaires regarding stunting knowledge and filled in data on the child's weight. The presentation of knowledge about parenting patterns at the pre-test was 77.02%, the post-test was 84.02%, the pre-test hygiene knowledge was 99.52%, and the post-test was 100%, while the pre-test sanitation knowledge was 80.37%, and post-test was 87.77%. The nutritional status of toddlers based on BB/U showed that BB was less than 3.3%, very low BB was 6.7%, normal was 76.7%, and the risk of being overweight was 13.3%. It is hoped that increasing knowledge about stunting can be implemented to support optimal child growth and development.
Representasi Penindasan Dan Penghilang Kebenaran Serta Trauma Kolektif Masyarakat (Analisis Semiotika Komunikasi Dalam Film Kabut Berduri): Representations of Oppression And Dismantling of Truth And Collective Trauma of Society (Semiotic Analysis of Communication in Prickly Fog Film) Albuchori, Ralvi Fauzan; Rahman, Mufti Fauzi; Nur’aeni, Siti
Citizen : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 6 (2025): CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : DAS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53866/jimi.v5i6.1005

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi makna simbol visual dalam film Kabut karya Edwin dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Film ini dipilih karena menampilkan gaya visual eksperimental yang minim dialog, namun sarat akan simbolisme yang menyentuh isu-isu sosial- politik, seperti sensor informasi, identitas yang terhapus, serta trauma kolektif akibat kekuasaan represif. Pendekatan semiotika Peirce digunakan untuk mengurai tanda menjadi tiga elemen utama: representamen (bentuk fisik tanda), object (hal yang dirujuk), dan interpretant (makna yang terbentuk).Hasil analisis menunjukkan bahwa simbol koran dalam plastik merepresentasikan kebenaran yang disensor, tubuh para korban menggambarkan hilangnya identitas dan kekuasaan atas tubuh, kabut dan duri melambangkan ketidakjelasan serta rintangan dalam pencarian kebenaran, sedangkan batang pohon menjulang menjadi metafora dari tubuh-tubuh manusia yang kehilangan ruh dan hak-haknya. Temuan ini menunjukkan bahwa Kabut Berduri tidak hanya menawarkan estetika visual yang kontemplatif, tetapi juga menjadi media kritik budaya terhadap pengaburan sejarah dan pembungkaman suara korban.Penelitian ini menerapkan teori semiotika Peirce secara mendalam, serta memperluas pemahaman tentang bagaimana simbol visual dapat menjadi alat refleksi sosial dan pencarian identitas dalam sinema kontemporer.
Development of Persuasive Communication–Based Digital Technology for the Early Detection of Students’ Mental Health Siti Nur'aeni; Myrna Anissaniwaty; Zamzam Ginanjar; Raihan Abdul Jabar; Sindi Dewanti Maulida
Mediator: Jurnal Komunikasi Vol. 19 No. 1 (2026): Mediator: Jurnal Komunikasi (Sinta 2)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v19i1.9120

Abstract

Behavioral and mental health issues among students have become an urgent concern in education, particularly in the post-pandemic era and amid increased exposure to digital technology. Early detection efforts continue to face challenges such as limited resources, stigma, and lack of interactive, communicative digital media. This study aims to develop a persuasive communication–based digital technology model within the PROTEKSI Fammi Program to optimize the early detection of students’ behavioral and mental health problems. The study adopts a mixed-methods approach using an explanatory sequential design. Qualitative data were collected through in-depth interviews and focus group discussions with teachers, parents, counselors, and students to identify communication needs and barriers. Quantitative data were obtained through surveys measuring changes in users’ knowledge, attitudes, and behavioral intentions following use of the PROTEKSI digital prototype. The findings show that the proposed model increases user engagement, enhances awareness of early mental health indicators, and strengthens the involvement of teachers and parents in supporting students. The integration of credible, interactive, and empathetic messages was found to improve the effectiveness of early detection. This study contributes to the development of a humanistic and applicable digital intervention model and provides implications for future research in technology-based mental health.
Remaja Tangguh Tanpa Cemas: Differential Reinforcement of Zero Responding (DR0) dan Komunikasi Efektif Linda Widyastuti; Yoko Jimmy Panjaitan; Myrna Anissaniwaty; Alfi Fauzia Hakim; Siti Nur’aeni; Ira Hasianna Rambe; Ginu Nugina; Rena Nurafrizki Sonia
Jurnal Medika: Medika in progres
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/ha2b2g46

Abstract

Program ini bertujuan untuk mengatasi tantangan psikologis yang dialami oleh siswa SMK Bhakti Kencana, khususnya meningkatnya kecemasan yang disebabkan oleh tekanan akademik, tuntutan sosial, serta ketidakpastian terkait jalur karier di masa depan. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya konsentrasi belajar, munculnya perilaku menghindar, serta terhambatnya pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, program ini menerapkan Differential Reinforcement of Zero Responding (DR0) sebagai strategi modifikasi perilaku untuk mendukung regulasi kecemasan yang adaptif, yang dipadukan dengan pelatihan komunikasi efektif guna mendorong interaksi sosial yang sehat. Program ini menggunakan desain pra-eksperimen one-group pre-test–post-test. Intervensi dilakukan melalui sesi pelatihan interaktif dan simulasi yang berfokus pada penerapan DR0 dalam pengelolaan kecemasan serta latihan keterampilan komunikasi praktis. Kegiatan ini dilanjutkan dengan praktik terbimbing dan pendampingan yang dilaksanakan di lingkungan sekolah untuk memfasilitasi penerapan keterampilan dalam konteks akademik maupun sosial. Efektivitas program dievaluasi menggunakan instrumen pre-test dan post-test terstandar yang mengukur tingkat kecemasan dan keterampilan komunikasi interpersonal. Data dianalisis menggunakan uji paired-sample t-test untuk menguji perbedaan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan yang signifikan serta peningkatan keterampilan komunikasi interpersonal yang signifikan setelah intervensi. Uji paired-sample t-test menghasilkan nilai signifikansi p < 0,001 (α = 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor pre-test dan post-test. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi terintegrasi tersebut efektif dalam meningkatkan regulasi kecemasan yang adaptif dan kompetensi komunikasi siswa.