Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Multicultural Education Values in Film ‘Ke Jogja’ and ‘Ke Jogja 2’ (Semiotic Study on Paniradya Kaistimewan Youtube Account): Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural dalam Film ‘Ke Jogja’ dan ‘Ke Jogja 2’ (Studi Semiotika pada Akun Youtube Paniradya Kaistimewan) Nabilah, Nafa; Nikmah, Faridatun
TA'LIMUNA: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 13 No. 1 (2024): MARET
Publisher : STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32478/6c5ac617

Abstract

The existence of this diversity in Indonesia should make humanity interact and unite in goodness. For this reason, it is necessary to instill multicultural values in each individual.This research aims to find out the value of multicultural education in the film ‘Ke Jogja’ and ‘Ke Jogja 2’ in Paniradya Kaistimewan YouTube Account. This research uses qualitative research, semiotic analysis and focuses on the representation of social and cultural values, where researchers will analyze and identify the words, meanings and messages in short films. This research found that in the film ‘Ke Jogja’ and ‘Ke Jogja 2’ contains the value of tolerance, an attitude of understanding, respecting and appreciating other. This values are in accordance with points 10 and 16 contained in the sustainable development goals (SDGs), namely reducing inequality and peace, justice and strong institutions in people’s lives. Eksistensi keberagaman di Indonesia seharusnya mengantarkan pada interaksi humanis dan persatuan yang positif. Oleh sebab itu, perlu adanya penanaman nilai-nilai multikultural pada masing-masing individu. Penelitian ini bertujuan menyingkap nilai-nilai pendidikan multikultural dalam film ‘Ke Jogja’ dan ‘Ke Jogja 2’ di akun YouTube Paniradya Kaistimewan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, analisis semiotik dan fokus pada representasi nilai-nilai sosial dan kultural, di mana peneliti menganalisis dan mengidentifikasi kata-kata, makna dan pesan dalam film pendek tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa film ‘Ke Jogja’ dan ‘Ke Jogja 2’ mengandung nilai-nilai toleransi, memahami, menghargai dan mengapresiasi pihak lain. Nilai-nilai tersebut sesuai dengan poin Ke-10 dan Ke-16 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Mengurangi Ketimpangan (Reduce Inequality); serta Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Kuat (Peace, Justice, and Strong Institution). Keywords: Multicultural Education, Film, Paniradya Kaistimewan, Semiotic, SDGs.
Agroforestry Melalui Penanaman Pohon Kenanga (Cananga odorata) dan Pepaya (Carica papaya L.) sebagai Upaya Akselerasi Income Masyarakat Dusun Babaan Nabilah, Nafa; Ma'rufi, Abi Lazkar Amar; Hidayah, Rosa; Zainuri, Balgis Salsabila; Aini, Lathifatul Vina Nur; Wusqo, Berliana Asa Urwatul; Hermawan, Bagus; Choirie, Achmad Affandi
Turast: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/turast.v12i1.5735

Abstract

The community service promotes tourism potentials in Kabupaten Bener Meriah, particularly the waterfall in Desa Pulo Intan, Dusun Emun Berkune. This service activity inspired ecotourism in two ways: 1). help the community manage and develop the Pulo Intan waterfall eco-tourism area, 2) help people and communities identify assets, monitor, and evaluate waterfall ecotourism development. The Asset Based Community Development (ABCD) approach—discovery (find), dream (dream), design (design), define (determine), destiny—is used in this service activity. The University Community Engagement (UCE) theory underpins this service by emphasizing community participation in higher education concepts and practice design. The capacity-building theory is in favor of this service. This service includes 1) AI (Appreciative Inquiry) and asset mapping. 2) ABCD method sharing and core team FGD. 3). Sharing ABCD methods with assisted communities. 4). Workshop on improving tourism village marketing, management, and entrepreneurial motivation to strengthen human resources. 5). A productive and sustainable economic empowerment workshop. 6). Focus group discussion (FGD), evaluation, and community service output recommendations. Tourism will grow and progress if it is managed properly and sustainably. To develop the Pulo Intan waterfall eco-tourism area, 1) the regional government of Bener Meriah Regency should develop human resources for the village community. 2). Creating a tourist attraction requires collaboration with many parties, especially the local government.Pengabdian kepada masyarakat ini mengangkat potensi pariwisata di Kabupaten Bener Meriah, khususnya air terjun di Desa Pulo Intan, Dusun Emun Berkune. Kegiatan pengabdian ini menginspirasi ekowisata dalam dua hal: 1). membantu masyarakat mengelola dan mengembangkan kawasan ekowisata air terjun Pulo Intan, 2) membantu masyarakat dan komunitas mengidentifikasi aset, memantau, dan mengevaluasi pengembangan ekowisata air terjun. Pendekatan Asset Based Community Development (ABCD)—menemukan, mengimpikan, merancang, mendefinisikan, takdir—digunakan dalam kegiatan pengabdian ini. Teori University Community Engagement (UCE) mendasari kegiatan ini dengan menekankan partisipasi masyarakat dalam konsep dan desain praktik pendidikan tinggi. Didukung dengan teori peningkatan kapasitas, kegiatan ini mencakup 1) AI (Appreciative Inquiry) dan pemetaan aset. 2) Sharing metode ABCD dan FGD tim inti. 3). Berbagi metode ABCD dengan masyarakat binaan. 4). Lokakarya peningkatan pemasaran, pengelolaan, dan motivasi kewirausahaan desa wisata untuk penguatan sumber daya manusia. 5). Lokakarya pemberdayaan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan. 6). Focus Group Discussion (FGD), evaluasi, dan rekomendasi keluaran pengabdian kepada masyarakat. Pariwisata akan tumbuh dan maju jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Untuk mengembangkan kawasan ekowisata air terjun Pulo Intan, 1). pemerintah daerah Kabupaten Bener Meriah harus mengembangkan sumber daya manusia bagi masyarakat desa. 2). Membuat suatu objek wisata memerlukan kerjasama dengan banyak pihak terutama pemerintah daerah.