Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : JADID

Al Alusi, Nilai Sufistik Dalam Surah Yusuf: Analisi Kesedihan? Karimah
JADID: Journal of Quranic Studies and Islamic Communication Vol. 5 No. 02 (2025): September
Publisher : Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33754/jadid.v5i02.1830

Abstract

Abstract: Kesedihan merupakan realitas batin yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan sering kali menjadi ujian paling berat dalam perjalanan spiritual. Dalam perspektif Islam, kesedihan tidak dipandang semata-mata sebagai penderitaan psikologis, melainkan sebagai media pembentukan jiwa dan sarana pendekatan diri kepada Allah SWT. Al-Qur’an, melalui kisah Nabi Yusuf As. dan Nabi Ya’qub As. dalam Surah Yusuf, memberikan gambaran mendalam tentang dinamika kesedihan yang dialami seorang nabi dalam menghadapi ujian kehilangan dan pengkhianatan. Artikel ini secara khusus mengkaji nilai-nilai sufistik dalam QS. Yusuf ayat 13 serta ayat 15–18 sebagai representasi awal kesedihan dan respon spiritual Nabi Ya’qub As. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu’i) dan analisis sufistik, dengan menelaah penafsiran para mufasir bercorak tasawuf. QS. Yusuf [12]:13 menggambarkan kesedihan Nabi Ya’qub As. yang berakar pada mahabbah (cinta mendalam) kepada Yusuf As., disertai rasa khauf akan kemungkinan kehilangan, yang menunjukkan sisi kemanusiaan seorang nabi tanpa menafikan keimanannya. Kesedihan ini menjadi titik awal ujian spiritual yang lebih besar sebagaimana tergambar dalam QS. Yusuf [12]:15–18, ketika Yusuf As. dicampakkan ke dalam sumur dan Nabi Ya’qub As. dihadapkan pada berita palsu tentang kematian putranya. Ayat-ayat tersebut memuat nilai sufistik sabr jamil (kesabaran yang indah), yaitu kesabaran yang tidak disertai keluh kesah kepada makhluk, serta tawakkal yang menegaskan penyerahan total kepada Allah SWT di tengah duka yang mendalam. Dalam perspektif tasawuf, sikap Nabi Ya’qub As. mencerminkan proses takhalli, yakni pelepasan diri dari ketergantungan emosional terhadap selain Allah, sebagai tahapan menuju kematangan spiritual. Kesedihan yang dialami tidak menjerumuskan pada keputusasaan, melainkan menjadi sarana penyucian jiwa dan penguatan keyakinan terhadap kehendak Ilahi. Dengan demikian, QS. Yusuf ayat 13 serta 15–18 menunjukkan bahwa kesedihan dalam pandangan sufistik bukanlah bentuk kelemahan iman, melainkan bagian integral dari perjalanan ruhani seorang hamba. Ayat-ayat ini memberikan pelajaran bahwa kesedihan yang dihadapi dengan kesabaran, tawakkal, dan kesadaran ketuhanan dapat menjadi jalan transformasi spiritual serta penguatan hubungan manusia dengan Allah SWT. Keyword: Kesedihan, Sufistik, QS. Yusuf, tawakkal, Sabr Jamil, Tasawuf