Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Komunikasi Instruksional Pelatih Basket dalam Membangun Kerja Sama Tim Maura Sekar Paramitha; Didi Permadi; Sarwo Edy
Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/interaksi.v10i2.31209

Abstract

Dalam olahraga basket, kerja sama tim yang baik tidak muncul begitu saja, melainkan sangat dipengaruhi oleh bagaimana pelatih menyampaikan instruksi kepada para pemain. Selama ini, kajian mengenai komunikasi pelatih sering kali terpusat pada atlet profesional atau hanya menyoroti komunikasi antarpribadi secara umum. Hal tersebut membuat dinamika di tingkat sekolah menengah terutama madrasah kerap terabaikan. Padahal, konteks sekolah memiliki keunikan tersendiri dari segi pendekatan komunikasi maupun tujuan pendidikan karakternya. Berdasarkan dari celah tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membedah peran komunikasi instruksional pelatih basket di MTsN 2 Tegal, khususnya dalam upaya menumbuhkan kekompakan tim. Kajian dirancang menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui kacamata fenomenologi. Untuk menggali data secara mendalam, peneliti melakukan wawancara, observasi partisipatif, serta studi dokumentasi. Sebagai pembeda dari riset-riset sebelumnya, penelitian ini menggunakan teori komunikasi instruksional dari Richmond dan McCroskey untuk melihat realitas olahraga di lingkup sekolah. Hasil penelitian difokuskan pada tiga unsur utama komunikasi instruksional, yaitu kejelasan instruksi, gaya komunikasi, dan pemberian umpan balik (feedback). Berdasarkan temuan di lapangan ditemukan hasil. Pertama, kejelasan instruksi, pemain terbukti lebih cepat menangkap taktik saat pelatih memberikan instruksi yang lugas melalui metode komando disertai contoh gerakan langsung. Kedua, gaya komunikasi, gaya komunikasi  pelatih yang tegas namun tetap interaktif dan peka terhadap karakter setiap anak ternyata sangat efektif dalam mendongkrak motivasi serta solidaritas. Ketiga, umpan balik, sesi evaluasi atau pemberian umpan balik selepas latihan memainkan peran krusial untuk memacu pemain agar berintrospeksi dan memperbaiki kesalahan secara kolektif. Secara keseluruhan, penerapan ketiga aspek komunikasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer materi teknis, tetapi secara komprehensif menjadi mekanisme sentral yang memperkuat koordinasi, solidaritas, dan kekompakan kerja sama tim secara utuh.
Konstruksi Realitas Pemberitaan Bendera One Piece di Media Kompas.Com dan Tempo.Co Laelatussyarifah Laelatussyarifah; Diryo Suparto; Didi Permadi
Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 10, No 2 (2026): Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena pengibaran bendera "Jolly Roger" dari serial One Piece menjelang peringatan Kemerdekaan RI ke-80 tahun 2025 memicu polemik di ruang publik, menciptakan kontestasi makna antara ekspresi budaya populer dan penghormatan simbol nasional. Penelitian ini bertujuan membedah konstruksi realitas dan strategi pembingkaian (framing) yang dilakukan oleh media daring Kompas.com dan Tempo.co dalam memberitakan kontroversi tersebut.Penelitian menggunakan analisis framing model Robert N. Entman yang meliputi empat elemen: define problems, diagnose causes, make moral judgement, dan treatment recommendation. Data penelitian terdiri dari delapan artikel berita yang dipublikasikan pada periode 1–8 Agustus 2025.Temuan menunjukkan perbedaan signifikan dalam pengonstruksian isu. Kompas.com dominan dengan bingkai nasionalisme-normatif, mendefinisikan masalah sebagai ancaman ideologis dan potensi makar yang mengganggu kehormatan simbol negara. Sebaliknya, Tempo.co menggunakan bingkai pluralistik-edukatif dengan memposisikan fenomena sebagai bentuk kritik sosial dan kebebasan berekspresi yang sah secara hukum. Tempo.co secara eksplisit melakukan demitologisasi melalui metafora bahwa bendera tersebut bukan simbol terlarang.